Memasuki pekan keempat September 2026, pasar kripto kembali bergerak cukup keras. Bitcoin atau BTC yang sebelumnya berada di sekitar US$75.000 kembali rally ke area US$84.000-US$87.000. Bahkan, BTC sempat menembus US$86.000-US$87.000 pada 22-23 September.
Menariknya, kenaikan ini terjadi ketika The Fed justru menaikkan suku bunga 25 basis poin ke level 3,75%-4,00%.
Di sisi lain, arus dana masuk ke ETF Bitcoin AS kembali deras. Inflow harian bahkan mencapai sekitar US$999 juta pada 21 September. Ini menjadi salah satu inflow harian terbesar sejak Oktober 2025.
Tapi bukan berarti pasar sedang sepenuhnya aman.
Ada options expiry senilai US$16,6 miliar pada 25 September. Ada juga data PCE AS yang akan dirilis pada 30 September. Belum lagi harga minyak yang masih bertahan di sekitar US$100 per barel dan kondisi geopolitik di Selat Hormuz.
Di Indonesia, rupiah juga kembali melemah ke kisaran Rp17.795-Rp17.852 per dolar AS. Sementara IHSG bergerak cukup volatil dalam dua hari terakhir.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi di pasar? Apa saja yang perlu diperhatikan investor kripto pada pekan berikutnya? Berikut market outlook minggu keempat September 2026 yang dirangkum dari kondisi pasar per 24 September 2026.*
Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps
Salah satu perhatian terbesar pasar global pekan ini datang dari The Fed. Pada rapat FOMC 15-16 September, Federal Reserve menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin ke level 3,75%-4,00%.
Yang membuat keputusan ini semakin menarik adalah hasil votingnya. Sebanyak 12 anggota memberikan suara mendukung kenaikan tersebut. Artinya, keputusan kenaikan suku bunga diambil secara bulat.
Ini cukup kontras dengan kondisi beberapa minggu sebelumnya. Pada pekan lalu, probabilitas kenaikan suku bunga sempat berada di sekitar 31,6%. Pasar saat itu lebih banyak memperkirakan kemungkinan The Fed menahan suku bunga.
Ternyata, ekspektasi pasar tidak selalu sama dengan keputusan akhir bank sentral. Ini menjadi salah satu pelajaran penting dari kondisi pasar pekan ini. Odds pasar bukan keputusan final.
Probabilitas bisa berubah ketika kondisi ekonomi dan komunikasi bank sentral berubah. The Fed sendiri menyebut aktivitas ekonomi AS masih berkembang secara solid. Di sisi lain, inflasi masih berada di atas target 2%.
Karena itu, kenaikan suku bunga dilakukan untuk membantu membawa inflasi kembali menuju target tersebut. Yang juga perlu diperhatikan adalah dot plot terbaru.
Sebanyak 12 pejabat memproyeksikan tambahan kenaikan 25 basis poin pada akhir 2026. Untuk 2027, sebanyak delapan pejabat melihat kemungkinan kenaikan lanjutan, enam pejabat memperkirakan suku bunga ditahan, dan empat pejabat memproyeksikan penurunan.
Artinya, pasar belum bisa menganggap siklus kenaikan suku bunga sudah selesai. Fed funds futures juga menunjukkan peluang sekitar 54%-55% untuk kenaikan suku bunga berikutnya pada rapat 28 Oktober.
Buat pasar kripto, kondisi ini penting.
Suku bunga yang lebih tinggi bisa membuat kondisi likuiditas menjadi lebih ketat. Aset berisiko juga bisa menjadi lebih sensitif terhadap perubahan ekspektasi kebijakan moneter. Namun, kali ini Bitcoin justru bergerak naik.
Bitcoin Rally ke US$87 Ribu
Bitcoin menjadi salah satu aset yang paling menarik perhatian pekan ini. Dalam periode 16-21 September, BTC bergerak dalam rentang sekitar US$74.912-US$87.397.
Pada 24 September, Bitcoin berada di sekitar US$84.355. Artinya, BTC masih mencatat kenaikan sekitar 12% dibandingkan level sekitar US$75.164 pada pekan sebelumnya.
Bitcoin bahkan sempat menembus area US$86.000-US$87.000 pada 22-23 September. Kenaikan ini juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya arus dana ke ETF Bitcoin AS.
