Pernah merasa penghasilan lumayan, tetapi uang selalu habis? Atau kamu punya usaha yang ramai pembeli, tetapi bingung sebenarnya berapa keuntungan yang didapat?
Bisa jadi masalahnya bukan pada jumlah uang yang masuk. Masalahnya adalah kamu belum punya laporan keuangan sederhana.
Tanpa pencatatan yang jelas, uang masuk dan keluar bisa bercampur. Pengeluaran kecil juga mudah terlupakan. Akhirnya, kamu hanya bisa menebak kondisi keuangan berdasarkan saldo rekening.
Padahal, membuat laporan keuangan tidak harus rumit. Kamu tidak perlu menjadi akuntan. Kamu juga tidak harus langsung menggunakan software akuntansi yang kompleks.
Untuk memulai, kamu cukup mencatat beberapa hal penting seperti pemasukan, pengeluaran, aset, utang, modal, dan keuntungan.
Artikel ini akan membahas contoh laporan keuangan sederhana, manfaatnya, hingga cara membuat laporan keuangan sederhana yang bisa kamu praktikkan sendiri.
Apa Itu Laporan Keuangan Sederhana?
Laporan keuangan sederhana adalah catatan yang menunjukkan kondisi keuangan seseorang atau usaha dalam periode tertentu. Catatan ini membantu kamu mengetahui:
- Berapa banyak uang yang masuk.
- Berapa banyak uang yang keluar.
- Dari mana pemasukan berasal.
- Untuk apa uang digunakan.
- Berapa keuntungan yang diperoleh.
- Berapa jumlah utang atau kewajiban.
- Berapa aset yang dimiliki.
Formatnya bisa dibuat sesuai kebutuhan. Kalau kamu baru mulai usaha, misalnya, kamu bisa menggunakan format paling sederhana:
Pemasukan - Pengeluaran = Sisa atau keuntungan
Seiring berkembangnya usaha, pencatatan bisa dibuat lebih detail. Kamu bisa menambahkan persediaan, piutang, utang, modal, aset tetap, hingga penyusutan.
Jadi, jangan merasa laporan keuangan harus langsung sempurna. Yang terpenting adalah mulai mencatat.
Kenapa Kamu Perlu Membuat Laporan Keuangan?
Laporan keuangan bukan sekadar kumpulan angka. Data di dalamnya bisa membantu kamu mengambil keputusan. Berikut beberapa manfaat yang bisa kamu dapatkan.
1. Mengetahui Kondisi Keuangan Sebenarnya
Saldo rekening hanya menunjukkan jumlah uang yang tersedia saat itu. Saldo tersebut belum tentu menunjukkan keuntungan. Misalnya, rekening usaha memiliki saldo Rp20 juta.
Namun, ternyata Rp8 juta merupakan uang yang harus digunakan untuk membayar supplier. Ada juga Rp5 juta yang berasal dari modal awal. Artinya, tidak tepat jika seluruh saldo tersebut dianggap sebagai keuntungan.
Dengan laporan keuangan, posisi uang menjadi lebih jelas.
2. Mengetahui Apakah Bisnis Untung atau Rugi
Banyak usaha terlihat ramai tetapi belum tentu menghasilkan keuntungan besar. Misalnya, omzet mencapai Rp30 juta. Namun, biaya bahan baku, sewa, gaji, promosi, transportasi, dan biaya lainnya mencapai Rp25 juta.
Artinya, omzet Rp30 juta bukan berarti keuntungan Rp30 juta. Inilah mengapa kamu perlu membedakan omzet, pendapatan, biaya, dan laba.
3. Mengontrol Pengeluaran
Laporan keuangan bisa menunjukkan pengeluaran mana yang paling besar. Misalnya, setelah mencatat selama tiga bulan, kamu menemukan bahwa biaya promosi terus meningkat.
Kamu kemudian bisa mengevaluasi apakah biaya tersebut menghasilkan penjualan yang sepadan. Kalau tidak, strategi tersebut bisa diperbaiki.
4. Menghindari Uang Pribadi dan Uang Usaha Tercampur
Ini merupakan salah satu masalah yang sering terjadi pada usaha kecil. Uang hasil penjualan digunakan untuk makan, belanja, membayar tagihan pribadi, atau kebutuhan lainnya.
