Pengertian Inflasi: Kenapa Harga Barang Makin Mahal?

Finansial

26 Sep 2026

7 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pernah merasa harga makanan, transportasi, atau kebutuhan sehari-hari makin mahal dari waktu ke waktu?

Dulu uang Rp100.000 mungkin terasa cukup untuk membeli banyak kebutuhan. Sekarang, nominal yang sama bisa terasa lebih cepat habis.

Nah, kondisi seperti ini berkaitan erat dengan inflasi.

Inflasi bukan sekadar harga satu barang yang naik. Ada proses yang lebih luas di baliknya. Ketika harga berbagai barang dan jasa secara umum naik dan berlangsung dalam periode tertentu, kondisi tersebut disebut inflasi. Bank Indonesia mendefinisikan inflasi sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam jangka waktu tertentu.

Lalu, sebenarnya apa pengertian inflasi, apa saja jenisnya, dan bagaimana inflasi bisa terjadi?

Yuk, bahas dari dasar.

Pengertian Inflasi Adalah...

Secara sederhana, pengertian inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan secara terus-menerus dalam periode tertentu.

Ada dua kata penting yang perlu diperhatikan, yaitu umum dan terus-menerus.

Kalau harga cabai naik, misalnya, belum tentu berarti sedang terjadi inflasi. Begitu juga ketika harga satu merek sepatu naik.

Inflasi terjadi ketika kenaikan harga meluas ke berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat. Bank Indonesia juga menjelaskan bahwa kenaikan harga satu atau dua barang saja belum dapat disebut inflasi, kecuali kenaikan tersebut meluas atau memicu kenaikan harga barang lainnya.

Contoh sederhananya begini.

Harga bahan makanan naik. Biaya transportasi ikut meningkat. Biaya produksi perusahaan juga naik. Pada akhirnya, harga berbagai produk dan jasa ikut terdorong naik.

Daya beli uang pun berubah.

Dengan jumlah uang yang sama, kamu mungkin mendapatkan barang atau jasa yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

Itulah salah satu dampak inflasi yang paling mudah dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Contoh Inflasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Supaya lebih gampang, bayangkan kamu punya uang Rp500.000.

Tahun ini, uang tersebut bisa digunakan untuk membeli kebutuhan bulanan tertentu. Namun, beberapa waktu kemudian, harga kebutuhan tersebut naik.

Dengan uang Rp500.000 yang sama, jumlah barang yang bisa kamu beli menjadi lebih sedikit.

Bukan berarti uangnya berkurang secara nominal. Nilai nominalnya tetap Rp500.000.

Yang berubah adalah daya beli uang tersebut.

Inilah alasan inflasi sering dikaitkan dengan daya beli masyarakat.

Ketika tingkat harga meningkat, kemampuan uang untuk membeli barang dan jasa cenderung menurun.

Bagaimana Inflasi Diukur?

Di Indonesia, pengukuran inflasi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Salah satu indikator yang digunakan adalah Indeks Harga Konsumen atau IHK.

IHK menggambarkan perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga dalam periode tertentu. BPS mengumpulkan data harga dari berbagai barang dan jasa yang masuk dalam keranjang konsumsi masyarakat.

Jadi, ketika kamu melihat berita seperti:

"Inflasi Indonesia mencapai 2,88%"

Angka tersebut bukan berarti semua barang naik tepat 2,88%.

Ada barang yang harganya naik. Ada yang tetap. Bahkan ada juga yang turun.

Angka inflasi merupakan gambaran perubahan harga secara keseluruhan berdasarkan metode pengukuran yang digunakan.

Sebagai contoh, BPS mencatat inflasi Indonesia secara tahunan sebesar 2,88% pada Juli 2026, sementara secara bulanan justru terjadi deflasi sebesar 0,14%.

Ini menunjukkan bahwa inflasi perlu dilihat berdasarkan periode pengukurannya.

Apa Bedanya Inflasi YoY, MoM, dan YtD?

Kalau sering membaca berita ekonomi, kamu mungkin menemukan istilah yoy, mtm, dan ytd.

Tenang, nggak serumit kedengarannya.

