Pernah merasa harga kebutuhan sehari-hari makin mahal, padahal penghasilan nggak banyak berubah?
Harga makanan naik. Ongkos transportasi ikut berubah. Biaya pendidikan, sewa rumah, sampai kebutuhan rumah tangga juga bisa meningkat. Fenomena seperti ini berkaitan erat dengan inflasi. Tapi, sebenarnya bagaimana cara menghitung inflasi?
Jawabannya ada pada rumus inflasi yang menggunakan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK). Di Indonesia, data inflasi dihitung dan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS). IHK digunakan untuk mengukur rata-rata perubahan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Nah, buat kamu yang masih bingung dengan istilah inflasi, IHK, inflasi bulanan, atau inflasi tahunan, artikel ini akan membahasnya dari dasar sampai cara menghitungnya.
Apa Itu Inflasi?
Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu.
Jadi, kalau harga satu barang naik, belum tentu itu disebut inflasi. Misalnya, harga cabai naik cukup tinggi karena pasokan berkurang. Kondisi tersebut belum otomatis berarti seluruh perekonomian sedang mengalami inflasi.
Inflasi terjadi ketika kenaikan harga berlangsung secara lebih luas. Bank Indonesia juga menjelaskan bahwa kenaikan harga satu atau dua barang saja tidak dapat disebut inflasi, kecuali kenaikan tersebut meluas atau berdampak pada kenaikan harga barang lainnya.
Inflasi penting diperhatikan karena memengaruhi daya beli.
Sederhananya, ketika harga-harga naik sementara pendapatan tidak meningkat dengan tingkat yang sama, uang yang kamu punya bisa membeli lebih sedikit barang dan jasa.
Contohnya begini: Tahun ini Rp100.000 mungkin cukup untuk membeli beberapa kebutuhan harian. Kalau harga-harga naik, nominal Rp100.000 yang sama bisa saja hanya cukup untuk membeli lebih sedikit barang.
Itulah salah satu alasan kenapa inflasi penting dalam perencanaan keuangan.
Apa Itu Rumus Inflasi?
Secara sederhana, rumus inflasi adalah persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) antara dua periode.
Rumus dasarnya: Inflasi = [(IHK periode berjalan - IHK periode sebelumnya) / IHK periode sebelumnya] × 100%
Rumus ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar perubahan tingkat harga berdasarkan IHK. BPS juga mendefinisikan inflasi sebagai persentase perubahan IHK.
Keterangan:
- IHK periode berjalan = nilai IHK pada periode yang sedang dihitung.
- IHK periode sebelumnya = nilai IHK pada periode pembanding.
- Hasil akhirnya dinyatakan dalam persen.
Misalnya, IHK bulan sebelumnya adalah 105 dan IHK bulan ini menjadi 106. Maka:
Inflasi = [(106 - 105) / 105] × 100%
Inflasi = 0,95%
Artinya, terjadi kenaikan tingkat harga sekitar 0,95% dibandingkan periode sebelumnya.
Cara Menghitung Rumus Inflasi Bulanan
Salah satu ukuran inflasi yang sering digunakan adalah month to month (mtm) atau inflasi bulanan.
Caranya cukup sederhana. Kamu membandingkan IHK bulan berjalan dengan IHK bulan sebelumnya. Contoh:
IHK Agustus = 110
IHK September = 111,1
Maka: Inflasi September = [(111,1 - 110) / 110] × 100%
Hasilnya: 1%
Artinya, tingkat harga berdasarkan IHK mengalami kenaikan sekitar 1% dari Agustus ke September.
Ukuran bulanan ini berguna untuk melihat perubahan harga dalam jangka pendek. Misalnya, ketika harga pangan meningkat menjelang hari raya atau harga energi mengalami perubahan, dampaknya bisa terlihat dalam angka inflasi bulanan.
Rumus Inflasi Tahunan atau Year on Year
Selain inflasi bulanan, ada juga year on year (yoy). Inflasi yoy membandingkan IHK pada suatu bulan dengan IHK pada bulan yang sama pada tahun sebelumnya. Rumusnya:
Inflasi yoy = [(IHK bulan ini - IHK bulan yang sama tahun lalu) / IHK bulan yang sama tahun lalu] × 100%
Contoh:
IHK September 2025 = 105
IHK September 2026 = 108,15
Maka: Inflasi yoy = [(108,15 - 105) / 105] × 100%
Hasilnya: 3%
Artinya, tingkat harga pada September 2026 sekitar 3% lebih tinggi dibandingkan September 2025.