Akibatnya, sulit mengetahui kondisi bisnis yang sebenarnya. Karena itu, sebaiknya pisahkan keuangan pribadi dan keuangan usaha.
5. Membantu Membuat Keputusan
Laporan keuangan juga bisa menjadi dasar untuk menentukan langkah berikutnya. Misalnya:
- Apakah sudah waktunya menambah stok?
- Apakah bisnis mampu membeli peralatan baru?
- Apakah harga jual perlu dinaikkan?
- Apakah biaya operasional terlalu tinggi?
- Apakah ada cukup dana untuk ekspansi?
Dengan data, keputusan tidak hanya berdasarkan perkiraan.
Jenis Laporan Keuangan Sederhana yang Bisa Kamu Buat
Untuk kebutuhan pribadi maupun usaha kecil, kamu tidak harus langsung membuat laporan keuangan yang kompleks. Mulai dari beberapa jenis berikut.
1. Laporan Pemasukan dan Pengeluaran
Ini adalah format paling sederhana. Kamu hanya perlu mencatat semua uang yang masuk dan keluar. Contohnya:
Pemasukan Januari 2026
Penjualan produk: Rp12.000.000
Pendapatan jasa: Rp3.000.000
Pendapatan lainnya: Rp1.000.000
Total pemasukan: Rp16.000.000
Kemudian catat pengeluaran:
Bahan baku: Rp5.000.000
Listrik dan internet: Rp1.000.000
Transportasi: Rp500.000
Promosi: Rp1.000.000
Biaya lainnya: Rp500.000
Total pengeluaran: Rp8.000.000
Maka: Rp16.000.000 - Rp8.000.000 = Rp8.000.000
Secara sederhana, terdapat selisih Rp8 juta antara pemasukan dan pengeluaran.
Untuk pembukuan usaha yang lebih lengkap, tentu masih ada komponen lain yang perlu diperhitungkan. Namun, format ini cukup sebagai langkah awal.
2. Laporan Laba Rugi Sederhana
Laporan laba rugi digunakan untuk melihat kinerja usaha dalam periode tertentu. Komponen utamanya adalah pendapatan dan beban. Contoh:
Penjualan: Rp25.000.000
Harga pokok penjualan: Rp12.000.000
Laba kotor: Rp13.000.000
Kemudian:
Biaya operasional: Rp4.000.000
Biaya administrasi: Rp1.000.000
Laba bersih: Rp8.000.000
Dari laporan tersebut, kamu bisa melihat bagaimana pendapatan berubah menjadi laba setelah dikurangi berbagai biaya.
3. Laporan Arus Kas Sederhana
Laporan arus kas mencatat pergerakan uang tunai. Contohnya:
Saldo awal: Rp5.000.000
Kas masuk: Rp10.000.000
Kas keluar: Rp7.000.000
Saldo akhir: Rp8.000.000
Laporan ini penting karena bisnis bisa saja mencatat penjualan tinggi, tetapi tetap mengalami masalah arus kas.
Misalnya, banyak penjualan dilakukan secara kredit. Secara pencatatan ada pendapatan. Namun, uangnya belum diterima. Karena itu, laba dan arus kas bukan hal yang sama.
4. Laporan Keuangan Pribadi Sederhana
Kamu juga bisa membuat laporan untuk keuangan pribadi. Contohnya:
Pendapatan:
Gaji: Rp8.000.000
Pendapatan sampingan: Rp1.500.000
Total: Rp9.500.000
Pengeluaran:
Kebutuhan rumah tangga: Rp2.000.000
Transportasi: Rp1.000.000
Tagihan: Rp1.000.000
Cicilan: Rp1.500.000
Hiburan: Rp500.000
Pengeluaran lainnya: Rp500.000
Total: Rp6.500.000
Sisa dana: Rp9.500.000 - Rp6.500.000 = Rp3.000.000
Sisa tersebut kemudian bisa dialokasikan sesuai tujuan finansial. Misalnya untuk dana darurat, tabungan, investasi, atau kebutuhan lainnya.
Cara Membuat Laporan Keuangan Sederhana dari Nol
Sekarang kita masuk ke bagian praktik. Kalau kamu masih pemula, ikuti langkah berikut.