1. Year-on-Year (YoY)

YoY atau year-on-year membandingkan tingkat harga pada suatu bulan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Misalnya, inflasi Juli 2026 sebesar 2,88% secara tahunan berarti tingkat harga pada Juli 2026 dibandingkan dengan Juli 2025 mengalami kenaikan sebesar 2,88% berdasarkan pengukuran IHK.

2. Month-to-Month (MoM)

MoM atau month-to-month membandingkan kondisi suatu bulan dengan bulan sebelumnya.

Misalnya, Juli 2026 mengalami deflasi 0,14% dibandingkan Juni 2026.

3. Year-to-Date (YtD)

YtD melihat perubahan harga sejak awal tahun sampai periode tertentu.

Jadi, kalau kamu membaca data inflasi, jangan hanya melihat angkanya. Perhatikan juga periode pengukurannya.

Jenis-Jenis Inflasi

Inflasi bisa dibedakan berdasarkan penyebab dan karakteristik komponen harganya.

Dalam konteks Indonesia, Bank Indonesia membagi inflasi berdasarkan disagregasi menjadi inflasi inti, volatile food, dan administered prices.

1. Inflasi Inti

Inflasi inti atau core inflation merupakan komponen inflasi yang cenderung lebih stabil dan persisten.

Pergerakannya dipengaruhi oleh faktor fundamental ekonomi. Contohnya interaksi permintaan dan penawaran, nilai tukar, harga komoditas internasional, kondisi ekonomi global, serta ekspektasi inflasi.

Gampangnya, inflasi inti membantu melihat tekanan harga yang lebih mendasar dalam perekonomian.

2. Volatile Food

Selanjutnya ada volatile food atau komponen harga pangan bergejolak.

Kelompok ini sangat dipengaruhi oleh kondisi seperti cuaca, musim panen, gangguan produksi, distribusi, dan perubahan harga komoditas pangan.

Makanya, harga cabai, bawang, beras, dan sejumlah bahan pangan lainnya bisa berubah cukup cepat.

Misalnya, ketika produksi suatu komoditas menurun, sementara permintaannya tetap tinggi, harga bisa terdorong naik.

3. Administered Prices

Ada juga administered prices, yaitu komponen harga yang banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.

Contohnya bisa mencakup harga BBM, tarif listrik, dan tarif transportasi tertentu.

Perubahan harga pada kelompok ini dapat memengaruhi biaya masyarakat dan dunia usaha. Dampaknya juga bisa merambat ke harga barang atau jasa lainnya. Cari tahu juga jenis-jenis inflasi lainnya.

Apa Penyebab Inflasi?

Inflasi bisa terjadi karena satu faktor atau kombinasi beberapa faktor.

Secara umum, Bank Indonesia menjelaskan beberapa sumber tekanan inflasi, yaitu dari sisi permintaan, sisi penawaran, dan ekspektasi inflasi.

1. Permintaan Lebih Tinggi daripada Penawaran

Ini sering disebut demand-pull inflation.

Sederhananya, masyarakat ingin membeli lebih banyak barang dan jasa, tetapi kemampuan produksi atau ketersediaannya belum mampu mengikuti permintaan.

Ketika permintaan meningkat sementara pasokan terbatas, harga bisa terdorong naik.

Misalnya, suatu produk sedang sangat populer. Banyak orang ingin membelinya. Namun, stok terbatas.

Harga pun berpotensi meningkat.

2. Biaya Produksi Meningkat

Ini dikenal sebagai cost-push inflation.

Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan dapat menghadapi tekanan untuk menaikkan harga jual.

Biaya tersebut bisa berasal dari kenaikan harga bahan baku, energi, transportasi, atau faktor lainnya.

Nilai tukar juga dapat berpengaruh. Jika mata uang domestik melemah terhadap mata uang asing, biaya barang impor dapat meningkat. Hal tersebut kemudian bisa meningkatkan biaya produksi di dalam negeri.

3. Gangguan Pasokan

Bencana alam, gagal panen, gangguan distribusi, atau masalah produksi dapat mengurangi jumlah barang yang tersedia.

