Market Outlook 31 Oktober 2026: Bitcoin Tertekan, Peretasan Binance Guncang Pasar

Pasar

31 Oct 2026

4 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Pasar kripto kembali menghadapi tekanan pada akhir Oktober 2026. Harga Bitcoin (BTC) sempat jatuh di bawah US$77.000 setelah Binance mengumumkan insiden keamanan yang menyebabkan kehilangan aset kripto senilai sekitar US$6,3 miliar.

Peristiwa tersebut menambah tekanan terhadap pasar yang sebelumnya sudah melemah akibat sikap hawkish Federal Reserve (The Fed) dan ketidakpastian ekonomi global.

Pada Kamis (29/10/2026), Binance mengumumkan adanya insiden keamanan yang melibatkan penarikan aset tanpa izin dari hot wallet. Peristiwa ini kemudian memicu kekhawatiran investor terhadap keamanan aset digital dan stabilitas pasar kripto.

Berdasarkan laporan Reuters pada 30 Oktober, peretasan tersebut menjadi salah satu insiden pencurian aset kripto terbesar yang pernah terjadi.

Bitcoin Tertekan Setelah Peretasan Binance

Data CoinMarketCap melihat Bitcoin sebelumnya diperdagangkan di sekitar US$79.600 pada 29 Oktober, setelah menembus level support US$80.000. Namun, tekanan jual meningkat setelah kabar peretasan Binance mencuat.

Pada 30 Oktober, harga Bitcoin turun lebih dari 5% dan sempat bergerak di bawah US$78.000. Sejumlah laporan pasar pada 31 Oktober menyebutkan Bitcoin bahkan sempat turun di bawah US$77.000.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa sentimen pasar masih rentan terhadap berita negatif, terutama yang berkaitan dengan keamanan bursa kripto dan kepercayaan investor.

Meski demikian, penurunan harga tidak dapat dikaitkan hanya dengan satu faktor. Sebelum insiden Binance, pasar telah menghadapi tekanan dari keputusan The Fed, arus dana ETF, dan ketidakpastian makroekonomi.

Binance Mengalami Kerugian Sekitar US$6,3 Miliar

Binance mengungkapkan bahwa insiden keamanan terjadi pada hot wallet sekitar 29 Oktober pukul 20.05 UTC. Perusahaan memperkirakan nilai aset yang terdampak mencapai US$6,3 miliar.

Dalam pembaruan pada 30 Oktober, Binance menyatakan akan menanggung kerugian akibat insiden tersebut melalui Secure Asset Fund for Users (SAFU) dan dana perusahaan.

Binance juga menyebut telah menyiapkan lebih dari US$6,34 miliar untuk menutup dampak insiden, dengan sekitar US$5 miliar dalam bentuk aset terkait yang sudah tersedia.

Selain itu, perusahaan bekerja sama dengan penegak hukum, perusahaan analitik blockchain, serta penerbit aset untuk melacak dan membekukan dana yang terdampak. Binance menyebut sekitar US$3 miliar aset telah dibekukan di jaringan blockchain.

Sementara itu, proses investigasi masih berlangsung. Binance menyatakan belum menemukan bukti bahwa private key wallet telah bocor.

Dilansir Yahoo Finance, perusahaan juga sempat menghentikan layanan penarikan untuk melakukan pemeriksaan keamanan tambahan. Layanan lain yang tidak terdampak tetap beroperasi.

The Fed Menahan Suku Bunga, tetapi Nada Kebijakan Tetap Hawkish

Tekanan terhadap pasar kripto sebenarnya sudah muncul sebelum peretasan Binance.

Pada rapat 28 Oktober 2026, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4,00%. Namun, keputusan tersebut disertai perbedaan pendapat dari dua anggota komite yang menginginkan kenaikan suku bunga.

The Fed juga menilai ekonomi Amerika Serikat masih tumbuh kuat, sementara inflasi tetap tinggi.

Sikap tersebut membuat pelaku pasar kembali mempertimbangkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada rapat Desember.

Suku bunga yang lebih tinggi dapat mengurangi daya tarik aset berisiko seperti kripto karena investor memiliki alternatif investasi dengan imbal hasil yang lebih aman.

Dengan demikian, pasar kripto menghadapi dua tekanan sekaligus: ketidakpastian kebijakan moneter dan meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan industri.

Arus Dana ETF Bitcoin Belum Menjadi Penopang yang Kuat

Di tengah tekanan harga, arus dana ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat sempat menunjukkan perbaikan.

Berdasarkan laporan Market Outlook FLOQ per 29 Oktober, ETF Bitcoin mencatat dana masuk bersih sekitar US$305 juta pada 19–23 Oktober dan sekitar US$286 juta pada 26–27 Oktober.

Namun, arus dana tersebut masih belum stabil. Pada 22 Oktober, ETF Bitcoin sempat mencatat arus keluar sekitar US$636 juta.

Secara keseluruhan, arus dana ETF Bitcoin sepanjang Oktober masih sedikit negatif hingga 27 Oktober.

Sementara itu, ETF Ethereum masih mengalami tekanan dengan arus keluar sekitar US$221 juta pada 19–23 Oktober, memperpanjang tren arus keluar selama empat pekan berturut-turut.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa minat institusi terhadap Bitcoin belum cukup kuat untuk mengimbangi tekanan jual yang muncul dari berbagai sentimen negatif.

Harga Minyak dan Ketidakpastian Geopolitik Menambah Risiko

Selain kebijakan moneter, pasar juga mencermati perkembangan geopolitik yang berpotensi memengaruhi harga energi dan inflasi global.

Dalam laporan 29 Oktober, harga minyak Brent berada di sekitar US$115 per barel. Kenaikan harga minyak pada Oktober dipengaruhi kekhawatiran terhadap potensi eskalasi konflik Iran setelah pemilu sela Amerika Serikat pada 3 November.

Harga minyak yang tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi. Jika inflasi kembali meningkat, peluang pengetatan kebijakan moneter dapat semakin besar.

Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Apa yang Perlu Dicermati Investor?

Memasuki November, pelaku pasar akan mencermati perkembangan investigasi Binance, pemulihan layanan penarikan, serta respons investor terhadap insiden keamanan tersebut.

Selain itu, keputusan dan komunikasi The Fed, data ekonomi Amerika Serikat, serta perkembangan geopolitik tetap menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi arah pasar.

Dari sisi teknikal, laporan Market Outlook FLOQ sebelumnya mencatat area US$78.800 sebagai salah satu level penting Bitcoin. Penutupan harian di bawah area tersebut dapat membuka ruang penurunan menuju sekitar US$76.500.

Namun, level teknikal bukan jaminan arah harga. Pergerakan pasar dapat berubah sewaktu-waktu, terutama ketika sentimen negatif dan volatilitas meningkat.

Investor perlu memperhatikan perkembangan pasar secara menyeluruh, termasuk risiko keamanan, kondisi makroekonomi, serta perubahan arus dana institusi.

Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Hyperliquid, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: Harga Kripto Berguguran, Hyperliquid Malah Meroket 18%!

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device