Apa Itu Inflasi? Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya

Finansial

07 Sep 2026

10 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pernah merasa uang Rp100 ribu sekarang terasa lebih cepat habis dibanding beberapa tahun lalu?

Dulu, uang tersebut mungkin cukup untuk membeli banyak kebutuhan. Sekarang, jumlah barang yang didapat bisa lebih sedikit. Salah satu penyebabnya adalah inflasi.

Inflasi sering dibahas ketika harga makanan naik, biaya transportasi meningkat, harga rumah makin mahal, atau biaya pendidikan bertambah. Namun, inflasi sebenarnya bukan sekadar soal harga yang naik. Ada proses ekonomi yang cukup panjang di baliknya.

Memahami apa itu inflasi penting untuk siapa saja. Bukan cuma ekonom atau investor. Kamu yang mengatur uang bulanan juga perlu memahaminya. Dengan memahami inflasi, kamu bisa lebih bijak mengatur pengeluaran, menabung, dan memilih instrumen investasi.

Lalu, sebenarnya apa itu inflasi? Apa penyebabnya? Apa saja jenis inflasi? Dan bagaimana cara kerjanya? Yuk, bahas satu per satu.

Apa Itu Inflasi?

Secara sederhana, inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu. Definisi ini juga digunakan oleh Bank Indonesia. Ada tiga hal penting dalam pengertian inflasi.

Pertama, terjadi kenaikan harga.

Kedua, kenaikan tersebut terjadi secara umum pada berbagai barang dan jasa.

Ketiga, kenaikan harga berlangsung secara terus-menerus, bukan hanya sesaat.

Jadi, kalau harga cabai naik hari ini, belum tentu itu berarti terjadi inflasi. Begitu juga ketika harga satu produk elektronik naik karena produk tersebut sedang populer. Kondisi tersebut belum bisa langsung disebut inflasi.

Inflasi baru menggambarkan kondisi ketika kenaikan harga terjadi secara lebih luas dan berkelanjutan. Salah satu dampak yang paling mudah dirasakan adalah menurunnya daya beli uang.

Ketika harga barang dan jasa naik, jumlah barang yang bisa dibeli dengan uang yang sama menjadi lebih sedikit.

Misalnya, kamu memiliki Rp100 ribu. Ketika harga kebutuhan meningkat, Rp100 ribu tersebut mungkin tidak lagi bisa membeli barang sebanyak sebelumnya.

Inilah alasan inflasi penting untuk diperhatikan dalam perencanaan keuangan.

Pengertian Inflasi dari Sisi Ekonomi

Dalam ilmu ekonomi, inflasi juga bisa dipahami sebagai penurunan nilai uang terhadap barang dan jasa secara umum.

BPS menjelaskan bahwa inflasi merupakan kecenderungan naiknya harga barang dan jasa pada umumnya secara terus-menerus. Perubahan Indeks Harga Konsumen atau IHK digunakan untuk melihat perkembangan harga tersebut.

Artinya, inflasi tidak berarti semua harga harus naik pada saat yang sama. Ada barang yang harganya naik. Ada yang tetap. Bahkan ada yang turun.

Namun, secara keseluruhan, tingkat harga menunjukkan kecenderungan meningkat. Karena itu, inflasi lebih tepat dipahami sebagai kenaikan tingkat harga secara umum, bukan sekadar kenaikan harga satu produk.

Contoh Inflasi dalam Kehidupan Sehari-hari

Supaya lebih mudah dipahami, bayangkan kamu punya uang Rp500 ribu untuk kebutuhan bulanan. Beberapa bulan lalu, uang tersebut cukup untuk membeli:

  • Beras
  • Minyak goreng
  • Telur
  • Sayuran
  • Transportasi
  • Kebutuhan rumah tangga lainnya

Kemudian harga berbagai kebutuhan tersebut naik. Beras naik. Telur naik. Biaya transportasi meningkat. Harga makanan di luar rumah juga ikut naik.

Akhirnya, Rp500 ribu yang sama tidak lagi cukup untuk membeli jumlah barang dan jasa seperti sebelumnya. Inilah salah satu gambaran sederhana dampak inflasi terhadap kehidupan sehari-hari.

Bagaimana Inflasi Diukur?

Di Indonesia, pengukuran inflasi dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS).

Salah satu indikator yang digunakan adalah Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK mengukur perubahan rata-rata harga dari sejumlah barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga. Bank Indonesia menjelaskan bahwa IHK mencakup berbagai kelompok pengeluaran masyarakat.