1. Tentukan Tujuan Laporan
Pertama, tentukan laporan tersebut untuk apa. Apakah untuk:
- Keuangan pribadi?
- Usaha kecil?
- Freelance?
- Organisasi?
- Memantau investasi?
Tujuan yang berbeda membutuhkan pencatatan yang berbeda.
2. Tentukan Periode
Kamu bisa membuat laporan harian, mingguan, atau bulanan. Untuk pemula, laporan bulanan cukup mudah digunakan.
Namun, transaksi sebaiknya tetap dicatat setiap kali terjadi. Jangan menunggu akhir bulan. Kalau menunggu terlalu lama, kamu berisiko lupa.
3. Catat Semua Pemasukan
Catat setiap uang yang masuk. Untuk usaha, sumbernya bisa berupa:
- Penjualan produk.
- Pendapatan jasa.
- Komisi.
- Pendapatan lainnya.
Untuk keuangan pribadi:
- Gaji.
- Bonus.
- Freelance.
- Komisi.
- Pendapatan sampingan.
Jangan mengabaikan nominal kecil. Jumlah kecil yang terjadi berulang kali tetap bisa berdampak pada kondisi keuangan.
4. Catat Semua Pengeluaran
Selanjutnya, catat uang yang keluar. Buat kategori agar lebih mudah dianalisis. Misalnya:
Kebutuhan usaha
- Bahan baku.
- Gaji.
- Sewa.
- Listrik.
- Internet.
- Transportasi.
- Promosi.
Kebutuhan pribadi
- Makan.
- Transportasi.
- Tagihan.
- Cicilan.
- Hiburan.
- Belanja.
Dengan kategori tersebut, kamu bisa mengetahui pengeluaran mana yang paling besar.
5. Pisahkan Keuangan Pribadi dan Usaha
Kalau kamu menjalankan bisnis, sebaiknya gunakan rekening atau tempat penyimpanan dana yang berbeda.
Tujuannya sederhana. Supaya transaksi usaha lebih mudah dilacak. Kamu juga bisa menentukan jumlah uang yang boleh digunakan untuk kebutuhan pribadi.
6. Catat Utang dan Piutang
Jangan hanya mencatat uang tunai. Utang dan piutang juga perlu diperhatikan. Misalnya, kamu menjual produk senilai Rp3 juta tetapi pelanggan baru membayar Rp1 juta.
Berarti masih ada piutang Rp2 juta. Kalau tidak dicatat, kondisi keuangan bisa terlihat berbeda dari kenyataan.
7. Catat Aset
Aset adalah sesuatu yang memiliki nilai dan dimiliki oleh kamu atau bisnis. Contohnya:
- Kas.
- Saldo rekening.
- Peralatan.
- Kendaraan.
- Persediaan.
- Properti.
Untuk bisnis, pencatatan aset membantu kamu mengetahui nilai yang dimiliki usaha.
8. Hitung Hasil Akhir
Setelah semua transaksi dicatat, lakukan perhitungan. Untuk pencatatan sederhana, kamu bisa menggunakan:
- Sisa uang = Total pemasukan - Total pengeluaran
Untuk menghitung laba secara akuntansi, rumusnya dapat lebih kompleks.
Secara sederhana:
- Laba = Pendapatan - Beban
Pastikan kamu menggunakan istilah dan komponen yang tepat sesuai kebutuhan laporan.
9. Lakukan Evaluasi
Jangan berhenti setelah laporan selesai. Gunakan hasilnya untuk evaluasi.
Tanyakan: Apakah pemasukan meningkat? Apakah pengeluaran terlalu besar? Apa biaya terbesar? Apakah laba meningkat? Apakah utang bertambah? Apakah ada piutang yang belum tertagih?
Dari sini, kamu bisa menentukan strategi berikutnya.
Contoh Laporan Keuangan Sederhana untuk Usaha Kecil
Agar lebih mudah dipahami, bayangkan kamu memiliki usaha makanan.
Dalam satu bulan, kamu memperoleh penjualan sebesar Rp20 juta. Kemudian terdapat biaya bahan baku Rp8 juta.
Biaya kemasan Rp1 juta.
Biaya listrik dan operasional Rp1,5 juta.
Biaya promosi Rp1 juta.
Biaya transportasi Rp500 ribu.
Total biaya menjadi Rp12 juta.