Pada 21 September, ETF Bitcoin mencatat inflow sekitar US$999 juta. Angka ini menjadi inflow harian terbesar sejak Oktober 2025.
Sehari setelahnya, inflow masih mencapai sekitar US$714,74 juta. Dalam empat hari beruntun, total inflow bahkan mencapai lebih dari US$2,3 miliar. Pergerakan ini cukup berbeda dibandingkan awal September.
Pada 8-11 September, ETF Bitcoin sempat mencatat outflow sekitar US$462,7 juta. Artinya, arus dana ETF kembali berbalik cukup tajam. ETF Ethereum juga ikut mencatat inflow beruntun.
Namun, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Harga BTC sekarang sudah berada cukup jauh di atas level max pain options yang berada di sekitar US$72.000-US$75.000.
Kombinasi antara harga yang sudah naik cukup cepat, sentimen extreme greed, dan inflow ETF yang besar membuat pasar tetap rentan terhadap pergerakan tajam.
Jadi, rally Bitcoin memang menarik untuk diperhatikan. Tapi volatilitasnya juga jangan diabaikan.
Strategy Kembali Membeli Bitcoin
Bukan cuma ETF yang menunjukkan kembalinya minat terhadap Bitcoin. Strategy juga kembali melakukan pembelian BTC setelah jeda sekitar 10 minggu.
Pada 21 September, perusahaan tersebut membeli 950 BTC. Pembelian ini didanai melalui penerbitan saham baru. Total kepemilikan Bitcoin Strategy kini berada di sekitar 846.000 BTC dengan nilai sekitar US$73,2 miliar.
Sementara itu, mNAV Strategy berada di sekitar 1,16x. Sederhananya, mNAV menunjukkan perbandingan antara nilai pasar perusahaan dengan nilai Bitcoin yang dimilikinya.
Angka 1,16x berarti pasar masih memberikan premium sekitar 16% terhadap nilai Bitcoin yang dimiliki perusahaan. Tapi premium ini tidak selalu tetap.
mNAV Strategy secara historis cukup volatil. Kalau harga Bitcoin mengalami koreksi tajam, premium tersebut juga bisa terkompresi. Karena itu, pembelian BTC oleh Strategy menjadi salah satu indikator yang menarik untuk dipantau.
Bukan berarti pembelian tersebut otomatis membuat harga Bitcoin terus naik. Namun, aktivitas perusahaan besar yang kembali melakukan akumulasi menunjukkan bahwa permintaan institusional masih menjadi bagian penting dari dinamika pasar.
Options Expiry US$16,6 Miliar di Depan Mata
Kalau ada satu agenda yang perlu diperhatikan dalam waktu dekat, options expiry 25 September menjadi salah satunya. Deribit akan mencatat expiry quarterly options dengan nilai sekitar US$16,6 miliar untuk Bitcoin dan Ethereum.
Rinciannya sekitar US$14,63 miliar untuk BTC dan US$1,93 miliar untuk ETH. Settlement dijadwalkan pada 25 September pukul 08.00 UTC. Put/call open interest ratio berada di sekitar 0,69.
Angka ini menunjukkan open interest lebih condong ke posisi call. Sementara itu, max pain berada di kisaran US$72.000-US$75.000. Masalahnya, harga Bitcoin saat ini berada jauh di atas area tersebut.
Gap antara spot dan max pain cukup besar. Kondisi ini bisa membuat pergerakan harga menjadi lebih volatil di sekitar waktu settlement.
Buat trader, periode seperti ini perlu diperhatikan karena posisi leverage yang terlalu besar bisa meningkatkan risiko ketika harga bergerak cepat.
Tapi perlu diingat, max pain bukan berarti Bitcoin pasti turun ke US$72.000-US$75.000. Angka tersebut hanya menunjukkan level harga tertentu yang berkaitan dengan distribusi open interest options.
Harga Minyak Masih Tinggi
Pasar global juga masih menghadapi tekanan dari sisi geopolitik. Konflik Iran-AS di sekitar Selat Hormuz masih menjadi perhatian.
Dalam Market Outlook W4, konflik tersebut telah memasuki hari ke-207 per 22 September. Serangan terhadap tanker masih berlanjut. Kondisi ini membuat risiko terhadap jalur pengiriman minyak tetap tinggi.
Harga Brent juga masih bertahan di sekitar US$100-US$102 per barel pada 17 September. Ada sinyal yang cukup menarik. Pada 22 September, pejabat senior Iran menyatakan kepada Reuters bahwa Selat Hormuz dapat dibuka kembali dalam tujuh hari jika AS melonggarkan tekanan militer dan mencabut blokade pelabuhan Iran.
Tapi pasar perlu membedakan antara pernyataan dan tindakan nyata. Kalau Hormuz benar-benar kembali normal, tekanan terhadap harga minyak bisa berkurang.
Sebaliknya, jika gangguan terus berlangsung, harga minyak berpotensi tetap tinggi. Efeknya bisa meluas ke inflasi global dan pasar negara berkembang. Indonesia juga perlu memperhatikan kondisi ini karena harga minyak yang tinggi bisa memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.
Rupiah Kembali Melemah
Dari pasar domestik, rupiah kembali menghadapi tekanan. Pada 22-23 September, rupiah berada di kisaran Rp17.795-Rp17.852 per dolar AS.
Ini berbeda dengan pekan sebelumnya ketika rupiah sempat bergerak menuju Rp17.693. Pelemahan kali ini terjadi setelah The Fed menaikkan suku bunga 25 basis poin.
Harga minyak yang masih tinggi juga ikut menjadi perhatian. Kombinasi kedua faktor tersebut memberikan tekanan terhadap mata uang emerging market.
Bank Indonesia kemudian melanjutkan berbagai langkah stabilisasi, termasuk intervensi dan insentif hedging. Di sisi lain, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di level 5,75% dalam RDG 22-23 September.
Keputusan ini menjadi hold untuk ketiga kalinya secara beruntun. Deposit Facility tetap berada di 4,75%, sementara Lending Facility berada di 6,50%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa BI masih mempertahankan stance kebijakan moneternya di tengah tekanan eksternal.
IHSG Sempat Turun, Lalu Rebound
IHSG juga bergerak cukup ekstrem dalam dua hari. Pada Selasa, 22 September, IHSG turun 1,69% ke level 6.277,04. Namun sehari kemudian, indeks justru rebound 1,56% ke 6.374,91.
Pergerakan ini menunjukkan bagaimana cepatnya sentimen pasar berubah. Penurunan terjadi di tengah volatilitas setelah keputusan The Fed dan RDG Bank Indonesia.
Kemudian, rebound terjadi setelah kondisi pasar mulai merespons secara teknikal dari posisi yang sebelumnya sudah mengalami tekanan. Jadi, pergerakan IHSG pekan ini tidak bisa dilepaskan dari kondisi pasar global.
Pergerakan rupiah, harga minyak, dan kebijakan bank sentral tetap menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
CLARITY Act Masih Jadi Perhatian
Dari sisi regulasi kripto AS, CLARITY Act juga belum mendapatkan kepastian. Pada 15 September, cloture atas motion to proceed gagal dengan hasil voting 49-50.
Untuk melewati tahap cloture, dibutuhkan 60 suara. Yang menarik, tujuh senator Demokrat yang sebelumnya ikut merundingkan teks RUU tersebut justru memberikan suara menolak.
Artinya, dukungan politik yang sebelumnya diharapkan belum terwujud. Motion to reconsider memang sudah diajukan. Namun, belum ada jadwal voting baru yang terkonfirmasi dalam Market Outlook ini.
Ada kemungkinan pembahasan kembali diarahkan ke sesi lame-duck setelah pemilu paruh waktu AS pada 3 November. Karena itu, jangan langsung menganggap CLARITY Act otomatis selesai.
Kegagalan cloture berarti prosesnya mengalami hambatan. Bukan berarti RUU tersebut secara otomatis gugur. Untuk pasar kripto, perkembangan ini penting karena kepastian regulasi menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi sentimen terhadap industri aset digital.
Apa yang Perlu Dipantau Pekan Depan?
Ada beberapa agenda yang perlu masuk radar.
1. Options Expiry 25 September
Expiry Bitcoin dan Ethereum senilai US$16,6 miliar menjadi agenda paling dekat. Perbedaan antara harga BTC saat ini dan max pain juga cukup besar. Karena itu, volatilitas di sekitar waktu settlement menjadi salah satu risiko yang perlu diperhatikan.
2. Data PCE AS 30 September
Data PCE Agustus menjadi salah satu data ekonomi paling penting pekan depan. PCE merupakan indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Saat ini, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada rapat Oktober berada di sekitar 54%-55%.
Kalau data inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa kembali berubah. Efeknya juga dapat terasa di aset berisiko, termasuk Bitcoin.
3. Data Tenaga Kerja AS
Selain PCE, pasar juga akan mendapatkan sejumlah data tenaga kerja dan ekonomi lainnya. Pada 1 Oktober ada ISM Manufacturing PMI dan ADP Employment Change.
Kemudian pada 2 Oktober ada Initial Jobless Claims, Challenger Job Cuts, dan Factory Orders. Data-data ini akan membantu pasar membaca kondisi ekonomi AS menjelang Nonfarm Payrolls pada 3 Oktober.
4. Kondisi Selat Hormuz
Pernyataan mengenai kemungkinan pembukaan kembali Selat Hormuz juga perlu dipantau. Kalau benar-benar terjadi dan arus pengiriman minyak kembali normal, tekanan harga minyak berpotensi berkurang.
Namun, selama belum ada tindakan konkret, pasar tetap perlu memperhitungkan risiko geopolitik tersebut.
5. Perkembangan CLARITY Act
Pasar juga perlu melihat apakah motion to reconsider mendapatkan jadwal voting baru. Kalau tidak, pembahasan bisa semakin bergeser ke sesi lame-duck setelah pemilu AS.
Jadi, Apa Artinya Buat Pasar Kripto?
Kondisi pasar saat ini cukup menarik. The Fed menaikkan suku bunga. Secara umum, kebijakan seperti ini bisa menjadi tekanan bagi aset berisiko. Tapi Bitcoin justru rally.
Salah satu faktornya adalah arus dana yang kembali masuk ke ETF Bitcoin. Dalam empat hari, inflow tercatat lebih dari US$2,3 miliar. Strategy juga kembali membeli BTC.
Di sisi lain, pasar tetap menghadapi beberapa risiko. Harga Bitcoin sudah naik cukup cepat. Sentimen berada di area extreme greed. Options expiry besar sudah di depan mata. Harga minyak masih tinggi. Dan data PCE akan segera keluar.
Jadi, kondisi pasar tidak bisa hanya dilihat dari satu indikator. Buat pemula, yang paling penting adalah memahami hubungan antar faktor. Kenaikan Bitcoin tidak selalu berarti semua kondisi makro sedang positif.
Begitu juga kenaikan suku bunga tidak selalu berarti Bitcoin pasti turun. Pasar bergerak berdasarkan kombinasi ekspektasi, likuiditas, arus dana, sentimen, dan data ekonomi.
Sementara buat trader, options expiry dan data PCE menjadi dua agenda yang cukup penting untuk diperhatikan. Untuk investor jangka panjang, aktivitas pembelian BTC oleh institusi seperti Strategy dan arus dana ETF bisa menjadi bagian dari indikator yang dipantau bersama kondisi makro.
Kesimpulan
Market Outlook W4 September 2026 menunjukkan bahwa pasar kripto kembali bergerak cukup agresif. Bitcoin berhasil rally dari area US$75.000 ke US$84.000-US$87.000. Bahkan, BTC sempat menyentuh area US$87.000.
Arus dana ke ETF Bitcoin juga kembali deras. Namun, kondisi makro global masih cukup kompleks. The Fed baru saja menaikkan suku bunga 25 basis poin ke 3,75%-4,00%. Rupiah kembali melemah. IHSG bergerak volatil. Harga minyak masih berada di sekitar US$100 per barel.
Belum lagi ada options expiry US$16,6 miliar pada 25 September. Setelah itu, pasar akan menghadapi data PCE AS pada 30 September. Jadi, pekan berikutnya berpotensi menjadi periode yang penting untuk melihat apakah rally Bitcoin bisa bertahan atau justru menghadapi volatilitas baru.
Buat kamu yang mengikuti pasar kripto, jangan cuma melihat harga BTC.
Perhatikan juga arus ETF, kebijakan The Fed, data inflasi AS, harga minyak, rupiah, IHSG, dan perkembangan regulasi kripto. Karena di pasar yang bergerak cepat, memahami konteks sering kali sama pentingnya dengan melihat grafik harga.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Market Outlook W3 September 2026: BTC Tertekan, Ada Apa di Balik Koreksi Pasar?
*Data bersumber dari sumber publik dan Market Outlook FLOQ per 24 September 2026. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan. Aset kripto memiliki risiko tinggi dan volatilitas yang dapat menyebabkan kerugian.





