Pasar kripto kembali bergerak cukup keras pada pekan ketiga September 2026. Bitcoin atau BTC yang sebelumnya berada di sekitar US$78.300 harus terkoreksi ke area US$75.000-US$76.000. Penurunannya sekitar 3-4% dalam sepekan.
Menariknya, koreksi kali ini bukan dipicu satu berita saja. Ada dua katalis besar yang datang hampir bersamaan. Pertama, kegagalan CLARITY Act di Senat Amerika Serikat. Kedua, keputusan Federal Reserve atau The Fed menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Di sisi lain, tekanan pasar juga datang dari kenaikan harga minyak. Brent bahkan kembali menembus US$100 per barel di tengah eskalasi militer AS-Iran di kawasan Hormuz.
Lalu, bagaimana kondisi pasar saat ini? Apa yang perlu diperhatikan investor kripto di pekan berikutnya? Berikut market outlook minggu ke-3 September 2026 yang dirangkum dari kondisi pasar per 17 September 2026.
Fed Naikkan Suku Bunga 25 Bps
Salah satu perhatian terbesar pasar global datang dari The Fed. Pada 16 September 2026, Federal Open Market Committee atau FOMC menaikkan Fed Funds Rate sebesar 25 basis poin.
Suku bunga kini berada di kisaran 3,75%-4,00%. Kenaikan ini menjadi yang pertama sejak Juli 2023. Keputusannya juga cukup tegas karena disetujui secara bulat.
Sebanyak 12 anggota memberikan suara mendukung kenaikan tersebut. Termasuk Ketua Fed Kevin Warsh. Keputusan ini menarik karena sebelumnya Presiden Donald Trump berulang kali mendorong The Fed untuk memangkas suku bunga. Namun, Warsh kembali menegaskan independensi bank sentral dalam konferensi pers.
Artinya, tekanan politik tidak otomatis mengubah keputusan moneter. Yang juga perlu diperhatikan adalah dot plot terbaru. Sebanyak 16 dari 18 pejabat The Fed memperkirakan masih ada setidaknya satu kali kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Jadi, pasar belum bisa menganggap siklus kenaikan suku bunga sudah selesai. Warsh juga menegaskan bahwa inflasi masih terlalu tinggi. Menurutnya, bank sentral tidak memiliki solusi instan untuk menurunkan tekanan harga dalam hitungan minggu.
Buat pasar kripto, kondisi seperti ini penting. Suku bunga yang lebih tinggi biasanya membuat likuiditas global menjadi lebih ketat. Investor juga bisa menjadi lebih selektif terhadap aset berisiko.
Kripto termasuk salah satu aset yang sensitif terhadap perubahan sentimen tersebut.
CLARITY Act Gagal di Senat AS
Selain The Fed, isu regulasi kripto Amerika Serikat juga menjadi perhatian. Pada 15 September, Senat AS gagal meloloskan cloture untuk CLARITY Act. Hasil votingnya adalah 49-50.
Padahal, dibutuhkan setidaknya 60 suara untuk melewati tahap tersebut. Dengan hasil ini, proses menuju pembahasan lebih lanjut praktis terhenti untuk saat ini.
Kegagalan tersebut sebenarnya sudah menjadi risiko yang mulai diperhatikan pasar sejak pekan sebelumnya. Dorongan politik dari Trump ternyata belum cukup untuk mengubah perhitungan suara di Senat.
Jadwal politik AS juga membuat peluang pembahasan ulang dalam waktu dekat menjadi semakin terbatas. DPR membatalkan sesi pada pekan 21 dan 28 September. Sementara itu, masa reses Senat dimulai pada 5 Oktober menjelang pemilu 3 November.
Senator Lummis juga menyatakan bahwa RUU tersebut tidak akan kembali ke lantai Senat dalam waktu dekat. Namun, bukan berarti perkembangan regulasi kripto AS berhenti total.
Masih ada jalur administratif. SEC sedang menjalankan proses NPRM terkait “Regulation Crypto Assets”. Di sisi lain, CFTC juga memiliki jalur penyusunan aturan pasar spot melalui kewenangan yang sudah ada berdasarkan Commodity Exchange Act.
Jadi, kegagalan CLARITY Act lebih tepat dilihat sebagai hambatan legislatif. Bukan berarti seluruh proses regulasi kripto AS berhenti. Kerangka regulasi yang lebih komprehensif kini realistis tertunda hingga sesi Kongres berikutnya pada 2027.
Bitcoin Terkoreksi Setelah Dua Katalis Negatif
Bitcoin menjadi salah satu aset yang langsung merasakan tekanan dari perkembangan tersebut.
BTC membuka pekan di sekitar US$78.291 pada 10 September. Setelah kegagalan cloture CLARITY Act, BTC turun sekitar 4% dalam satu hari dan sempat berada di sekitar US$75.900.
Setelah keputusan The Fed pada 16 September, Bitcoin kemudian diperdagangkan di area US$75.000-US$76.500.
Per 17 September, BTC berada di sekitar US$75.986. Rentang perdagangannya dalam 24 jam berada di sekitar US$75.151-US$76.233.
Secara mingguan, penurunannya berada di kisaran 3-4%. Yang penting, koreksi ini tidak berasal dari satu faktor tunggal. Ada dua katalis berbeda yang muncul hampir bersamaan.
- Pertama, sentimen negatif setelah CLARITY Act gagal melewati cloture.
- Kedua, kepastian kenaikan suku bunga The Fed.
Kombinasi keduanya membuat tekanan terhadap aset berisiko semakin terasa. Level US$77.000-US$78.000 juga menjadi area yang patut diperhatikan. Level tersebut sebelumnya menjadi salah satu basis rally Bitcoin pada Agustus.
Jika tekanan berlanjut, pasar juga akan melihat area opsi yang jatuh tempo pada 25 September.
ETF Bitcoin dan Ethereum Ikut Tertekan
Tekanan juga terlihat dari produk ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat.
Pada 15 September, ETF BTC dan ETH mencatat total arus keluar sekitar US$592 juta dalam satu hari. Bitcoin menyumbang sekitar US$450,3 juta. Angka tersebut menjadi arus keluar harian terbesar Bitcoin sejak 25 Juni.
Sementara itu, ETF Ethereum mengalami arus keluar sekitar US$141,5 juta. Ini menjadi arus keluar terdalam dalam 155 sesi perdagangan.
Dengan kondisi tersebut, rentetan empat minggu inflow sebelumnya akhirnya berakhir. Dalam periode tersebut, produk Ethereum sempat mencatat tambahan sekitar US$1,94 miliar.
Namun, ada satu detail penting. Jangan hanya melihat data satu hari. Secara month-to-date hingga 17 September, ETF Bitcoin masih mencatat net inflow sekitar US$17,1 juta. ETF Ethereum juga masih positif sekitar US$307,4 juta.
Artinya, arus keluar besar pada 15 September belum sepenuhnya membalikkan tren bulanan. Ini menjadi salah satu hal yang masih perlu dipantau.
Strategy Kembali Beli Bitcoin
Di tengah koreksi pasar, Strategy juga kembali menjadi perhatian. Perusahaan tersebut melanjutkan akumulasi Bitcoin setelah jeda sekitar 10 minggu.
Sekitar 1 September, Strategy membeli 4.603 BTC dengan nilai sekitar US$369,7 juta. Pembelian tersebut membawa total kepemilikan perusahaan menjadi sekitar 845.050 BTC.
Nilai kepemilikannya diperkirakan sekitar US$65,7 miliar per 14 September. Namun, harga rata-rata akuisisi Strategy kini berada di sekitar US$75.412 per BTC.
Angka tersebut sudah cukup dekat dengan harga pasar Bitcoin saat ini. Artinya, margin keuntungan kertas perusahaan ikut menyempit ketika BTC terkoreksi.
Hal lain yang menarik adalah mNAV. Pada pertengahan September, mNAV Strategy berada di sekitar 1,13x.
Angka ini sudah terkompresi cukup jauh dibandingkan rentang historis 0,95x-1,43x. Sebelumnya, mNAV bahkan sempat menyentuh 1,01x pada 23 Agustus.
Jika Bitcoin terus terkoreksi, area 1,0x menjadi salah satu level yang layak diperhatikan.
Harga Minyak Tembus US$100
Bukan hanya pasar kripto yang sedang menghadapi tekanan. Pasar energi juga bergerak cukup agresif.
Harga Brent kembali menembus US$100 per barel pada pertengahan September. Ini menjadi level tertinggi sejak akhir Juli. Salah satu pemicunya adalah eskalasi militer AS-Iran. China juga kembali agresif membeli minyak mentah.
Situasi di Selat Hormuz ikut menjadi perhatian. Lalu lintas kapal di kawasan tersebut turun tajam pada sejumlah hari perdagangan. Salah satu catatan dalam market outlook menunjukkan jumlah kapal turun menjadi enam dari sebelumnya 11 kapal.
Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi sekitar 20% lalu lintas minyak global setiap hari. Jika gangguan berlanjut dan mulai memengaruhi pasokan minyak secara nyata, risiko terhadap sentimen global bisa semakin besar.
Brent di atas US$100 juga perlu diperhatikan pasar kripto.
Bukan karena harga minyak secara langsung menentukan harga Bitcoin. Namun, kenaikan energi yang tajam dapat memperbesar kekhawatiran inflasi dan mendorong sentimen risk-off.
Bagaimana Kondisi Pasar Indonesia?
Pasar domestik juga ikut merasakan tekanan global. Rupiah melemah sepanjang pekan. Pada 16 September, rupiah berada di sekitar Rp17.699 per dolar AS. Angka ini mencerminkan pelemahan sekitar 1,11% dalam sepekan.