Kelompok tersebut antara lain:

  • Makanan, minuman, dan tembakau
  • Pakaian dan alas kaki
  • Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga
  • Perlengkapan rumah tangga
  • Kesehatan
  • Transportasi
  • Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan
  • Rekreasi, olahraga, dan budaya
  • Pendidikan
  • Restoran
  • Perawatan pribadi dan jasa lainnya

Perubahan IHK dari waktu ke waktu kemudian digunakan untuk melihat tingkat inflasi atau deflasi.

Dengan metode ini, perubahan harga tidak hanya dilihat dari satu barang. Perubahannya dilihat dari kumpulan barang dan jasa yang mencerminkan pola konsumsi masyarakat.

Jenis Inflasi Berdasarkan Penyebabnya

Setelah memahami apa itu inflasi, sekarang kita masuk ke jenis-jenisnya. Secara umum, inflasi bisa dibedakan berdasarkan penyebabnya.

1. Demand Pull Inflation

Demand pull inflation terjadi ketika permintaan terhadap barang dan jasa meningkat lebih cepat dibandingkan kemampuan produksi atau pasokan.

Sederhananya, terlalu banyak orang ingin membeli barang yang jumlahnya terbatas. Contohnya bisa terjadi ketika daya beli masyarakat meningkat secara signifikan.

Masyarakat lebih banyak berbelanja. Bisnis mendapatkan lebih banyak pesanan. Namun, produksi belum mampu mengikuti kenaikan permintaan. Akibatnya, harga terdorong naik. Jadi, mekanismenya kurang lebih seperti ini:

Permintaan naik → pasokan tidak mencukupi → harga naik → inflasi.

2. Cost Push Inflation

Jenis berikutnya adalah cost push inflation. Inflasi ini terjadi ketika biaya produksi meningkat. Misalnya, harga bahan baku naik. Biaya energi meningkat. Upah tenaga kerja naik. Atau nilai tukar melemah sehingga biaya barang impor menjadi lebih mahal.

Ketika biaya produksi meningkat, perusahaan dapat menaikkan harga jual untuk menjaga margin. Kalau kenaikan tersebut terjadi secara luas, tekanan harga dapat mendorong inflasi.

Bank Indonesia juga mengidentifikasi tekanan dari sisi penawaran sebagai salah satu sumber inflasi. Faktor seperti depresiasi nilai tukar, kenaikan harga komoditas global, dan gangguan pasokan dapat meningkatkan tekanan harga.

3. Built-in Inflation

Ada juga yang disebut built-in inflation. Jenis ini berkaitan dengan ekspektasi masyarakat terhadap kenaikan harga.

Misalnya, pekerja memperkirakan biaya hidup akan meningkat. Mereka kemudian meminta kenaikan upah. Perusahaan menghadapi biaya tenaga kerja yang lebih tinggi. Perusahaan menaikkan harga produk.

Harga yang lebih tinggi kemudian mendorong pekerja kembali meminta kenaikan upah. Terbentuklah sebuah siklus. Ekspektasi kenaikan harga akhirnya bisa ikut mendorong kenaikan harga.

Bank Indonesia juga memasukkan ekspektasi inflasi sebagai salah satu faktor yang memengaruhi inflasi inti.

Jenis Inflasi Berdasarkan Komponennya

Selain berdasarkan penyebab, inflasi di Indonesia juga sering dibahas berdasarkan komponennya.

Inflasi Inti

Inflasi inti merupakan komponen inflasi yang cenderung lebih stabil dan dipengaruhi faktor fundamental ekonomi.

Beberapa faktor yang memengaruhinya antara lain interaksi permintaan dan penawaran, nilai tukar, harga komoditas internasional, serta ekspektasi inflasi.

Karena cenderung lebih persisten, inflasi inti sering menjadi salah satu indikator penting dalam melihat tekanan harga yang mendasar.

Inflasi Volatile Food

Volatile food adalah komponen inflasi yang berkaitan dengan harga pangan yang cenderung mudah berubah.

Harga beras, cabai, bawang, telur, dan komoditas pangan lainnya bisa dipengaruhi oleh banyak faktor.

Misalnya:

  • Cuaca
  • Musim panen
  • Gangguan distribusi
  • Produksi
  • Permintaan
  • Harga komoditas global

Karena faktor tersebut dapat berubah dengan cepat, harga pangan juga bisa bergerak cukup fluktuatif.

Administered Prices

Administered prices merupakan komponen harga yang banyak dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah.

Contohnya dapat mencakup harga BBM tertentu, tarif listrik, atau tarif transportasi yang diatur pemerintah.

