Bitcoin masih bertahan di atas US$80.000, tetapi pasar kripto belum sepenuhnya aman. Arus dana ETF Bitcoin dan Ethereum masih tertekan, sementara keputusan suku bunga The Fed dan data inflasi Amerika Serikat berpotensi memicu volatilitas pada pekan terakhir Oktober 2026.
Di Indonesia, IHSG juga menghadapi tekanan setelah MSCI mengusulkan perubahan klasifikasi pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Lantas, apa yang perlu diperhatikan trader sebelum mengambil keputusan trading minggu ini?
1. The Fed: Peluang Kenaikan Suku Bunga Oktober Menurun
Peluang The Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan 28 Oktober turun menjadi sekitar 15-17%. Pasar lebih memperhitungkan suku bunga tetap, dengan probabilitas sekitar 83-85%.
Namun, risiko belum sepenuhnya hilang. Peluang kenaikan suku bunga pada Desember diperkirakan mencapai sekitar 90%.
Inflasi Amerika Serikat pada September tercatat 3,7% secara tahunan. Sementara itu, Producer Price Index (PPI) naik 1,3% secara bulanan, lebih tinggi daripada perkiraan 0,6%.
Data tersebut membuat perkembangan inflasi tetap penting untuk dipantau. Jika tekanan inflasi berlanjut, ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat dapat kembali memengaruhi pasar.
Bagi trader kripto, suku bunga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko. Namun, penurunan peluang kenaikan suku bunga Oktober bukan jaminan bahwa Bitcoin akan menguat.
Fokus utama: Perhatikan keputusan FOMC pada 28 Oktober waktu AS atau sekitar pukul 01.00 WIB pada 29 Oktober, termasuk pernyataan resmi The Fed setelah pengumuman.
2. Analisis Bitcoin: Support US$80.000 Jadi Kunci
Pada 22 Oktober 2026, Bitcoin diperdagangkan di sekitar US$82.763, naik 1,5% dalam tujuh hari.
Harga BTC sempat menyentuh US$80.117 pada 15 Oktober sebelum kembali rebound. Meski begitu, momentum kenaikannya belum sepenuhnya kuat karena volume rebound dinilai tipis.
Berikut level teknikal Bitcoin yang perlu diperhatikan:
- Support US$80.000: Area penting untuk mengukur ketahanan harga.
- US$77.400-US$76.200: Area teknikal berikutnya jika Bitcoin ditutup harian di bawah US$80.000.
- Resistance US$84.000: Hambatan terdekat yang perlu ditembus untuk melanjutkan kenaikan.
- Resistance US$87.000: Area yang perlu diperhatikan karena terdapat indikasi sell wall.
Dari sisi indikator, RSI berada di sekitar 55, menunjukkan kondisi relatif netral. Sementara itu, MACD masih negatif.
Fear & Greed Index berada di angka 63 atau kategori Greed. Sentimen yang relatif optimistis ini belum cukup untuk memastikan tren naik akan berlanjut.
Apa artinya bagi trader?
Selama Bitcoin bertahan di atas US$80.000, peluang konsolidasi atau rebound masih terbuka. Namun, jika terjadi penutupan harian di bawah level tersebut, trader perlu mengevaluasi risiko penurunan lebih lanjut.
Level teknikal bukan prediksi pasti. Gunakan sebagai acuan untuk menyusun skenario dan mengelola risiko.
3. ETF Bitcoin dan Ethereum Masih Tertekan
Arus dana ETF menjadi indikator lain yang perlu diperhatikan.
Pada periode 12-16 Oktober, ETF Bitcoin spot AS mencatat arus dana keluar sekitar US$228,4 juta. ETF Ethereum juga mengalami arus dana keluar sekitar US$320,1 juta, sekaligus mencatat pekan ketiga berturut-turut mengalami penarikan dana.
Pada 20 Oktober, ETF Bitcoin memang mencatat arus dana masuk US$23,2 juta. Namun, ETF Ethereum masih mengalami arus dana keluar US$26,1 juta.