Secara sederhana, selisihnya: Rp20 juta - Rp12 juta = Rp8 juta
Namun, angka tersebut belum tentu sama dengan laba bersih secara akuntansi jika masih ada komponen lain seperti penyusutan aset, pajak, biaya bunga, atau beban lainnya.
Karena itu, jangan langsung menyebut seluruh selisih pemasukan dan pengeluaran sebagai laba bersih tanpa melihat komponen yang digunakan.
Contoh Laporan Keuangan Pribadi yang Sederhana
Sekarang bayangkan kamu memiliki pendapatan Rp10 juta per bulan. Kamu kemudian membuat pembagian:
Pendapatan: Rp10.000.000
Pengeluaran:
Kebutuhan rumah: Rp2.500.000
Transportasi: Rp1.000.000
Tagihan: Rp1.000.000
Cicilan: Rp1.500.000
Belanja dan hiburan: Rp1.000.000
Total pengeluaran: Rp7.000.000
Sisa: Rp3.000.000
Dari angka tersebut, kamu bisa membuat perencanaan lanjutan. Misalnya, sebagian dialokasikan untuk dana darurat. Sebagian untuk tujuan jangka panjang.
Sebagian lainnya bisa ditempatkan pada instrumen investasi sesuai profil risiko dan tujuan keuanganmu. Dengan begitu, laporan keuangan tidak berhenti sebagai catatan. Kamu bisa menggunakannya sebagai dasar untuk membuat keputusan finansial.
Tips agar Konsisten Membuat Laporan Keuangan
Masalah terbesar bukan membuat laporan. Masalahnya adalah konsisten. Banyak orang rajin mencatat selama beberapa hari. Setelah itu berhenti. Supaya tidak terjadi, coba beberapa cara berikut.
Catat Transaksi Langsung
Begitu transaksi terjadi, langsung catat. Jangan mengandalkan ingatan.
Gunakan Format Sederhana
Tidak perlu membuat sistem yang terlalu rumit. Mulai dengan pemasukan, pengeluaran, dan saldo. Setelah terbiasa, baru tambahkan kategori lain.
Gunakan Aplikasi atau Spreadsheet
Kamu bisa menggunakan spreadsheet atau aplikasi pencatatan keuangan. Pilih yang paling mudah digunakan. Tujuannya bukan membuat laporan yang terlihat profesional. Tujuannya adalah membuat data keuangan yang bisa kamu pahami dan gunakan.
Simpan Bukti Transaksi
Simpan invoice, struk, bukti transfer, dan dokumen pembayaran. Bukti transaksi akan membantu ketika kamu perlu mengecek kembali angka tertentu.
Evaluasi Setiap Bulan
Sisihkan waktu sekitar 15-30 menit setiap akhir bulan. Lihat kembali seluruh pemasukan dan pengeluaran. Cari pola. Misalnya, ada pengeluaran yang terus meningkat. Dari sana, kamu bisa mulai melakukan penyesuaian.
Kesalahan yang Harus Dihindari
Ada beberapa kesalahan yang terlihat sepele tetapi bisa membuat laporan keuangan menjadi tidak akurat.
Mencatat Hanya Transaksi Besar
Pengeluaran Rp10 ribu atau Rp20 ribu memang terlihat kecil. Tetapi kalau terjadi setiap hari, nilainya bisa cukup besar dalam satu bulan.
Mencampur Uang Pribadi dan Usaha
Hal ini membuat perhitungan keuntungan menjadi sulit. Pisahkan sejak awal.
Menganggap Omzet sebagai Keuntungan
Omzet adalah total penjualan atau pendapatan kotor dari aktivitas usaha sebelum dikurangi biaya tertentu. Keuntungan merupakan hasil setelah biaya yang relevan diperhitungkan. Jadi, keduanya berbeda.
Menganggap Saldo sebagai Laba
Saldo rekening bukan otomatis keuntungan. Ada modal, utang, kewajiban, dan kebutuhan operasional yang perlu diperhitungkan.
Tidak Mencatat Utang dan Piutang
Transaksi yang belum dibayar tetap perlu dicatat. Kalau tidak, laporan bisa memberikan gambaran yang keliru.
Tidak Melakukan Rekonsiliasi
Sesekali, cocokkan catatan dengan saldo rekening atau bukti transaksi. Tujuannya untuk memastikan tidak ada transaksi yang terlewat atau salah dicatat.
Laporan Keuangan Sederhana untuk Pemula: Mulai dari Mana?
Kalau kamu benar-benar baru mulai, jangan membuat sistem yang terlalu kompleks. Gunakan tiga langkah ini:
Pertama, catat uang masuk.
Kedua, catat uang keluar.
Ketiga, hitung selisihnya.
Setelah konsisten, kamu bisa menambahkan:
- Aset.
- Utang.
- Piutang.
- Modal.
- Persediaan.
- Laba rugi.
- Arus kas.
Dengan cara tersebut, kamu bisa membangun sistem pembukuan secara bertahap. Tidak perlu langsung sempurna. Yang penting, datanya konsisten dan bisa digunakan untuk mengambil keputusan.
Checklist Membuat Laporan Keuangan Sederhana
Sebelum laporan dianggap selesai, pastikan kamu sudah:
- Mencatat seluruh pemasukan.
- Mencatat seluruh pengeluaran.
- Memisahkan transaksi pribadi dan usaha.
- Mencatat utang dan piutang.
- Mencatat aset yang dimiliki.
- Menghitung total pemasukan.
- Menghitung total pengeluaran.
- Menghitung hasil akhir.
- Mengecek kembali transaksi dengan bukti pembayaran.
- Melakukan evaluasi secara berkala.
Kalau semua sudah dilakukan, berarti kamu sudah memiliki dasar laporan keuangan yang cukup untuk mulai memahami kondisi finansial.
FAQ
Apa contoh laporan keuangan sederhana?
Contoh yang paling mudah adalah laporan pemasukan dan pengeluaran. Untuk kebutuhan yang lebih lengkap, kamu juga bisa membuat laporan laba rugi, laporan arus kas, serta pencatatan aset, utang, dan modal.
Bagaimana cara membuat laporan keuangan sederhana?
Cara membuat laporan keuangan sederhana dimulai dengan menentukan periode, mencatat pemasukan dan pengeluaran, memisahkan keuangan pribadi dan usaha, mencatat utang serta piutang, kemudian melakukan perhitungan dan evaluasi.
Apa saja yang harus dicatat dalam laporan keuangan?
Beberapa komponen yang dapat dicatat antara lain pemasukan, pengeluaran, aset, utang, piutang, modal, pendapatan, dan beban. Komponennya dapat disesuaikan dengan kebutuhan.
Apakah laporan keuangan sederhana cocok untuk usaha kecil?
Ya. Laporan keuangan sederhana dapat menjadi langkah awal bagi usaha kecil untuk memantau pemasukan, pengeluaran, arus kas, dan keuntungan.
Apakah laporan keuangan pribadi juga perlu dibuat?
Ya. Laporan keuangan pribadi membantu kamu memahami sumber pendapatan, pola pengeluaran, jumlah utang, dan dana yang tersedia untuk tujuan finansial.
Apa perbedaan omzet dan keuntungan?
Omzet umumnya mengacu pada total penjualan atau pendapatan kotor dari aktivitas usaha. Keuntungan merupakan hasil setelah biaya atau beban yang relevan dikurangkan.
Apakah saldo rekening sama dengan keuntungan?
Tidak. Saldo rekening menunjukkan jumlah dana yang tersedia pada rekening. Sebagian saldo bisa berasal dari modal, pinjaman, dana untuk membayar kewajiban, atau kebutuhan operasional.
Apakah laporan keuangan harus menggunakan aplikasi?
Tidak. Kamu bisa membuatnya menggunakan buku catatan, spreadsheet, atau aplikasi. Pilih metode yang paling mudah digunakan secara konsisten.
Kelola Keuangan dengan Lebih Bijak
Membuat laporan keuangan adalah salah satu langkah untuk memahami kondisi finansial dengan lebih baik.
Setelah mengetahui posisi pemasukan, pengeluaran, aset, dan kewajiban, kamu bisa mulai menyusun tujuan keuangan sesuai kemampuan dan profil risikomu.
Kalau kamu tertarik mempelajari aset digital, kamu bisa download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Usaha Modal Kecil: 15 Ide yang Bisa Kamu Coba di 2026