Ketika harga yang diatur tersebut berubah, dampaknya dapat terasa langsung maupun tidak langsung terhadap harga barang dan jasa lainnya.

Bagaimana Cara Kerja Inflasi?

Sekarang kita masuk ke bagian yang sering bikin bingung.

Bagaimana cara kerja inflasi?

Sebenarnya, mekanismenya bisa dijelaskan dengan cukup sederhana. Bayangkan permintaan masyarakat meningkat. Orang-orang mulai membeli lebih banyak barang.

Sementara itu, jumlah barang yang tersedia belum bertambah dengan kecepatan yang sama. Produsen kemudian melihat permintaan yang tinggi. Harga mulai dinaikkan.

Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku juga dapat membuat biaya produksi meningkat. Produsen kembali menyesuaikan harga. Jika kondisi ini terjadi secara luas, tingkat harga secara keseluruhan ikut meningkat.

Inilah salah satu mekanisme terbentuknya inflasi. Secara sederhana:

Permintaan atau biaya produksi meningkat → harga barang dan jasa naik → tingkat harga umum meningkat → inflasi.

Namun, inflasi tidak selalu hanya berasal dari satu faktor.

Dalam kondisi tertentu, permintaan, biaya produksi, nilai tukar, harga komoditas global, ekspektasi masyarakat, dan kebijakan pemerintah dapat saling berinteraksi.

Karena itu, penyebab inflasi perlu dilihat berdasarkan konteks ekonominya.

Apa Dampak Inflasi bagi Masyarakat?

Inflasi bisa memberikan dampak yang berbeda tergantung tingkat dan kestabilannya.

Inflasi yang rendah dan stabil tidak selalu buruk. Dalam perekonomian yang sehat, inflasi yang terkendali dapat berjalan bersama dengan aktivitas ekonomi yang tumbuh. Masalah muncul ketika inflasi terlalu tinggi atau tidak stabil.

1. Daya Beli Menurun

Ini adalah dampak yang paling mudah dirasakan. Harga naik. Pendapatan belum tentu naik dengan kecepatan yang sama. Akibatnya, kemampuan membeli barang dan jasa menjadi berkurang.

2. Biaya Hidup Meningkat

Kebutuhan sehari-hari menjadi lebih mahal. Mulai dari makanan, transportasi, tempat tinggal, hingga pendidikan. Jika kenaikan pendapatan lebih rendah daripada inflasi, beban pengeluaran bisa semakin terasa.

3. Nilai Tabungan Bisa Tergerus

Ini bagian yang penting untuk dipahami. Misalnya kamu menyimpan uang dalam jumlah tertentu selama bertahun-tahun.

Secara nominal, jumlah uangnya memang tetap. Namun, kemampuan uang tersebut untuk membeli barang dan jasa dapat menurun jika harga terus meningkat.

Karena itu, dalam perencanaan keuangan jangka panjang, bukan hanya jumlah uang yang perlu diperhatikan. Daya beli uang juga perlu diperhitungkan.

4. Perencanaan Keuangan Menjadi Lebih Sulit

Inflasi yang tinggi dan tidak stabil dapat membuat masyarakat dan bisnis lebih sulit memperkirakan biaya di masa depan.

Harga bahan baku bisa berubah. Biaya operasional bisa meningkat. Kebutuhan rumah tangga juga dapat berubah. Hal tersebut dapat memengaruhi keputusan konsumsi, tabungan, maupun investasi.

Apakah Inflasi Selalu Buruk?

Jawabannya: tidak selalu.

Inflasi merupakan bagian dari dinamika ekonomi. Yang menjadi perhatian adalah tingkat dan kestabilannya. Inflasi yang terlalu tinggi dapat menekan daya beli dan menciptakan ketidakpastian.

Sebaliknya, inflasi yang rendah dan stabil lebih mudah dikelola oleh masyarakat, pelaku usaha, maupun pemerintah.

Bank Indonesia bersama pemerintah memiliki sasaran inflasi untuk menjaga stabilitas harga. Untuk periode 2025-2027, sasaran inflasi yang ditetapkan adalah 2,5% dengan deviasi 1%.

Artinya, stabilitas harga menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga kondisi ekonomi.

Inflasi dan Suku Bunga: Apa Hubungannya?

Inflasi juga berkaitan erat dengan kebijakan moneter. Ketika inflasi meningkat terlalu tinggi, bank sentral dapat menggunakan kebijakan moneter untuk membantu mengendalikan tekanan tersebut.

Salah satu instrumen yang paling sering dibahas adalah suku bunga. Secara sederhana, ketika suku bunga meningkat, biaya pinjaman bisa menjadi lebih mahal.

