THR atau Tunjangan Hari Raya menjadi salah satu pemasukan yang paling ditunggu oleh karyawan. Tambahan penghasilan ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari raya, membeli pakaian, membayar zakat, mudik, hingga menambah tabungan.
Namun, ada satu hal yang terkadang membuat karyawan kecewa saat THR cair. Jumlah uang yang masuk ke rekening ternyata tidak sebesar yang dibayangkan karena ada potongan pajak.
Situasi ini sering menimbulkan pertanyaan. Apakah semua THR kena pajak? Mengapa potongannya bisa berbeda dari bulan biasa? Lalu, bagaimana cara mengetahui apakah pajak THR yang dipotong perusahaan sudah sesuai aturan?
Nah, memahami pajak THR bisa membantu kamu memperkirakan penghasilan bersih yang akan diterima. Dengan begitu, kamu bisa menyusun anggaran hari raya secara lebih realistis tanpa harus mengandalkan nominal THR sebelum potongan.
Apa Itu Pajak THR?
Pajak THR adalah pajak penghasilan yang dikenakan atas tunjangan hari raya yang diterima pekerja. Untuk karyawan, pemotongan ini umumnya dilakukan melalui Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21.
THR termasuk penghasilan yang berkaitan dengan pekerjaan. Karena itu, tunjangan ini diperhitungkan dalam penghitungan pajak penghasilan karyawan.
Ketentuan PPh Pasal 21 mencakup penghasilan berupa gaji, tunjangan, bonus, dan pembayaran lain yang berhubungan dengan pekerjaan. Jadi, meskipun THR hanya diterima pada waktu tertentu, penghasilan ini tetap perlu diperhitungkan dalam kewajiban perpajakan.
Perlu dipahami bahwa pajak THR bukan jenis pajak yang berdiri sendiri. Potongan tersebut merupakan bagian dari mekanisme PPh Pasal 21 yang berlaku bagi karyawan.
Selain itu, tidak semua pekerja akan mengalami potongan dengan nominal yang sama. Besarnya pajak dipengaruhi oleh jumlah penghasilan, status Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), dan ketentuan penghitungan yang berlaku.
Artinya, nominal THR yang sama belum tentu menghasilkan potongan pajak yang sama untuk setiap karyawan.
Apakah Semua Karyawan Harus Membayar Pajak THR?
Tidak selalu. Pajak yang dipotong dari THR bergantung pada kondisi penghasilan dan perhitungan PPh Pasal 21 masing-masing karyawan.
THR memang termasuk objek pajak penghasilan. Namun, besarnya pajak yang terutang tidak bisa ditentukan hanya dengan melihat nominal THR secara terpisah.
Penghitungan pajak juga mempertimbangkan penghasilan lain yang diterima karyawan. Untuk pegawai tetap, gaji dan THR yang dibayarkan pada bulan yang sama diperhitungkan bersama dalam mekanisme pemotongan bulanan.
Sebagai contoh, seorang karyawan menerima gaji Rp8 juta per bulan dan THR Rp8 juta. Ketika THR dibayarkan, penghasilan bruto pada bulan tersebut menjadi Rp16 juta, sebelum memperhitungkan komponen lain yang relevan.
Kondisi ini berbeda dengan bulan biasa ketika karyawan hanya menerima gaji Rp8 juta.
Karena penghasilan bruto bulan pembayaran THR lebih besar, potongan PPh Pasal 21 pada bulan tersebut juga dapat meningkat.
Meski begitu, bukan berarti seluruh karyawan otomatis dikenai potongan dengan persentase yang sama. Status PTKP dan ketentuan tarif yang berlaku tetap perlu diperhatikan.
Oleh karena itu, jangan langsung menyimpulkan bahwa perusahaan salah menghitung pajak hanya karena nominal potongannya terlihat lebih besar daripada bulan sebelumnya.
Kenapa Pajak THR Bisa Lebih Besar dari Biasanya?
Ada beberapa faktor yang membuat potongan pajak saat THR cair terlihat lebih besar. Memahami faktor-faktor ini bisa membantu kamu membaca slip gaji dengan lebih tepat.
1. Penghasilan Bulanan Mengalami Peningkatan
Penyebab yang paling mudah dipahami adalah adanya tambahan penghasilan.
Pada bulan biasa, kamu mungkin hanya menerima gaji pokok dan tunjangan rutin. Namun, ketika THR dibayarkan, jumlah penghasilan bruto meningkat.
