Pernah membayangkan bagaimana jadinya kalau seluruh uang investasi kamu ditempatkan hanya pada satu aset, lalu harga aset tersebut turun drastis? Nilai portofolio bisa ikut merosot dan tujuan keuangan yang sudah direncanakan pun terancam tertunda.
Situasi ini menjadi salah satu alasan kenapa diversifikasi investasi penting untuk dipahami, terutama kalau kamu baru mulai berinvestasi.
Apa Itu Diversifikasi Investasi?
Diversifikasi investasi adalah strategi menyebarkan dana ke beberapa jenis aset untuk mengurangi risiko yang muncul akibat penurunan nilai satu aset atau kelompok aset tertentu. Dengan strategi ini, kamu nggak hanya bergantung pada kinerja satu instrumen investasi untuk mencapai tujuan keuangan.
Misalnya, kamu memiliki dana investasi sebesar Rp10 juta. Alih-alih menempatkan seluruh dana tersebut pada satu saham, kamu bisa membaginya ke beberapa instrumen, seperti deposito, obligasi, reksa dana, saham, atau aset digital sesuai profil risiko dan tujuan keuangan.
Ketika salah satu aset mengalami penurunan nilai, aset lainnya berpotensi membantu menyeimbangkan kinerja portofolio secara keseluruhan. Namun, perlu diingat bahwa diversifikasi nggak menjamin keuntungan atau menghilangkan seluruh risiko investasi.
Strategi ini juga bukan sekadar membeli banyak instrumen investasi. Kamu perlu memahami karakteristik setiap aset, hubungan pergerakan harganya, serta kesesuaiannya dengan kebutuhan finansial.
Nah, supaya kamu bisa menerapkannya dengan lebih tepat, yuk, kenali manfaat, jenis, dan cara melakukan diversifikasi investasi berikut ini.
Mengapa Diversifikasi Investasi Itu Penting?
Diversifikasi bukan hanya strategi yang digunakan investor berpengalaman. Investor pemula juga bisa menerapkannya untuk membangun portofolio yang lebih terencana.
Berikut beberapa alasan kenapa diversifikasi investasi layak dipertimbangkan.
1. Mengurangi Ketergantungan pada Satu Aset
Setiap instrumen investasi memiliki karakteristik dan risiko yang berbeda. Saham, misalnya, bisa mengalami penurunan ketika kinerja perusahaan memburuk. Sementara itu, harga emas dapat bergerak mengikuti kondisi ekonomi, permintaan pasar, dan perubahan nilai tukar.
Kalau seluruh dana kamu ditempatkan pada satu aset, kinerja portofolio akan sangat bergantung pada pergerakan aset tersebut.
Dengan diversifikasi, dana investasi tersebar ke beberapa instrumen. Artinya, kamu nggak harus mengandalkan satu aset untuk menjaga nilai seluruh portofolio.
Namun, penyebaran aset tetap perlu dilakukan secara terencana. Memiliki banyak instrumen yang ternyata dipengaruhi faktor risiko serupa belum tentu memberikan perlindungan yang optimal.
2. Membantu Mengelola Risiko Investasi
Setiap investasi memiliki risiko, baik berupa fluktuasi harga, risiko gagal bayar, maupun kesulitan menjual aset ketika dana dibutuhkan.
Diversifikasi membantu mengelola risiko dengan menghindari penempatan dana secara berlebihan pada satu instrumen atau sektor tertentu.
Sebagai contoh, investor yang hanya memiliki saham perusahaan teknologi bisa terdampak ketika sektor tersebut mengalami tekanan. Sebaliknya, investor yang memiliki kombinasi beberapa kelas aset dengan karakteristik berbeda mungkin memiliki portofolio yang lebih seimbang.
Meski begitu, risiko pasar tetap bisa memengaruhi berbagai instrumen secara bersamaan. Karena itu, diversifikasi sebaiknya dipandang sebagai salah satu cara mengelola risiko, bukan jaminan bahwa nilai investasi akan selalu stabil.
3. Membuka Peluang dari Berbagai Instrumen
Setiap aset memiliki potensi keuntungan dan karakteristik yang berbeda.
Saham dapat memberikan potensi keuntungan dari kenaikan harga dan dividen. Obligasi dapat memberikan pendapatan berupa kupon sesuai ketentuan penerbitannya. Emas sering digunakan sebagai salah satu instrumen untuk mendiversifikasi portofolio, sedangkan deposito menawarkan bunga sesuai ketentuan bank.
