Bitcoin Tembus US$80.000, Apa Hubungannya dengan Treasury AS?

Berita

26 Aug 2026

5 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah bergerak menembus level US$80.000. Di balik pergerakan tersebut, pasar tidak hanya mencermati arus dana ke aset kripto dan sentimen investor, tetapi juga perkembangan di pasar obligasi Amerika Serikat.

Salah satu faktor yang menarik perhatian adalah keputusan Kementerian Keuangan Amerika Serikat (US Treasury) untuk memperbesar program pembelian kembali atau buyback obligasi jangka panjang.

Pada 19 Agustus 2026, Treasury mengumumkan rencana menggandakan ukuran operasi buyback untuk sejumlah obligasi jangka panjang. Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, Bitcoin bergerak dari sekitar US$64.000 hingga mendekati US$70.000 dalam satu hari.

Pergerakan tersebut kemudian diikuti lonjakan volatilitas di pasar kripto dan likuidasi posisi short dalam jumlah besar.

Lantas, bagaimana pembelian kembali obligasi pemerintah AS bisa berkaitan dengan kenaikan Bitcoin?

Apa Itu Treasury Buyback?

Dikutip Forbes, Treasury buyback merupakan program ketika Departemen Keuangan AS membeli kembali obligasi pemerintah yang sebelumnya telah diterbitkan dari pasar.

Program ini bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Treasury telah menjalankan program buyback secara rutin sejak Mei 2024 sebagai bagian dari upaya menjaga fungsi dan likuiditas pasar Treasury, yang merupakan salah satu pasar keuangan terbesar di dunia.

Salah satu targetnya adalah obligasi lama atau off-the-run bonds yang cenderung memiliki aktivitas perdagangan lebih rendah dibandingkan obligasi yang baru diterbitkan.

Dengan membeli kembali surat utang tersebut, Treasury dapat membantu membuat pasar obligasi lebih likuid dan efisien.

Buyback Bukan Quantitative Easing

Satu hal penting yang perlu dipahami adalah Treasury buyback berbeda dengan quantitative easing (QE).

Dalam program QE, bank sentral seperti The Fed membeli aset keuangan untuk memengaruhi kondisi keuangan dan menambah likuiditas dalam sistem.

Treasury buyback memiliki mekanisme yang berbeda. Pemerintah AS membeli kembali obligasi menggunakan dana yang berkaitan dengan penerbitan utang baru, sehingga fokus utamanya adalah mengubah komposisi dan meningkatkan fungsi pasar utang, bukan menciptakan uang baru seperti dalam QE.

Karena itu, tidak tepat jika setiap peningkatan buyback langsung dianggap sebagai "pencetakan uang" atau stimulus moneter.

Mengapa Treasury Memperbesar Buyback?

Pada Agustus 2026, keputusan memperbesar buyback muncul ketika pasar obligasi global menghadapi tekanan.

Yield Treasury AS tenor panjang mengalami kenaikan tajam di tengah aksi jual obligasi global. Yield Treasury 30 tahun bahkan sempat berada di sekitar 5,3%, level yang menjadi perhatian investor karena menunjukkan tingginya tekanan pada segmen jangka panjang.

Dalam kondisi tersebut, Treasury memiliki alasan untuk memperkuat aktivitas buyback demi membantu menjaga likuiditas pasar.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, mengumumkan bahwa ukuran maksimum operasi buyback untuk obligasi bertenor 10–20 tahun dan 20–30 tahun akan dinaikkan dari sekitar US$2 miliar menjadi setidaknya US$4 miliar per operasi. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 9 September 2026.

Menurut Treasury, peningkatan tersebut juga didukung oleh minat kuat dari pelaku pasar. Dealer menawarkan lebih banyak obligasi untuk dijual kepada Treasury dibandingkan jumlah yang dapat diserap dalam operasi sebelumnya.

Dengan kata lain, langkah tersebut lebih berkaitan dengan pengelolaan pasar obligasi dan likuiditas daripada upaya langsung untuk mengerek harga aset berisiko.

Bagaimana Buyback Bisa Berdampak ke Bitcoin?

Di sinilah hubungan antara pasar obligasi dan Bitcoin mulai terlihat.

Ketika Treasury membeli obligasi, permintaan terhadap surat utang tersebut meningkat. Secara teori, peningkatan permintaan dapat mendorong harga obligasi naik.

Karena harga obligasi dan yield bergerak berlawanan arah, kenaikan harga obligasi dapat memberikan tekanan terhadap yield untuk turun.

Bagi pasar finansial global, perubahan yield Treasury sangat penting karena surat utang pemerintah AS sering menjadi acuan dalam menentukan tingkat imbal hasil berbagai aset lainnya.

Ketika yield obligasi turun, daya tarik relatif instrumen yang dianggap aman tersebut dapat berkurang. Investor kemudian memiliki insentif lebih besar untuk mencari peluang pada aset dengan potensi imbal hasil lebih tinggi.

Bitcoin dan aset kripto dapat menjadi salah satu tujuan modal tersebut.

Namun, perlu digarisbawahi bahwa tidak berarti dana dari Treasury buyback otomatis mengalir ke Bitcoin. Hubungannya lebih tidak langsung, melalui perubahan kondisi pasar, yield, dolar AS, dan selera risiko investor.