Arus dana masuk dalam satu hari belum cukup untuk menunjukkan perubahan tren. Trader perlu mengamati konsistensi arus dana dalam beberapa hari berikutnya.
Tekanan juga terlihat pada produk investasi aset digital global yang mencatat arus dana keluar sekitar US$593,3 juta pada pekan yang dilaporkan.
Yang perlu diperhatikan: Jangan menjadikan satu hari arus dana masuk sebagai alasan tunggal untuk membeli Bitcoin. Perhatikan juga volume perdagangan, level teknikal, dan sentimen pasar secara keseluruhan.
4. Strategy dan MSCI: Risiko Pasar yang Perlu Dipantau
Strategy membeli 267 BTC senilai sekitar US$22,1 juta dengan harga rata-rata US$82.900 per Bitcoin. Total kepemilikannya mencapai 848.517 BTC, dengan biaya rata-rata sekitar US$75.446 per Bitcoin.
Namun, aktivitas buyback saham preferen STRC perusahaan tersebut mencapai sekitar US$193,1 juta, jauh lebih besar daripada pembelian Bitcoin pada periode yang dilaporkan.
Di sisi lain, MSCI sedang menyiapkan aturan terkait perusahaan yang dikategorikan sebagai non-operating. Aturan ini dijadwalkan berlaku pada 30 November 2026, dengan daftar akhir perusahaan diumumkan pada 11 November.
Strategy dan Metaplanet disebut dalam pemberitaan sebagai perusahaan yang berpotensi terdampak. Namun, MSCI belum mengonfirmasi nama perusahaan yang akan dikeluarkan.
Jika Strategy dikeluarkan dari indeks terkait, JPMorgan memperkirakan potensi arus dana keluar dapat mencapai US$2,8 miliar. Angka ini merupakan perkiraan bersyarat, bukan arus dana keluar yang sudah terjadi.
Trader perlu membedakan dampak terhadap saham Strategy dengan Bitcoin yang dimiliki perusahaan tersebut. Potensi tekanan pada saham tidak otomatis berarti Strategy akan menjual Bitcoin.
5. Harga Minyak dan Tekanan Pasar Global
Harga minyak Brent mencapai sekitar US$112,85 per barel pada 20 Oktober, naik dari kisaran US$105-107 pada pekan sebelumnya. Sementara itu, WTI berada di sekitar US$9-99 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi di tengah ketegangan geopolitik di kawasan Selat Hormuz dan Teluk Oman.
Pada saat yang sama, Nasdaq turun sekitar 4,5% dan S&P 500 melemah sekitar 1,9% pada pekan sebelumnya akibat aksi jual saham AI dan chip.
Kedua perkembangan tersebut memiliki pemicu berbeda. Namun, keduanya tetap perlu dipantau karena dapat memengaruhi sentimen pasar.
Harga energi yang tinggi berpotensi menambah tekanan inflasi. Jika inflasi bertahan tinggi, ekspektasi suku bunga dapat berubah dan memengaruhi minat investor terhadap aset berisiko, termasuk kripto.
Meski begitu, kenaikan harga minyak tidak otomatis membuat Bitcoin turun. Trader perlu melihat respons pasar dan perkembangan data ekonomi berikutnya.
6. Pasar Indonesia: IHSG Turun Sekitar 10%
Pasar domestik juga menghadapi tekanan setelah MSCI mengusulkan penurunan klasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market.
Pada 21 Oktober, IHSG ditutup di level 5.328,36, naik 0,94% dalam sehari. Namun, indeks tersebut masih turun sekitar 10% dibandingkan level 5.949 pada 14 Oktober.
Perlu dicatat, perubahan klasifikasi tersebut masih dalam tahap konsultasi. Batas penyampaian masukan ditetapkan pada 30 April 2027, dengan keputusan paling lambat 30 Juni 2027.
Sementara itu, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada rapat 20-21 Oktober. Rupiah diperdagangkan dalam kisaran Rp17.940-Rp18.040 per dolar AS berdasarkan data dalam laporan.