Masyarakat dan perusahaan dapat mengurangi pinjaman atau menunda sebagian konsumsi dan investasi. Permintaan kemudian bisa melambat. Tujuannya adalah membantu menurunkan tekanan terhadap harga.

Namun, hubungan antara suku bunga dan inflasi tidak sesederhana satu tombol. Dampaknya membutuhkan waktu. Selain itu, inflasi juga bisa berasal dari sisi pasokan yang tidak otomatis selesai hanya dengan menaikkan suku bunga.

Karena itu, pengendalian inflasi membutuhkan kombinasi kebijakan dan koordinasi.

Apa Bedanya Inflasi dan Deflasi?

Kalau inflasi berarti kenaikan tingkat harga secara umum dan terus-menerus, maka deflasi adalah kondisi ketika tingkat harga secara umum mengalami penurunan.

Namun, bukan berarti harga satu atau dua barang turun lalu langsung disebut deflasi. Konsepnya sama seperti inflasi. Perubahan harus dilihat secara lebih luas.

Deflasi juga tidak selalu berarti kondisi ekonomi yang bagus. Jika harga turun karena permintaan masyarakat melemah secara signifikan, perusahaan bisa mengalami penurunan pendapatan.

Produksi dapat dikurangi. Investasi bisa tertahan. Bahkan lapangan kerja dapat terdampak. Karena itu, ekonomi membutuhkan stabilitas harga, bukan sekadar harga yang selalu turun.

Bagaimana Inflasi Memengaruhi Investasi?

Inflasi juga perlu diperhatikan oleh investor. Alasannya sederhana. Investor tidak hanya mengejar pertumbuhan nominal. Yang lebih penting adalah pertumbuhan nilai investasi setelah memperhitungkan inflasi.

Misalnya, sebuah aset memberikan imbal hasil 5% dalam setahun. Jika inflasi pada periode yang sama mencapai 4%, pertumbuhan daya beli secara riil tentu lebih kecil daripada angka 5% tersebut.

Inilah mengapa investor perlu memahami perbedaan antara return nominal dan return riil. Semakin panjang horizon investasi, semakin penting pula mempertimbangkan dampak inflasi.

Bukan berarti semua orang harus memilih aset tertentu ketika inflasi meningkat. Setiap instrumen memiliki risiko dan karakteristik yang berbeda. Yang penting adalah memahami tujuan keuangan, profil risiko, dan jangka waktu investasi sebelum mengambil keputusan.

Cara Menghadapi Inflasi dalam Keuangan Pribadi

Inflasi memang tidak bisa dikendalikan secara pribadi. Namun, dampaknya terhadap keuangan bisa dikelola.

1. Buat Anggaran Secara Rutin

Catat pemasukan dan pengeluaran. Lihat pos mana yang paling banyak menyerap uang. Dengan begitu, kamu bisa mengetahui ketika biaya hidup mulai meningkat.

2. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat membantu menghadapi pengeluaran tak terduga. Jumlahnya sebaiknya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing. Jangan sampai seluruh uang ditempatkan pada aset yang sulit dicairkan ketika membutuhkan dana cepat.

3. Jangan Hanya Menyimpan Uang Tanpa Perencanaan

Menyimpan uang tetap penting. Namun, untuk tujuan jangka panjang, pertimbangkan juga dampak inflasi terhadap daya beli.

Karena itu, strategi keuangan perlu dibagi berdasarkan tujuan. Dana untuk kebutuhan jangka pendek tentu memiliki pendekatan berbeda dengan dana untuk tujuan jangka panjang.

4. Pelajari Berbagai Instrumen Investasi

Setiap instrumen memiliki tingkat risiko dan potensi hasil yang berbeda. Ada deposito. Ada obligasi. Ada reksa dana. Ada saham. Ada juga aset digital.

Jangan memilih hanya karena sedang populer. Pelajari cara kerja, risiko, biaya, dan tujuan penggunaannya.

5. Evaluasi Keuangan Secara Berkala

Kondisi ekonomi bisa berubah. Pengeluaran juga berubah. Pendapatan bisa berubah. Karena itu, rencana keuangan sebaiknya dievaluasi secara berkala. Dengan begitu, strategi yang digunakan tetap relevan dengan kondisi terbaru.

Contoh Sederhana Dampak Inflasi

Bayangkan kamu membutuhkan Rp1 juta untuk membeli kebutuhan tertentu hari ini.

Jika harga rata-rata kebutuhan tersebut meningkat 5% dalam satu tahun, kebutuhan yang sama secara sederhana bisa membutuhkan sekitar Rp1,05 juta.

