Sadar nggak, uang Rp100.000 sekarang nggak bisa beli sebanyak beberapa tahun lalu?
Dulu mungkin uang segitu cukup untuk makan, minum, dan masih ada kembalian. Sekarang, buat beberapa kebutuhan saja bisa habis. Bukan berarti uang kamu berubah.
Yang berubah adalah daya beli uang. Salah satu penyebabnya adalah inflasi.
Inflasi merupakan kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan dalam periode tertentu. Kalau inflasi terjadi, kemampuan uang untuk membeli barang dan jasa bisa menurun.
Nah, masalahnya, inflasi nggak selalu bisa kita hindari. Tapi kamu bisa mengambil langkah untuk mengurangi dampaknya terhadap kondisi keuangan. Lalu, bagaimana cara mengatasi inflasi? Yuk, bahas dari dasar sampai strategi yang bisa kamu coba.
Apa Itu Inflasi?
Sebelum membahas cara mengatasi inflasi, kita perlu memahami dulu apa itu inflasi. Sederhananya, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode.
Contohnya gampang. Kamu punya uang Rp1 juta hari ini. Dengan uang tersebut, kamu bisa membeli sejumlah kebutuhan tertentu. Beberapa waktu kemudian, harga kebutuhan tersebut naik. Kalau penghasilan kamu tetap Rp1 juta, jumlah barang atau jasa yang bisa dibeli dengan uang tersebut menjadi lebih sedikit.
Inilah yang disebut penurunan daya beli. Jadi, inflasi bukan sekadar harga satu barang yang naik. Kalau harga cabai naik karena faktor tertentu, itu belum tentu disebut inflasi.
Inflasi biasanya melihat perubahan harga secara lebih luas.
Kenapa Inflasi Bisa Berdampak ke Keuangan?
Inflasi bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari. Harga makanan naik. Biaya transportasi berubah. Harga sewa tempat tinggal meningkat. Biaya pendidikan dan kesehatan juga bisa mengalami kenaikan.
Di sisi lain, penghasilan belum tentu naik dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, kalau uang hanya disimpan tanpa mempertimbangkan pertumbuhan nilainya, daya belinya bisa berkurang dari waktu ke waktu.
Misalnya, kamu memiliki dana Rp50 juta. Secara nominal, jumlahnya tetap Rp50 juta. Namun, jika harga barang dan jasa terus meningkat, kemampuan Rp50 juta tersebut untuk membeli sesuatu di masa depan bisa lebih rendah dibandingkan hari ini.
Makanya, mengelola keuangan saat inflasi bukan cuma soal menghemat pengeluaran. Kamu juga perlu memikirkan bagaimana menjaga daya beli aset dan penghasilan.
Cara Mengatasi Inflasi yang Bisa Dilakukan
Nggak ada satu cara ajaib yang bisa membuat kamu kebal dari inflasi. Namun, ada beberapa strategi yang bisa membantu mengurangi dampaknya.
1. Buat Anggaran Keuangan
Langkah pertama yang sering dianggap sepele adalah membuat anggaran. Padahal, ini penting banget. Dengan anggaran, kamu bisa tahu ke mana uang pergi setiap bulan. Coba bagi pengeluaran menjadi beberapa kategori.
Misalnya:
- kebutuhan pokok
- transportasi
- tempat tinggal
- tagihan
- hiburan
- tabungan
- investasi
Setelah itu, lihat pengeluaran mana yang paling banyak menyerap uang. Saat harga naik, kamu jadi lebih mudah menentukan bagian mana yang bisa disesuaikan. Tanpa anggaran, kenaikan harga bisa terasa seperti uang tiba-tiba menghilang.
2. Bedakan Kebutuhan dan Keinginan
Inflasi bisa membuat pengeluaran semakin besar. Karena itu, penting untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kebutuhan adalah sesuatu yang memang perlu dipenuhi.
Contohnya makanan, tempat tinggal, transportasi, dan tagihan penting. Sementara itu, keinginan lebih fleksibel. Misalnya membeli gadget baru padahal gadget lama masih berfungsi.
Bukan berarti kamu nggak boleh menikmati uang. Tetap boleh. Namun, ketika biaya hidup meningkat, prioritas pengeluaran perlu diperhatikan lagi.
3. Cari Cara untuk Meningkatkan Penghasilan
Menghemat pengeluaran memang penting. Tapi ada batasnya. Kamu nggak bisa terus-menerus mengurangi kebutuhan pokok. Karena itu, salah satu cara menghadapi inflasi adalah meningkatkan penghasilan.
