THR atau Tunjangan Hari Raya menjadi salah satu penghasilan tambahan yang paling ditunggu pekerja setiap tahun. Uang ini biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hari raya, mulai dari membeli bahan makanan, menyiapkan hadiah untuk keluarga, hingga membayar biaya perjalanan mudik.
Namun, ada satu hal yang sering terjadi. Uang THR terasa banyak ketika baru diterima, tetapi tiba-tiba habis sebelum hari raya selesai. Penyebabnya bisa beragam, mulai dari pengeluaran yang tidak direncanakan hingga keinginan membeli barang yang sebenarnya belum dibutuhkan.
Padahal, kalau dikelola dengan tepat, THR bisa memberikan manfaat lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan hari raya. Uang ini juga dapat digunakan untuk membayar utang, menambah tabungan, atau memperkuat dana darurat.
Lantas, apa itu THR, bagaimana aturan pemberiannya, dan bagaimana cara menghitung nominal yang berhak diterima? Yuk, simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu THR?
THR adalah singkatan dari Tunjangan Hari Raya Keagamaan, yaitu pendapatan nonupah yang diberikan kepada pekerja menjelang hari raya keagamaan.
Di Indonesia, THR menjadi hak pekerja yang memenuhi ketentuan peraturan ketenagakerjaan. Pemberiannya bertujuan membantu pekerja memenuhi kebutuhan menjelang hari raya.
THR biasanya identik dengan Idulfitri. Namun, tunjangan ini juga diberikan menjelang hari raya keagamaan lain sesuai agama pekerja, seperti Natal, Nyepi, Waisak, dan Tahun Baru Imlek.
Perlu dipahami bahwa THR berbeda dari gaji bulanan. Gaji merupakan kompensasi rutin atas pekerjaan yang dilakukan, sedangkan THR merupakan tunjangan khusus yang diberikan sesuai ketentuan.
Karena sifatnya sebagai penghasilan tambahan, THR sering menjadi kesempatan bagi pekerja untuk memenuhi kebutuhan yang sulit ditutupi dari gaji bulanan.
Meski begitu, bukan berarti seluruh uang THR harus dihabiskan untuk belanja hari raya. Dengan perencanaan yang tepat, sebagian uangnya bisa dialokasikan untuk kebutuhan keuangan dan investasi jangka panjang.
Aturan THR di Indonesia
Pemberian THR kepada pekerja di perusahaan diatur melalui Peraturan Menteri Ketenagakerjaan Nomor 6 Tahun 2016 tentang Tunjangan Hari Raya Keagamaan bagi Pekerja/Buruh di Perusahaan.
Ketentuan pelaksanaannya juga mengacu pada peraturan pengupahan yang berlaku. Untuk pelaksanaan tahun 2026, Kementerian Ketenagakerjaan menerbitkan Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Nomor M/3/HK.04.00/III/2026.
Berikut beberapa ketentuan penting mengenai THR.
1. Pekerja yang Berhak Mendapatkan THR
Pekerja yang telah memiliki masa kerja minimal satu bulan secara terus-menerus berhak mendapatkan THR sesuai ketentuan yang berlaku.
Ketentuan ini mencakup pekerja dengan hubungan kerja berdasarkan perjanjian kerja waktu tidak tertentu (PKWTT) maupun perjanjian kerja waktu tertentu (PKWT).
Artinya, hak THR tidak hanya berlaku bagi karyawan tetap. Karyawan kontrak yang memenuhi persyaratan juga berhak menerimanya.
Namun, besaran THR dapat berbeda bergantung pada masa kerja dan ketentuan penghitungan yang berlaku.
2. THR Dibayarkan Paling Lambat Tujuh Hari Sebelum Hari Raya
Pengusaha wajib membayarkan THR paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan pekerja.
Perusahaan juga diimbau untuk membayarkan tunjangan lebih awal agar pekerja memiliki waktu untuk mempersiapkan kebutuhan hari raya.
