Jenis Inflasi: Macam-Macam dan Penjelasannya, Kamu Wajib Tahu!

Finansial

11 Sep 2026

9 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pernah merasa harga kebutuhan sehari-hari makin mahal? Harga makanan naik. Ongkos transportasi berubah. Harga rumah dan sewa ikut meningkat. Bahkan, barang yang biasanya murah sekarang terasa lebih mahal.

Kondisi seperti ini sering dikaitkan dengan inflasi. Tapi, tahukah kamu kalau inflasi ternyata punya beberapa jenis?

Yup, inflasi nggak cuma dibedakan dari seberapa tinggi kenaikan harga. Ada juga jenis inflasi berdasarkan penyebabnya, sumbernya, sampai tingkat keparahannya.

Memahami jenis inflasi penting, terutama kalau kamu sedang belajar ekonomi atau mulai mengatur keuangan dan investasi. Pasalnya, setiap jenis inflasi bisa memberikan dampak yang berbeda terhadap daya beli, bisnis, tabungan, hingga investasi.

Nah, kali ini kita bahas macam-macam inflasi secara sederhana. Lengkap dengan contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Apa Itu Inflasi?

Inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan dalam suatu periode.

Kuncinya ada pada kata “secara umum”. Jadi, kalau harga satu produk naik, belum tentu kondisi tersebut bisa disebut inflasi. Inflasi terjadi ketika kenaikan harga berlangsung secara luas dan memengaruhi tingkat harga dalam perekonomian.

Contohnya begini. Dulu uang Rp100.000 mungkin bisa digunakan untuk membeli beberapa kebutuhan sehari-hari. Setelah harga-harga naik, uang yang sama mungkin hanya bisa mendapatkan barang lebih sedikit.

Artinya, daya beli uang tersebut menurun. Karena itu, inflasi sering dibahas bersama dengan daya beli masyarakat.

Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik (BPS) menggunakan berbagai indikator untuk memantau perkembangan harga dan inflasi. Salah satu indikator yang banyak dikenal masyarakat adalah Indeks Harga Konsumen atau IHK.

Kenapa Inflasi Bisa Terjadi?

Inflasi bisa muncul karena berbagai faktor. Permintaan masyarakat bisa meningkat. Biaya produksi bisa naik. Harga energi dan bahan baku bisa berubah. Bahkan gangguan pasokan juga bisa membuat harga barang tertentu meningkat.

Dari sinilah muncul berbagai klasifikasi inflasi. Secara umum, jenis inflasi dapat dibedakan berdasarkan penyebab, sumber, dan tingkat keparahannya. Mari kita bahas satu per satu.

Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Salah satu cara paling umum untuk mengelompokkan inflasi adalah berdasarkan penyebabnya. Ada inflasi yang muncul karena permintaan terlalu tinggi. Ada juga yang terjadi karena biaya produksi meningkat.

1. Demand Pull Inflation

Demand pull inflation adalah inflasi yang terjadi karena permintaan terhadap barang dan jasa meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi atau pasokan.

Sederhananya, terlalu banyak orang ingin membeli barang yang sama, sementara jumlah barangnya terbatas. Akibatnya? Harga bisa naik.

Contohnya: Misalnya menjelang Lebaran, permintaan terhadap pakaian, makanan, tiket transportasi, dan berbagai kebutuhan meningkat tajam.

Kalau produsen dan penjual belum bisa menambah pasokan dengan cepat, harga beberapa barang atau jasa bisa ikut terdorong naik.

Contoh lain adalah ketika perekonomian sedang tumbuh. Pendapatan masyarakat meningkat dan konsumsi ikut naik. Permintaan kendaraan, properti, makanan, perjalanan, dan barang lainnya juga meningkat.

Kalau kapasitas produksi belum mampu mengimbangi permintaan, harga bisa naik. Jadi, dalam kasus ini, permintaan menjadi salah satu pendorong utama inflasi.

2. Cost Push Inflation

Berbeda dengan demand pull inflation, cost push inflation terjadi ketika biaya produksi meningkat.

Misalnya, harga bahan baku naik. Biaya energi meningkat. Ongkos transportasi bertambah. Atau biaya tenaga kerja mengalami kenaikan. Produsen kemudian menghadapi biaya yang lebih tinggi untuk menghasilkan barang.

Kalau kenaikan biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang dan jasa pun bisa naik.

