Bitcoin (BTC) memasuki awal Oktober 2026 dengan pergerakan yang mulai lebih tenang.
Setelah sempat rally hingga sekitar US$87.000 pada pekan sebelumnya, BTC kini kembali bergerak di kisaran US$83.000-US$85.500. Dalam tujuh hari terakhir, rentangnya berada di US$82.581-US$85.518 dengan perubahan sekitar -1%.
Di saat yang sama, ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) juga berubah cukup cepat. Kalau sebelumnya peluang hike atau kenaikan suku bunga Oktober sempat berada di 54-55%, kini skenario hold atau mempertahankan suku bunga justru berada di 52,9%.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap data ekonomi dan komentar pejabat bank sentral.
Jadi, apakah Bitcoin bakal kembali naik, lanjut konsolidasi, atau justru menghadapi tekanan?
Belum ada jawaban pasti. Namun, ada 5 hal utama yang perlu diperhatikan karena bisa memengaruhi arah pasar pada awal Oktober.
1. Ekspektasi The Fed Bisa Berubah Lagi
Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kebijakan The Fed.
Pekan lalu, pasar sempat memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada Oktober berada di kisaran 54-55%. Namun, dalam laporan W1 Oktober, ekspektasi tersebut berubah. Skenario hold kini berada di sekitar 52,9%.
Perubahan ini terjadi setelah komentar dovish dari Williams pada 29 September dan data PCE inti yang melandai ke 3,3%.
Buat kamu yang masih baru mengikuti pasar, istilah dovish biasanya merujuk pada pandangan kebijakan moneter yang lebih longgar atau tidak terlalu agresif dalam menaikkan suku bunga.
Kenapa ini penting buat Bitcoin?
Karena suku bunga AS merupakan salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko. Ketika pasar memperkirakan kebijakan moneter lebih ketat, tekanan terhadap aset berisiko bisa meningkat.
Sebaliknya, ekspektasi kebijakan yang lebih longgar dapat memberikan ruang bagi sentimen yang lebih positif.
Tapi ada satu catatan penting: odds pasar bisa berubah dengan cepat.
Bahkan dalam satu minggu, ekspektasi bisa berbalik dari peluang hike menjadi peluang hold yang lebih besar.
Karena itu, jangan hanya melihat posisi odds hari ini. Data ekonomi berikutnya bisa mengubahnya lagi.
2. NFP Bisa Jadi Pemicu Pergerakan BTC
Kalau ada satu agenda yang paling perlu diperhatikan pada awal Oktober, salah satunya adalah Non-Farm Payrolls (NFP) AS pada 2 Oktober.
NFP merupakan salah satu data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang menjadi perhatian pasar.
Dalam konteks pasar kripto, data ini penting karena hasilnya bisa memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.
Market Outlook W1 Oktober menempatkan Payrolls sebagai katalis utama. Data tenaga kerja yang kuat berpotensi mendorong kembali ekspektasi hike dari posisi hold 52,9% saat ini.
Jadi, pergerakan Bitcoin setelah rilis data bisa menjadi perhatian utama.
Bukan berarti data NFP secara otomatis menentukan harga BTC. Pasar tetap akan melihat apakah data tersebut sesuai atau berbeda dari ekspektasi, lalu bagaimana pelaku pasar menerjemahkannya terhadap kebijakan The Fed.
Selain NFP, ada juga ISM Manufacturing PMI pada 1 Oktober dan ISM Services PMI pada 5 Oktober.
Data tersebut menjadi bagian dari rangkaian indikator ekonomi yang bisa memengaruhi ekspektasi pasar menjelang keputusan The Fed berikutnya.
3. Inflow ETF Bitcoin Tinggi, Tapi Mulai Melambat
Hal ketiga datang dari pasar ETF Bitcoin.
Pada pekan 26 September, Bitcoin ETF mencatat inflow sekitar US$2,39 miliar. Angka tersebut menjadi inflow mingguan tertinggi pada 2026. Namun, ada sisi lain yang perlu diperhatikan.
Arus dana harian justru turun cukup tajam. Dari sekitar US$999 juta pada 21 September menjadi US$134 juta pada 25 September, atau turun sekitar 87%.
Jadi, kalau cuma melihat angka mingguan, kondisi ETF memang terlihat kuat.
Tapi ketika melihat pergerakan hariannya, momentumnya mulai melambat.
Ini menjadi contoh kenapa membaca data pasar sebaiknya nggak berhenti di satu angka saja.