Misalnya dengan:
- mengambil pekerjaan freelance
- mengembangkan skill baru
- mencari peluang kerja dengan penghasilan lebih tinggi
- menjalankan bisnis sampingan
- menjual produk atau jasa
- meningkatkan kemampuan profesional
Misalnya biaya hidup naik 5%, tetapi penghasilan kamu juga meningkat lebih besar dari kenaikan biaya tersebut. Tekanan terhadap keuangan bisa lebih terkendali.
Jadi, menghadapi inflasi nggak selalu tentang mengeluarkan uang lebih sedikit. Meningkatkan pemasukan juga punya peran penting.
4. Siapkan Dana Darurat
Inflasi bukan satu-satunya risiko keuangan. Ada juga kondisi seperti kehilangan pekerjaan, kebutuhan medis, kendaraan rusak, atau pengeluaran mendadak lainnya.
Karena itu, dana darurat tetap penting. Dana ini sebaiknya ditempatkan pada instrumen yang relatif mudah dicairkan dan sesuai dengan kebutuhan kamu.
Jangan sampai seluruh uang ditempatkan pada aset yang sulit dicairkan ketika tiba-tiba membutuhkan dana. Besarnya dana darurat bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Yang penting, mulai membangunnya secara bertahap.
5. Jangan Hanya Mengandalkan Uang Tunai
Menyimpan uang untuk kebutuhan jangka pendek tentu penting. Namun, kalau seluruh kekayaan hanya disimpan dalam bentuk uang tunai untuk jangka panjang, kamu perlu mempertimbangkan dampak inflasi.
Kenapa? Karena nilai nominal uang memang tetap. Tetapi daya belinya dapat berkurang. Misalnya kamu menyimpan Rp20 juta selama bertahun-tahun tanpa pertumbuhan nilai.
Ketika harga barang naik, Rp20 juta tersebut mungkin tidak bisa membeli barang dalam jumlah yang sama seperti sebelumnya.
Karena itu, untuk tujuan keuangan jangka panjang, sebagian orang mempertimbangkan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko dan tujuan mereka.
6. Pertimbangkan Investasi Sesuai Profil Risiko
Investasi sering dibahas sebagai salah satu cara menjaga nilai kekayaan dari dampak inflasi. Tapi ingat. Investasi bukan berarti pasti untung.
Setiap instrumen punya risiko. Ada instrumen dengan risiko relatif lebih rendah, ada juga yang memiliki fluktuasi lebih tinggi. Pilihan investasi sebaiknya disesuaikan dengan:
- tujuan keuangan
- jangka waktu investasi
- kemampuan menanggung risiko
- kondisi keuangan
- kebutuhan likuiditas
Contohnya, kebutuhan dana dalam waktu dekat tentu berbeda dengan tujuan finansial 10 atau 20 tahun lagi. Jangan cuma mengejar imbal hasil tinggi. Pahami juga risikonya.
7. Diversifikasi Aset
Pernah dengar istilah “jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang”? Prinsip tersebut juga sering digunakan dalam investasi. Diversifikasi berarti menyebarkan dana ke beberapa jenis aset sesuai dengan strategi dan profil risiko.
Tujuannya bukan menghilangkan risiko sepenuhnya. Diversifikasi lebih kepada mengurangi ketergantungan terhadap satu jenis aset. Misalnya, seseorang bisa memiliki kombinasi beberapa aset untuk tujuan keuangan yang berbeda.
Komposisinya tentu berbeda untuk setiap orang. Jadi, jangan mengikuti portofolio orang lain mentah-mentah.
8. Evaluasi Pengeluaran Secara Berkala
Harga kebutuhan bisa berubah. Kondisi penghasilan juga bisa berubah. Karena itu, anggaran sebaiknya nggak dibuat sekali lalu dilupakan. Coba evaluasi secara berkala. Misalnya setiap bulan. Lihat apakah ada pengeluaran yang meningkat secara signifikan.
Contohnya biaya makan di luar yang mulai membengkak. Atau biaya langganan aplikasi yang ternyata jarang digunakan. Penghematan kecil kalau dilakukan konsisten bisa memberikan dampak yang cukup terasa.
9. Belanja dengan Lebih Strategis
Ketika inflasi meningkat, cara berbelanja juga bisa disesuaikan. Bukan berarti harus membeli barang termurah. Yang lebih penting adalah memperhatikan nilai yang kamu dapatkan.