Contohnya: Bayangkan sebuah produsen roti membutuhkan tepung, gula, telur, listrik, dan bahan bakar untuk memproduksi roti. Kemudian harga bahan baku dan energi meningkat.

Biaya produksi roti pun ikut naik. Agar margin bisnis tetap terjaga, produsen atau penjual bisa menaikkan harga roti. Kalau kenaikan biaya terjadi secara luas di berbagai sektor, dampaknya juga bisa lebih besar terhadap tingkat harga secara umum.

3. Built-In Inflation

Ada juga yang disebut built-in inflation. Jenis inflasi ini berkaitan dengan ekspektasi kenaikan harga dan upah. Misalnya, pekerja memperkirakan biaya hidup akan meningkat. Karena itu, mereka meminta kenaikan upah.

Ketika upah meningkat, biaya produksi perusahaan juga bisa bertambah. Perusahaan kemudian menaikkan harga barang atau jasa. Kenaikan harga tersebut kemudian mendorong pekerja meminta kenaikan upah lagi.

Kalau berlangsung terus, bisa muncul semacam siklus harga dan upah. Inilah yang dikenal sebagai wage-price spiral.

Contohnya: Sebuah perusahaan memperkirakan biaya hidup karyawannya akan meningkat. Perusahaan kemudian menaikkan upah.

Di sisi lain, kenaikan upah membuat biaya operasional perusahaan meningkat. Untuk menyesuaikan biaya tersebut, harga produk dinaikkan. Setelah harga produk naik, pekerja kembali membutuhkan kenaikan pendapatan untuk mempertahankan daya belinya.

Siklus seperti ini bisa membuat tekanan inflasi semakin bertahan.

Jenis Inflasi Berdasarkan Sumbernya

Selain berdasarkan penyebab, inflasi juga bisa dibedakan berdasarkan sumbernya. Secara umum, ada inflasi yang berasal dari dalam negeri dan ada yang dipengaruhi faktor dari luar negeri.

4. Domestic Inflation

Domestic inflation atau inflasi domestik berasal dari kondisi perekonomian dalam negeri. Penyebabnya bisa bermacam-macam.

Misalnya, permintaan domestik meningkat. Produksi dalam negeri mengalami gangguan. Distribusi barang tidak lancar. Atau terjadi perubahan biaya produksi di dalam negeri.

Contohnya: Bayangkan produksi cabai di sejumlah daerah mengalami penurunan karena gangguan cuaca. Sementara itu, permintaan masyarakat tetap tinggi.

Pasokan cabai yang berkurang dapat membuat harga cabai di pasar meningkat. Kalau kenaikan harga kemudian memengaruhi berbagai produk yang menggunakan cabai sebagai bahan baku, dampaknya bisa meluas.

Contoh lainnya adalah gangguan distribusi akibat bencana alam yang membuat pasokan barang ke sejumlah daerah terhambat.

5. Imported Inflation

Imported inflation terjadi ketika kenaikan harga dari luar negeri ikut mendorong kenaikan harga di dalam negeri.

Indonesia melakukan perdagangan internasional. Banyak bahan baku, komponen, energi, dan barang tertentu yang memiliki keterkaitan dengan harga global.

Ketika harga barang impor meningkat, biaya yang harus dikeluarkan perusahaan atau pelaku usaha juga bisa bertambah. Perubahan nilai tukar juga dapat berpengaruh.

Contohnya: Sebuah perusahaan di Indonesia mengimpor bahan baku dari luar negeri. Kemudian harga bahan baku tersebut meningkat di pasar global. Pada saat yang sama, nilai tukar rupiah melemah terhadap mata uang yang digunakan untuk transaksi.

Biaya pembelian bahan baku dalam rupiah menjadi lebih mahal. Perusahaan kemudian menghadapi kenaikan biaya produksi dan bisa menyesuaikan harga jual produknya.

Inilah salah satu gambaran sederhana bagaimana imported inflation bisa terjadi.

Jenis Inflasi Berdasarkan Tingkat Keparahannya

Nah, ini bagian yang cukup sering muncul dalam materi ekonomi. Inflasi juga dapat dikategorikan berdasarkan tingkat atau besarnya kenaikan harga.

6. Inflasi Ringan

Inflasi ringan adalah inflasi dengan tingkat kenaikan harga yang relatif rendah. Inflasi pada tingkat tertentu sebenarnya merupakan bagian dari dinamika ekonomi.