Dari Yield ke Risk-On

Mekanismenya dapat disederhanakan menjadi beberapa tahap.

Pertama, Treasury meningkatkan permintaan terhadap obligasi.

Buyback membuat Treasury menjadi pembeli tambahan di pasar obligasi tertentu. Hal ini berpotensi membantu harga obligasi dan likuiditas pasar.

Kedua, yield dapat terpengaruh.

Ketika harga obligasi naik, yield cenderung turun. Penurunan yield dapat mengurangi tekanan pada aset berisiko, terutama jika investor mulai melihat kondisi finansial sebagai lebih suportif.

Ketiga, modal dapat mencari aset dengan risiko lebih tinggi.

Jika imbal hasil obligasi turun dan kondisi finansial menjadi lebih longgar, investor dapat meningkatkan eksposur terhadap saham, emas, Bitcoin, dan aset berisiko lainnya.

Keempat, sentimen risk-on dapat menyebar.

Perubahan sentimen di pasar obligasi dapat merembet ke pasar saham dan kemudian ke aset kripto.

Karena itu, hubungan Treasury dan Bitcoin bukanlah hubungan satu arah seperti "Treasury buyback = Bitcoin naik", melainkan bagian dari rantai transmisi yang lebih panjang.

Bitcoin Naik, Tapi Buyback Bukan Satu-satunya Pemicu

Pergerakan Bitcoin pada 19–20 Agustus menunjukkan betapa cepatnya katalis makro dapat berinteraksi dengan struktur pasar kripto.

Bitcoin sempat melonjak sekitar 8% dalam waktu singkat dari kisaran US$64.000 menuju US$70.000. Pergerakan tajam tersebut juga memicu short squeeze.

Ketika harga Bitcoin mulai naik, trader yang sebelumnya bertaruh harga akan turun melalui posisi short mulai mengalami kerugian. Sebagian posisi kemudian ditutup secara paksa atau dilikuidasi.

Penutupan posisi short berarti trader harus membeli kembali Bitcoin, sehingga menciptakan tekanan beli tambahan. Siklus tersebut dapat mempercepat kenaikan harga dan menghasilkan efek berantai.

Total likuidasi posisi leverage di pasar kripto pada periode tersebut bahkan mencapai miliaran dolar.

Artinya, buyback Treasury lebih tepat dipandang sebagai salah satu katalis yang membantu mengubah sentimen pasar, bukan sebagai penyebab tunggal rally Bitcoin.

Ada pula faktor lain yang berpotensi mendukung pergerakan BTC, seperti arus dana masuk ke ETF Bitcoin spot AS, perkembangan regulasi aset kripto, sentimen institusional, serta kondisi pasar derivatif.

Mengapa Investor Kripto Perlu Memperhatikan Treasury?

Bagi investor kripto, perkembangan ini menunjukkan bahwa Bitcoin semakin terhubung dengan kondisi makroekonomi global.

Dulu, pergerakan Bitcoin sering dipandang terutama melalui siklus halving, adopsi, sentimen komunitas, atau perkembangan industri kripto.

Kini, yield Treasury, kebijakan Federal Reserve, likuiditas dolar, dan kondisi pasar keuangan global juga menjadi bagian penting dalam membaca arah BTC.

Karena itu, investor dapat memasukkan beberapa indikator makro ke dalam radar mereka.

Salah satunya adalah yield Treasury AS tenor panjang. Jika yield terus meningkat, aset berisiko dapat menghadapi tekanan. Sebaliknya, penurunan yield dalam kondisi tertentu dapat memberikan ruang lebih besar bagi aset seperti Bitcoin.

Selain itu, investor juga perlu memperhatikan kebijakan Treasury, keputusan suku bunga The Fed, arus dana ETF, indeks dolar AS, serta posisi leverage di pasar kripto.

Apa Artinya untuk Bitcoin Selanjutnya?

Pergerakan Bitcoin di atas US$80.000 menunjukkan bahwa momentum pasar masih kuat. Namun, keberlanjutan tren tidak hanya ditentukan oleh satu kebijakan Treasury.

Jika kondisi likuiditas membaik, yield Treasury mulai turun, arus dana institusional tetap positif, dan tekanan leverage mereda, lingkungan makro dapat menjadi lebih mendukung bagi Bitcoin.

Sebaliknya, jika yield kembali naik tajam atau investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin tetap berpotensi mengalami koreksi.

Terlebih lagi, sebagian rally sebelumnya didorong oleh short squeeze. Setelah posisi short terlikuidasi, dorongan beli tambahan dari mekanisme tersebut dapat berkurang.

FLOQ Takeaway: Treasury buyback dapat menjadi salah satu katalis pendukung bagi aset berisiko melalui pengaruhnya terhadap likuiditas, yield, dan sentimen pasar. Namun, buyback bukan QE dan tidak secara langsung berarti uang baru mengalir ke Bitcoin. Untuk memahami arah BTC, investor tetap perlu melihat kombinasi faktor makro dan kondisi internal pasar kripto.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: Bitcoin Turun dari $81.300, Trader Kini Pantau Level $82.830

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device