Inflasi Adalah: Kenapa Harga Sembako Naik Terus?

Finansial

28 Sep 2026

8 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Ngerasa nggak uang Rp100.000 sekarang cepat habis dibanding beberapa tahun lalu?

Dulu, uang segitu mungkin cukup buat makan, ngopi, dan masih ada kembalian. Sekarang, belum tentu cukup untuk sekali makan dan minum. Nah, salah satu penyebabnya adalah inflasi.

Secara sederhana, inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan dalam suatu periode. Akibatnya, daya beli uang ikut menurun.

Tapi inflasi bukan cuma soal harga cabai, beras, bensin, atau kopi yang naik. Ada mekanisme ekonomi yang lebih luas di baliknya.

Lalu, apa pengertian inflasi? Apa penyebabnya? Apakah semua kenaikan harga disebut inflasi? Dan bagaimana pengaruh inflasi terhadap kondisi keuangan sehari-hari?

Yuk, bahas satu per satu.

Inflasi Adalah Apa?

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu.

Ada dua bagian penting dari pengertian tersebut, yaitu secara umum dan terus-menerus.

Jadi, kalau harga satu barang naik, belum tentu itu disebut inflasi.

Misalnya, harga cabai naik karena hasil panen sedang turun. Harga cabai memang menjadi lebih mahal, tetapi kondisi tersebut belum otomatis berarti seluruh perekonomian sedang mengalami inflasi.

Inflasi lebih menggambarkan kenaikan tingkat harga secara luas dalam perekonomian.

Contoh gampangnya begini.

Kamu punya uang Rp1 juta. Hari ini uang tersebut bisa digunakan untuk membeli sejumlah kebutuhan. Beberapa waktu kemudian, harga berbagai barang dan jasa naik. Dengan uang Rp1 juta yang sama, barang yang bisa kamu beli menjadi lebih sedikit.

Artinya, daya beli uang mengalami penurunan.

Inilah salah satu dampak inflasi yang paling terasa dalam kehidupan sehari-hari.

Kenapa Inflasi Bisa Terjadi?

Inflasi bisa terjadi karena berbagai faktor. Jadi, nggak ada satu penyebab tunggal yang selalu berlaku.

Beberapa penyebab inflasi yang umum antara lain:

1. Permintaan Barang Terlalu Tinggi

Inflasi bisa terjadi ketika permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa meningkat lebih cepat dibanding kemampuan produsen menyediakan barang tersebut.

Misalnya, menjelang hari raya, permintaan terhadap bahan makanan, pakaian, transportasi, dan berbagai kebutuhan lainnya meningkat.

Kalau pasokannya terbatas, harga bisa terdorong naik.

Kondisi ini sering disebut demand-pull inflation atau inflasi yang terjadi karena tekanan permintaan.

2. Biaya Produksi Naik

Harga barang juga bisa naik ketika biaya yang harus ditanggung produsen meningkat.

Misalnya, harga bahan baku naik, biaya energi meningkat, biaya transportasi bertambah, atau upah mengalami kenaikan.

Produsen kemudian bisa menaikkan harga jual untuk menyesuaikan biaya tersebut.

Inflasi yang dipicu kenaikan biaya produksi sering disebut cost-push inflation.

Contohnya sederhana.

Harga bahan baku roti naik. Biaya listrik dan distribusi juga meningkat. Kalau semua biaya tersebut ditanggung produsen, margin keuntungan bisa tertekan.

Sebagian kenaikan biaya kemudian diteruskan ke konsumen melalui harga jual.

3. Jumlah Uang Beredar dan Kondisi Ekonomi

Perubahan jumlah uang yang beredar dalam perekonomian juga dapat memengaruhi inflasi.

Ketika aktivitas ekonomi meningkat dan permintaan tumbuh, tekanan harga dapat muncul jika pertumbuhan pasokan barang dan jasa tidak mampu mengimbanginya.

Namun, hubungan antara uang beredar dan inflasi tidak sesederhana “uang bertambah pasti inflasi naik”. Ada banyak faktor lain yang ikut menentukan, seperti produksi, permintaan, kebijakan moneter, dan kondisi ekonomi global.

4. Harga Komoditas Global

Indonesia juga terhubung dengan perekonomian global.

Ketika harga komoditas tertentu di pasar dunia meningkat, biaya impor dan produksi di dalam negeri bisa ikut terdampak.

Contohnya adalah energi dan bahan baku tertentu.