Dengan diversifikasi, kamu memiliki kesempatan untuk memperoleh eksposur ke berbagai sumber potensi keuntungan.
Namun, potensi keuntungan tersebut selalu disertai risiko. Nggak ada instrumen yang selalu memberikan hasil positif dalam setiap kondisi pasar.
4. Menyesuaikan Investasi dengan Tujuan Keuangan
Setiap orang memiliki tujuan keuangan yang berbeda. Ada yang ingin membeli rumah dalam tiga tahun, menyiapkan dana pendidikan anak dalam sepuluh tahun, atau membangun dana pensiun untuk masa depan.
Perbedaan tujuan tersebut memengaruhi pilihan instrumen investasi.
Dana yang akan digunakan dalam waktu dekat biasanya membutuhkan perhatian lebih besar terhadap likuiditas dan kestabilan nilai. Sementara itu, tujuan jangka panjang memungkinkan investor mempertimbangkan aset dengan potensi pertumbuhan lebih tinggi, selama risikonya sesuai dengan kemampuan finansial.
Diversifikasi membantu kamu menggabungkan instrumen berdasarkan kebutuhan tersebut, bukan sekadar mengikuti aset yang sedang populer.
5. Membantu Investor Tetap Disiplin
Pergerakan pasar sering kali memicu keputusan emosional. Ketika harga aset naik, investor bisa tergoda membeli lebih banyak. Sebaliknya, saat harga turun, muncul keinginan untuk menjual seluruh kepemilikan karena takut mengalami kerugian lebih besar.
Portofolio yang terdiversifikasi dan memiliki alokasi aset yang jelas dapat membantu kamu tetap berpegang pada rencana investasi.
Kamu bisa menentukan sejak awal berapa porsi dana untuk setiap kelas aset, kapan perlu melakukan evaluasi, dan kondisi apa yang mengharuskan penyesuaian.
Dengan begitu, keputusan investasi nggak hanya didasarkan pada kepanikan atau euforia pasar.
Jenis-Jenis Diversifikasi Investasi
Diversifikasi bisa dilakukan dengan beberapa pendekatan. Kamu nggak harus menerapkan semuanya sekaligus karena strategi yang tepat bergantung pada tujuan keuangan, modal, dan profil risiko.
Berikut jenis diversifikasi yang perlu kamu ketahui.
1. Diversifikasi Berdasarkan Kelas Aset
Ini merupakan pendekatan yang cukup umum, yaitu membagi dana investasi ke beberapa kelas aset dengan karakteristik berbeda.
Contohnya meliputi:
- Deposito: Simpanan di bank yang memberikan bunga sesuai ketentuan dan umumnya memiliki jangka waktu tertentu.
- Obligasi: Surat utang yang diterbitkan pemerintah atau perusahaan dengan ketentuan pembayaran kupon dan pokok.
- Reksa dana: Instrumen investasi yang menghimpun dana dari investor untuk dikelola sesuai kebijakan investasinya.
- Saham: Bukti kepemilikan atas suatu perusahaan yang nilainya dapat berubah mengikuti kondisi perusahaan dan pasar.
- Emas: Aset yang dapat digunakan sebagai bagian dari strategi diversifikasi, baik dalam bentuk fisik maupun produk investasi berbasis emas.
- Aset kripto: Aset digital yang memiliki karakteristik dan risiko tersendiri, termasuk volatilitas harga yang tinggi.
Setiap instrumen memiliki potensi keuntungan, risiko, likuiditas, dan biaya yang berbeda. Karena itu, kamu perlu memahami cara kerja setiap aset sebelum menentukan alokasinya.
2. Diversifikasi Berdasarkan Sektor
Kalau kamu berinvestasi di saham, jangan hanya melihat jumlah perusahaan yang dimiliki. Perhatikan juga sektor bisnisnya.
Misalnya, kamu memiliki saham dari lima perusahaan. Kalau semuanya berasal dari sektor perbankan, portofoliomu masih sangat bergantung pada kondisi sektor tersebut.
Ketika sektor perbankan menghadapi tekanan, beberapa saham yang kamu miliki bisa mengalami penurunan secara bersamaan.
Untuk mengurangi ketergantungan tersebut, kamu bisa mempertimbangkan eksposur ke sektor lain, seperti kesehatan, barang konsumsi, energi, atau infrastruktur.
Namun, setiap sektor tetap memiliki risiko masing-masing. Diversifikasi lintas sektor bertujuan menyebarkan eksposur, bukan memastikan semua sektor bergerak berlawanan.
