Punya uang yang belum mau dipakai dalam beberapa bulan ke depan?
Deposito bisa jadi salah satu pilihan yang sering dipertimbangkan. Apalagi kalau kamu ingin menyimpan dana dalam jangka waktu tertentu dan mendapatkan bunga dari bank.
Tapi ada satu hal yang sering bikin bingung. Sebenarnya, berapa bunga deposito yang akan kamu dapat?
Angka bunga yang ditampilkan bank biasanya berupa persentase per tahun. Sementara deposito yang kamu pilih bisa punya tenor 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau 12 bulan.
Belum lagi ada pajak atas bunga deposito. Jadi, jangan langsung menganggap bunga 6% berarti kamu akan mendapatkan Rp6 juta dari deposito Rp100 juta.
Hitungannya tidak sesederhana itu.
Nah, di artikel ini kita akan membahas cara menghitung bunga deposito dari awal sampai akhir. Mulai dari rumus, contoh perhitungan, pajak, sampai cara mengetahui berapa bunga bersih yang benar-benar kamu terima.
Apa Itu Deposito?
Sebelum masuk ke rumus, kita pahami dulu pengertiannya.
Deposito adalah simpanan yang pencairannya dilakukan pada waktu tertentu sesuai perjanjian antara nasabah dan bank. Karena itu, deposito berbeda dengan tabungan biasa yang dananya bisa digunakan lebih fleksibel.
Deposito biasanya memiliki pilihan jangka waktu atau tenor tertentu. Misalnya:
- 1 bulan
- 3 bulan
- 6 bulan
- 12 bulan
Saat membuka deposito, bank akan memberikan informasi mengenai tingkat bunga yang berlaku. Misalnya 5% per tahun.
Nah, angka 5% tersebut umumnya merupakan tingkat bunga tahunan. Kalau kamu hanya menyimpan dana selama 3 bulan, bunga yang diterima tentu tidak sama dengan bunga selama 12 bulan.
Di sinilah cara menghitung bunga deposito menjadi penting.
Rumus Cara Menghitung Bunga Deposito
Secara sederhana, rumus bunga deposito dapat ditulis seperti ini:
Bunga bruto = Nominal deposito × Suku bunga per tahun × Tenor dalam tahun
Kalau tenor menggunakan bulan, kamu bisa menggunakan rumus:
Bunga bruto = Nominal deposito × Suku bunga per tahun × (Jumlah bulan ÷ 12)
Contohnya:
Kamu punya deposito sebesar Rp100 juta. Bunga deposito yang diberikan bank adalah 6% per tahun. Tenornya 6 bulan.
Maka:
Rp100.000.000 × 6% × (6 ÷ 12)
= Rp100.000.000 × 6% × 0,5
= Rp3.000.000
Jadi, bunga bruto yang diperoleh selama 6 bulan adalah Rp3 juta.
Tapi tunggu dulu. Angka Rp3 juta tersebut belum tentu menjadi uang yang masuk ke rekeningmu.
Kenapa? Karena ada pajak atas bunga deposito.
Cara Menghitung Bunga Deposito Setelah Pajak
Bunga deposito untuk nasabah dalam negeri pada umumnya dikenakan PPh final sebesar 20% dari jumlah bruto. Ketentuan tersebut berlaku untuk bunga deposito dan tabungan dalam kondisi yang diatur dalam peraturan perpajakan.
Ada ketentuan pengecualian untuk jumlah deposito dan tabungan tertentu, termasuk batas Rp7,5 juta sebagaimana tercantum dalam ketentuan pajak.
Untuk contoh sederhana, anggap deposito kamu masuk kategori yang dikenakan pajak 20%.
Kita kembali ke contoh tadi.