Kenaikan harga yang rendah dan terkendali belum tentu menjadi masalah besar. Justru, yang perlu diperhatikan adalah apakah kenaikan harga masih terkendali dan apakah pendapatan masyarakat mampu mengimbanginya.

Contohnya: Harga beberapa kebutuhan sehari-hari meningkat secara bertahap dalam satu tahun. Misalnya, harga sejumlah barang konsumsi naik sedikit demi sedikit, sementara pendapatan masyarakat dan aktivitas ekonomi masih mampu mengimbangi kenaikan tersebut.

Dalam kondisi seperti ini, dampak terhadap kehidupan sehari-hari cenderung lebih mudah dikelola dibandingkan inflasi yang sangat tinggi.

7. Inflasi Sedang

Berikutnya ada inflasi sedang. Pada tingkat ini, kenaikan harga mulai terasa lebih signifikan bagi masyarakat.

Daya beli dapat semakin tertekan jika pendapatan tidak meningkat sejalan dengan harga barang dan jasa. Masyarakat mungkin mulai mengubah pola konsumsi.

Misalnya, mengurangi pembelian barang tertentu atau mencari alternatif produk yang lebih murah. Bagi bisnis, kenaikan biaya juga mulai menjadi perhatian yang lebih serius.

Contohnya: Sebuah keluarga biasanya menghabiskan Rp3 juta per bulan untuk kebutuhan rumah tangga. Ketika harga makanan, transportasi, listrik, dan kebutuhan lainnya meningkat, pengeluaran bulanan mereka ikut bertambah.

Kalau pendapatan tetap, keluarga tersebut mungkin perlu mengurangi pengeluaran untuk hiburan, makan di luar, atau pembelian barang yang bukan kebutuhan utama.

8. Inflasi Berat

Inflasi berat terjadi ketika kenaikan harga sudah sangat tinggi dan memberikan tekanan besar terhadap perekonomian.

Dalam kondisi seperti ini, masyarakat dapat mengalami penurunan daya beli yang signifikan. Perencanaan keuangan juga menjadi lebih sulit. Harga barang dapat berubah lebih cepat. Biaya usaha meningkat. Nilai riil uang tunai juga tergerus lebih cepat.

Kondisi tersebut dapat membuat aktivitas ekonomi menjadi lebih sulit diprediksi.

Contohnya: Bayangkan harga kebutuhan pokok meningkat berkali-kali lipat dalam periode yang relatif singkat.

Masyarakat yang sebelumnya bisa memenuhi kebutuhan bulanan dengan jumlah uang tertentu harus mengeluarkan jauh lebih banyak uang untuk membeli barang yang sama.

Bisnis juga kesulitan menentukan harga karena biaya bahan baku dan operasional terus berubah. Dalam situasi seperti ini, tekanan inflasi sudah sangat terasa dalam aktivitas ekonomi sehari-hari.

9. Hiperinflasi

Hiperinflasi merupakan kondisi ekstrem ketika tingkat kenaikan harga berlangsung sangat tinggi dan cepat. Ini bukan sekadar harga beberapa barang menjadi mahal.

Dalam kondisi hiperinflasi, fungsi uang sebagai alat penyimpan nilai dapat terganggu secara serius. Masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap mata uang karena nilainya turun dengan sangat cepat.

Hiperinflasi termasuk kondisi yang ekstrem dan relatif jarang terjadi dalam perekonomian normal.

Contohnya: Salah satu contoh historis yang sering dibahas adalah hiperinflasi Zimbabwe pada akhir 2000-an.

Harga barang meningkat dengan sangat cepat. Uang kehilangan daya beli secara ekstrem sehingga masyarakat membutuhkan jumlah uang yang jauh lebih besar untuk membeli barang yang sama.

Contoh historis lainnya adalah Jerman pada periode Weimar pada awal 1920-an. Kasus seperti ini menunjukkan bahwa hiperinflasi bisa mengganggu fungsi uang dan aktivitas ekonomi secara sangat serius.

Kenapa Contoh Jenis Inflasi Penting Dipahami?

Sekilas, istilah seperti demand pull inflation atau cost push inflation memang terdengar rumit.

Padahal, konsepnya cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari. Saat permintaan barang melonjak dan pasokan terbatas, kamu sedang melihat gambaran demand pull inflation.