3. Diversifikasi Berdasarkan Wilayah Geografis
Diversifikasi geografis berarti menyebarkan investasi ke beberapa negara atau wilayah.
Strategi ini dapat membantu mengurangi ketergantungan pada kondisi ekonomi satu negara. Misalnya, investor yang hanya berinvestasi di Indonesia akan lebih terpengaruh oleh perkembangan ekonomi dan kebijakan domestik.
Dengan memiliki eksposur ke pasar negara lain, investor berpotensi memperoleh manfaat dari pertumbuhan ekonomi yang berbeda.
Namun, investasi lintas negara juga memiliki risiko tambahan, seperti perubahan nilai tukar, perbedaan regulasi, kondisi politik, serta biaya transaksi.
Pastikan kamu memahami risiko tersebut sebelum berinvestasi di pasar luar negeri.
4. Diversifikasi Berdasarkan Waktu
Diversifikasi waktu dapat dilakukan dengan membagi pembelian investasi ke beberapa periode, bukan menempatkan seluruh dana sekaligus.
Salah satu pendekatannya adalah investasi berkala dengan jumlah yang relatif tetap sesuai jadwal.
Sebagai contoh, kamu mengalokasikan Rp1 juta setiap bulan untuk membeli instrumen investasi yang sudah dipilih. Pembelian dilakukan secara rutin tanpa harus menebak waktu ketika harga berada di titik terendah.
Pendekatan ini dapat membantu membangun kebiasaan investasi dan mengurangi ketergantungan pada satu waktu pembelian.
Meski begitu, investasi berkala nggak menjamin keuntungan atau selalu menghasilkan harga pembelian rata-rata yang lebih baik. Hasilnya tetap bergantung pada pergerakan harga, biaya transaksi, dan karakteristik instrumen.
5. Diversifikasi Berdasarkan Tingkat Risiko
Setiap instrumen investasi memiliki tingkat risiko yang berbeda. Karena itu, kamu bisa membagi portofolio berdasarkan kemampuan menerima potensi kerugian.
Investor dengan profil risiko konservatif mungkin lebih mengutamakan instrumen yang relatif stabil dan mudah dicairkan. Investor moderat dapat mengombinasikan instrumen berisiko lebih rendah dengan aset yang memiliki potensi pertumbuhan. Sementara itu, investor agresif mungkin bersedia mengalokasikan sebagian dana ke aset dengan fluktuasi lebih tinggi.
Perlu diingat, profil risiko bukan satu-satunya pertimbangan. Jangka waktu investasi, kebutuhan likuiditas, kondisi keuangan, dan tujuan penggunaan dana juga harus diperhitungkan.
Contoh Diversifikasi Investasi untuk Pemula
Supaya lebih mudah dipahami, mari gunakan contoh sederhana.
Misalnya, kamu memiliki dana investasi sebesar Rp10 juta. Kamu sudah mempunyai dana darurat yang memadai, nggak memiliki utang berbunga tinggi yang perlu segera diselesaikan, dan dana tersebut memang disiapkan untuk investasi.
Kamu kemudian mempertimbangkan pembagian dana sebagai berikut:
- Rp3 juta untuk deposito atau instrumen likuid berisiko relatif rendah.
- Rp3 juta untuk obligasi atau reksa dana pendapatan tetap.
- Rp3 juta untuk reksa dana saham atau saham.
- Rp1 juta untuk aset digital yang sesuai dengan pemahaman dan toleransi risikomu.
Pembagian ini hanyalah ilustrasi, bukan rekomendasi alokasi yang cocok untuk semua orang. Bahkan, komposisi tersebut bisa terlalu berisiko atau kurang sesuai bagi sebagian investor.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dari contoh tersebut.
Pertama, setiap instrumen mempunyai fungsi yang berbeda dalam portofolio. Kedua, alokasi dana harus mempertimbangkan kapan uang akan digunakan. Ketiga, bagian untuk aset berisiko tinggi perlu disesuaikan dengan kemampuan kamu menanggung kerugian.
Kalau kamu berencana menggunakan dana tersebut untuk membayar uang muka rumah dalam satu tahun, misalnya, menempatkan sebagian besar dana pada aset dengan fluktuasi tinggi bisa menjadi pilihan yang kurang sesuai.
Sebaliknya, jika dana ditujukan untuk tujuan jangka panjang dan kondisi keuanganmu memadai, kamu mungkin memiliki ruang lebih besar untuk mempertimbangkan aset yang berpotensi tumbuh.