IBIT menyumbang sekitar US$1,2 miliar dari total inflow pekan tersebut, sementara FBTC sekitar US$701,7 juta.
Untuk Ethereum ETF, pergerakannya juga berubah-ubah. ETH ETF mencatat outflow sekitar US$140 juta pada pekan 18 September, kemudian berbalik menjadi inflow sekitar US$689,8 juta pada pekan 25 September, sebelum kembali mencatat outflow tipis sekitar US$2,81 juta pada 29 September.
Dengan kondisi seperti ini, arus dana ETF tetap perlu dipantau, tetapi jangan buru-buru menarik kesimpulan hanya dari satu periode.
Market Outlook juga mencatat bahwa angka harian dapat berbeda antarpenyedia data seperti Farside dan SoSoValue. Untuk melihat gambaran yang lebih stabil, agregat mingguan dinilai lebih andal.
4. MSTR Berubah dari Premium Jadi Diskon
Hal keempat adalah perkembangan Strategy atau MSTR.
Strategy masih melakukan akumulasi Bitcoin.
Pada periode 14-20 September, Strategy menambah sekitar 950 BTC dengan harga rata-rata US$79.670.
Kemudian pada 21-27 September, perusahaan kembali menambah sekitar 1.665 BTC dengan harga rata-rata US$85.681.
Namun, ada perubahan penting pada metrik mNAV.
mNAV Strategy berbalik dari 1,16x premium menjadi 0,90x diskon hanya dalam satu minggu.
Secara sederhana, mNAV dapat digunakan untuk melihat posisi valuasi perusahaan dibandingkan dengan nilai aset Bitcoin yang dimilikinya.
Ketika mNAV berada di bawah 1x, kondisi tersebut menjadi penting karena dapat membatasi kapasitas Strategy untuk menerbitkan saham baru sebagai salah satu sumber pembiayaan untuk membeli Bitcoin tambahan.
Jadi, walaupun Strategy masih melakukan akumulasi BTC, perubahan mNAV tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Buat investor yang mengikuti perkembangan perusahaan dan Bitcoin secara bersamaan, metrik ini bisa memberikan konteks tambahan mengenai strategi akumulasi BTC Strategy.
5. Minyak dan Geopolitik Masih Jadi Risiko
Hal kelima datang dari luar pasar kripto.
Harga minyak dan perkembangan geopolitik masih menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Brent berada di kisaran US$97-US$102 per barel, sementara kondisi Selat Hormuz masih mengalami tekanan. Volume minyak yang melewati kawasan tersebut berada di sekitar 677 ribu barel per hari, dibandingkan sekitar 3,6 juta barel per hari sebelum perang.
Sinyal pembukaan kembali Hormuz dalam waktu tujuh hari yang sebelumnya diharapkan juga belum terealisasi.
Sementara itu, harga diesel dilaporkan meningkat sekitar 67% secara tahunan dan sekitar 78% sejak perang.
Kenapa ini relevan untuk pasar kripto?
Karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi.
Kalau tekanan inflasi kembali meningkat, ruang bagi The Fed untuk mengambil kebijakan yang lebih dovish bisa menjadi lebih terbatas.
Dengan kata lain, perkembangan geopolitik yang terjadi jauh dari pasar kripto tetap bisa memberikan dampak ke BTC melalui jalur inflasi, suku bunga, dan sentimen risiko.
Lalu, Bagaimana dengan Pasar Indonesia?
Dinamika pasar global tentu juga perlu dilihat bersama kondisi domestik.
Bank Indonesia masih mempertahankan BI-Rate di 5,75%. Tidak ada RDG baru setelah keputusan pada 22-23 September, sementara RDG berikutnya dijadwalkan pada 20-21 Oktober.
Rupiah sempat melemah ke kisaran Rp17.950-Rp17.998 sebelum menguat 87 poin menjadi Rp17.894 pada 30 September.
Pergerakan tersebut tercatat sebagai kinerja mingguan terbaik di Asia dalam laporan.
Namun, ada catatan penting.
Level Rp17.894 masih sedikit lebih lemah dibandingkan Rp17.795-Rp17.853 pada 22-23 September. Jadi, pergerakan tersebut lebih tepat dibaca sebagai pemulihan parsial, bukan langsung dianggap sebagai tren penguatan baru.
Sementara itu, IHSG berada di level 6.071 pada 30 September, turun 0,83%.
Support yang menjadi perhatian berada di sekitar 6.019.