Saat biaya bahan baku atau energi naik dan produsen menyesuaikan harga, itu berkaitan dengan cost push inflation. Saat kenaikan harga dan upah saling mendorong, itu berkaitan dengan built-in inflation.

Sementara itu, kenaikan harga yang dipengaruhi kondisi dalam negeri bisa dikategorikan sebagai domestic inflation. Kalau tekanan tersebut berasal dari kenaikan harga barang dari luar negeri, istilah yang digunakan adalah imported inflation.

Jadi, pengelompokan ini membantu kita memahami kenapa harga bisa naik, bukan cuma melihat bahwa harga sedang naik.

Apa Dampak Inflasi bagi Kehidupan Sehari-hari?

Setelah mengetahui berbagai jenis inflasi, pertanyaan berikutnya adalah: apa dampaknya buat kita? Yang paling mudah terlihat adalah perubahan daya beli.

Misalnya, kamu punya uang Rp1 juta. Kalau harga barang naik, jumlah barang yang bisa dibeli dengan uang tersebut bisa berkurang.

Jadi, meskipun nominal uangnya tetap Rp1 juta, kemampuan belinya bisa berubah. Inflasi juga dapat memengaruhi tabungan.

Kalau uang hanya disimpan dalam bentuk tunai dalam jangka panjang sementara tingkat inflasi lebih tinggi daripada imbal hasil yang diperoleh, nilai riil uang tersebut bisa tergerus.

Inflasi juga penting diperhatikan ketika memilih instrumen investasi.

Setiap investasi memiliki karakteristik berbeda. Ada yang lebih sensitif terhadap perubahan suku bunga. Ada yang dipengaruhi kondisi pasar saham. Ada juga aset yang pergerakannya sangat dipengaruhi sentimen pasar.

Karena itu, memahami inflasi bisa membantu kamu melihat kondisi ekonomi dengan lebih utuh sebelum mengambil keputusan finansial.

Apa Hubungan Inflasi dengan Investasi?

Inflasi dan investasi punya hubungan yang cukup erat. Kenapa? Karena tujuan investasi bukan sekadar melihat nominal keuntungan. Kamu juga perlu mempertimbangkan return riil.

Secara sederhana, return riil adalah tingkat keuntungan investasi setelah memperhitungkan inflasi.

Misalnya, sebuah investasi menghasilkan return 7% dalam setahun. Kalau inflasi pada periode yang sama sebesar 3%, maka pertumbuhan nilai secara riil tentu tidak sama dengan 7%.

Itulah kenapa inflasi menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan ketika menyusun tujuan keuangan. Bukan berarti kamu harus selalu mencari investasi dengan return paling tinggi.

Justru, yang penting adalah memahami hubungan antara potensi return, risiko, jangka waktu, dan kondisi ekonomi.

Cara Menghadapi Inflasi

Inflasi nggak bisa kamu kendalikan secara pribadi. Tapi, kamu bisa mengatur strategi keuangan supaya lebih siap menghadapi perubahan harga.

Pertama, buat anggaran yang realistis. Catat pengeluaran rutin dan kebutuhan utama. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui bagian mana yang paling terpengaruh ketika harga naik.

Kedua, siapkan dana darurat. Dana darurat membantu kamu menghadapi kebutuhan tidak terduga tanpa harus mengganggu investasi atau mengambil utang secara terburu-buru.

Ketiga, jangan hanya melihat nominal uang. Perhatikan juga daya beli. Uang Rp100 juta hari ini tentu memiliki daya beli yang berbeda dengan Rp100 juta beberapa tahun mendatang jika terjadi inflasi.

Keempat, pelajari berbagai instrumen investasi. Jangan memilih instrumen hanya karena sedang populer. Pahami karakteristiknya, risikonya, potensi imbal hasilnya, dan bagaimana instrumen tersebut bisa masuk ke tujuan keuangan kamu.

Kelima, lakukan diversifikasi sesuai profil risiko. Diversifikasi tidak berarti semua aset harus dimiliki sekaligus. Intinya adalah tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset saja tanpa mempertimbangkan risikonya.

Kesimpulan

Jadi, ada beberapa jenis inflasi yang perlu kamu kenali. Berdasarkan penyebabnya, ada demand pull inflation, cost push inflation, dan built-in inflation. Berdasarkan sumbernya, ada domestic inflation dan imported inflation.