Intinya, diversifikasi investasi bukan soal memiliki aset sebanyak mungkin, melainkan memilih kombinasi aset yang sesuai dengan tujuan keuangan dan kemampuan menanggung risiko.
Cara Melakukan Diversifikasi Investasi dengan Tepat
Setelah memahami pengertian dan jenisnya, sekarang saatnya mempelajari cara menerapkan diversifikasi dalam kehidupan sehari-hari.
1. Tentukan Tujuan Investasi
Langkah pertama adalah mengetahui untuk apa kamu berinvestasi.
Apakah untuk membeli rumah, mempersiapkan dana pendidikan, membangun dana pensiun, atau mengembangkan kekayaan dalam jangka panjang?
Tujuan tersebut akan memengaruhi pilihan aset dan jangka waktu investasi.
Kalau kamu mempunyai beberapa tujuan sekaligus, pisahkan alokasi dana untuk setiap tujuan agar penggunaannya lebih terarah.
Misalnya, dana untuk liburan tahun depan sebaiknya nggak dicampur begitu saja dengan dana pensiun yang baru akan digunakan puluhan tahun lagi.
2. Kenali Profil Risiko
Profil risiko menggambarkan kemampuan dan kesediaan kamu menghadapi potensi kerugian investasi.
Secara umum, investor sering dikelompokkan menjadi tiga kategori.
Konservatif cenderung mengutamakan kestabilan nilai dan menghindari fluktuasi besar.
Moderat bersedia menghadapi risiko dalam batas tertentu untuk memperoleh potensi pertumbuhan.
Agresif lebih siap menghadapi fluktuasi tinggi demi mengejar potensi keuntungan yang lebih besar.
Namun, berani mengambil risiko belum tentu berarti mampu menanggungnya secara finansial. Kamu juga perlu memperhitungkan pendapatan, kewajiban bulanan, dana darurat, dan tanggungan keluarga.
3. Pelajari Karakteristik Setiap Instrumen
Sebelum membeli aset, pahami cara kerjanya.
Cari tahu dari mana potensi keuntungannya berasal, apa saja risikonya, bagaimana cara menjualnya, serta biaya yang mungkin dikenakan.
Kalau memilih saham, pelajari kondisi perusahaan dan faktor yang memengaruhi harga saham. Kalau memilih obligasi, pahami risiko gagal bayar, perubahan harga, dan jangka waktunya.
Sementara itu, jika tertarik pada aset kripto, pelajari teknologi, fungsi, likuiditas, volatilitas, serta risiko platform dan penyimpanan asetnya.
Jangan membeli instrumen hanya karena sedang ramai dibicarakan atau direkomendasikan oleh orang lain.
4. Tentukan Alokasi Aset
Setelah memahami profil risiko dan karakteristik aset, tentukan berapa porsi dana yang akan ditempatkan pada setiap instrumen.
Nggak ada satu komposisi yang pasti cocok untuk semua investor.
Sebagai pertimbangan, investor yang memiliki tujuan jangka pendek mungkin membutuhkan porsi aset yang lebih likuid dan relatif stabil. Sementara itu, investor dengan tujuan jangka panjang dapat mempertimbangkan porsi aset pertumbuhan yang lebih besar jika sesuai dengan profil risikonya.
Pastikan juga kamu nggak menginvestasikan uang yang dibutuhkan untuk kebutuhan sehari-hari, pembayaran utang, atau keadaan darurat.
5. Perhatikan Korelasi Antar-Aset
Salah satu kesalahan dalam diversifikasi adalah menganggap semakin banyak aset yang dimiliki, semakin rendah pula risikonya.
Padahal, beberapa aset bisa bergerak dengan pola yang serupa karena dipengaruhi faktor ekonomi atau pasar yang sama.
Misalnya, memiliki beberapa saham dari perusahaan dalam sektor yang sama belum tentu memberikan diversifikasi yang memadai.
Karena itu, pertimbangkan bagaimana setiap instrumen berpotensi bereaksi terhadap perubahan suku bunga, inflasi, kondisi ekonomi, dan sentimen pasar.
Korelasi antar-aset juga dapat berubah dari waktu ke waktu. Aset yang sebelumnya memiliki pergerakan berbeda bisa mengalami penurunan bersamaan ketika pasar menghadapi tekanan besar.
6. Evaluasi Portofolio Secara Berkala
Portofolio investasi perlu dievaluasi untuk memastikan alokasinya masih sesuai dengan tujuan awal.