Salah satu faktor yang memengaruhi adalah penguatan dolar AS menjelang dan setelah kepastian kenaikan suku bunga The Fed. Kondisi tersebut cukup umum terjadi ketika bank sentral AS melanjutkan siklus pengetatan.
IHSG juga bergerak melemah. Indeks dibuka di 6.552,79 pada 11 September dan turun menjadi 6.461,15 pada penutupan 16 September.
Pergerakan rupiah dan IHSG yang sama-sama melemah menunjukkan kuatnya sentimen risk-off global pada pekan tersebut.
Di sisi lain, Bank Indonesia akan menggelar RDG pada 22-23 September. Ini menjadi RDG pertama Destry Damayanti sebagai Gubernur BI definitif periode 2026-2031.
BI Rate sendiri masih berada di 5,75% sejak RDG Juli.
Apa yang Perlu Dipantau Pekan Depan?
Ada beberapa agenda penting yang perlu diperhatikan.
- Pertama adalah RDG Bank Indonesia pada 22-23 September.
Pasar akan memperhatikan keputusan BI Rate serta sinyal kebijakan moneter selanjutnya. Konsensus yang tercantum dalam market outlook memperkirakan BI Rate tetap di 5,75%.
Namun, hasil yang sesuai ekspektasi tidak otomatis membuat rupiah langsung menguat. Sentimen dolar AS setelah kenaikan suku bunga The Fed masih bisa menjadi faktor tekanan.
- Kedua adalah expiry opsi Deribit pada 25 September.
Sekitar US$16,6 miliar opsi BTC dan ETH akan jatuh tempo. Rinciannya sekitar US$14,63 miliar untuk Bitcoin dan US$1,93 miliar untuk Ethereum. Put/call ratio berada di sekitar 0,52. Sementara itu, max pain berada di area US$72.000-US$75.000.
Area tersebut berada di bawah harga Bitcoin saat ini. Karena itu, pergerakan BTC menjelang expiry menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan.
- Ketiga adalah perkembangan regulasi AS.
Pasar akan melihat apakah SEC dan CFTC melanjutkan jalur regulasi administratif setelah CLARITY Act gagal di Senat.
- Keempat adalah kondisi Hormuz dan harga minyak.
Jika eskalasi berlanjut dan Brent semakin jauh di atas US$100, dampaknya terhadap sentimen global juga perlu dipantau.
- Kelima adalah Core PCE AS yang dijadwalkan pada 30 September.
Data ini penting karena merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed. Apalagi, sebagian besar pejabat Fed masih mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan.
Jadi, Apa Artinya untuk Investor Kripto?
Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa Bitcoin sedang menghadapi beberapa tekanan sekaligus.
Ada kebijakan moneter yang lebih ketat. Ada ketidakpastian regulasi. Ada arus keluar ETF dalam jumlah besar dalam satu hari. Ada kenaikan harga minyak. Dan ada risiko volatilitas menjelang expiry opsi.
Namun, bukan berarti semua indikator sedang negatif. ETF Bitcoin dan Ethereum masih mencatat net inflow secara month-to-date. Jadi, penting untuk tidak mengambil kesimpulan hanya berdasarkan satu hari perdagangan.
Untuk pemula, memahami penyebab pergerakan pasar menjadi hal yang penting.
Koreksi Bitcoin pekan ini terjadi setelah dua berita besar yang berbeda muncul berdekatan. Jadi, jangan menganggap satu berita sebagai satu-satunya penyebab. Data ETF juga sebaiknya dilihat dalam konteks yang lebih luas.
Sementara itu, investor jangka panjang dapat memperhatikan perkembangan mNAV Strategy, kebijakan moneter AS dan Indonesia, serta perkembangan regulasi kripto AS.
Bagi trader jangka pendek, area expiry opsi 25 September dan perkembangan sentimen setelah keputusan The Fed menjadi perhatian tambahan.
Kesimpulan
Market outlook September 2026 menunjukkan bahwa pasar kripto sedang berada dalam fase yang cukup sensitif.
Bitcoin turun ke area US$75.000-US$76.000 setelah kegagalan CLARITY Act dan kenaikan suku bunga The Fed. Pada saat yang sama, harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel.
Rupiah dan IHSG juga ikut melemah seiring meningkatnya sentimen risk-off global. Pekan berikutnya tidak kalah penting.
RDG Bank Indonesia, expiry opsi Deribit, perkembangan regulasi kripto AS, kondisi Hormuz, serta data Core PCE menjadi beberapa agenda yang layak dipantau.
Pasar bisa berubah dengan cepat. Karena itu, memahami konteks di balik pergerakan harga tetap penting sebelum mengambil keputusan terkait aset digital.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Market Outlook W2 September 2026: BTC Golden Cross, Fed dan CPI Jadi Penentu Arah Pasar