Kalau permintaan tetap ada sementara pasokan berkurang, harga bisa meningkat.

Ini salah satu alasan kenapa kondisi cuaca dan produksi pangan sering menjadi perhatian ketika membahas inflasi.

4. Ekspektasi Inflasi

Ada satu faktor lain yang cukup menarik, yaitu ekspektasi inflasi.

Kalau masyarakat dan pelaku usaha memperkirakan harga akan naik di masa depan, perkiraan tersebut dapat memengaruhi keputusan mereka saat ini.

Misalnya, perusahaan memperkirakan biaya produksi akan meningkat. Perusahaan kemudian bisa menyesuaikan harga jual.

Konsumen juga dapat mempercepat pembelian karena khawatir harga akan lebih mahal di kemudian hari.

Ekspektasi seperti ini dapat ikut memengaruhi dinamika inflasi.

Apa Dampak Inflasi bagi Masyarakat?

Inflasi bisa terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari.

Salah satu dampak paling jelas adalah penurunan daya beli ketika pendapatan tidak meningkat sejalan dengan kenaikan harga.

Misalnya, pendapatan seseorang tetap. Namun, biaya makanan, transportasi, pendidikan, dan kebutuhan lainnya meningkat.

Artinya, bagian pendapatan yang harus digunakan untuk kebutuhan tersebut menjadi lebih besar.

Inflasi juga dapat memengaruhi keputusan menabung dan berinvestasi.

Kenapa?

Karena seseorang tidak cukup hanya melihat berapa rupiah yang dimiliki. Ia juga perlu mempertimbangkan bagaimana nilai uang tersebut berubah terhadap kenaikan harga.

Misalnya, seseorang menyimpan uang tanpa memperhitungkan inflasi. Secara nominal, jumlah uangnya memang tetap. Namun, kemampuan uang tersebut untuk membeli barang dan jasa bisa berubah.

Karena itu, memahami inflasi penting dalam menyusun perencanaan keuangan jangka panjang.

Apakah Inflasi Selalu Buruk?

Nggak selalu sesederhana itu.

Inflasi dalam tingkat yang rendah dan stabil merupakan bagian dari dinamika ekonomi. Yang menjadi perhatian adalah ketika inflasi terlalu tinggi, terlalu rendah, atau bergerak tidak stabil.

Bank Indonesia bersama pemerintah memiliki sasaran inflasi. Untuk periode 2025-2027, sasaran inflasi ditetapkan sebesar 2,5% dengan deviasi 1% untuk masing-masing tahun.

Jadi, pembahasan inflasi bukan sekadar soal "harga naik berarti buruk".

Yang juga penting adalah seberapa tinggi kenaikannya, seberapa lama berlangsung, apa penyebabnya, dan bagaimana dampaknya terhadap perekonomian serta daya beli masyarakat.

Bagaimana Cara Menghadapi Inflasi?

Kita memang nggak bisa mengendalikan tingkat inflasi nasional sendirian.

Namun, kita bisa mengelola keuangan supaya lebih siap menghadapi perubahan harga.

Pertama, mulai dengan membuat anggaran.

Catat kebutuhan rutin dan bedakan antara kebutuhan dengan keinginan. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui bagian pengeluaran mana yang paling banyak terpengaruh kenaikan harga.

Kedua, siapkan dana darurat.

Dana darurat membantu ketika ada pengeluaran tidak terduga atau kondisi keuangan berubah.

Ketiga, jangan hanya melihat nominal uang.

Dalam perencanaan keuangan jangka panjang, penting juga mempertimbangkan inflasi. Target keuangan Rp100 juta beberapa tahun dari sekarang belum tentu memiliki daya beli yang sama dengan Rp100 juta hari ini.

Keempat, pelajari berbagai pilihan pengelolaan aset sesuai profil risiko dan tujuan keuangan kamu.

Jangan langsung mengejar imbal hasil tinggi hanya karena ingin mengalahkan inflasi. Pahami dulu risikonya, jangka waktunya, likuiditasnya, dan apakah produk tersebut sesuai dengan kebutuhanmu.

Inflasi dan Investasi, Apa Hubungannya?

