Investasi sering dianggap sebagai sesuatu yang rumit. Harus punya banyak uang. Harus paham pasar. Harus bisa membaca grafik. Bahkan, ada yang merasa investasi cuma cocok buat orang yang sudah mapan.
Padahal, anggapan tersebut nggak sepenuhnya benar.
Saat ini, ada banyak pilihan investasi yang bisa dipelajari dan disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing. Yang penting bukan langsung mencari investasi dengan potensi keuntungan paling tinggi.
Langkah pertama justru memahami cara investasi yang benar.
Mulai dari menentukan tujuan, mengenali profil risiko, memilih instrumen, sampai melakukan evaluasi secara berkala. Nah, kalau kamu masih bingung harus mulai dari mana, panduan berikut bisa membantu.
Apa Itu Investasi?
Sebelum membahas cara investasi, kita perlu memahami pengertiannya terlebih dahulu.
Investasi adalah aktivitas menempatkan sejumlah dana atau aset ke instrumen tertentu dengan harapan nilainya dapat berkembang atau memberikan manfaat di masa depan.
Instrumen keuangannya beragam. Ada deposito, emas, reksadana, obligasi, saham, hingga aset digital.
Masing-masing punya karakteristik yang berbeda. Potensi keuntungan dan risikonya juga berbeda. Karena itu, investasi bukan sekadar membeli aset lalu menunggu harganya naik.
Ada proses yang perlu dilakukan. Kamu perlu menentukan tujuan. Memahami risiko. Memilih instrumen yang sesuai. Lalu memantau investasi tersebut secara berkala.
Kenapa Perlu Belajar Cara Investasi?
Investasi tanpa pemahaman bisa membuat keputusan jadi kurang terarah. Misalnya, seseorang membeli aset hanya karena sedang ramai dibicarakan. Setelah itu, harganya turun. Karena panik, aset langsung dijual.
Padahal, keputusan tersebut mungkin tidak sesuai dengan tujuan awal investasinya. Dengan memahami cara investasi, kamu bisa membuat keputusan berdasarkan tujuan dan kondisi keuangan. Bukan sekadar mengikuti tren.
Investasi juga membantu kamu mempersiapkan kebutuhan finansial jangka panjang. Contohnya untuk dana pendidikan, membeli rumah, mempersiapkan pensiun, atau mencapai tujuan keuangan lainnya.
Cara Investasi yang Benar untuk Pemula
Buat kamu yang baru mulai, nggak perlu langsung memikirkan strategi yang rumit. Ikuti langkah dasarnya terlebih dahulu.
1. Tentukan Tujuan Investasi
Pertama, tentukan alasan kamu berinvestasi. Ini kelihatannya sederhana. Tapi justru penting. Tujuan investasi bisa berbeda-beda untuk setiap orang.
Misalnya:
- Menyiapkan dana pendidikan.
- Membeli rumah.
- Menyiapkan dana pensiun.
- Membangun aset jangka panjang.
- Mempersiapkan kebutuhan beberapa tahun ke depan.
Tujuan akan membantu menentukan jangka waktu dan jenis investasi yang digunakan. Investasi untuk kebutuhan dalam waktu dekat tentu berbeda dengan investasi untuk tujuan 10 atau 20 tahun.
Jadi, jangan mulai dari pertanyaan, “Investasi apa yang paling menguntungkan?” Coba mulai dari, “Saya investasi untuk apa?”
2. Cek Kondisi Keuangan
Sebelum investasi, pastikan kondisi keuangan sudah cukup sehat. Cek pemasukan dan pengeluaran bulanan. Lihat juga apakah kamu punya utang yang perlu diprioritaskan.
Jangan sampai seluruh uang yang tersedia langsung dimasukkan ke investasi. Kamu tetap membutuhkan dana untuk kebutuhan sehari-hari dan kondisi tidak terduga.
Dana darurat juga perlu menjadi bagian dari perencanaan keuangan. Intinya, investasi sebaiknya menggunakan dana yang memang sudah dialokasikan untuk tujuan tersebut.
3. Kenali Profil Risiko
Setiap orang punya toleransi risiko yang berbeda. Ada yang nyaman dengan perubahan nilai investasi. Ada juga yang lebih memilih instrumen dengan pergerakan yang relatif lebih stabil.
Secara umum, profil risiko sering dibagi menjadi konservatif, moderat, dan agresif. Profil risiko bukan berarti menentukan apakah kamu boleh membeli suatu instrumen atau tidak.
Tujuannya lebih kepada memahami seberapa besar perubahan nilai yang sanggup kamu hadapi tanpa membuat keputusan secara emosional. Semakin tinggi potensi imbal hasil suatu instrumen, biasanya semakin besar pula risiko yang perlu dipahami.
4. Kenali Jenis Investasi
Setelah memahami tujuan dan risiko, mulai pelajari berbagai instrumen investasi. Beberapa contohnya adalah:
Deposito
Deposito merupakan produk simpanan dengan jangka waktu tertentu. Instrumen ini biasanya lebih mudah dipahami oleh pemula yang mengutamakan karakteristik risiko yang relatif rendah.