Misalnya, kamu menetapkan alokasi tertentu untuk saham dan obligasi. Setelah beberapa waktu, kenaikan harga saham membuat porsinya menjadi lebih besar daripada rencana awal.
Kondisi ini dapat mengubah tingkat risiko portofolio. Kamu bisa mempertimbangkan penyesuaian alokasi atau rebalancing untuk mengembalikannya mendekati target.
Rebalancing bisa dilakukan dengan menjual sebagian aset yang porsinya terlalu besar, menambah aset yang porsinya berkurang, atau mengarahkan dana investasi baru ke instrumen yang diperlukan.
Frekuensi evaluasi bisa disesuaikan dengan kondisi dan strategi masing-masing investor. Yang penting, hindari terlalu sering mengubah portofolio hanya karena pergerakan harga jangka pendek.
7. Catat Perkembangan Investasi
Pencatatan membantu kamu memahami kondisi portofolio secara menyeluruh.
Catat jumlah dana yang diinvestasikan, harga pembelian, biaya transaksi, perubahan nilai aset, serta tujuan setiap penempatan dana.
Dengan pencatatan yang teratur, kamu bisa mengetahui apakah alokasi investasi masih sesuai rencana dan mengidentifikasi aset yang porsinya sudah terlalu besar.
Kamu juga dapat mengevaluasi keputusan investasi berdasarkan data, bukan hanya ingatan atau perasaan.
Kesalahan dalam Diversifikasi Investasi yang Perlu Dihindari
Meskipun terlihat sederhana, diversifikasi tetap membutuhkan perencanaan. Berikut beberapa kesalahan yang sebaiknya kamu hindari.
1. Membeli Terlalu Banyak Aset Tanpa Strategi
Memiliki banyak instrumen bukan berarti portofolio otomatis menjadi lebih aman.
Kalau kamu membeli berbagai aset tanpa memahami karakteristiknya, pengelolaan portofolio justru bisa menjadi lebih rumit.
Lebih baik memiliki sejumlah instrumen yang dipahami dan sesuai dengan tujuan keuangan daripada membeli banyak aset hanya untuk mengejar kesan terdiversifikasi.
2. Mengabaikan Biaya Investasi
Setiap transaksi bisa memiliki biaya, seperti biaya pembelian, penjualan, pengelolaan, atau administrasi.
Jika kamu terlalu sering melakukan transaksi, biaya tersebut dapat mengurangi hasil investasi.
Karena itu, perhitungkan seluruh biaya sebelum memilih instrumen dan menentukan strategi diversifikasi.
3. Terlalu Fokus pada Potensi Keuntungan
Investor pemula terkadang memilih aset berdasarkan potensi kenaikan harga tanpa memperhatikan kemungkinan kerugian.
Padahal, semakin tinggi potensi keuntungan yang ditawarkan suatu instrumen, biasanya semakin penting pula memahami risiko yang menyertainya.
Jangan sampai kamu menempatkan dana dalam jumlah besar pada aset berisiko tinggi hanya karena tergoda oleh keuntungan yang terlihat menarik.
4. Mengabaikan Likuiditas
Likuiditas menggambarkan seberapa mudah suatu aset dicairkan menjadi uang tunai tanpa mengalami penurunan harga yang signifikan akibat proses penjualan.
Instrumen tertentu mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk dicairkan atau memiliki biaya penjualan yang perlu diperhitungkan.
Kalau dana akan digunakan dalam waktu dekat, pastikan kamu memiliki aset yang dapat dicairkan sesuai kebutuhan.
5. Tidak Melakukan Evaluasi
Kondisi keuangan dan tujuan hidup dapat berubah. Kamu mungkin memperoleh kenaikan pendapatan, memiliki tanggungan baru, atau mendekati waktu penggunaan dana investasi.
Jika portofolio nggak pernah dievaluasi, alokasi aset yang sebelumnya sesuai bisa menjadi kurang relevan.
Lakukan evaluasi secara berkala dan sesuaikan strategi ketika ada perubahan penting dalam kondisi finansial atau tujuan investasi.
Apakah Diversifikasi Investasi Bisa Menghilangkan Risiko?
Jawabannya, nggak.
Diversifikasi membantu menyebarkan risiko, tetapi nggak menghilangkan seluruh kemungkinan kerugian.
Ketika terjadi krisis ekonomi atau tekanan pasar yang luas, beberapa kelas aset dapat mengalami penurunan secara bersamaan. Bahkan instrumen yang dianggap relatif stabil pun memiliki risiko tertentu, termasuk risiko inflasi, gagal bayar, dan perubahan suku bunga.