Misalnya, gaji bulananmu Rp7 juta dan THR yang diterima Rp7 juta. Penghasilan bruto dari kedua komponen tersebut menjadi Rp14 juta pada bulan pembayaran THR, dengan asumsi tidak ada komponen penghasilan lain.
Peningkatan ini memengaruhi penghitungan PPh Pasal 21 bulanan. Akibatnya, jumlah pajak yang dipotong bisa lebih tinggi daripada bulan biasa.
2. Ada Perbedaan Tarif Efektif Berdasarkan Penghasilan
Penghitungan PPh Pasal 21 untuk pegawai tetap menggunakan Tarif Efektif Rata-rata (TER) pada masa pajak selain masa pajak terakhir.
TER merupakan tarif yang digunakan untuk menyederhanakan penghitungan pemotongan pajak bulanan. Tarifnya disesuaikan dengan rentang penghasilan bruto dan kategori yang ditentukan berdasarkan status PTKP.
Ketika penghasilan bruto meningkat karena THR, karyawan dapat masuk ke rentang tarif efektif yang berbeda.
Itulah salah satu alasan potongan pajak pada bulan pembayaran THR dapat terlihat lebih besar.
Namun, ada hal penting yang perlu kamu pahami. TER bukan jenis pajak baru dan tidak otomatis membuat total pajak setahun bertambah.
Pada masa pajak terakhir, umumnya bulan Desember bagi karyawan yang bekerja sepanjang tahun, PPh Pasal 21 dihitung kembali berdasarkan penghasilan kena pajak setahun dengan tarif yang berlaku. Pajak yang sudah dipotong sebelumnya kemudian diperhitungkan.
Karena itu, potongan bulanan yang terlihat besar tidak selalu mencerminkan total kewajiban pajak tahunan.
3. Status PTKP Karyawan Berbeda
PTKP adalah batas penghasilan yang tidak dikenai pajak penghasilan. Besarnya ditentukan berdasarkan ketentuan perpajakan dan kondisi wajib pajak.
Status PTKP antara lain mempertimbangkan status perkawinan dan jumlah tanggungan yang diakui sesuai aturan.
Sebagai gambaran, karyawan yang belum menikah tanpa tanggungan memiliki status PTKP berbeda dari karyawan yang sudah menikah dan memiliki tanggungan.
Perbedaan status tersebut dapat memengaruhi penghitungan PPh Pasal 21 setahun serta kategori TER bulanan yang digunakan.
Oleh sebab itu, data status perkawinan dan tanggungan pada administrasi perusahaan perlu diperiksa apabila kamu merasa potongan pajak tidak sesuai.
Pastikan informasi yang disampaikan kepada bagian personalia atau HR sudah benar dan diperbarui sesuai ketentuan.
4. Ada Bonus atau Tunjangan Lain
THR bukan satu-satunya komponen penghasilan yang dapat memengaruhi besarnya potongan pajak.
Jika pada bulan yang sama kamu menerima bonus, insentif, atau tunjangan lain yang termasuk penghasilan kena pajak, total penghasilan bruto bisa semakin besar.
Contohnya, kamu menerima gaji Rp8 juta, THR Rp8 juta, dan bonus kinerja Rp2 juta pada bulan yang sama.
Total penghasilan bruto dari ketiga komponen tersebut mencapai Rp18 juta, sebelum memperhitungkan komponen lain yang relevan.
Nilai tersebut menjadi salah satu dasar penghitungan pemotongan PPh Pasal 21 bulanan bagi pegawai tetap.
Jadi, saat mengecek pajak THR, jangan hanya melihat nilai THR. Perhatikan juga komponen penghasilan lain yang diterima pada periode pembayaran yang sama.
5. Penghitungan Pajak Bulanan Berbeda dari Penghitungan Akhir Tahun
Potongan pajak bulanan merupakan bagian dari proses penghitungan PPh Pasal 21. Untuk pegawai tetap, penghitungan pada masa pajak terakhir menggunakan mekanisme yang berbeda dari pemotongan bulanan dengan TER.
Pada masa pajak terakhir, pajak dihitung berdasarkan penghasilan kena pajak setahun dan tarif progresif yang berlaku. Pajak yang sudah dipotong selama tahun berjalan kemudian diperhitungkan untuk menentukan jumlah pajak pada masa pajak terakhir.