Sementara berdasarkan tingkat keparahannya, inflasi dapat dibedakan menjadi inflasi ringan, sedang, berat, hingga hiperinflasi. Masing-masing punya karakteristik dan contoh yang berbeda.

Memahami macam-macam inflasi bukan cuma penting buat pelajaran ekonomi. Pengetahuan ini juga berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Terutama ketika kamu sedang menyusun anggaran, menabung, atau mempertimbangkan investasi. Karena pada akhirnya, yang perlu diperhatikan bukan cuma berapa banyak uang yang kamu punya.

Tapi juga seberapa besar daya beli uang tersebut dari waktu ke waktu.

Kalau kamu ingin belajar lebih banyak tentang aset digital dan cara kerjanya, kamu bisa menggunakan FLOQ sebagai salah satu sumber untuk mengenal dunia aset digital.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

FAQ Jenis Inflasi

Apa saja jenis inflasi?

Jenis inflasi dapat dibedakan berdasarkan beberapa kategori. Berdasarkan penyebabnya ada demand pull inflation, cost push inflation, dan built-in inflation. Berdasarkan sumbernya ada domestic inflation dan imported inflation. Berdasarkan tingkat keparahannya ada inflasi ringan, sedang, berat, dan hiperinflasi.

Apa contoh demand pull inflation?

Contohnya adalah ketika permintaan terhadap barang meningkat tajam, seperti menjelang Lebaran, sementara pasokan belum mampu mengimbanginya. Kondisi tersebut dapat mendorong harga barang dan jasa naik.

Apa contoh cost push inflation?

Contohnya adalah ketika harga bahan baku, energi, atau biaya transportasi meningkat. Produsen kemudian menghadapi biaya produksi yang lebih tinggi dan dapat menaikkan harga jual produknya.

Apa contoh built-in inflation?

Contohnya adalah ketika pekerja meminta kenaikan upah karena biaya hidup meningkat. Kenaikan upah kemudian meningkatkan biaya perusahaan sehingga harga barang ikut naik. Kenaikan harga tersebut dapat kembali mendorong tuntutan kenaikan upah.

Apa contoh domestic inflation?

Contohnya adalah ketika produksi suatu komoditas di dalam negeri menurun akibat gangguan cuaca. Jika pasokan berkurang sementara permintaan tetap tinggi, harga komoditas tersebut dapat meningkat.

Apa contoh imported inflation?

Contohnya adalah ketika harga bahan baku impor meningkat di pasar global atau rupiah melemah terhadap mata uang transaksi. Biaya bahan baku dalam rupiah menjadi lebih mahal dan dapat mendorong kenaikan harga produk di dalam negeri.

Apa contoh inflasi ringan?

Contohnya adalah kenaikan harga barang dan jasa secara bertahap dalam tingkat yang relatif rendah dan masih dapat diimbangi oleh pendapatan serta aktivitas ekonomi.

Apa contoh inflasi sedang?

Contohnya adalah ketika kenaikan harga mulai membuat rumah tangga harus mengurangi pengeluaran tertentu karena pendapatan tidak bertambah secepat kenaikan biaya hidup.

Apa contoh inflasi berat?

Contohnya adalah ketika harga berbagai kebutuhan meningkat sangat tinggi dalam waktu relatif singkat sehingga daya beli masyarakat tertekan dan bisnis kesulitan menjaga kestabilan biaya.

Apa contoh hiperinflasi?

Contoh historis yang sering dibahas adalah hiperinflasi Zimbabwe pada akhir 2000-an dan Jerman pada periode Weimar pada awal 1920-an. Dalam kondisi tersebut, harga meningkat sangat cepat dan nilai uang jatuh secara ekstrem.

Apa inflasi yang paling parah?

Hiperinflasi merupakan bentuk inflasi yang sangat ekstrem. Kenaikan harga berlangsung sangat tinggi dan cepat sehingga dapat mengganggu daya beli masyarakat serta fungsi uang dalam perekonomian.

Apakah inflasi selalu buruk?

Tidak selalu. Inflasi yang rendah dan terkendali dapat menjadi bagian dari dinamika ekonomi. Yang menjadi masalah adalah ketika inflasi terlalu tinggi, tidak terkendali, atau berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan pendapatan sehingga daya beli masyarakat tertekan.

Baca Juga: Apa Itu Rumus Inflasi? Pelajari Jenis dan Cara Kerjanya

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device