Inflasi memiliki hubungan erat dengan investasi karena investasi biasanya dilakukan untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan.

Misalnya, kamu ingin memiliki dana Rp500 juta dalam 10 tahun.

Kalau harga barang dan jasa terus berubah, kebutuhan dana di masa depan juga perlu diperhitungkan dengan lebih realistis.

Itulah kenapa ketika membuat tujuan investasi, jangan hanya bertanya:

"Berapa uang yang ingin saya kumpulkan?"

Tapi juga:

"Berapa nilai uang yang saya butuhkan nanti?"

Dengan memahami inflasi, kamu bisa membuat perencanaan keuangan yang lebih realistis.

Namun, setiap instrumen investasi memiliki risiko yang berbeda. Jadi, jangan memilih produk hanya karena mengejar potensi keuntungan di atas inflasi.

Kesimpulan

Jadi, pengertian inflasi secara sederhana adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu.

Inflasi berbeda dengan kenaikan harga satu atau dua barang saja.

Pengukurannya di Indonesia salah satunya menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang dihitung berdasarkan perubahan harga berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga.

Inflasi juga bisa muncul karena berbagai faktor.

Mulai dari permintaan yang meningkat, biaya produksi yang naik, gangguan pasokan, perubahan harga komoditas, nilai tukar, sampai ekspektasi masyarakat terhadap harga di masa depan.

Dengan memahami inflasi, kamu jadi lebih mudah memahami kenapa harga berubah dan kenapa perencanaan keuangan jangka panjang perlu memperhitungkan daya beli.

Pada akhirnya, memahami inflasi bukan cuma soal belajar istilah ekonomi.

Ini juga bagian dari memahami bagaimana uang yang kamu punya bekerja dari waktu ke waktu.

FAQ Seputar Pengertian Inflasi

Apa pengertian inflasi?

Pengertian inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu. Kenaikan satu atau dua barang saja belum tentu disebut inflasi.

Apa contoh inflasi?

Contoh inflasi adalah ketika harga berbagai kebutuhan seperti makanan, transportasi, dan jasa mengalami kenaikan secara umum dalam periode tertentu.

Apa penyebab inflasi?

Inflasi dapat disebabkan oleh tekanan permintaan, kenaikan biaya produksi, gangguan pasokan, perubahan nilai tukar, harga komoditas, serta ekspektasi inflasi.

Apa bedanya inflasi dan deflasi?

Inflasi dan deflasi berbeda! Inflasi terjadi ketika tingkat harga secara umum meningkat. Sementara itu, deflasi merupakan kondisi ketika tingkat harga secara umum mengalami penurunan.

Apa itu inflasi inti?

Inflasi inti adalah komponen inflasi yang cenderung lebih stabil dan mencerminkan faktor fundamental seperti interaksi permintaan dan penawaran, kondisi eksternal, serta ekspektasi inflasi.

Apa itu volatile food?

Volatile food adalah komponen inflasi yang berkaitan dengan kelompok pangan yang harganya relatif mudah berfluktuasi karena faktor seperti musim, cuaca, produksi, dan distribusi.

Apakah inflasi bisa menurunkan daya beli?

Bisa. Ketika harga barang dan jasa meningkat sementara pendapatan tidak naik dengan kecepatan yang sama, jumlah barang dan jasa yang dapat dibeli dengan uang yang sama dapat berkurang.

Kenapa inflasi penting untuk investasi?

Karena inflasi dapat memengaruhi daya beli uang di masa depan. Saat membuat tujuan keuangan jangka panjang, mempertimbangkan perubahan daya beli dapat membantu membuat target keuangan yang lebih realistis.

Bagaimana cara menghadapi inflasi?

Kamu bisa mulai dengan membuat anggaran, menyiapkan dana darurat, mengelola pengeluaran, dan mempelajari pilihan pengelolaan aset yang sesuai dengan tujuan serta profil risiko.

Mulai pahami pengelolaan aset digital dengan lebih mudah. Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Cara Mengatasi Inflasi: Strategi Simpel Biar Uang Nggak Makin Tergerus

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device