Selain itu, diversifikasi yang kurang tepat bisa membuat portofolio tetap terkonsentrasi pada risiko tertentu.
Karena itu, diversifikasi perlu dikombinasikan dengan pemahaman terhadap instrumen, pengelolaan arus kas, penentuan tujuan keuangan, serta evaluasi portofolio secara berkala.
Kamu juga perlu membedakan dana investasi dari dana darurat. Dana darurat berfungsi untuk menghadapi kebutuhan mendesak, sedangkan dana investasi ditujukan untuk mencapai tujuan keuangan sesuai jangka waktu yang telah ditentukan.
Dengan pendekatan tersebut, kamu bisa mengambil keputusan investasi secara lebih terencana dan nggak hanya berfokus pada potensi keuntungan.
Kesimpulan
Diversifikasi investasi adalah strategi menyebarkan dana ke berbagai aset untuk membantu mengelola risiko dan mengurangi ketergantungan pada satu instrumen. Strategi ini bisa dilakukan berdasarkan kelas aset, sektor, wilayah geografis, waktu pembelian, maupun tingkat risiko.
Namun, diversifikasi bukan sekadar mengumpulkan banyak instrumen. Kamu perlu memahami karakteristik setiap aset, menentukan alokasi berdasarkan profil risiko, dan mengevaluasi portofolio secara berkala.
Bagi investor pemula, langkah terbaik adalah memulai dari tujuan keuangan yang jelas, memastikan dana darurat tersedia, dan mempelajari instrumen sebelum menempatkan uang.
Dengan perencanaan yang tepat, diversifikasi dapat menjadi salah satu bagian penting dalam membangun strategi investasi jangka panjang.
FAQ Seputar Diversifikasi Investasi
1. Apa yang dimaksud dengan diversifikasi investasi?
Diversifikasi investasi adalah strategi membagi dana ke beberapa instrumen atau kelas aset untuk mengurangi ketergantungan pada satu investasi dan membantu mengelola risiko portofolio.
2. Apa tujuan utama diversifikasi investasi?
Tujuan utamanya adalah menyebarkan risiko, mengurangi konsentrasi investasi pada satu aset, dan membangun portofolio yang sesuai dengan tujuan keuangan serta profil risiko investor.
3. Apa contoh diversifikasi investasi?
Contohnya adalah membagi dana investasi ke deposito, obligasi, reksa dana, saham, emas, atau aset digital. Pilihan dan proporsi setiap instrumen perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan dan toleransi risiko.
4. Apakah diversifikasi investasi menjamin keuntungan?
Tidak. Diversifikasi tidak menjamin keuntungan atau menghilangkan risiko kerugian. Strategi ini membantu menyebarkan risiko, tetapi nilai aset tetap bisa turun, termasuk ketika pasar mengalami tekanan secara luas.
5. Bagaimana cara melakukan diversifikasi investasi untuk pemula?
Mulailah dengan menentukan tujuan keuangan, mengenali profil risiko, mempelajari instrumen investasi, dan menetapkan alokasi aset. Setelah itu, evaluasi portofolio secara berkala agar tetap sesuai dengan kebutuhan.
6. Berapa banyak instrumen investasi yang sebaiknya dimiliki?
Tidak ada jumlah pasti yang berlaku untuk semua investor. Jumlah instrumen sebaiknya ditentukan berdasarkan tujuan keuangan, modal, profil risiko, biaya, dan tingkat pemahaman terhadap aset yang dipilih.
7. Apa perbedaan diversifikasi dan rebalancing?
Diversifikasi adalah strategi menyebarkan dana ke beberapa aset, sedangkan rebalancing adalah penyesuaian kembali proporsi aset agar sesuai dengan alokasi yang telah ditentukan.
8. Apakah aset kripto bisa menjadi bagian dari diversifikasi investasi?
Aset kripto dapat dipertimbangkan sebagai bagian dari portofolio oleh investor yang memahami karakteristik dan risikonya. Namun, aset ini memiliki volatilitas yang tinggi, sehingga alokasinya perlu disesuaikan dengan kemampuan menanggung kerugian. Diversifikasi ke aset kripto tidak menjamin portofolio menjadi lebih aman.
Kalau kamu ingin memperluas wawasan tentang aset digital, pelajari karakteristik dan risikonya terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk berinvestasi.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ adalah aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Diversifikasi Aset Kripto: Cara Melindungi Investasimu dari Volatilitas