Deposito: Rp100 juta
Bunga: 6% per tahun
Tenor: 6 bulan
Bunga bruto: Rp3 juta
Pajak: 20% × Rp3 juta = Rp600 ribu
Jadi bunga bersihnya: Rp3 juta - Rp600 ribu = Rp2,4 juta
Artinya, selama 6 bulan kamu mendapatkan bunga bersih sekitar Rp2,4 juta. Bukan Rp3 juta. Ini salah satu bagian yang sering terlewat saat menghitung bunga deposito.
Contoh Cara Menghitung Bunga Deposito Rp100 Juta
Supaya lebih gampang, kita pakai satu contoh lagi. Misalnya kamu menempatkan dana sebesar Rp100 juta pada deposito dengan bunga 5% per tahun.
Tenornya 12 bulan. Maka bunga bruto: Rp100.000.000 × 5% × (12 ÷ 12) = Rp5.000.000
Kalau dikenakan PPh final 20%: 20% × Rp5.000.000 = Rp1.000.000
Jadi bunga bersih: Rp5.000.000 - Rp1.000.000 = Rp4.000.000
Dengan begitu, bunga bersih yang kamu terima selama satu tahun adalah sekitar Rp4 juta.
Sementara dana pokok Rp100 juta tetap menjadi dana deposito dan dikembalikan sesuai ketentuan produk ketika jatuh tempo.
Cara Menghitung Bunga Deposito 3 Bulan
Sekarang kita coba tenor yang lebih pendek. Misalnya:
- Modal deposito: Rp50 juta
- Bunga: 5% per tahun
- Tenor: 3 bulan
Rumusnya: Rp50.000.000 × 5% × (3 ÷ 12)
Hasilnya: Rp625.000
Jadi bunga bruto selama 3 bulan adalah Rp625 ribu. Jika dikenakan pajak 20%:
Rp625.000 × 20% = Rp125.000
Bunga bersih: Rp625.000 - Rp125.000 = Rp500.000
Jadi, dari deposito Rp50 juta dengan bunga 5% per tahun selama 3 bulan, bunga bersihnya sekitar Rp500 ribu, dengan asumsi ketentuan pajak 20% tersebut berlaku.
Cara Menghitung Bunga Deposito 6 Bulan
Sekarang kita naikkan tenornya menjadi 6 bulan. Misalnya:
Dana deposito: Rp200 juta
Bunga: 5% per tahun
Tenor: 6 bulan
Bunga bruto: Rp200.000.000 × 5% × (6 ÷ 12) = Rp5.000.000
Pajak 20%: Rp5.000.000 × 20% = Rp1.000.000
Bunga bersih: Rp5.000.000 - Rp1.000.000 = Rp4.000.000
Jadi, bunga bersih selama 6 bulan adalah sekitar Rp4 juta.
Cara Menghitung Bunga Deposito 12 Bulan
Untuk tenor 12 bulan, perhitungannya lebih simpel karena periode investasinya sama dengan satu tahun. Misalnya:
Deposito: Rp300 juta
Bunga: 5% per tahun
Tenor: 12 bulan
Maka bunga bruto: Rp300.000.000 × 5% = Rp15.000.000
Pajak: 20% × Rp15.000.000 = Rp3.000.000
Bunga bersih: Rp15.000.000 - Rp3.000.000 = Rp12.000.000
Jadi, dengan asumsi bunga 5% per tahun dan pajak 20%, bunga bersihnya sekitar Rp12 juta untuk satu tahun.
Jangan Keliru dengan Bunga per Tahun
Ini bagian yang penting.
Misalnya bank menawarkan bunga deposito 6% per tahun.
Bukan berarti deposito Rp100 juta akan menghasilkan Rp6 juta setiap kali jatuh tempo, berapa pun tenornya.
Kalau tenornya 3 bulan, perhitungannya hanya menggunakan seperempat tahun. Kalau 6 bulan, menggunakan setengah tahun. Kalau 12 bulan, menggunakan satu tahun. Secara sederhana:
3 bulan = 3/12 tahun
6 bulan = 6/12 tahun
12 bulan = 12/12 tahun
Karena itu, selalu perhatikan tenor ketika menghitung bunga deposito.