Emas
Emas sering digunakan sebagai salah satu aset untuk diversifikasi. Nilainya dapat berubah mengikuti kondisi pasar.
Reksadana
Reksadana menghimpun dana dari investor untuk kemudian dikelola sesuai kebijakan investasi masing-masing produk. Jenisnya pun beragam, seperti reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran, dan saham.
Obligasi
Obligasi merupakan surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah atau perusahaan. Investor perlu memahami penerbit, tenor, risiko, dan karakteristik produknya sebelum membeli.
Saham
Saham menunjukkan kepemilikan atas suatu perusahaan. Pergerakan chart harga saham bisa cukup dinamis sehingga investor perlu memahami risiko dan kondisi perusahaan.
Aset digital
Aset digital merupakan kelas aset dengan karakteristik dan risiko tersendiri. Harga aset digital dapat bergerak sangat cepat. Karena itu, investor perlu memahami aset yang dibeli dan risikonya sebelum bertransaksi.
Nggak ada satu instrumen yang otomatis cocok untuk semua orang.
5. Mulai dari Nominal yang Sesuai
Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah merasa harus punya modal besar untuk mulai investasi.
Padahal, nominal investasi sebaiknya disesuaikan dengan kemampuan keuangan. Kamu bisa mulai dari jumlah yang tidak mengganggu kebutuhan utama.
Yang lebih penting adalah membangun kebiasaan investasi secara konsisten. Misalnya, kamu mengalokasikan sebagian dana setiap bulan untuk investasi.
Dengan begitu, investasi menjadi bagian dari perencanaan keuangan. Bukan aktivitas yang dilakukan hanya ketika sedang punya uang lebih.
6. Jangan Menggunakan Uang untuk Kebutuhan Mendesak
Ini bagian yang penting. Jangan menempatkan uang yang akan segera digunakan ke instrumen yang nilainya bisa berfluktuasi tanpa memahami risikonya.
Misalnya, kamu membutuhkan uang untuk membayar biaya tertentu bulan depan. Dana tersebut sebaiknya tidak diperlakukan sama dengan dana yang memang disiapkan untuk tujuan jangka panjang.
Pisahkan kebutuhan jangka pendek dan tujuan investasi. Dengan begitu, kamu nggak mudah panik ketika nilai investasi mengalami perubahan.
7. Pelajari Produk Sebelum Membeli
Jangan membeli investasi hanya karena melihat konten media sosial. Cari tahu bagaimana produknya bekerja. Pahami potensi keuntungan, risiko, biaya, jangka waktu, dan aturan yang berlaku.
Kalau membeli saham, pelajari perusahaan dan kondisi bisnisnya. Kalau memilih reksadana, pahami jenis dan kebijakan investasinya. Kalau membeli aset digital, pahami aset, proyek, teknologi, serta risiko volatilitasnya.
Semakin kamu memahami produk, semakin mudah membuat keputusan yang sesuai dengan tujuan sendiri.
8. Diversifikasi Investasi
Diversifikasi berarti menyebarkan dana ke beberapa aset atau instrumen. Tujuannya adalah mengelola risiko. Jadi, seluruh dana tidak bergantung pada satu jenis aset saja.
Contohnya, seseorang bisa memiliki kombinasi beberapa instrumen sesuai tujuan, jangka waktu, dan profil risikonya. Namun, diversifikasi bukan berarti harus membeli sebanyak mungkin aset.
Terlalu banyak aset yang tidak dipahami justru bisa membuat pengelolaan menjadi lebih sulit. Pilih instrumen yang memang kamu pahami.
9. Investasi Secara Konsisten
Konsistensi sering kali lebih penting daripada sibuk mencari momentum setiap saat.
Kamu bisa membuat jadwal investasi secara berkala sesuai kemampuan. Misalnya setiap bulan setelah menerima penghasilan. Cara ini membantu membuat investasi menjadi kebiasaan.
Namun, konsisten bukan berarti membeli aset secara membabi buta. Tetap lakukan evaluasi. Pastikan instrumen yang dipilih masih sesuai dengan tujuan dan profil risiko.
10. Evaluasi Investasi Secara Berkala
Investasi bukan aktivitas yang selesai setelah membeli aset. Kondisi keuangan bisa berubah. Tujuan juga bisa berubah.
Begitu pula dengan kondisi pasar dan karakteristik produk. Karena itu, lakukan evaluasi secara berkala. Tanyakan beberapa hal sederhana.
Apakah tujuan investasi masih sama? Apakah alokasi dana masih sesuai? Apakah risiko yang diambil masih bisa diterima? Apakah produk tersebut masih sesuai dengan rencana?
Kalau jawabannya berubah, strategi investasi juga mungkin perlu disesuaikan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Investasi
Memahami cara investasi juga berarti memahami kesalahan yang sering terjadi.
Pertama, jangan berinvestasi hanya karena ikut tren. Sesuatu yang sedang ramai belum tentu sesuai dengan kebutuhanmu.
Kedua, jangan menggunakan seluruh tabungan untuk satu aset.