Kalau uang yang kamu siapkan tetap Rp1 juta, ada selisih Rp50 ribu. Ini memang contoh sederhana. Dalam kehidupan nyata, setiap barang memiliki perubahan harga yang berbeda.

Namun, contoh tersebut menunjukkan satu hal penting: Jumlah uang yang sama belum tentu memiliki daya beli yang sama di masa depan.

Itulah alasan inflasi perlu diperhitungkan dalam perencanaan keuangan jangka panjang.

Kenapa Kamu Perlu Paham Apa Itu Inflasi?

Memahami apa itu inflasi bukan sekadar untuk menjawab pertanyaan ujian ekonomi.

Inflasi berkaitan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Ketika harga makanan naik, kamu merasakannya. Ketika biaya transportasi meningkat, kamu merasakannya. Ketika biaya pendidikan dan kesehatan bertambah, kamu juga merasakannya.

Inflasi juga memengaruhi bagaimana kamu menyusun anggaran, menabung, dan berinvestasi. Dengan memahami pengertian inflasi, jenis inflasi, penyebab inflasi, dan cara kerja inflasi, kamu bisa membuat keputusan keuangan dengan lebih sadar.

Kamu tidak lagi hanya melihat nominal uang. Kamu juga mulai melihat daya beli dan nilai uang dari waktu ke waktu.

FAQ: Pertanyaan Seputar Inflasi

Apa itu inflasi?

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu. Inflasi membuat daya beli uang cenderung menurun karena barang dan jasa menjadi lebih mahal.

Apa penyebab utama inflasi?

Inflasi dapat disebabkan oleh peningkatan permintaan, kenaikan biaya produksi, gangguan pasokan, perubahan nilai tukar, harga komoditas global, ekspektasi inflasi, serta kebijakan harga pemerintah.

Apa saja jenis inflasi?

Berdasarkan penyebabnya, inflasi dapat dibedakan menjadi demand pull inflation, cost push inflation, dan built-in inflation. Inflasi juga dapat dilihat berdasarkan komponennya, seperti inflasi inti, volatile food, dan administered prices.

Bagaimana cara mengukur inflasi?

Di Indonesia, inflasi dihitung oleh BPS menggunakan indikator seperti Indeks Harga Konsumen atau IHK. IHK mengukur perubahan harga dari berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga.

Apakah inflasi selalu buruk?

Tidak. Inflasi yang rendah dan stabil merupakan bagian dari kondisi ekonomi yang sehat. Yang perlu diwaspadai adalah inflasi yang terlalu tinggi atau tidak stabil karena dapat mengurangi daya beli dan meningkatkan ketidakpastian ekonomi.

Apa perbedaan inflasi dan deflasi?

Inflasi merupakan kenaikan tingkat harga secara umum dan terus-menerus. Sementara itu, deflasi merupakan kondisi ketika tingkat harga secara umum mengalami penurunan.

Apa dampak inflasi terhadap investasi?

Inflasi dapat mengurangi nilai riil atau daya beli dari hasil investasi. Karena itu, investor perlu mempertimbangkan return setelah memperhitungkan inflasi, bukan hanya melihat keuntungan secara nominal.

Bagaimana cara menghadapi inflasi?

Kamu bisa menghadapinya dengan mengatur anggaran, menyiapkan dana darurat, mengevaluasi pengeluaran, meningkatkan kemampuan menghasilkan pendapatan, dan mempelajari instrumen investasi sesuai tujuan serta profil risiko.

Kesimpulan

Jadi, apa itu inflasi?

Inflasi adalah kondisi ketika harga barang dan jasa secara umum meningkat secara terus-menerus dalam periode tertentu.

Dampaknya tidak hanya terlihat dari harga yang semakin mahal. Inflasi juga berhubungan dengan daya beli uang, biaya hidup, tabungan, investasi, hingga kebijakan ekonomi. Ada banyak penyebab inflasi.

Mulai dari permintaan yang meningkat, biaya produksi yang naik, gangguan pasokan, perubahan nilai tukar, sampai ekspektasi masyarakat. Karena itu, memahami inflasi penting untuk siapa saja.

Bukan supaya kamu bisa menebak harga besok. Tetapi supaya kamu bisa membuat keputusan keuangan yang lebih masuk akal untuk hari ini dan masa depan.

Mulai pahami kondisi ekonomi, kelola keuangan dengan lebih bijak, dan jangan berhenti belajar tentang investasi.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ adalah aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Emas dan Bitcoin: Dua Sahabat Ajaib dalam Menghadapi Inflasi dan Resesi

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device