Faktor yang Memengaruhi Bunga Deposito
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum menghitung perkiraan bunga deposito.
1. Nominal Deposito
Semakin besar dana yang ditempatkan, secara matematis bunga yang diterima juga semakin besar jika tingkat bunga dan tenor sama.
Contohnya, deposito Rp100 juta dan Rp200 juta dengan bunga serta tenor yang sama tidak akan menghasilkan nominal bunga yang sama.
2. Suku Bunga Deposito
Suku bunga merupakan faktor utama dalam perhitungan.
Misalnya:
- Deposito A menawarkan 4%
- Deposito B menawarkan 5%
- Deposito C menawarkan 6%
Dengan nominal dan tenor yang sama, hasil bunga brutonya akan berbeda. Tapi jangan hanya melihat angka bunga. Perhatikan juga syarat dan ketentuan produk deposito tersebut.
3. Tenor
Tenor menentukan berapa lama dana ditempatkan.
Tenor yang lebih panjang dapat menghasilkan bunga nominal yang lebih besar jika suku bunga dan dana pokok diasumsikan sama. Namun, suku bunga untuk setiap tenor belum tentu sama.
Jadi, jangan otomatis menganggap tenor 12 bulan selalu memberikan tingkat bunga lebih tinggi daripada tenor 3 bulan.
Cek penawaran bank secara langsung.
4. Pajak
Pajak juga memengaruhi hasil akhir. Kalau kamu hanya menghitung bunga bruto, hasilnya bisa terlihat lebih besar daripada uang yang benar-benar kamu terima.
Karena itu, lebih baik selalu menghitung dua angka: Bunga bruto dan Bunga bersih setelah pajak.
Bunga Deposito Bruto vs Bunga Bersih
Apa bedanya?
Bunga bruto adalah bunga sebelum memperhitungkan pajak. Sedangkan bunga bersih adalah bunga setelah dikurangi pajak yang berlaku.
Misalnya bunga bruto sebesar Rp5 juta. Jika dikenakan PPh final 20%, maka:
Pajak = Rp1 juta
Bunga bersih = Rp4 juta.
Jadi, saat membandingkan deposito dengan instrumen keuangan lain, sebaiknya jangan hanya melihat angka bunga yang ditampilkan. Bandingkan hasil setelah biaya dan pajak yang relevan.
Apakah Bunga Deposito Dibayar Setiap Bulan?
Tergantung ketentuan produk dan bank. Jangan menganggap semua deposito otomatis membayar bunga dengan mekanisme yang sama.
Ada produk yang pembayaran bunganya dilakukan sesuai ketentuan tertentu, misalnya setiap bulan atau ketika deposito jatuh tempo. Karena itu, sebelum membuka deposito, cek:
- kapan bunga dibayarkan;
- bagaimana bunga dihitung;
- apakah bunga masuk ke rekening atau ditambahkan sesuai mekanisme produk;
- bagaimana ketentuannya jika deposito diperpanjang;
- apa yang terjadi jika deposito dicairkan sebelum jatuh tempo.
Detail ini bisa memengaruhi hasil akhir.
Bagaimana Jika Deposito Dicairkan Sebelum Jatuh Tempo?
Deposito pada dasarnya memiliki jangka waktu yang disepakati sejak awal.
Kalau dana dicairkan sebelum jatuh tempo, bank dapat menerapkan ketentuan tertentu sesuai produk dan perjanjian.
Misalnya, bunga yang diterima bisa berbeda dari perhitungan awal atau ada ketentuan mengenai penalti.
Karena itu, jangan memasukkan seluruh dana darurat ke deposito tanpa mempertimbangkan kebutuhan likuiditas.