Artinya, pasar domestik juga masih bergerak dalam kondisi yang perlu diperhatikan, terutama ketika sentimen global sedang berubah cepat.
Bitcoin Ada di Titik Mana Sekarang?
Setelah rally ke sekitar US$87.000, Bitcoin kini memasuki fase konsolidasi.
Rentang tujuh harinya berada di sekitar US$82.581–US$85.518, dengan area US$82.500 sebagai support dan US$85.500 sebagai resistance berdasarkan Market Outlook W1 Oktober.
Artinya, dua area tersebut menjadi level yang layak dipantau ketika melihat pergerakan BTC dalam jangka pendek.
Namun, level harga tetap perlu dilihat bersama katalis fundamental.
Misalnya, kalau data Payrolls pada 2 Oktober mengubah ekspektasi pasar terhadap The Fed secara signifikan, Bitcoin bisa kembali mengalami volatilitas.
Hal yang sama berlaku ketika risalah FOMC dirilis pada 7 Oktober.
Market Outlook menyebut ISM Services pada 5 Oktober dan risalah FOMC pada 7 Oktober sebagai dua agenda yang juga dapat menjadi perhatian jika memberikan sinyal dovish dan mendukung konsolidasi BTC menuju area US$85.500.
Jangan Cuma Pantau Bitcoin
Salah satu pelajaran dari kondisi awal Oktober adalah pasar kripto nggak bergerak sendirian.
Harga Bitcoin memang menjadi indikator yang paling mudah dilihat. Tapi di belakangnya ada banyak faktor lain.
Mulai dari:
- kebijakan The Fed;
- data tenaga kerja AS;
- inflow dan outflow ETF;
- posisi mNAV Strategy;
- harga minyak;
- konflik Iran dan kondisi Selat Hormuz;
- perkembangan regulasi kripto AS;
- pergerakan dolar dan rupiah;
- hingga kondisi pasar saham.
CLARITY Act juga masih menjadi bagian dari perkembangan regulasi yang perlu dipantau. Upaya cloture di Senat pada 15 September gagal dengan hasil 49-50 suara, sementara DPR membatalkan sidang pada 21 dan 28 September.
Namun, menariknya, Bitcoin tetap berada di kisaran US$83.000-US$85.000 di tengah kebuntuan tersebut.
Dalam konteks laporan ini, flow dan kebijakan The Fed terlihat menjadi faktor yang lebih dominan terhadap pergerakan harga dibandingkan perkembangan CLARITY Act.
Apa yang Harus Dilakukan Trader Pemula?
Kalau kamu masih pemula, fokus utama minggu ini bukan mengejar setiap pergerakan harga BTC. Justru, pahami dulu katalis yang berpotensi membuat pasar bergerak.
1. Pantau Payrolls AS sebelum melakukan entry baru
Data NFP pada 2 Oktober menjadi salah satu katalis utama minggu ini. Hasilnya bisa memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
Daripada terburu-buru masuk posisi sebelum data penting keluar, trader pemula bisa terlebih dahulu melihat bagaimana pasar merespons data tersebut.
2. Perhatikan area US$82.500
Market Outlook menetapkan US$82.500 sebagai support tujuh hari. Level ini bisa digunakan sebagai salah satu referensi dalam menyusun rencana risiko, termasuk menentukan batas kerugian sesuai strategi masing-masing.
3. Jangan FOMO melihat inflow ETF
Inflow ETF Bitcoin memang mencapai sekitar US$2,39 miliar secara mingguan, tetapi arus dana harian justru turun sekitar 87%.
Artinya, angka inflow besar tidak selalu berarti momentum akan terus meningkat. Pahami konteks datanya sebelum mengambil keputusan.
4. Jangan average-down hanya karena melihat MSTR masih membeli BTC
Strategy memang masih melakukan akumulasi Bitcoin. Namun, mNAV-nya sudah berubah dari premium 1,16x menjadi diskon 0,90x.
Perubahan tersebut perlu diperhatikan karena mNAV di bawah 1x dapat membatasi kapasitas Strategy untuk menerbitkan saham baru sebagai salah satu cara membeli BTC tambahan.
5. Hindari over-leverage
Ekspektasi pasar terhadap The Fed berubah cukup cepat dalam satu minggu. Kondisi seperti ini dapat meningkatkan volatilitas.