Karena itu, kamu tidak sebaiknya menilai total beban pajak setahun hanya dari potongan pada bulan ketika THR cair.
Untuk memahami jumlah pajak yang sebenarnya terutang, perhatikan keseluruhan penghasilan dan pemotongan selama satu tahun pajak.
Cara Menghitung Pajak THR dengan Benar
Untuk memahami pajak THR, kamu perlu mengetahui komponen penghasilan yang digunakan dalam penghitungan PPh Pasal 21.
Bagi pegawai tetap, penghitungan pada masa pajak selain masa pajak terakhir menggunakan tarif efektif bulanan. Gaji dan THR yang dibayarkan pada bulan yang sama diperhitungkan dalam penghasilan bruto bulan tersebut.
Berikut gambaran sederhana prosesnya.
1. Hitung Total Penghasilan Bruto
Langkah pertama adalah menjumlahkan penghasilan bruto yang diterima pada bulan pembayaran THR.
Misalnya, kamu menerima gaji Rp6 juta dan THR Rp6 juta. Total penghasilan bruto pada bulan tersebut menjadi Rp12 juta, dengan asumsi tidak ada bonus atau penghasilan lain.
Nominal ini menjadi dasar untuk menentukan pemotongan PPh Pasal 21 bulanan sesuai ketentuan yang berlaku.
2. Tentukan Kategori TER
Setelah mengetahui total penghasilan bruto, perusahaan menentukan kategori TER berdasarkan status PTKP karyawan.
Kategori TER bulanan terdiri dari kategori A, B, dan C. Setiap kategori memiliki rentang penghasilan dan tarif yang berbeda.
Karena itu, kamu tidak bisa langsung menggunakan persentase potongan pajak milik teman kantor untuk menghitung pajakmu sendiri.
Walaupun gaji dan THR kalian sama, hasil penghitungan bisa berbeda jika status PTKP atau komponen penghasilan yang diterima berbeda.
3. Hitung Potongan PPh Pasal 21
Perusahaan kemudian menerapkan tarif efektif bulanan yang sesuai dengan kategori dan rentang penghasilan bruto.
Sebagai ilustrasi, jika penghasilan bruto Rp12 juta dan tarif TER yang sesuai adalah 5%, hasil perkalian sederhananya adalah Rp600 ribu.
Namun, angka tersebut hanya contoh matematika, bukan kepastian besarnya pajak yang harus dibayar karyawan dengan penghasilan Rp12 juta. Tarif aktual perlu ditentukan berdasarkan kategori TER dan rentang penghasilan yang berlaku.
Selain itu, penghitungan pada masa pajak terakhir mengikuti mekanisme yang berbeda. Karena itu, contoh ini tidak dapat digunakan untuk menentukan total pajak setahun.
4. Periksa Penghasilan Bersih yang Diterima
Setelah potongan pajak dan potongan lain yang berlaku diperhitungkan, perusahaan membayarkan penghasilan bersih kepada karyawan.
Penghasilan bersih inilah yang sebaiknya kamu jadikan dasar untuk menyusun anggaran hari raya.
Jangan langsung mengalokasikan seluruh nominal THR yang tercantum dalam perjanjian kerja atau informasi perusahaan. Perhatikan juga potongan yang tercantum pada slip gaji.
Jika ada angka yang tidak kamu pahami, mintalah penjelasan kepada bagian HR atau penggajian.
Bagaimana Cara Memastikan Potongan Pajak THR Tidak Salah?
Kamu tidak harus menghitung seluruh pajak secara manual untuk memeriksa potongan THR. Namun, ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar penghasilan dan kewajiban perpajakan tetap tercatat dengan baik.
Periksa Slip Gaji
Slip gaji merupakan dokumen awal yang bisa kamu gunakan untuk memeriksa rincian penghasilan dan potongan.
Pastikan nominal gaji, THR, bonus, serta tunjangan lain sudah sesuai dengan pembayaran yang diterima.
Perhatikan pula jumlah potongan PPh Pasal 21. Jika terdapat perbedaan yang tidak kamu pahami, tanyakan dasar penghitungannya kepada perusahaan.
Pastikan Data Karyawan Sudah Benar
Status perkawinan dan jumlah tanggungan dapat memengaruhi kategori PTKP yang digunakan dalam penghitungan pajak.
Jika ada perubahan kondisi keluarga, pastikan informasi tersebut disampaikan kepada bagian HR sesuai prosedur perusahaan dan ketentuan yang berlaku.
Data yang tidak sesuai bisa menyebabkan kategori penghitungan pajak tidak mencerminkan kondisi wajib pajak yang sebenarnya.
Simpan Bukti Potong Pajak
Bukti potong PPh Pasal 21 penting untuk memeriksa pajak yang telah dipotong selama tahun berjalan.
Bagi pegawai tetap, bukti potong tahunan umumnya menggunakan formulir 1721-A1. Untuk pegawai negeri sipil, TNI, atau Polri, bukti potong yang relevan umumnya berupa formulir 1721-A2.
Dokumen ini membantu kamu mencocokkan penghasilan dan pajak yang dipotong dengan data dalam pelaporan SPT Tahunan.
Jangan membuang dokumen tersebut setelah menerima gaji atau THR. Simpan dalam bentuk digital maupun cetak agar mudah ditemukan ketika dibutuhkan.
Apakah Pajak THR Harus Dilaporkan dalam SPT Tahunan?
Ya, penghasilan yang diterima selama tahun pajak perlu diperhatikan dalam pelaporan SPT Tahunan sesuai ketentuan perpajakan.
Bagi karyawan yang menerima THR, penghasilan tersebut umumnya sudah diperhitungkan dalam pemotongan PPh Pasal 21 oleh perusahaan.
Namun, pemotongan pajak oleh perusahaan tidak berarti kamu otomatis terbebas dari kewajiban pelaporan SPT Tahunan.
Kamu tetap perlu memastikan bahwa seluruh penghasilan dan kredit pajak yang relevan sudah tercatat dengan benar.
Jika hanya bekerja pada satu perusahaan selama setahun, proses pencocokan data biasanya lebih sederhana karena penghasilan dan pemotongan pajak tercatat dalam bukti potong dari perusahaan tersebut.
Sebaliknya, jika kamu berpindah pekerjaan atau menerima penghasilan dari lebih dari satu pemberi kerja, perhatikan seluruh bukti potong yang dimiliki. Penghasilan dari berbagai sumber perlu dilaporkan sesuai ketentuan.
Apabila terdapat perbedaan antara data bukti potong dan penghasilan yang kamu terima, sebaiknya minta klarifikasi kepada pemberi kerja sebelum menyelesaikan pelaporan.
Dengan begitu, kamu bisa mengurangi risiko kesalahan pengisian SPT.
Tips Mengatur THR Setelah Dipotong Pajak
Setelah mengetahui besarnya penghasilan bersih, langkah berikutnya adalah mengatur penggunaan THR. Jangan sampai uang tambahan yang seharusnya membantu keuangan justru habis tanpa perencanaan.
1. Susun Anggaran Sebelum THR Cair
Buat daftar kebutuhan yang perlu dibayar menjelang hari raya.
Misalnya, biaya perjalanan mudik, kebutuhan rumah tangga, pakaian, zakat, dan pemberian kepada keluarga.
Tentukan prioritas berdasarkan kebutuhan yang paling penting. Dengan cara ini, kamu bisa menghindari pengeluaran impulsif hanya karena merasa memiliki uang tambahan.
2. Dahulukan Kebutuhan Wajib
Gunakan THR untuk memenuhi kebutuhan yang memang sudah direncanakan.
Jika ada tagihan atau kewajiban yang jatuh tempo, masukkan ke dalam anggaran sejak awal. Jangan menunggu sampai uang hampir habis untuk memikirkan pembayaran tersebut.
Kamu juga bisa menetapkan batas belanja agar pengeluaran selama hari raya tidak melebihi kemampuan keuangan.
3. Sisihkan Sebagian untuk Tabungan
Tidak semua THR harus dihabiskan untuk kebutuhan hari raya.
Jika kebutuhan utama sudah terpenuhi, kamu bisa menyisihkan sebagian uang untuk tabungan, dana darurat, atau tujuan keuangan lainnya.
Besarnya alokasi dapat disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Jika dana darurat belum mencukupi, kamu bisa menjadikan THR sebagai kesempatan untuk menambah simpanan.
4. Jangan Mengandalkan Nominal THR Sebelum Potongan
Saat membuat anggaran, gunakan perkiraan penghasilan bersih yang akan diterima, bukan hanya nominal THR sebelum pajak.
Langkah ini penting agar rencana pengeluaran tetap realistis.
Jika ternyata THR yang masuk lebih kecil daripada perkiraan, kamu tidak perlu langsung mengorbankan kebutuhan utama atau menggunakan utang untuk menutup kekurangan.
5. Evaluasi Pengeluaran Setelah Hari Raya
Setelah hari raya selesai, luangkan waktu untuk memeriksa pengeluaran yang sudah dilakukan.
Bandingkan anggaran awal dengan jumlah uang yang benar-benar digunakan. Dari sana, kamu bisa mengetahui bagian mana yang perlu diperbaiki untuk perencanaan keuangan berikutnya.
Kebiasaan sederhana ini dapat membantu kamu mengelola pemasukan tidak rutin dengan lebih baik.
FAQ Seputar Pajak THR
1. Apakah THR dikenai pajak?
Ya. THR termasuk penghasilan yang menjadi objek PPh Pasal 21 bagi karyawan. Besarnya potongan mengikuti ketentuan perpajakan yang berlaku dan kondisi penghasilan masing-masing.
2. Berapa persen pajak THR?
Tidak ada satu persentase yang berlaku untuk semua karyawan. Untuk pegawai tetap, pemotongan bulanan menggunakan TER sesuai kategori dan rentang penghasilan bruto. Penghitungan pajak pada masa pajak terakhir mengikuti mekanisme yang berbeda.
3. Mengapa potongan pajak THR lebih besar daripada bulan biasa?
Karena pada bulan pembayaran THR, penghasilan bruto meningkat. Gaji, THR, dan penghasilan lain yang relevan diperhitungkan dalam penghitungan PPh Pasal 21 bulanan.
4. Apakah karyawan dengan gaji kecil tetap terkena pajak THR?
Tidak bisa ditentukan hanya berdasarkan nominal gaji atau THR. Penghitungan perlu mempertimbangkan total penghasilan, status PTKP, serta ketentuan pajak yang berlaku.
5. Apakah pajak THR dipotong langsung oleh perusahaan?
Umumnya, perusahaan sebagai pemberi kerja menghitung dan memotong PPh Pasal 21 dari penghasilan karyawan, termasuk THR, sesuai ketentuan yang berlaku.
6. Apakah THR perlu dilaporkan dalam SPT Tahunan?
Penghasilan THR perlu tercermin dalam pelaporan penghasilan tahunan sesuai ketentuan. Karyawan sebaiknya mencocokkan data penghasilan dan pajak yang dipotong dengan bukti potong dari perusahaan.
7. Apakah potongan pajak THR yang besar berarti pajak setahun ikut bertambah?
Belum tentu. Potongan bulanan merupakan bagian dari penghitungan pajak. Pada masa pajak terakhir, pajak dihitung kembali berdasarkan penghasilan kena pajak setahun dan pajak yang sudah dipotong sebelumnya diperhitungkan.
Kesimpulan
Pajak THR merupakan bagian dari Pajak Penghasilan Pasal 21 yang dikenakan atas penghasilan karyawan. Besarnya potongan dapat berbeda karena dipengaruhi oleh penghasilan bruto, kategori tarif efektif, status PTKP, dan komponen penghasilan lain.
Potongan pajak pada bulan pembayaran THR bisa terlihat lebih besar karena gaji dan penghasilan tambahan diperhitungkan bersama. Namun, potongan bulanan tersebut tidak bisa langsung dijadikan patokan untuk menentukan total pajak setahun.
Karena itu, penting untuk memeriksa slip gaji, memastikan data karyawan sudah benar, dan menyimpan bukti potong pajak untuk keperluan pelaporan SPT Tahunan.
Setelah mengetahui nominal THR bersih yang diterima, kamu juga bisa menyusun anggaran hari raya dengan lebih terarah. Dahulukan kebutuhan wajib, sisihkan uang untuk tabungan, dan hindari pengeluaran yang tidak direncanakan.
Untuk membantu perencanaan keuangan yang lebih baik, kamu bisa mulai dengan memahami pemasukan, pengeluaran, dan tujuan keuangan pribadi. Jika ingin mengeksplorasi instrumen aset digital, kamu dapat mempelajari pilihan yang tersedia sekaligus memahami risiko dan menyesuaikannya dengan profil risiko masing-masing.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ adalah aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Cara Hitung THR: Cek Rumus dan Contohnya!