Menurut BPS, inflasi tahunan atau yoy dihitung dengan membandingkan IHK bulan berjalan dengan IHK pada bulan yang sama tahun sebelumnya.
Ukuran ini sering digunakan ketika orang ingin melihat perkembangan inflasi dalam perspektif satu tahun.
Rumus Inflasi Tahun Kalender atau Year to Date
Ada satu ukuran lagi yang juga penting, yaitu inflasi year to date (ytd) atau tahun kalender.
Pengukurannya membandingkan IHK bulan berjalan dengan IHK Desember tahun sebelumnya. Rumus sederhananya:
Inflasi ytd = [(IHK bulan berjalan - IHK Desember tahun sebelumnya) / IHK Desember tahun sebelumnya] × 100%
Misalnya:
IHK Desember 2025 = 105
IHK September 2026 = 107,1
Maka: Inflasi ytd = [(107,1 - 105) / 105] × 100%
Hasilnya: 2%
Artinya, terjadi kenaikan tingkat harga sekitar 2% sejak akhir 2025 sampai September 2026. Jadi, jangan sampai tertukar antara mtm, yoy, dan ytd.
mtm melihat perubahan dari bulan ke bulan.
yoy melihat perubahan dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.
ytd melihat perubahan sejak Desember tahun sebelumnya.
Bagaimana IHK Dihitung?
Nah, di bagian ini rumusnya memang sedikit lebih kompleks.
IHK bukan sekadar mengambil harga satu barang lalu membandingkannya dengan bulan sebelumnya. BPS menggunakan kumpulan barang dan jasa yang mewakili pola konsumsi masyarakat.
Secara umum, IHK dihitung menggunakan formula Laspeyres yang dimodifikasi (Modified Laspeyres). Data konsumsi dasar menjadi salah satu komponen dalam penghitungan indeks.
Secara sederhana, konsepnya membandingkan perubahan harga berbagai barang dan jasa dengan mempertimbangkan bobot konsumsinya. Rumus IHK yang digunakan BPS dapat dituliskan secara sederhana sebagai:
IHK = [Σ(Pt × Q0) / Σ(P0 × Q0)] × 100
Keterangan:
- Pt = harga barang pada periode berjalan.
- P0 = harga barang pada periode dasar.
- Q0 = kuantitas atau bobot konsumsi pada periode dasar.
- Σ = penjumlahan seluruh komoditas yang masuk dalam perhitungan.
Dalam praktik statistik, formula yang digunakan BPS merupakan bentuk modifikasi Laspeyres yang lebih kompleks untuk menghitung IHK.
Jadi, ketika kamu melihat angka inflasi yang dirilis BPS, angka tersebut bukan berasal dari perubahan harga satu produk saja. Ada banyak komponen yang dihitung dan diberi bobot sesuai struktur konsumsi.
Apa Saja yang Masuk dalam Perhitungan Inflasi?
Harga yang digunakan untuk menghitung IHK berasal dari berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.
Bank Indonesia menjelaskan bahwa IHK dikelompokkan berdasarkan klasifikasi konsumsi masyarakat. Saat ini terdapat 11 kelompok pengeluaran dalam IHK berdasarkan COICOP 2018. Di antaranya:
- Makanan, minuman, dan tembakau.
- Pakaian dan alas kaki.
- Perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga.
- Perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga.
- Kesehatan.
- Transportasi.
- Informasi, komunikasi, dan jasa keuangan.
- Rekreasi, olahraga, dan budaya.
- Pendidikan.
- Penyediaan makanan dan minuman atau restoran.
- Perawatan pribadi dan jasa lainnya.
Karena komponen yang digunakan cukup banyak, angka inflasi nasional bisa berbeda dengan pengalaman setiap orang.
Misalnya, seseorang yang sebagian besar pengeluarannya untuk transportasi bisa merasakan perubahan biaya hidup yang berbeda dengan seseorang yang lebih banyak mengeluarkan uang untuk makanan.