Kalau biaya tersebut meningkat, efeknya bisa merambat ke berbagai sektor ekonomi.

Jenis-Jenis Inflasi

Inflasi bisa dibedakan berdasarkan beberapa kategori.

Memahami jenisnya membantu kamu melihat bahwa inflasi tidak selalu muncul dengan cara yang sama.

Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Salah satu cara membedakan inflasi adalah berdasarkan tingkat kenaikannya.

Ada inflasi ringan, sedang, berat, hingga hiperinflasi.

Inflasi ringan biasanya menunjukkan kenaikan harga yang relatif rendah dan masih dapat dikelola dalam perekonomian.

Inflasi sedang menunjukkan tekanan harga yang lebih tinggi dan mulai memberikan dampak yang lebih terasa terhadap daya beli masyarakat.

Sementara itu, inflasi berat terjadi ketika kenaikan harga sudah sangat tinggi dan dapat mengganggu aktivitas ekonomi.

Level paling ekstrem disebut hiperinflasi. Dalam kondisi ini, harga dapat meningkat dengan sangat cepat sehingga nilai uang turun drastis.

Hiperinflasi memang bukan kondisi yang umum terjadi dalam perekonomian normal, tetapi beberapa negara pernah mengalaminya.

Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Kalau dilihat dari penyebabnya, inflasi dapat dibagi menjadi beberapa kategori.

Ada demand-pull inflation, yaitu inflasi yang muncul karena permintaan lebih besar dibanding pasokan.

Ada juga cost-push inflation, yaitu inflasi yang dipicu kenaikan biaya produksi.

Selain itu, ada inflasi yang berkaitan dengan ekspektasi masyarakat.

Kalau pelaku ekonomi memperkirakan harga akan terus naik, perilaku mereka dapat ikut mendorong kenaikan harga. Misalnya, pekerja meminta kenaikan upah karena memperkirakan biaya hidup akan meningkat, sementara perusahaan menyesuaikan harga untuk menutup kenaikan biaya.

Bagaimana Cara Mengukur Inflasi?

Nah, ini bagian yang sering muncul ketika membahas inflasi.

Inflasi tidak hanya dilihat dari harga satu atau dua barang.

Di Indonesia, perubahan harga konsumen salah satunya diukur melalui Indeks Harga Konsumen (IHK).

IHK menggambarkan perubahan harga dari sekumpulan barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga.

Dari perubahan indeks tersebut, tingkat inflasi dapat dihitung.

Misalnya, kalau indeks harga konsumen meningkat dibanding periode sebelumnya, berarti terjadi kenaikan tingkat harga secara keseluruhan.

Makanya, ketika kamu membaca berita ekonomi, angka inflasi biasanya disebut dalam persentase.

Misalnya, inflasi tahunan sebesar 3%.

Artinya, secara umum tingkat harga dalam keranjang konsumsi yang diukur mengalami kenaikan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Perlu diingat, angka inflasi merupakan ukuran rata-rata. Pengeluaran setiap orang berbeda.

Kalau kamu lebih banyak menghabiskan uang untuk transportasi dan makanan, pengalaman terhadap kenaikan harga bisa berbeda dibanding orang yang pengeluarannya lebih banyak untuk pendidikan atau kebutuhan lainnya.

Apa Dampak Inflasi terhadap Kehidupan Sehari-hari?

Inflasi bukan sekadar angka dalam berita ekonomi.

Dampaknya bisa terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.

1. Daya Beli Menurun

Ini merupakan salah satu dampak inflasi yang paling mudah dipahami.

Ketika harga barang dan jasa naik, jumlah barang yang bisa dibeli dengan uang yang sama menjadi lebih sedikit.

Misalnya, sebelumnya Rp50.000 cukup untuk membeli beberapa kebutuhan. Ketika harga naik, uang yang sama mungkin hanya cukup untuk membeli sebagian kebutuhan tersebut.

2. Biaya Hidup Bisa Meningkat

Kalau harga makanan, transportasi, tempat tinggal, pendidikan, atau kebutuhan lainnya naik, pengeluaran bulanan juga bisa ikut meningkat.

Masalahnya, pendapatan belum tentu naik dengan kecepatan yang sama.

Karena itu, inflasi perlu diperhitungkan ketika membuat anggaran keuangan.

3. Nilai Tabungan Bisa Tergerus

Menyimpan uang tetap penting, terutama untuk kebutuhan jangka pendek dan dana darurat.

Namun, kalau uang hanya disimpan tanpa mempertimbangkan inflasi, daya belinya bisa menurun seiring waktu.

Misalnya, kamu menyimpan Rp100 juta hari ini.

Nominalnya tetap Rp100 juta.

Tetapi jika harga barang dan jasa terus meningkat, kemampuan uang tersebut untuk membeli barang di masa depan bisa lebih rendah.

Ini bukan berarti menabung itu buruk. Justru, penting untuk membedakan fungsi uang berdasarkan tujuan dan jangka waktunya.

4. Perencanaan Keuangan Jadi Lebih Penting

Inflasi membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi semakin relevan.

Misalnya, kamu ingin membeli rumah 10 tahun lagi.

Kalau hari ini harga rumah Rp500 juta, belum tentu harga rumah tetap Rp500 juta ketika kamu benar-benar membelinya.

Karena itu, target keuangan jangka panjang sebaiknya tidak hanya menghitung nominal kebutuhan hari ini.

Faktor kenaikan harga juga perlu dipertimbangkan.

Apakah Inflasi Selalu Buruk?

Belum tentu.

Inflasi dalam tingkat yang rendah dan stabil dapat menjadi bagian dari perekonomian yang berkembang.

Yang menjadi masalah adalah ketika inflasi terlalu tinggi, tidak stabil, atau berlangsung dalam waktu yang panjang sehingga mengganggu daya beli dan aktivitas ekonomi.

Karena itu, bank sentral biasanya memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas harga melalui kebijakan moneter.

Di Indonesia, peran tersebut dijalankan oleh Bank Indonesia.

Salah satu instrumen yang digunakan adalah kebijakan suku bunga.

Ketika tekanan inflasi meningkat, kebijakan moneter dapat diarahkan untuk memengaruhi permintaan dan kondisi pembiayaan dalam perekonomian.

Namun, kebijakan tersebut tidak bekerja sendirian. Kondisi global, harga komoditas, nilai tukar, pasokan barang, dan berbagai faktor lain juga dapat memengaruhi inflasi.

Apa Bedanya Inflasi dan Kenaikan Harga Biasa?

Ini juga penting.

Tidak setiap kenaikan harga berarti inflasi.

Misalnya, harga satu merek sepatu naik karena desain baru atau biaya produksinya meningkat.

Itu adalah kenaikan harga produk tersebut.

Sementara itu, inflasi merujuk pada kenaikan tingkat harga secara umum dalam perekonomian.

Jadi, kuncinya ada pada cakupannya.

Kenaikan satu produk belum tentu inflasi. Tetapi kalau banyak kelompok barang dan jasa mengalami kenaikan harga secara luas dan berkelanjutan, kondisi tersebut dapat tercermin sebagai inflasi.

Bagaimana Cara Menghadapi Inflasi?

Kamu nggak bisa mengontrol harga barang di pasar.

Tapi kamu bisa mengatur strategi keuangan supaya kenaikan harga nggak terlalu mengganggu kondisi finansial.

1. Buat Anggaran yang Fleksibel

Jangan membuat budget yang terlalu kaku.

Sisakan ruang untuk kenaikan biaya kebutuhan sehari-hari.

Kalau harga makanan, transportasi, atau kebutuhan rumah tangga meningkat, kamu masih punya ruang untuk menyesuaikan pengeluaran.

2. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat penting untuk menghadapi pengeluaran yang nggak terduga.

Idealnya, dana tersebut ditempatkan pada instrumen yang relatif likuid dan sesuai dengan kebutuhan jangka pendek.

3. Tentukan Tujuan Keuangan

Jangan hanya menabung tanpa tujuan.

Coba tentukan target seperti dana pendidikan, rumah, kendaraan, liburan, pensiun, atau kebutuhan lainnya.

Setelah itu, hitung kebutuhan dana dan waktunya.

Dengan begitu, kamu bisa memilih strategi keuangan yang sesuai.

4. Pertimbangkan Instrumen Investasi Sesuai Profil Risiko

Untuk tujuan jangka panjang, sebagian orang mempertimbangkan investasi agar nilai asetnya memiliki peluang tumbuh seiring waktu.

Namun, investasi tetap memiliki risiko.

Nggak ada instrumen keuangan yang selalu naik atau bebas risiko.

Karena itu, pilih instrumen berdasarkan tujuan, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan profil risiko kamu.

Jangan sekadar mengejar imbal hasil tinggi.

5. Evaluasi Keuangan Secara Berkala

Kondisi ekonomi bisa berubah.

Pendapatan bisa berubah. Pengeluaran juga bisa berubah.

Buat laporan keuangan, karena budget dan target keuangan sebaiknya dievaluasi secara berkala.

Kalau biaya hidup meningkat, kamu bisa menyesuaikan target tabungan atau investasi.

Contoh Inflasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Supaya lebih gampang dibayangkan, coba lihat contoh sederhana.

Katakanlah biaya kebutuhan bulanan kamu saat ini Rp5 juta.

Beberapa tahun kemudian, kebutuhan yang sama membutuhkan Rp5,5 juta karena harga barang dan jasa meningkat.

Kalau pendapatan kamu tetap, ada selisih Rp500 ribu yang harus dicari solusinya.

Kamu bisa mengurangi pengeluaran, meningkatkan pendapatan, atau menyesuaikan strategi keuangan.

Inilah kenapa inflasi bukan cuma urusan ekonom atau pemerintah.

Inflasi juga berhubungan langsung dengan cara kamu mengatur uang.

Kenapa Inflasi Penting Dipahami Sebelum Berinvestasi?

Kalau kamu mulai belajar investasi, memahami inflasi adalah salah satu dasar yang penting.

Misalnya, sebuah investasi memberikan imbal hasil 5% dalam satu tahun.

Kelihatannya lumayan.

Tapi bagaimana kalau dalam periode yang sama inflasi juga tinggi?

Artinya, pertumbuhan nominal uang tersebut perlu dilihat bersama perubahan daya beli.

Konsep inilah yang sering disebut return riil, yaitu imbal hasil setelah mempertimbangkan inflasi.

Sederhananya, jangan hanya melihat uang kamu bertambah secara nominal.

Lihat juga apakah daya belinya ikut bertambah.

Ini penting terutama untuk tujuan keuangan jangka panjang.

FAQ tentang Inflasi

Apa yang dimaksud dengan inflasi?

Inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan secara terus-menerus dalam periode tertentu. Dampaknya, daya beli uang dapat menurun.

Apa penyebab utama inflasi?

Inflasi dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk permintaan yang meningkat, kenaikan biaya produksi, perubahan kondisi ekonomi, harga komoditas global, dan faktor lainnya.

Apakah kenaikan satu harga barang disebut inflasi?

Belum tentu. Inflasi mengacu pada kenaikan tingkat harga secara umum, bukan hanya kenaikan harga satu barang atau jasa.

Apakah inflasi bisa mengurangi nilai uang?

Secara daya beli, iya. Ketika tingkat harga meningkat, jumlah barang dan jasa yang dapat dibeli dengan nominal uang yang sama dapat menjadi lebih sedikit.

Bagaimana inflasi memengaruhi investasi?

Inflasi dapat memengaruhi nilai riil dari hasil investasi. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan imbal hasil setelah memperhitungkan inflasi, bukan hanya melihat keuntungan secara nominal.

Apakah inflasi selalu buruk?

Tidak selalu. Inflasi yang rendah dan stabil dapat menjadi bagian dari perekonomian yang berkembang. Yang perlu diperhatikan adalah ketika inflasi terlalu tinggi atau tidak stabil sehingga memberikan tekanan besar terhadap daya beli dan aktivitas ekonomi.

Apa hubungan inflasi dengan suku bunga?

Suku bunga merupakan salah satu instrumen kebijakan moneter yang dapat digunakan untuk memengaruhi permintaan dan kondisi keuangan dalam perekonomian. Perubahan suku bunga dapat berdampak pada konsumsi, kredit, tabungan, dan investasi.

Kesimpulan

Jadi, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu.

Dampaknya bisa terasa dari hal sederhana seperti harga makanan sampai perencanaan keuangan jangka panjang.

Yang penting, jangan melihat inflasi hanya sebagai angka persentase di berita.

Coba hubungkan dengan kehidupan sehari-hari.

Berapa biaya hidup kamu sekarang? Berapa target dana yang kamu butuhkan 5 atau 10 tahun lagi? Dan apakah strategi keuangan kamu sudah mempertimbangkan kenaikan harga?

Semakin cepat memahami inflasi, semakin mudah kamu membuat keputusan finansial yang lebih terencana.

Kalau kamu ingin mulai mengenal aset digital sebagai salah satu bagian dari diversifikasi portofolio, pastikan tetap memahami risiko dan karakteristik aset sebelum bertransaksi.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Cara Mengatasi Inflasi: Strategi Simpel Biar Uang Nggak Makin Tergerus

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device