Ketentuan ini penting untuk diketahui, terutama jika kamu ingin merencanakan belanja, perjalanan mudik, atau pembayaran kewajiban sebelum hari raya tiba.
3. THR Wajib Dibayarkan Penuh
THR wajib dibayarkan secara penuh dan tidak boleh dicicil.
Jika perusahaan memiliki ketentuan dalam perjanjian kerja, peraturan perusahaan, perjanjian kerja bersama, atau kebiasaan yang memberikan THR lebih besar daripada batas minimum yang ditentukan, ketentuan yang lebih menguntungkan tersebut berlaku sesuai aturan.
Karena itu, penting untuk memahami isi kontrak kerja dan kebijakan perusahaan yang berkaitan dengan tunjangan hari raya.
Cara Menghitung THR
Besaran THR tidak selalu sama untuk setiap pekerja. Salah satu faktor utamanya adalah masa kerja.
Secara umum, pekerja dengan masa kerja minimal 12 bulan mendapatkan THR sebesar satu bulan upah. Sementara itu, pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan tetapi kurang dari 12 bulan mendapatkan THR secara proporsional.
Berikut cara menghitungnya.
1. Cara Menghitung THR Karyawan dengan Masa Kerja 12 Bulan atau Lebih
Pekerja yang telah bekerja selama 12 bulan secara terus-menerus atau lebih berhak menerima THR sebesar satu bulan upah.
Komponen upah yang digunakan adalah upah tanpa tunjangan atau upah bersih, maupun upah pokok ditambah tunjangan tetap.
Sebagai contoh, kamu memiliki upah pokok sebesar Rp6.000.000 dan tunjangan tetap sebesar Rp1.000.000 per bulan.
Jika menggunakan komponen upah pokok ditambah tunjangan tetap, perhitungannya menjadi:
Rp6.000.000 + Rp1.000.000 = Rp7.000.000.
Dengan demikian, THR yang menjadi hakmu adalah Rp7.000.000, dengan asumsi komponen upah tersebut sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perlu diingat, tunjangan tidak tetap dan komponen penghasilan lainnya tidak otomatis masuk dalam dasar perhitungan THR.
2. Cara Menghitung THR Karyawan dengan Masa Kerja Kurang dari 12 Bulan
Jika masa kerjamu belum mencapai 12 bulan, THR dihitung secara proporsional.
Rumusnya adalah:
THR = Masa Kerja dalam Bulan / 12 × Satu Bulan Upah
Misalnya, kamu baru bekerja selama enam bulan dengan upah yang menjadi dasar perhitungan THR sebesar Rp6.000.000.
Maka perhitungannya:
6 / 12 × Rp6.000.000 = Rp3.000.000.
Jadi, THR yang kamu terima adalah Rp3.000.000.
Contoh lainnya, jika masa kerjamu delapan bulan dengan upah sebesar Rp6.000.000, perhitungannya menjadi:
8 / 12 × Rp6.000.000 = Rp4.000.000.
Semakin lama masa kerja hingga mencapai 12 bulan, semakin besar pula proporsi THR yang diterima.
3. Cara Menghitung THR Pekerja Harian Lepas
Perhitungan THR bagi pekerja harian lepas menggunakan dasar upah bulanan yang dihitung berdasarkan rata-rata penghasilan.
Bagi pekerja yang telah memiliki masa kerja 12 bulan atau lebih, upah satu bulan dihitung dari rata-rata upah selama 12 bulan terakhir sebelum hari raya.
Sementara itu, bagi pekerja dengan masa kerja kurang dari 12 bulan, dasar penghitungan upah satu bulan menggunakan rata-rata upah selama masa kerja.
Setelah mendapatkan dasar upah tersebut, penghitungan THR dilakukan sesuai ketentuan masa kerja yang berlaku.
Kenapa Uang THR Cepat Habis?
Mendapatkan THR memang menyenangkan. Namun, pengeluaran menjelang hari raya juga biasanya meningkat.