Ketiga, jangan mengabaikan risiko.
Keempat, jangan mudah percaya pada janji keuntungan tinggi tanpa memahami bagaimana keuntungan tersebut dihasilkan.
Kelima, jangan mengambil keputusan hanya karena panik ketika harga turun.
Terakhir, jangan berinvestasi menggunakan uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan penting.
Cara Investasi Berdasarkan Jangka Waktu
Jangka waktu juga perlu diperhatikan. Untuk tujuan jangka pendek, kamu perlu mempertimbangkan instrumen yang karakteristik risikonya sesuai dengan waktu penggunaannya.
Untuk tujuan jangka menengah, pilihan instrumen bisa lebih beragam tergantung profil risiko.
Sementara untuk tujuan jangka panjang, kamu mungkin memiliki ruang lebih besar untuk mempertimbangkan aset dengan potensi pertumbuhan yang lebih tinggi, selama risikonya sesuai dengan kemampuanmu.
Jadi, jangan hanya melihat potensi keuntungan. Lihat juga kapan uang tersebut akan digunakan.
Apakah Investasi Harus Dilakukan Setiap Bulan?
Nggak selalu. Namun, investasi secara berkala bisa membantu membangun kebiasaan finansial.
Jumlahnya pun tidak harus besar. Yang penting, nominal tersebut tidak mengganggu kebutuhan utama dan sesuai dengan kondisi keuangan. Kamu juga bisa menyesuaikan nominal ketika pendapatan atau kebutuhan berubah.
Berapa Uang yang Sebaiknya Dipakai untuk Investasi?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua orang. Kondisi setiap orang berbeda.
Ada yang punya pendapatan tetap. Ada yang penghasilannya tidak tetap. Ada yang punya tanggungan keluarga. Ada juga yang masih memiliki utang.
Karena itu, tentukan alokasi investasi setelah memperhitungkan kebutuhan rutin, dana darurat, kewajiban, dan tujuan keuangan.
Jangan memaksakan nominal tertentu hanya karena melihat orang lain bisa berinvestasi lebih banyak.
Cara Investasi untuk Pemula agar Lebih Terarah
Kalau masih bingung, gunakan alur sederhana berikut:
Tentukan tujuan → cek kondisi keuangan → kenali profil risiko → pelajari instrumen → mulai dengan nominal sesuai kemampuan → investasi secara konsisten → evaluasi secara berkala.
Sederhana, kan? Kamu nggak harus langsung menjadi ahli investasi.
Mulai dengan memahami satu instrumen terlebih dahulu. Setelah itu, pelajari instrumen lain secara bertahap. Yang penting, jangan berhenti belajar.
FAQ Cara Investasi
Apa cara investasi yang paling cocok untuk pemula?
Tidak ada satu cara investasi yang cocok untuk semua pemula. Pilih instrumen berdasarkan tujuan, jangka waktu, kondisi keuangan, dan profil risiko.
Apakah investasi harus dengan modal besar?
Nggak harus. Beberapa instrumen memungkinkan kamu mulai dengan nominal yang relatif terjangkau. Tetap perhatikan ketentuan produk dan jangan menggunakan dana untuk kebutuhan penting.
Kapan waktu yang tepat untuk mulai investasi?
Tidak perlu menunggu sampai punya uang dalam jumlah besar. Yang lebih penting adalah kondisi keuangan sudah memungkinkan dan kamu memahami instrumen yang dipilih.
Apakah investasi pasti menguntungkan?
Nggak. Setiap investasi memiliki risiko. Nilai investasi dapat naik atau turun tergantung karakteristik instrumennya.
Apakah boleh punya beberapa jenis investasi?
Boleh. Diversifikasi dapat digunakan sebagai bagian dari strategi pengelolaan risiko. Namun, pastikan kamu memahami setiap instrumen yang dimiliki.
Apakah investasi sama dengan menabung?
Berbeda. Menabung umumnya berfokus pada menyimpan dana, sedangkan investasi bertujuan mengembangkan aset dengan risiko tertentu. Karena itu, karakteristik keduanya juga berbeda.
Apakah aset digital termasuk investasi?
Aset digital merupakan kelas aset dengan karakteristik dan risiko tersendiri. Jika kamu memilih aset digital sebagai bagian dari portofolio, pahami volatilitas dan risiko produknya sebelum bertransaksi.
Kesimpulan
Memahami cara investasi sebenarnya nggak harus rumit. Kamu bisa mulai dari hal paling dasar.
Tentukan tujuan. Cek kondisi keuangan. Kenali profil risiko. Pelajari instrumen. Mulai sesuai kemampuan. Setelah itu, evaluasi secara berkala. Jangan terburu-buru mengejar keuntungan.
Investasi sebaiknya menjadi bagian dari rencana keuangan yang masuk akal dan sesuai kondisi masing-masing. Kalau kamu tertarik mempelajari aset digital, pastikan menggunakan platform yang legal dan berada dalam pengawasan regulator yang sesuai.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Manajemen Investasi: Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya







