Market Order vs Limit Order: Mana yang Lebih Tepat Saat Market Bullish?

Strategi

27 Aug 2026

4 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Harga aset kripto bisa berubah dalam hitungan detik. Ketika pasar sedang bullish, pergerakan harga yang cepat sering membuat investor dan trader dihadapkan pada satu pilihan sederhana: langsung beli sekarang atau menunggu harga yang diinginkan?

Di platform perdagangan aset kripto seperti FLOQ, pengguna dapat menggunakan jenis order yang berbeda sesuai dengan kebutuhan transaksinya. Dua jenis yang paling umum adalah Market Order dan Limit Order.

Memahami perbedaan keduanya penting karena pilihan jenis order dapat memengaruhi bagaimana dan pada harga berapa transaksi dieksekusi.

Apa Itu Market Order?

Dikutip Investopedia, Market Order adalah perintah untuk membeli atau menjual aset kripto secepat mungkin pada harga yang tersedia di pasar.

Misalnya, harga Bitcoin sedang berada di sekitar US$70.000 dan pengguna ingin segera membeli. Dengan Market Order, pengguna tidak menetapkan harga pembelian tertentu. Order akan dieksekusi berdasarkan harga yang tersedia ketika transaksi diproses.

Keunggulan utama Market Order adalah kecepatan eksekusi.

Jenis order ini dapat berguna ketika pengguna lebih memprioritaskan agar transaksi segera terlaksana dibandingkan mendapatkan harga tertentu.

Namun, ada hal yang perlu diperhatikan. Karena harga kripto dapat bergerak dengan cepat, harga yang terlihat ketika order dibuat tidak selalu sama dengan harga akhir saat transaksi dieksekusi.

Perbedaan tersebut dapat terjadi karena pergerakan harga dan kondisi likuiditas pasar.

Apa Itu Limit Order?

Berbeda dengan Market Order, Limit Order memungkinkan pengguna menentukan harga yang diinginkan untuk membeli atau menjual aset.

Sebagai contoh, Bitcoin saat ini berada di US$70.000. Pengguna ingin membeli jika harga turun ke US$68.000. Pengguna dapat memasang Limit Order pada harga tersebut.

Jika harga pasar mencapai level yang ditentukan dan terdapat likuiditas yang sesuai, order dapat dieksekusi.

Keuntungan utamanya adalah pengguna memiliki kontrol lebih besar terhadap harga transaksi.

Namun, Limit Order juga memiliki konsekuensi: order tidak menjamin transaksi akan terjadi.

Jika Bitcoin justru terus naik dari US$70.000 ke US$75.000 tanpa menyentuh US$68.000, Limit Order pada US$68.000 tidak akan terisi.

Market Order vs Limit Order

Secara sederhana, perbedaannya dapat dilihat dari prioritas masing-masing.

Market Order:

  • Mengutamakan kecepatan eksekusi.
  • Tidak menetapkan harga transaksi secara spesifik.
  • Harga eksekusi mengikuti kondisi pasar saat order diproses.
  • Cocok dipertimbangkan ketika eksekusi segera menjadi prioritas.

Limit Order:

  • Mengutamakan kontrol terhadap harga.
  • Pengguna menentukan harga yang diinginkan.
  • Order hanya dapat dieksekusi jika kondisi pasar memenuhi ketentuan order.
  • Cocok dipertimbangkan ketika pengguna ingin menunggu level harga tertentu.

Jadi, pertanyaannya bukan mana yang lebih baik.

Pertanyaannya adalah: apa yang lebih penting dalam situasi tersebut—kecepatan atau kontrol harga?

Bagaimana Menggunakannya Saat Market Bullish?

Perbedaan ini menjadi semakin penting ketika pasar sedang bullish.

Bayangkan harga Bitcoin naik dari US$65.000 menjadi US$70.000 dalam waktu relatif singkat.

Melihat harga terus naik, pengguna bisa saja merasa takut ketinggalan atau FOMO (fear of missing out) dan langsung melakukan pembelian.

Dalam kondisi seperti ini, Market Order memang memungkinkan pengguna masuk ke pasar dengan cepat. Namun, pengguna tetap perlu memahami bahwa harga dapat bergerak sebelum transaksi selesai dieksekusi.

Alternatifnya, pengguna dapat menentukan level harga yang ingin dibeli dan menggunakan Limit Order.

Misalnya, daripada mengejar harga setelah kenaikan, pengguna memilih menunggu koreksi dan memasang order pada level yang sudah ditentukan.

Tetapi strategi tersebut juga memiliki risiko.

Harga bisa saja tidak pernah kembali ke level tersebut.

Artinya, Limit Order dapat membantu pengguna lebih disiplin terhadap rencana harga, tetapi tidak menjamin order akan terisi.

Contoh Sederhana

Misalnya harga Ethereum sedang berada di US$3.000.

Pengguna A ingin segera memiliki Ethereum karena melihat momentum kenaikan.

Ia memilih Market Order.

Order tersebut akan diproses berdasarkan harga yang tersedia di pasar ketika transaksi dilakukan.

Sementara itu, Pengguna B merasa harga US$3.000 terlalu tinggi untuk entry dan ingin menunggu koreksi.

Ia memasang Limit Order di US$2.900.

Jika Ethereum turun ke level tersebut dan kondisi order terpenuhi, transaksi dapat dieksekusi.

Jika Ethereum justru naik ke US$3.200 tanpa turun ke US$2.900, order Pengguna B tidak akan terisi.

Dari contoh tersebut terlihat bahwa kedua jenis order memiliki konsekuensi yang berbeda.

Market Order berisiko mendapatkan harga yang berbeda dari harga yang terlihat, sementara Limit Order berisiko tidak mendapatkan eksekusi sama sekali.

Jangan Jadikan Jenis Order sebagai Pengganti Strategi

Memilih Market Order atau Limit Order bukanlah strategi investasi dengan sendirinya.

Jenis order hanyalah alat untuk menjalankan keputusan yang sudah dibuat.

Sebelum melakukan transaksi, pengguna sebaiknya sudah memahami beberapa hal:

  • Berapa dana yang memang dialokasikan untuk aset kripto?
  • Pada harga berapa ingin masuk?
  • Apa alasan membeli aset tersebut?
  • Apa yang akan dilakukan jika harga naik?
  • Apa yang akan dilakukan jika harga turun?
  • Seberapa besar risiko yang mampu ditanggung?

Dengan memiliki rencana terlebih dahulu, pengguna tidak harus mengambil keputusan hanya karena melihat harga bergerak cepat.

Hal ini juga dapat membantu mengurangi keputusan emosional ketika pasar sedang ramai.

Jadi, Pilih Market Order atau Limit Order?

Tidak ada satu jenis order yang selalu lebih baik untuk semua kondisi.

Market Order dapat dipertimbangkan ketika kecepatan eksekusi menjadi prioritas.

Sementara Limit Order dapat dipertimbangkan ketika pengguna ingin menentukan harga transaksi dan bersedia menunggu sampai pasar mencapai level tersebut.

Dalam market yang bullish, keduanya dapat digunakan dengan pendekatan yang berbeda.

Yang terpenting bukan sekadar “bagaimana cara masuk ke pasar?”, tetapi juga “apa rencana saya setelah masuk?”

Memahami jenis order, menetapkan batas risiko, dan menghindari keputusan karena FOMO merupakan bagian penting dari pengelolaan transaksi aset kripto.

FLOQ berkomitmen menghadirkan edukasi aset digital yang lebih mudah dipahami agar pengguna dapat membuat keputusan transaksi secara lebih terinformasi.

Disclaimer: Investasi aset kripto memiliki risiko tinggi, termasuk potensi kerugian akibat volatilitas harga pasar. Seluruh informasi dalam artikel ini hanya bersifat edukasi dan umum, bukan merupakan ajakan, penawaran, saran, maupun rekomendasi investasi. Setiap pengguna perlu melakukan riset dan mempertimbangkan keputusan investasi sesuai profil risiko dan kemampuan finansial masing-masing.

Kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai Bitcoin dan aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: Bitcoin Tembus US$80.000, Apa Hubungannya dengan Treasury AS?


Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device