Tanpa perencanaan, uang THR bisa habis untuk berbagai kebutuhan yang sebenarnya dapat dikendalikan.
Berikut beberapa penyebab THR cepat habis.
1. Tidak Membuat Anggaran
Salah satu penyebab utama THR cepat habis adalah tidak adanya anggaran pengeluaran.
Ketika uang masuk ke rekening, kamu mungkin langsung membeli pakaian baru, memesan makanan, atau merencanakan perjalanan tanpa menghitung total biayanya.
Akibatnya, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali dapat menghabiskan sebagian besar THR.
2. Terlalu Banyak Belanja Impulsif
Diskon dan promosi menjelang hari raya sering membuat seseorang merasa perlu membeli barang tertentu.
Padahal, tidak semua barang yang sedang diskon benar-benar dibutuhkan.
Membeli barang hanya karena harganya lebih murah tetap bisa membuat pengeluaran membengkak.
Sebelum membeli sesuatu, coba tanyakan pada diri sendiri apakah barang tersebut memang diperlukan atau sekadar menarik perhatian.
3. Tidak Memisahkan Kebutuhan dan Keinginan
Kebutuhan hari raya setiap orang berbeda. Ada yang harus membayar tiket mudik, membeli bahan makanan, atau memberikan uang kepada keluarga.
Namun, keinginan seperti membeli gawai baru, mengganti pakaian yang masih layak, atau mengikuti tren juga bisa ikut menghabiskan THR.
Jika keduanya tidak dipisahkan, kamu akan kesulitan menentukan prioritas pengeluaran.
4. Lupa dengan Kewajiban Keuangan
Sebagian orang terlalu fokus pada kebutuhan hari raya hingga lupa dengan tagihan rutin.
Padahal, cicilan, tagihan kartu kredit, dan kebutuhan rumah tangga tetap harus dibayar.
Jika kewajiban tersebut tidak diperhitungkan sejak awal, kondisi keuangan setelah hari raya bisa menjadi lebih berat.
Tips Mengelola Uang THR agar Tidak Cepat Habis
Supaya THR memberikan manfaat maksimal, kamu perlu menentukan tujuan penggunaan uang sejak awal.
Tidak ada satu pembagian yang cocok untuk semua orang. Besarnya kebutuhan keluarga, jumlah tanggungan, dan kondisi keuangan akan memengaruhi alokasi yang paling sesuai.
Namun, beberapa langkah berikut bisa membantu.
1. Buat Daftar Pengeluaran Hari Raya
Langkah pertama adalah mencatat semua kebutuhan yang harus dibayar menjelang hari raya.
Misalnya, kamu membutuhkan uang untuk membeli bahan makanan, menyiapkan hadiah, membayar transportasi mudik, dan memberikan uang kepada keluarga.
Tuliskan perkiraan biayanya, kemudian hitung total kebutuhan tersebut.
Dengan cara ini, kamu bisa mengetahui berapa banyak THR yang perlu disisihkan untuk kebutuhan hari raya.
Kalau total pengeluaran melebihi uang yang tersedia, tentukan kebutuhan yang paling penting dan kurangi pengeluaran yang masih bisa ditunda.
2. Prioritaskan Kebutuhan Utama
Setelah membuat daftar pengeluaran, dahulukan kebutuhan yang tidak bisa dihindari.
Contohnya adalah biaya transportasi mudik yang sudah direncanakan, kebutuhan pokok rumah tangga, serta kewajiban keuangan yang jatuh tempo.
Setelah kebutuhan utama terpenuhi, kamu bisa menentukan anggaran untuk belanja tambahan atau hiburan.
Cara ini membantu menjaga agar pengeluaran tidak melebihi kemampuan finansial.
3. Sisihkan Sebagian untuk Dana Darurat
THR juga bisa menjadi kesempatan untuk memperkuat dana darurat.