Untuk trader pemula, memahami risiko posisi dan menjaga ukuran posisi tetap sesuai kemampuan menanggung risiko menjadi lebih penting daripada mengejar pergerakan harga jangka pendek. Market Outlook juga mengingatkan trader untuk tidak melakukan over-leverage.
Apa yang Harus Dilakukan Investor Jangka Panjang?
Untuk investor dengan horizon jangka panjang, fokusnya sedikit berbeda.
Pergerakan harian BTC, data Payrolls, atau jatuh tempo opsi memang tetap menarik untuk dipantau. Namun, evaluasi sebaiknya tidak hanya berdasarkan pergerakan harga dalam beberapa hari.
1. Evaluasi eksposur terhadap MSTR
Perubahan mNAV dari 1,16x menjadi 0,90x menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
Investor jangka panjang dapat memasukkan perubahan tersebut ke dalam evaluasi eksposur terhadap Strategy dan tidak hanya melihat jumlah Bitcoin yang dimiliki perusahaan.
2. Catat agenda FOMC dan RDG BI
Dua agenda yang disebut dalam Market Outlook sebagai titik perhatian berikutnya adalah Risalah FOMC pada 7 Oktober dan RDG BI pada 20–21 Oktober.
Keduanya bisa menjadi bagian dari bahan evaluasi ketika melihat kembali kondisi pasar dan eksposur portofolio.
3. Jangan menganggap rupiah akan terus menguat
Rupiah memang menguat ke Rp17.894 pada 30 September, tetapi level tersebut masih sedikit lebih lemah dibandingkan Rp17.795-Rp17.853 pada 22-23 September.
Jadi, pergerakan tersebut lebih tepat dilihat sebagai pemulihan parsial, bukan asumsi bahwa rupiah akan terus menguat secara linear.
4. Jangan menunda alokasi hanya karena menunggu CLARITY Act
Perkembangan CLARITY Act masih menghadapi hambatan legislasi. Namun, Market Outlook mencatat bahwa jalur kejelasan regulasi kini semakin bergantung pada tindakan SEC dan CFTC.
Karena itu, perkembangan CLARITY Act sebaiknya ditempatkan sebagai salah satu faktor dalam evaluasi, bukan satu-satunya alasan untuk menentukan keputusan investasi.
5. Tetap evaluasi risiko makro
Investor jangka panjang juga perlu memperhatikan faktor yang lebih luas seperti harga minyak, kondisi geopolitik, inflasi, kebijakan The Fed, BI-Rate, serta kondisi pasar saham.
Harga Brent yang masih berada di sekitar US$97-US$102 per barel dan kondisi Hormuz yang belum sepenuhnya pulih menjadi contoh bagaimana faktor di luar kripto tetap dapat memengaruhi lingkungan pasar secara keseluruhan.
Kesimpulan
Bitcoin memang mulai mendingin setelah rally menuju US$87.000. Tapi kondisi pasar awal Oktober 2026 nggak sesederhana soal BTC naik atau turun.
Ada 5 hal utama yang perlu diperhatikan.
Pertama, ekspektasi terhadap The Fed berubah cukup cepat. Kedua, data Payrolls AS berpotensi menjadi katalis penting. Ketiga, inflow ETF Bitcoin memang mencatat level mingguan tertinggi 2026, tetapi arus harian mengalami perlambatan tajam. Keempat, mNAV Strategy berubah dari premium menjadi diskon. Kelima, harga minyak dan risiko geopolitik masih dapat memengaruhi inflasi serta ekspektasi kebijakan moneter.
Di Indonesia, BI-Rate masih 5,75%, rupiah mengalami pemulihan parsial, dan IHSG berada di level 6.071 pada akhir September.
Buat trader pemula, fokusnya bisa diarahkan pada katalis terdekat seperti Payrolls, level BTC, arus ETF, dan pengelolaan risiko.
Sementara buat investor jangka panjang, evaluasi bisa mencakup eksposur MSTR, agenda FOMC dan BI, kondisi rupiah, perkembangan regulasi, serta risiko makro seperti minyak dan geopolitik.
Jadi, kalau kamu mengikuti pasar kripto awal Oktober, jangan cuma melihat chart Bitcoin.
Perhatikan juga data ekonomi, arus dana, kebijakan bank sentral, harga energi, dan perkembangan geopolitik. Karena dalam kondisi seperti sekarang, satu data ekonomi saja bisa mengubah ekspektasi pasar dalam waktu singkat.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Market Outlook W4 September 2026: BTC Rally ke US$87 Ribu, Ada Apa di Baliknya?






