
Erasure Coding
Cara Pintar Blockchain Menjaga Data Tetap Aman
Pernah nggak sih kamu nggak sengaja menghapus file penting? Awalnya mungkin santai aja.
"Ah, paling cuma foto biasa."
Tapi beberapa menit kemudian baru sadar kalau ternyata itu foto liburan, dokumen kerja, atau file tugas yang belum sempat dibackup. Langsung panik. Apalagi kalau file tersebut ternyata nggak bisa dikembalikan lagi. Kehilangan data memang menyebalkan. Bahkan sering kali rasanya lebih sakit dibanding senangnya saat pertama kali mendapatkan data itu.
Nah, sekarang bayangkan kalau yang hilang bukan cuma foto atau dokumen pribadi. Bayangkan yang hilang adalah data transaksi jutaan pengguna dalam sebuah jaringan blockchain. Tentu risikonya jauh lebih besar. Karena itulah dunia teknologi terus mencari cara supaya data tetap aman, tetap bisa diakses, dan nggak gampang hilang meskipun ada gangguan di sistem.
Salah satu teknologi yang dipakai untuk melakukan itu adalah erasure coding.
Namanya memang terdengar seperti istilah yang keluar dari buku kuliah teknik komputer. Tapi tenang, konsepnya sebenarnya nggak serumit itu. Bahkan kalau sudah paham analoginya, kamu bakal sadar kalau teknologi ini cukup masuk akal.
Jadi, Apa Sih Erasure Coding Itu?
Sederhananya, erasure coding adalah cara menyimpan data dengan membaginya menjadi beberapa potongan kecil, lalu menambahkan potongan cadangan supaya data tetap bisa dipulihkan kalau ada sebagian yang hilang.
Bayangkan kamu punya puzzle. Normalnya, kalau beberapa keping puzzle hilang, gambar utuhnya nggak bisa disusun lagi. Nah, erasure coding bekerja dengan cara yang berbeda. Sistem membuat beberapa keping tambahan yang bisa membantu menggantikan keping yang hilang.
Jadi meskipun ada bagian yang lenyap, gambar aslinya masih bisa disusun kembali. Kurang lebih seperti itulah cara kerja erasure coding. Data dipecah, diberi "cadangan pintar", lalu disimpan di berbagai tempat. Kalau ada sebagian yang hilang, data aslinya masih bisa dibentuk lagi.
Kenapa Nggak Disalin Berkali-kali Aja?
Pertanyaan yang cukup wajar. Kalau tujuannya supaya data aman, kenapa nggak tinggal bikin banyak salinan? Faktanya, cara itu memang sudah lama dipakai. Namanya replikasi. Misalnya kamu punya file berukuran 100 MB. Kalau disalin tiga kali, berarti total ruang yang dibutuhkan menjadi 300 MB.
Cara ini simpel. Kalau satu file rusak, tinggal ambil salinan lainnya. Masalahnya muncul ketika data yang disimpan jumlahnya sangat besar. Blockchain menyimpan transaksi setiap hari. Platform cloud menyimpan jutaan file. Jaringan Web3 menyimpan data dari pengguna di seluruh dunia. Kalau semuanya direplikasi terus-menerus, kebutuhan storage bisa membengkak dengan cepat. Biayanya ikut naik. Nah, erasure coding mencoba menyelesaikan masalah ini dengan cara yang lebih efisien.
Alih-alih membuat salinan penuh berkali-kali, sistem cukup membuat beberapa fragmen tambahan yang ukurannya jauh lebih hemat. Jadi data tetap aman tanpa harus menghabiskan terlalu banyak ruang penyimpanan.
Gimana Cara Kerjanya?
Tenang, nggak perlu pusing dengan rumus matematika. Bayangkan kamu punya satu file penting.
Pertama, File Dipecah
Misalnya file tersebut dibagi menjadi enam bagian. Kalau diibaratkan pizza, satu pizza besar dipotong menjadi enam slice. Setiap potongan menyimpan sebagian informasi dari file asli.
Kedua, Sistem Membuat Potongan Cadangan
Setelah itu sistem membuat empat potongan tambahan. Potongan ini bukan hasil copy-paste biasa. Melainkan hasil perhitungan khusus yang dibuat dari enam potongan asli tadi. Jadi sekarang totalnya ada:
- 6 potongan asli
4 potongan cadangan
Total 10 fragmen.
Ketiga, Semua Fragmen Disebar
Fragmen-fragmen tersebut kemudian disimpan di banyak node dalam jaringan. Bisa tersebar ke berbagai server, berbagai negara, bahkan berbagai benua.
Keempat, Data Bisa Dipulihkan
Misalnya suatu hari ada beberapa node yang mati. Atau ada server yang tiba-tiba offline. Atau sebagian data rusak. Sistem nggak langsung panik.
Selama jumlah fragmen yang tersisa masih cukup, file aslinya tetap bisa dibangun kembali. Itulah yang membuat erasure coding menarik. Data nggak harus tersedia 100%. Sebagian boleh hilang. Tapi file aslinya tetap bisa kembali utuh.
Kenapa Blockchain Suka Banget Sama Teknologi Ini?
Blockchain pada dasarnya adalah mesin penyimpan data raksasa. Setiap transaksi harus dicatat. Setiap aktivitas harus tersimpan. Dan semua data itu harus bisa diakses kapan saja. Masalahnya, blockchain nggak punya satu server pusat. Data tersebar ke banyak node.
Artinya selalu ada kemungkinan beberapa node mengalami masalah. Bisa mati. Bisa offline. Bisa keluar dari jaringan. Kalau sistem penyimpanannya nggak kuat, data bisa jadi sulit diakses. Nah, erasure coding membantu mengatasi masalah itu. Data tetap tersedia meskipun sebagian node menghilang dari jaringan. Jadi blockchain bisa tetap berjalan tanpa harus menyimpan terlalu banyak salinan data.
Analogi Paling Gampang
Bayangkan kamu punya uang Rp10 juta. Kalau semuanya disimpan dalam satu dompet, risikonya besar. Dompet hilang, uang hilang semua. Sekarang bayangkan uang itu dibagi ke beberapa tempat. Sebagian di rekening. Sebagian di e-wallet. Sebagian di tabungan. Sebagian lagi disimpan di rumah. Kalau satu tempat bermasalah, kamu masih punya cadangan di tempat lain. Kurang lebih seperti itulah logika erasure coding. Bedanya yang dibagi bukan uang, tapi data.
Kenapa Banyak Proyek Web3 Mulai Menggunakannya?
Jawabannya simpel: Karena lebih hemat dan tetap aman.
Dalam dunia Web3, biaya penyimpanan adalah salah satu biaya terbesar. Semakin besar jaringan berkembang, semakin banyak data yang harus disimpan. Kalau penyimpanannya nggak efisien, biaya operasional bisa membengkak. Erasure coding membantu menekan biaya tersebut tanpa mengorbankan keamanan. Makanya teknologi ini mulai banyak dipakai oleh proyek-proyek blockchain modern. Mulai dari jaringan storage terdesentralisasi sampai berbagai solusi Layer-2.
Apakah Erasure Coding Punya Kekurangan?
Tentu ada. Nggak ada teknologi yang benar-benar sempurna. Salah satu kekurangannya adalah proses pemulihan data yang lebih rumit. Kalau sistem replikasi tinggal mengambil salinan file, erasure coding perlu melakukan proses decoding terlebih dahulu. Artinya butuh komputasi tambahan.
Selain itu, pengelolaannya juga lebih kompleks karena data tersebar dalam banyak fragmen. Tapi dengan kemampuan server modern saat ini, kekurangan tersebut biasanya masih sebanding dengan manfaat yang didapat.
Cara Cepat Mengingat Erasure Coding
Kalau suatu hari lupa penjelasan panjang di atas, cukup ingat empat kata ini:
Bagi - Tambah - Sebar - Pulihkan
Bagi datanya. Tambah fragmen cadangan. Sebar ke banyak node. Pulihkan ketika ada yang hilang. Selesai. Itu inti dari erasure coding.
Di balik blockchain yang terlihat rumit, ada banyak teknologi yang bekerja diam-diam menjaga semuanya tetap berjalan lancar. Erasure coding adalah salah satunya. Teknologi ini memungkinkan data dipecah menjadi beberapa bagian, ditambah fragmen cadangan, lalu disebarkan ke berbagai node agar tetap aman.
Jadi ketika sebagian data hilang atau ada node yang bermasalah, file aslinya masih bisa dipulihkan. Hasilnya, jaringan bisa tetap aman tanpa harus membuang-buang ruang penyimpanan.
Singkatnya, kalau backup biasa ibarat memfotokopi dokumen berkali-kali, erasure coding lebih mirip menyimpan potongan-potongan dokumen yang bisa dirakit kembali kapan saja saat dibutuhkan. Lebih hemat, lebih efisien, dan sangat cocok untuk dunia blockchain yang terus berkembang.
Pelajari istilah kripto lainnya:
Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.
Bagikan melalui:

Kosakata Selanjutnya
ERC-20
Standar token Ethereum yang paling umum digunakan untuk membuat dan mengelola token fungible. Mendefinisikan aturan dasar seperti transfer, saldo, dan persetujuan pihak ketiga.
Escrow
Escrow adalah sistem yang menahan dana sementara sampai transaksi selesai dan kedua pihak memenuhi kesepakatan.
Esport
Kompetisi video game profesional yang melibatkan pemain, tim, dan penonton secara global. Ekosistem ini mulai mengadopsi blockchain untuk transparansi hadiah, kepemilikan item, dan pendanaan komunitas.
ETH / BTC
Pasangan perdagangan yang menunjukan nilai Ether dibandingkan dengan Bitcoin. Digunakan sebagai tolok ukur kekuatan relatif dua aset crypto terbesar di pasar.
Ether
Aset crypto asli dari jaringan Ethereum yang digunakan untuk membayar gas, biaya transaksi, dan interaksi smart contract. Berfungsi sebagai bahan bakar ekonomi dalam ekosistem Ethereum.