Dana darurat merupakan simpanan yang disiapkan untuk menghadapi pengeluaran tak terduga, seperti kehilangan penghasilan, kebutuhan kesehatan, atau perbaikan rumah mendesak.
Jika dana daruratmu belum mencukupi, pertimbangkan untuk menyisihkan sebagian THR setelah kebutuhan utama dan kewajiban yang mendesak terpenuhi.
Tidak harus langsung dalam jumlah besar. Menyisihkan uang secara konsisten tetap bisa membantu membangun kebiasaan keuangan yang lebih sehat.
4. Gunakan Sebagian untuk Membayar Utang
Jika kamu memiliki utang berbunga tinggi, THR bisa digunakan untuk mengurangi bebannya.
Periksa terlebih dahulu jumlah utang, besaran bunga, tanggal jatuh tempo, dan biaya pelunasan jika ada.
Setelah itu, tentukan apakah sebagian THR dapat dialokasikan untuk membayar utang tanpa mengganggu kebutuhan pokok.
Mengurangi utang berbunga tinggi bisa membantu menekan beban keuangan pada bulan-bulan berikutnya.
Namun, jangan sampai seluruh uang THR digunakan untuk membayar utang hingga kamu tidak memiliki dana untuk kebutuhan dasar.
5. Jangan Menghabiskan THR untuk Gaya Hidup
Mendapatkan penghasilan tambahan bukan berarti kamu harus menaikkan pengeluaran.
Jika biasanya kamu membeli barang sesuai kebutuhan, pertahankan kebiasaan tersebut meskipun sedang memegang uang lebih banyak.
Kamu tetap boleh menikmati hasil kerja kerasmu. Namun, tentukan batas belanja agar pengeluaran tetap terkendali.
Ingat, kepuasan sesaat dari belanja berlebihan bisa berubah menjadi masalah ketika kamu harus kembali mengandalkan gaji bulanan.
6. Pisahkan Uang THR dari Gaji Bulanan
Salah satu cara sederhana mengelola THR adalah memisahkannya dari uang untuk kebutuhan sehari-hari.
Kamu bisa menggunakan rekening berbeda atau mencatat alokasinya secara terpisah.
Misalnya, sebagian uang dialokasikan untuk kebutuhan hari raya, sebagian untuk kewajiban keuangan, dan sisanya untuk tabungan.
Pemisahan ini membantu kamu memantau penggunaan uang dan mengurangi risiko THR tercampur dengan pengeluaran rutin.
7. Evaluasi Pengeluaran Setelah Hari Raya
Setelah hari raya selesai, periksa kembali pengeluaran yang sudah dilakukan.
Bandingkan anggaran awal dengan jumlah uang yang benar-benar digunakan.
Dari situ, kamu bisa mengetahui pengeluaran mana yang paling besar dan bagian mana yang dapat diperbaiki tahun depan.
Evaluasi ini juga membantu kamu merencanakan THR berikutnya dengan lebih matang.
Apakah Uang THR Bisa Digunakan untuk Investasi?
Bisa. Namun, keputusan untuk menggunakan THR sebagai modal investasi sebaiknya disesuaikan dengan kondisi keuangan dan tujuan yang ingin dicapai.
Sebelum berinvestasi, pastikan kebutuhan pokok sudah terpenuhi, tagihan penting tidak terabaikan, dan kamu memiliki dana yang cukup untuk menghadapi kebutuhan mendesak.
Jika masih memiliki utang berbunga tinggi atau dana darurat belum memadai, kedua hal tersebut layak dipertimbangkan terlebih dahulu.
Setelah kondisi keuangan lebih siap, kamu bisa mempelajari berbagai instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko, jangka waktu, dan tujuan finansial.
Jangan memilih instrumen hanya karena sedang populer atau menjanjikan keuntungan besar. Setiap investasi memiliki risiko, termasuk kemungkinan kehilangan sebagian modal.
Pastikan kamu memahami cara kerja produk, biaya, likuiditas, dan risikonya sebelum mengambil keputusan.