Dana yang mungkin dibutuhkan dalam waktu dekat sebaiknya dipisahkan dari dana yang memang siap ditempatkan sampai jatuh tempo.
Apakah Bunga Deposito Selalu Sama?
Nggak.
Tingkat bunga deposito bisa berbeda antarbank dan dapat berubah dari waktu ke waktu.
Kondisi suku bunga di perekonomian juga menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan. Sebagai contoh, Bank Indonesia beberapa kali mengubah BI-Rate pada 2026 sebagai bagian dari kebijakan moneter. Pada 9 Juni 2026, BI mengumumkan BI-Rate sebesar 5,50%, kemudian pada 17–18 Juni 2026 BI menaikkannya lagi menjadi 5,75%.
Namun, BI-Rate bukan berarti sama dengan bunga deposito yang kamu dapatkan. Bunga deposito ditentukan oleh bank dan produk yang ditawarkan. Jadi, tetap cek tingkat bunga deposito terbaru dari bank yang kamu pertimbangkan.
Cara Cepat Menghitung Bunga Deposito
Kalau ingin menghitung sendiri, ikuti langkah berikut.
Langkah 1: Tentukan nominal deposito. Misalnya Rp100 juta.
Langkah 2: Cek bunga per tahun. Misalnya 5%.
Langkah 3: Tentukan tenor. Misalnya 6 bulan.
Langkah 4: Hitung bunga bruto. Rp100 juta × 5% × 6/12 = Rp2,5 juta.
Langkah 5: Hitung pajak jika berlaku. 20% × Rp2,5 juta = Rp500 ribu.
Langkah 6: Hitung bunga bersih. Rp2,5 juta - Rp500 ribu = Rp2 juta.
Selesai.
Cara ini bisa kamu gunakan untuk membuat perkiraan awal sebelum membuka deposito. Tetap cek perhitungan final pada bank karena mekanisme pembayaran dan ketentuan produk dapat berbeda.
Apakah Deposito Cocok untuk Semua Tujuan Keuangan?
Belum tentu. Deposito punya karakteristik yang berbeda dengan instrumen investasi lain.
Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah likuiditas. Dana deposito biasanya ditempatkan sampai tenor tertentu. Jadi, akses terhadap dana tidak sebebas saldo tabungan biasa.
Karena itu, sebelum menempatkan uang, tentukan dulu tujuan keuangannya.
Misalnya: Dana untuk kebutuhan 1–3 bulan: pertimbangkan kebutuhan likuiditas.
Dana yang memang tidak akan digunakan selama 6–12 bulan: deposito bisa masuk dalam pilihan yang perlu dipelajari.
Dana untuk tujuan jangka panjang: kamu bisa mempelajari berbagai instrumen keuangan lain dan membandingkan karakteristiknya.
Intinya, jangan hanya bertanya, “Bunganya berapa?”
Tanyakan juga: “Dana ini akan saya butuhkan kapan?”
Pertanyaan tersebut sama pentingnya.
Cara Menghitung Bunga Deposito: Jangan Lupa Hitung Bersihnya
Kalau diringkas, cara menghitung bunga deposito sebenarnya cukup sederhana.
Gunakan rumus: Bunga bruto = Nominal deposito × bunga tahunan × tenor/12
Setelah itu, perhitungkan pajak yang berlaku untuk mendapatkan perkiraan bunga bersih.
Misalnya deposito Rp100 juta dengan bunga 6% per tahun selama 6 bulan:
Bunga bruto = Rp3 juta.
Jika dikenakan PPh final 20%:
Pajak = Rp600 ribu.
Bunga bersih = Rp2,4 juta.
Dari sini terlihat kenapa penting untuk tidak hanya melihat angka bunga yang ditawarkan.
Kamu juga perlu melihat tenor, pajak, mekanisme pembayaran bunga, dan ketentuan pencairan. Dengan begitu, kamu bisa menghitung perkiraan hasil deposito dengan lebih realistis.
FAQ Cara Menghitung Bunga Deposito
Bagaimana rumus menghitung bunga deposito?
Rumus sederhananya adalah nominal deposito dikali suku bunga tahunan dikali tenor dalam tahun. Jika tenor dihitung dalam bulan, gunakan jumlah bulan dibagi 12.
Berapa bunga deposito Rp100 juta?
Jumlahnya tergantung suku bunga dan tenor. Misalnya bunga 6% per tahun selama 6 bulan, bunga brutonya adalah Rp3 juta sebelum pajak.
Berapa bunga deposito Rp100 juta per bulan?
Jika menggunakan contoh bunga 6% per tahun, perhitungan sederhananya adalah Rp100 juta × 6% ÷ 12, yaitu sekitar Rp500 ribu per bulan sebelum pajak. Namun, mekanisme pembayaran bunga deposito bisa berbeda berdasarkan produk bank.
Apakah bunga deposito kena pajak?
Pada umumnya, bunga deposito dikenakan PPh final 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri dalam kondisi yang diatur ketentuan perpajakan. Ada pengecualian dan ketentuan khusus tertentu, sehingga perhatikan aturan yang berlaku.
Apakah bunga deposito 5% berarti dapat 5% setiap bulan?
Tidak. Angka 5% umumnya merupakan tingkat bunga tahunan. Kalau deposito hanya ditempatkan selama beberapa bulan, bunga dihitung secara proporsional sesuai tenor dan ketentuan produk.
Mana yang harus dihitung, bunga bruto atau bunga bersih?
Sebaiknya keduanya. Bunga bruto membantu mengetahui hasil sebelum pajak. Bunga bersih membantu memperkirakan jumlah yang benar-benar kamu terima setelah pajak yang berlaku.
Apakah deposito bisa dicairkan sebelum jatuh tempo?
Ketentuannya bergantung pada produk dan bank. Pencairan sebelum jatuh tempo dapat memiliki konsekuensi terhadap bunga atau biaya tertentu. Cek syarat dan ketentuan sebelum membuka deposito.
Apakah deposito sama dengan tabungan?
Tidak. Deposito merupakan simpanan dengan pencairan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian, sedangkan tabungan pada umumnya lebih fleksibel untuk digunakan sesuai ketentuan rekening. OJK mendefinisikan deposito berjangka sebagai simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu sesuai perjanjian.
Penutup
Menghitung bunga deposito sebenarnya nggak sulit. Kamu hanya perlu mengetahui tiga hal utama: Nominal deposito, tingkat bunga per tahun, dan tenor.
Setelah itu, jangan lupa perhitungkan pajak yang berlaku. Dengan menghitung bunga bruto dan bunga bersih, kamu bisa mendapatkan gambaran yang lebih realistis tentang hasil deposito.
Dan yang nggak kalah penting, jangan hanya melihat angka bunga.
Pertimbangkan juga kapan uang tersebut akan dibutuhkan, berapa lama dana bisa disimpan, serta ketentuan pencairannya. Dengan begitu, keputusan keuangan bisa dibuat berdasarkan kebutuhan dan kondisi finansial kamu, bukan hanya karena melihat angka bunga yang terlihat menarik.
Kalau kamu ingin mempelajari lebih banyak tentang investasi dan aset digital, kamu juga bisa mengeksplorasi berbagai materi edukasi finansial lainnya.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Catatan: Contoh perhitungan dalam artikel ini merupakan simulasi sederhana. Tingkat bunga, mekanisme pembayaran bunga, pajak, dan ketentuan produk deposito dapat berbeda berdasarkan bank dan kondisi yang berlaku. Selalu cek informasi terbaru dari bank dan sumber resmi terkait sebelum mengambil keputusan keuangan.
Baca Juga: Perbedaan Reksadana dan Obligasi: Mana yang Cocok Buat Kamu?







