Harga Bitcoin (BTC) masih mampu bertahan di atas level US$76.000 setelah pasar menghadapi dua tekanan besar dalam 48 jam terakhir, yakni kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) Amerika Serikat dan kegagalan Undang-Undang CLARITY melaju di Senat AS.
Namun, ketahanan harga Bitcoin tersebut belum sepenuhnya didukung oleh kondisi fundamental pasar. Sejumlah indikator on-chain justru menunjukkan adanya pelemahan arus modal baru yang berpotensi menekan harga BTC dalam jangka pendek.
Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$76.297 pada 17 September 2026, naik sekitar 0,58% dalam 24 jam, tetapi masih terkoreksi 2,5% dalam sepekan.
Tekanan terhadap Bitcoin meningkat setelah Senat AS gagal memajukan CLARITY Act pada 15 September. RUU tersebut menjadi salah satu katalis yang diperhatikan pelaku pasar karena berkaitan dengan kejelasan regulasi aset digital di AS.

Pada hari yang sama, produk investasi Bitcoin mencatat arus keluar sekitar US$450,33 juta. Produk spot Bitcoin dan Ethereum bahkan mengalami total arus keluar sekitar US$592 juta, menjadi salah satu arus keluar harian terdalam dalam beberapa bulan terakhir.
Tekanan berikutnya datang dari keputusan Fed yang menaikkan suku bunga acuannya sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4,00%. Proyeksi terbaru juga menunjukkan 16 dari 18 pejabat Fed memperkirakan masih ada satu kali kenaikan suku bunga pada tahun ini.
Meski demikian, harga Bitcoin justru sempat menguat setelah keputusan tersebut diumumkan. BTC bergerak dari sekitar US$75.350 menuju di atas US$76.100 dalam hitungan menit.
Momentum Level Kunci US$76.700
Di balik ketahanan harga tersebut, perhatian pasar kini tertuju pada level True Market Mean di sekitar US$76.700.
Data Glassnode menunjukkan Bitcoin mencatat penutupan harian kedua berturut-turut di bawah level tersebut. True Market Mean menggambarkan rata-rata harga yang dibayarkan oleh investor yang masih aktif di pasar.

Bitcoin sebelumnya sempat kehilangan level tersebut pada 23 Agustus dan 10 September, tetapi berhasil kembali naik. Kali ini, penutupan berulang di bawah level tersebut dinilai menunjukkan perubahan struktur perdagangan.
Glassnode menyebut kondisi tersebut membuat harga Bitcoin berada tepat di bawah kisaran yang telah bertahan sejak akhir Agustus.
Apabila tekanan berlanjut, perhatian berikutnya berada pada Short-Term Holder Cost Basis sekitar US$71.300, yakni rata-rata harga pembelian Bitcoin oleh investor yang memperoleh koin dalam sekitar lima bulan terakhir.
Arus Modal Baru Mulai Melemah
Selain level teknikal, indikator arus modal juga mulai menunjukkan perubahan.
Realized Cap Bitcoin, yang memperhitungkan nilai koin berdasarkan harga saat terakhir berpindah, sempat meningkat selama 27 hari berturut-turut hingga 14 September. Namun, indikator tersebut berbalik negatif pada 15 September.
Pelemahan juga terlihat dari arus dana ETF Bitcoin. Produk spot Bitcoin mencatat arus keluar sekitar US$334 juta sepanjang 8-14 September.
Sementara itu, suplai stablecoin yang sering digunakan sebagai likuiditas untuk memasuki pasar kripto relatif stagnan di sekitar US$301 miliar selama sepekan.
Aktivitas perusahaan treasury Bitcoin juga belum menunjukkan kekuatan seperti sebelumnya. Perusahaan publik tercatat membeli sekitar 5.900 BTC dalam tiga bulan terakhir, jauh lebih rendah dibandingkan pembelian sekitar 89.000 BTC pada Juli 2025 saja.
Harga rata-rata pembelian kelompok perusahaan tersebut berada di sekitar US$80.500. Dengan harga Bitcoin yang masih berada di bawah level tersebut, posisi mereka saat ini berada dalam kondisi tidak menguntungkan secara harga.
Willy Woo Masih Melihat Peluang Bottom Sudah Terbentuk
Meski sejumlah indikator menunjukkan pelemahan, tidak semua analis menilai Bitcoin telah memasuki fase penurunan lebih dalam.
Analis on-chain Willy Woo memperkirakan peluang bahwa Bitcoin telah membentuk titik terendah mencapai 90%.
"Saya menempatkan probabilitas bagian bawah berada di 90%. Kami berada dalam struktur pasar bull awal berdasarkan kembalinya likuiditas investor jangka panjang," ujar Woo.

Pandangan tersebut bertumpu pada indikasi kembalinya likuiditas dari investor jangka panjang. Namun, arus ETF, stablecoin, dan pembelian Bitcoin oleh perusahaan treasury masih menunjukkan kondisi yang lebih lemah.
Dari sisi level harga, area US$83.000-US$86.000 menjadi zona resistensi penting karena terdapat konsentrasi pasokan dari pemegang jangka panjang.
Di sisi bawah, Bitcoin berpotensi menguji US$71.300 apabila tekanan jual berlanjut. Jika level tersebut gagal dipertahankan, area US$68.000 menjadi perhatian berikutnya, sementara likuiditas di bawahnya disebut semakin tipis hingga sekitar US$61.000.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin dalam beberapa sesi ke depan akan sangat bergantung pada kemampuannya kembali merebut US$76.700 sekaligus mendapatkan dukungan arus modal baru.
Dua penutupan harian di atas US$76.700 dapat mengembalikan Bitcoin ke kisaran sebelumnya. Sebaliknya, kegagalan merebut level tersebut membuat US$71.300 menjadi salah satu area penting yang perlu diperhatikan pasar.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secarareal-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai BTC dan aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Harga Bitcoin Hari Ini (18/9) Naik ke $77.165 Usai Fed, Waspada Jika Gagal Bertahan