Jika ingin berinvestasi dalam aset digital, pelajari karakteristik aset yang dipilih dan gunakan platform yang memiliki izin serta pengawasan sesuai ketentuan yang berlaku.
Intinya, THR boleh digunakan untuk membangun aset, tetapi jangan sampai kebutuhan penting dikorbankan demi mengejar keuntungan.
FAQ Seputar THR
1. THR adalah singkatan dari apa?
THR adalah singkatan dari Tunjangan Hari Raya Keagamaan. Tunjangan ini diberikan kepada pekerja yang memenuhi ketentuan menjelang hari raya keagamaan.
2. Siapa saja yang berhak mendapatkan THR?
Pekerja dengan masa kerja minimal satu bulan secara terus-menerus dan memiliki hubungan kerja berdasarkan PKWT atau PKWTT berhak mendapatkan THR sesuai ketentuan yang berlaku.
3. Berapa besaran THR yang diterima karyawan?
Karyawan dengan masa kerja 12 bulan atau lebih berhak menerima THR sebesar satu bulan upah. Karyawan dengan masa kerja minimal satu bulan tetapi kurang dari 12 bulan menerima THR secara proporsional.
4. Bagaimana cara menghitung THR untuk karyawan baru?
THR karyawan baru dihitung menggunakan rumus masa kerja dalam bulan dibagi 12, kemudian dikalikan satu bulan upah. Misalnya, masa kerja enam bulan dengan dasar upah Rp6.000.000 menghasilkan THR sebesar Rp3.000.000.
5. Kapan THR harus dibayarkan?
THR wajib dibayarkan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya keagamaan pekerja. Perusahaan diimbau membayarkannya lebih awal.
6. Apakah THR boleh dicicil oleh perusahaan?
Tidak. Berdasarkan ketentuan THR yang berlaku, pengusaha wajib membayarkan THR secara penuh dan tidak boleh mencicilnya.
7. Apa yang harus dilakukan jika THR tidak dibayarkan?
Pekerja dapat terlebih dahulu meminta penjelasan kepada perusahaan atau bagian sumber daya manusia (HR). Jika masalah belum terselesaikan, pekerja dapat mencari bantuan melalui dinas ketenagakerjaan setempat atau kanal pengaduan resmi Kementerian Ketenagakerjaan.
8. Apakah THR sebaiknya ditabung atau digunakan untuk belanja?
Keduanya bisa dilakukan sesuai kondisi keuangan. Prioritaskan kebutuhan utama dan kewajiban yang mendesak, kemudian tentukan porsi yang sesuai untuk belanja, tabungan, dana darurat, atau tujuan keuangan lainnya.
9. Apakah THR bisa digunakan untuk investasi?
Bisa, selama kebutuhan utama dan kewajiban keuangan sudah diperhitungkan. Sebelum berinvestasi, pahami risiko instrumen yang dipilih dan pastikan dana yang digunakan bukan uang untuk kebutuhan mendesak.
Kesimpulan
THR adalah tunjangan hari raya yang menjadi hak pekerja yang memenuhi ketentuan ketenagakerjaan. Besarannya bergantung pada masa kerja dan dasar upah yang digunakan dalam perhitungan.
Selain memahami aturan dan cara menghitungnya, kamu juga perlu merencanakan penggunaan THR dengan baik.
Mulai dari menyusun anggaran hari raya, memenuhi kebutuhan utama, membayar kewajiban, hingga menyisihkan sebagian uang untuk dana darurat atau tujuan finansial lainnya.
Dengan pengelolaan yang tepat, THR tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan hari raya, tetapi juga dapat memperkuat kondisi keuangan setelah liburan selesai.
Kalau kamu ingin mulai mempelajari pengelolaan keuangan dan aset digital, kamu bisa mengenal berbagai informasi serta layanan yang tersedia melalui FLOQ.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ adalah aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Diversifikasi Investasi Adalah Cara Cerdas Mengelola Risiko