Beberapa kebiasaan yang bisa dicoba:
- bandingkan harga sebelum membeli
- manfaatkan promo untuk kebutuhan yang memang diperlukan
- beli dalam jumlah tertentu jika memang lebih ekonomis
- hindari pembelian impulsif
- prioritaskan barang yang memiliki manfaat jangka panjang
Misalnya ada dua produk dengan fungsi yang sama. Kalau kualitasnya sebanding, memilih produk dengan harga lebih efisien bisa membantu mengendalikan pengeluaran.
10. Tingkatkan Literasi Keuangan
Cara mengatasi inflasi juga berkaitan dengan pemahaman finansial. Semakin kamu memahami cara kerja uang, semakin mudah membuat keputusan keuangan.
Pelajari hal-hal dasar seperti:
- inflasi
- suku bunga
- investasi
- risiko
- diversifikasi
- pajak
- dana darurat
- perencanaan keuangan
Nggak perlu langsung belajar hal yang rumit. Mulai dari konsep dasar. Setelah itu, baru naik ke topik yang lebih kompleks.
Apakah Menabung Saja Cukup untuk Menghadapi Inflasi?
Menabung tetap penting. Bahkan, tabungan merupakan bagian penting dari pengelolaan keuangan. Masalahnya muncul ketika seluruh dana jangka panjang hanya mengandalkan tabungan tanpa mempertimbangkan inflasi.
Untuk kebutuhan jangka pendek, uang yang mudah dicairkan memang punya fungsi penting. Namun, untuk tujuan jangka panjang, kamu bisa mempertimbangkan berbagai instrumen yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko.
Intinya bukan memilih antara “menabung atau investasi”. Keduanya bisa punya fungsi berbeda. Tabungan bisa digunakan untuk kebutuhan likuid dan dana darurat. Investasi bisa dipertimbangkan untuk tujuan tertentu dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Apakah Investasi Bisa Mengalahkan Inflasi?
Bisa, tetapi tidak ada jaminan. Sebuah investasi dapat memberikan imbal hasil yang secara historis atau dalam periode tertentu lebih tinggi daripada tingkat inflasi.
Namun, hasil investasi dapat berubah. Bahkan nilai investasi bisa turun. Karena itu, jangan menggunakan asumsi bahwa investasi pasti mengalahkan inflasi.
Yang lebih penting adalah memahami hubungan antara potensi imbal hasil, risiko, dan jangka waktu. Semakin tinggi potensi imbal hasil, biasanya semakin besar pula risiko yang perlu dipertimbangkan pada sejumlah instrumen.
Contoh Sederhana Menghadapi Inflasi
Misalnya penghasilan kamu Rp10 juta per bulan. Pengeluaran awal Rp7 juta. Artinya ada Rp3 juta yang bisa dialokasikan untuk tujuan finansial lain. Kemudian biaya hidup meningkat. Pengeluaran naik menjadi Rp7,5 juta.
Kalau penghasilan tetap Rp10 juta, ruang keuangan kamu turun menjadi Rp2,5 juta. Ada beberapa hal yang bisa dilakukan.
Pertama, evaluasi pengeluaran.
Kedua, cari cara meningkatkan penghasilan.
Ketiga, tetap pertahankan dana darurat.
Keempat, pertimbangkan investasi untuk dana yang memang ditujukan bagi tujuan jangka panjang.
Jadi, menghadapi inflasi bukan berarti panik setiap kali harga naik. Yang penting adalah menyesuaikan strategi keuangan secara berkala.
Kesalahan yang Sebaiknya Dihindari Saat Inflasi
Ada beberapa kesalahan yang cukup sering terjadi.
Panik dan Mengambil Keputusan Terburu-buru
Ketika harga naik, seseorang bisa tergoda mengambil keputusan finansial secara impulsif. Padahal, kondisi pasar dan ekonomi bisa berubah. Sebaiknya tetap kembali ke tujuan keuangan.
Mengejar Investasi dengan Imbal Hasil Tinggi
Inflasi bisa membuat orang ingin mencari investasi yang memberikan keuntungan besar dengan cepat. Hati-hati. Potensi keuntungan tinggi biasanya juga datang dengan risiko yang perlu dipahami.
Jangan memasukkan uang hanya karena melihat imbal hasil yang terlihat menarik.