Jenis Inflasi Berdasarkan Komponennya
Selain melihat periode perhitungannya, inflasi juga bisa dibedakan berdasarkan komponennya.
1. Inflasi Umum
Ini adalah angka inflasi yang menggambarkan perubahan harga secara keseluruhan berdasarkan IHK. Angka ini biasanya menjadi angka inflasi yang paling sering diberitakan.
2. Inflasi Inti
Inflasi inti atau core inflation mencoba melihat perkembangan harga dengan mengecualikan komponen yang biasanya sangat berfluktuasi, seperti volatile food, serta komponen yang harganya banyak dipengaruhi kebijakan pemerintah atau administered prices.
Inflasi inti bisa membantu melihat tekanan harga yang lebih mendasar dalam perekonomian.
3. Inflasi Volatile Food
Volatile food berkaitan dengan kelompok makanan yang harganya relatif mudah berubah. Contohnya bisa terjadi pada komoditas pangan tertentu yang dipengaruhi musim, cuaca, produksi, atau distribusi. Ketika pasokan berkurang, harga dapat meningkat cukup cepat.
4. Administered Prices
Administered prices berkaitan dengan barang dan jasa yang harganya dipengaruhi atau ditetapkan oleh pemerintah. Perubahan harga pada kelompok ini juga dapat memberikan kontribusi terhadap inflasi.
Apa Penyebab Inflasi?
Inflasi bisa terjadi karena berbagai faktor. Salah satunya adalah demand pull inflation, yaitu inflasi yang muncul ketika permintaan meningkat sementara kemampuan pasokan tidak cukup mengimbanginya.
Ada juga cost push inflation. Kondisi ini terjadi ketika biaya produksi meningkat. Misalnya karena harga bahan baku, energi, atau biaya impor meningkat.
Perubahan nilai tukar juga bisa memberikan tekanan. Ketika mata uang domestik melemah, barang dan bahan baku impor dapat menjadi lebih mahal.
Selain itu, gangguan pasokan seperti bencana alam atau masalah distribusi juga bisa mendorong kenaikan harga. Bank Indonesia mengidentifikasi berbagai faktor dari sisi permintaan dan penawaran yang dapat memengaruhi inflasi.
Jadi, penyebab inflasi nggak selalu sama. Kadang berasal dari permintaan. Kadang dari biaya produksi. Kadang juga berasal dari kondisi global atau gangguan pasokan.
Apa Dampak Inflasi bagi Keuangan Pribadi?
Inflasi bukan cuma angka dalam laporan ekonomi. Dampaknya bisa terasa langsung dalam kehidupan sehari-hari. Ketika inflasi meningkat, biaya untuk memenuhi kebutuhan dapat ikut naik.
Misalnya, kamu biasa mengeluarkan Rp5 juta per bulan untuk berbagai kebutuhan. Kalau biaya hidup meningkat, anggaran yang sama mungkin nggak lagi cukup untuk mendapatkan jumlah barang dan jasa yang sama.
Karena itu, inflasi perlu dipertimbangkan saat membuat rencana keuangan. Misalnya saat menentukan:
- target dana darurat,
- target tabungan,
- rencana pendidikan,
- kebutuhan pensiun,
- target investasi,
- atau rencana membeli rumah.
Salah satu konsep yang penting dipahami adalah return riil. Return nominal mungkin terlihat tinggi. Tapi kalau inflasi juga tinggi, pertumbuhan nilai uang secara riil bisa jauh lebih kecil.
Contohnya, investasi memberikan return 7% dalam setahun sementara inflasi berada di sekitar 3%. Secara sederhana, daya beli hasil investasi tersebut tumbuh sekitar 4% sebelum memperhitungkan faktor lain seperti pajak dan biaya. Karena itu, melihat return saja belum cukup. Kamu juga perlu melihat inflasi.
Kenapa Penting Memahami Rumus Inflasi?
Memahami rumus inflasi membantu kamu membaca data ekonomi dengan lebih kritis.
Ketika muncul berita “inflasi 3%”, kamu jadi tahu bahwa angka tersebut merupakan hasil pengukuran perubahan IHK, bukan berarti semua harga barang naik tepat 3%.
Begitu juga ketika inflasi bulanan mencapai angka tertentu. Artinya bukan setiap produk mengalami kenaikan dengan persentase yang sama.