Bagi trader kripto, perkembangan IHSG dan rupiah dapat menjadi gambaran tambahan mengenai kondisi pasar keuangan Indonesia. Namun, pelemahan IHSG tidak berarti Bitcoin pasti ikut terkoreksi.
Pisahkan faktor domestik dari katalis global yang memengaruhi pasar kripto secara lebih langsung.
7. Jadwal Ekonomi Penting Pekan Ini
Beberapa agenda ekonomi berpotensi memengaruhi volatilitas pasar pada 23-30 Oktober 2026.
26 Oktober: Laporan mingguan Strategy untuk memantau aktivitas pembelian Bitcoin dan buyback saham preferen.
29 Oktober, sekitar pukul 01.00 WIB: Keputusan FOMC mengenai suku bunga The Fed, dilanjutkan konferensi pers sekitar pukul 01.30 WIB.
29 Oktober, pukul 19.30 WIB: Rilis data PCE September dan PDB Amerika Serikat kuartal III. Data PCE penting untuk memantau tekanan inflasi.
29 Oktober, pukul 20.15 WIB: Keputusan suku bunga ECB, yang menurut survei Reuters dalam laporan diperkirakan tetap.
30 Oktober: Rilis Employment Cost Index AS dan agenda kebijakan Bank of Japan.
Selain itu, trader perlu memantau perkembangan harga minyak, arus dana ETF, dan tekanan pada saham teknologi.
Kombinasi keputusan suku bunga dan data inflasi dalam waktu berdekatan dapat meningkatkan volatilitas. Karena itu, sesuaikan ukuran posisi dengan risiko yang sanggup ditanggung.
8. Strategi Trading: Jangan Terburu-buru Mengejar Harga
Dalam kondisi pasar yang belum pasti, trader perlu memiliki skenario sebelum membuka posisi.
Untuk trader pemula
Pertimbangkan untuk menunggu hingga keputusan FOMC dan data PCE dirilis sebelum mengambil posisi baru. Jika tetap ingin masuk pasar, pembelian bertahap dapat menjadi salah satu pendekatan untuk menghindari penggunaan seluruh dana pada satu harga.
Tetapkan batas risiko dan jangan menganggap peluang kenaikan suku bunga Oktober yang menurun sebagai jaminan pasar akan menguat.
Untuk swing trader
Gunakan US$80.000 sebagai salah satu acuan teknikal untuk mengevaluasi posisi Bitcoin. Jika terjadi penutupan harian di bawah level tersebut, tinjau kembali skenario trading dan risiko menuju area US$77.400-US$76.200.
Di sisi atas, perhatikan resistance US$84.000 dan US$87.000. Hindari mengejar rebound hanya berdasarkan arus dana ETF positif dalam satu hari.
Untuk investor jangka panjang
Pertimbangkan pembelian bertahap dan tetapkan batas eksposur kripto sesuai toleransi risiko. Hindari menempatkan seluruh dana sekaligus menjelang keputusan suku bunga dan rilis inflasi.
Jika Bitcoin menembus level penting, evaluasi kembali rencana investasi sebelum memutuskan menambah posisi. Penurunan harga bukan alasan otomatis untuk membeli lebih banyak.
Strategi yang digunakan tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan, tujuan, dan jangka waktu masing-masing.
Kesimpulan
Market Outlook W4 Oktober 2026 menunjukkan bahwa Bitcoin masih bertahan di atas US$80.000, tetapi sejumlah risiko belum mereda.
Peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober menurun, tetapi risiko kenaikan pada Desember masih perlu diperhatikan. Arus dana ETF Bitcoin dan Ethereum juga belum menunjukkan pemulihan yang konsisten.
Sementara itu, kenaikan harga minyak, perkembangan MSCI, dan tekanan pasar saham menambah faktor yang perlu dipantau trader.
Untuk Bitcoin, US$80.000 menjadi level penting yang perlu diperhatikan. Jika harga bertahan di atasnya, peluang konsolidasi masih terbuka. Sebaliknya, penutupan harian di bawah level tersebut menjadi alasan untuk mengevaluasi risiko penurunan.
Fokuskan perhatian pada keputusan FOMC, data PCE, arus dana ETF, serta respons harga terhadap support dan resistance. Siapkan skenario, tetapkan batas risiko, dan hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan sentimen sesaat.
Artikel ini bersifat informatif berdasarkan data per 22 Oktober 2026, bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Data dan kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu.
FAQ Seputar Market Outlook Oktober 2026
1. Berapa harga Bitcoin pada Oktober 2026?
Berdasarkan Market Outlook per 22 Oktober 2026, harga Bitcoin berada di sekitar US$82.763. Bitcoin masih bertahan di atas support US$80.000, dengan resistance terdekat di US$84.000 dan area berikutnya di US$87.000.
2. Apakah Bitcoin berpotensi turun di bawah US$80.000?
Risiko tersebut masih ada. Jika Bitcoin mencatatkan penutupan harian di bawah US$80.000, area US$77.400-US$76.200 dapat menjadi acuan teknikal berikutnya. Namun, level tersebut bukan prediksi pasti bahwa harga akan turun ke sana.
3. Bagaimana pengaruh keputusan The Fed terhadap harga Bitcoin?
Keputusan suku bunga The Fed dapat memengaruhi sentimen investor dan minat terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Kebijakan yang lebih ketat berpotensi menekan minat terhadap aset berisiko, sedangkan kebijakan yang lebih longgar dapat mendukung sentimen positif. Namun, respons harga tetap bergantung pada kondisi pasar dan ekspektasi investor.
4. Kapan keputusan suku bunga The Fed diumumkan pada Oktober 2026?
Keputusan FOMC dijadwalkan pada 28 Oktober waktu Amerika Serikat atau sekitar pukul 01.00 WIB pada 29 Oktober 2026. Konferensi pers Ketua The Fed diperkirakan berlangsung sekitar pukul 01.30 WIB.
5. Apa pengaruh arus dana ETF terhadap pasar kripto?
Arus dana ETF dapat menjadi salah satu indikator minat investor terhadap aset kripto. Arus dana masuk yang konsisten dapat mendukung sentimen positif, sedangkan arus dana keluar yang berkelanjutan perlu diwaspadai. Namun, arus dana ETF bukan satu-satunya faktor yang menentukan pergerakan harga Bitcoin dan Ethereum.
6. Mengapa trader perlu memantau data inflasi Amerika Serikat?
Data inflasi membantu pasar menilai arah kebijakan suku bunga The Fed. Jika inflasi tetap tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat menguat dan memengaruhi sentimen terhadap aset berisiko. Salah satu data penting yang perlu diperhatikan pekan ini adalah Personal Consumption Expenditures (PCE) September, yang dijadwalkan rilis pada 29 Oktober 2026.
7. Apa strategi trading Bitcoin yang perlu diperhatikan pekan ini?
Trader dapat memantau support US$80.000, resistance US$84.000, serta area US$87.000. Selain itu, perhatikan keputusan The Fed, data PCE, dan perkembangan arus dana ETF. Tentukan batas risiko sebelum membuka posisi dan hindari mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga dalam jangka pendek.
8. Apakah artikel Market Outlook merupakan rekomendasi investasi?
Tidak. Market Outlook merupakan informasi mengenai kondisi pasar, sentimen, dan level teknikal yang perlu diperhatikan. Analisis tersebut bukan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset tertentu. Setiap keputusan trading perlu mempertimbangkan tujuan, kondisi keuangan, dan toleransi risiko masing-masing.
Pantau Pasar Kripto dan Siapkan Strategi Trading Bersama FLOQ
Pergerakan pasar kripto bisa berubah sewaktu-waktu. Karena itu, penting untuk terus mengikuti perkembangan pasar dan memahami risiko sebelum mengambil keputusan trading.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ adalah aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Market Outlook W3 Oktober 2026: Bitcoin Jebol Support $81 Ribu! Trader Wajib Waspada