Mengabaikan Dana Darurat
Semua uang jangan langsung diarahkan ke investasi. Kamu tetap membutuhkan dana yang mudah digunakan untuk kebutuhan mendadak.
Mengikuti Tren Tanpa Memahami Risikonya
Teman membeli aset tertentu. Influencer membicarakan aset tertentu. Harga sedang naik. Lalu kamu ikut membeli. Cara seperti ini bisa berbahaya kalau kamu belum memahami aset tersebut. Pahami dulu sebelum mengambil keputusan.
Cara Mengatasi Inflasi untuk Pemula
Kalau kamu masih baru dalam mengelola keuangan, nggak perlu langsung melakukan semuanya. Mulai dari langkah sederhana.
Pertama, catat pemasukan dan pengeluaran.
Kedua, buat anggaran bulanan.
Ketiga, siapkan dana darurat.
Keempat, kurangi pengeluaran yang nggak terlalu penting.
Kelima, cari cara meningkatkan penghasilan.
Keenam, mulai belajar investasi.
Ketujuh, pilih instrumen berdasarkan tujuan dan profil risiko.
Kedelapan, evaluasi kondisi keuangan secara rutin.
Pelan-pelan saja. Yang penting konsisten.
FAQ Cara Mengatasi Inflasi
Apa cara mengatasi inflasi yang paling sederhana?
Mulai dengan mengatur pengeluaran, membuat anggaran, membangun dana darurat, meningkatkan penghasilan, dan mempertimbangkan investasi sesuai profil risiko.
Apakah menabung bisa mengatasi inflasi?
Menabung penting untuk menjaga likuiditas dan memenuhi kebutuhan tertentu. Namun, untuk jangka panjang, kamu juga perlu mempertimbangkan dampak inflasi terhadap daya beli uang.
Apakah investasi bisa melindungi uang dari inflasi?
Investasi dapat menjadi salah satu strategi untuk menghadapi dampak inflasi, tetapi tidak ada investasi yang dijamin selalu memberikan hasil di atas inflasi. Setiap instrumen memiliki risiko.
Apakah emas bisa menjadi cara mengatasi inflasi?
Emas sering digunakan sebagian investor sebagai salah satu aset untuk diversifikasi. Namun, harga emas juga dapat mengalami naik turun. Jadi, jangan menganggap emas sebagai perlindungan yang pasti terhadap inflasi.
Apakah saham bisa mengatasi inflasi?
Saham memiliki potensi memberikan pertumbuhan nilai dalam jangka panjang, tetapi harganya dapat berfluktuasi dan tidak menjamin keuntungan. Pilih berdasarkan tujuan investasi dan kemampuan menanggung risiko.
Apa yang harus dilakukan kalau harga kebutuhan terus naik?
Evaluasi anggaran, prioritaskan kebutuhan, cari alternatif yang lebih efisien, tingkatkan penghasilan jika memungkinkan, dan sesuaikan strategi keuangan dengan kondisi terbaru.
Apakah inflasi selalu buruk?
Inflasi yang rendah dan stabil dapat menjadi bagian dari perekonomian yang sehat. Yang menjadi masalah adalah ketika kenaikan harga terlalu tinggi atau tidak terkendali karena dapat mengurangi daya beli dan meningkatkan tekanan terhadap rumah tangga maupun bisnis.
Kesimpulan
Inflasi merupakan bagian dari dinamika ekonomi yang bisa berdampak langsung ke kehidupan sehari-hari. Harga naik. Biaya hidup bertambah. Daya beli uang bisa menurun.
Karena itu, memahami cara mengatasi inflasi penting untuk menjaga kondisi keuangan dalam jangka panjang. Nggak ada satu strategi yang berlaku untuk semua orang.
Kamu bisa mulai dari hal sederhana seperti membuat anggaran, mengontrol pengeluaran, membangun dana darurat, dan meningkatkan penghasilan.
Setelah kondisi keuangan lebih siap, kamu bisa mempelajari investasi dan memilih instrumen yang sesuai dengan tujuan serta profil risiko. Yang paling penting, jangan mengambil keputusan hanya karena takut inflasi.
Pahami kondisi keuangan kamu. Kenali risikonya. Lalu buat strategi yang realistis dan bisa dijalankan secara konsisten.
Kalau kamu ingin mulai belajar tentang aset digital dan investasi, kamu juga bisa mempelajari berbagai edukasi finansial yang tersedia di FLOQ.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Kalkulator Inflasi: Cek Berapa Nilai Uangmu di Masa Depan