Ada barang yang harganya naik. Ada yang tetap. Ada juga yang turun. Semua perubahan tersebut kemudian tercermin dalam perhitungan indeks dengan bobot masing-masing. Pemahaman ini penting supaya kamu nggak salah mengartikan angka inflasi.
Contoh Sederhana Menghitung Inflasi
Biar makin gampang, kita pakai contoh sederhana.
Misalnya:
IHK Januari = 100
IHK Februari = 102
Maka:
Inflasi Februari = [(102 - 100) / 100] × 100%
Inflasi Februari = 2%
Artinya, tingkat harga yang diukur melalui IHK mengalami kenaikan 2% dibandingkan Januari. Sekarang coba contoh tahunan.
IHK Februari 2025 = 100
IHK Februari 2026 = 103
Maka:
Inflasi yoy = [(103 - 100) / 100] × 100%
Inflasi yoy = 3%
Simpel, kan? Yang perlu kamu ingat adalah menentukan dulu periode pembandingnya.
Kalau dibandingkan bulan sebelumnya, itu mtm. Kalau dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya, itu yoy. Kalau dibandingkan Desember tahun sebelumnya, itu ytd.
FAQ Rumus Inflasi
Apa rumus inflasi yang paling umum?
Rumus yang paling sederhana adalah:
Inflasi = [(IHK periode berjalan - IHK periode sebelumnya) / IHK periode sebelumnya] × 100%
Rumus ini digunakan untuk menghitung persentase perubahan IHK antara dua periode.
Apa rumus inflasi yoy?
Rumus inflasi yoy adalah:
[(IHK bulan berjalan - IHK bulan yang sama tahun sebelumnya) / IHK bulan yang sama tahun sebelumnya] × 100%
Perhitungan ini menunjukkan perubahan harga dalam periode satu tahun.
Apa rumus inflasi mtm?
Rumus inflasi mtm adalah:
[(IHK bulan berjalan - IHK bulan sebelumnya) / IHK bulan sebelumnya] × 100%
Ukuran ini digunakan untuk melihat perubahan harga dari satu bulan ke bulan berikutnya.
Apa rumus inflasi ytd?
Rumus inflasi ytd adalah:
[(IHK bulan berjalan - IHK Desember tahun sebelumnya) / IHK Desember tahun sebelumnya] × 100%
Perhitungan ini menunjukkan perubahan harga sejak akhir tahun sebelumnya sampai periode berjalan.
Apakah semua harga barang naik saat terjadi inflasi?
Nggak selalu. Inflasi merupakan ukuran perubahan harga secara umum. Dalam periode yang sama, beberapa barang bisa mengalami kenaikan harga, sementara barang lain tetap atau bahkan turun.
Siapa yang menghitung inflasi di Indonesia?
Badan Pusat Statistik atau BPS menghitung dan merilis data inflasi Indonesia. IHK menjadi salah satu indikator utama yang digunakan untuk mengukur inflasi.
Apa bedanya inflasi dan deflasi?
Inflasi menunjukkan kenaikan tingkat harga secara umum. Sebaliknya, deflasi menunjukkan penurunan tingkat harga secara umum dibandingkan periode pembanding.
Kesimpulan
Rumus inflasi sebenarnya nggak serumit yang dibayangkan. Intinya, inflasi dihitung dari persentase perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK).
Rumus sederhananya: Inflasi = [(IHK sekarang - IHK sebelumnya) / IHK sebelumnya] × 100%
Namun, periode pembandingnya perlu diperhatikan. Ada mtm untuk membandingkan bulan ke bulan, yoy untuk membandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya, dan ytd untuk membandingkan dengan Desember tahun sebelumnya.
Di balik angka tersebut, BPS menggunakan perhitungan IHK dengan formula Laspeyres yang dimodifikasi dan mempertimbangkan berbagai komoditas serta bobot konsumsi.
Dengan memahami cara kerja rumus inflasi, kamu bisa lebih mudah membaca berita ekonomi dan mempertimbangkan dampaknya terhadap tabungan, investasi, maupun rencana keuangan.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Baca Juga: Pelajari Penyebab Inflasi dan Cara Menyikapinya







