Perbedaan Saham dan Obligasi: Kenali Sebelum Mulai Investasi

Finansial

11 Sep 2026

7 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Kalau kamu mulai belajar investasi, dua instrumen yang cukup sering muncul adalah saham dan obligasi. Keduanya sama-sama bisa digunakan untuk mengembangkan dana. Tapi, cara kerja dan karakter keduanya cukup berbeda.

Saham membuat kamu punya bagian kepemilikan dalam sebuah perusahaan. Sementara obligasi pada dasarnya merupakan surat utang yang diterbitkan oleh perusahaan atau pemerintah.

Nah, di sinilah pentingnya memahami perbedaan saham dan obligasi sebelum memasukkan uang ke salah satunya.

Bukan soal mana yang paling bagus. Yang lebih penting adalah mana yang sesuai dengan tujuan investasi, jangka waktu, dan kemampuan kamu menghadapi risiko.

Apa Itu Saham?

Saham adalah bukti kepemilikan seseorang atau pihak terhadap suatu perusahaan. Saat membeli saham sebuah perusahaan, kamu memiliki sebagian kecil dari perusahaan tersebut.

Misalnya, kamu membeli saham perusahaan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia. Artinya, kamu ikut memiliki bagian dari perusahaan tersebut sesuai dengan jumlah saham yang kamu punya. Keuntungan dari saham umumnya bisa berasal dari dua sumber.

Pertama, capital gain. Ini terjadi ketika kamu membeli saham pada harga tertentu, kemudian menjualnya dengan harga yang lebih tinggi.

Misalnya kamu membeli saham seharga Rp2.000 per lembar. Beberapa waktu kemudian harganya naik menjadi Rp2.500. Selisih Rp500 tersebut merupakan potensi keuntungan sebelum memperhitungkan biaya transaksi dan pajak yang berlaku.

Kedua, dividen. Dividen adalah pembagian keuntungan perusahaan kepada pemegang saham apabila perusahaan memutuskan untuk membagikannya.

Namun, saham juga punya risiko. Harga saham bisa naik dan turun mengikuti kondisi perusahaan, industri, ekonomi, sentimen pasar, hingga berbagai faktor lainnya.

Jadi, potensi keuntungan saham bisa menarik, tetapi pergerakan harganya juga bisa cukup besar.

Apa Itu Obligasi?

Kalau saham membuat kamu menjadi salah satu pemilik perusahaan, obligasi punya konsep yang berbeda.

Obligasi adalah surat utang. Ketika membeli obligasi, kamu pada dasarnya memberikan dana kepada penerbit obligasi. Sebagai gantinya, penerbit memiliki kewajiban untuk membayar imbal hasil sesuai ketentuan serta mengembalikan nilai pokok ketika jatuh tempo, dengan mengikuti syarat obligasi tersebut.

Penerbit obligasi bisa berupa pemerintah maupun perusahaan. Untuk obligasi pemerintah, misalnya, pemerintah menerbitkan surat utang untuk mendapatkan pembiayaan. Investor yang membeli surat utang tersebut kemudian memperoleh pembayaran imbal hasil sesuai ketentuan instrumen yang dibeli.

Sementara itu, obligasi korporasi diterbitkan oleh perusahaan untuk mendapatkan pendanaan. Salah satu hal yang biasanya menjadi perhatian investor obligasi adalah kupon.

Kupon merupakan pembayaran imbal hasil yang diberikan kepada pemegang obligasi berdasarkan ketentuan penerbitan. Namun, bukan berarti obligasi bebas risiko.

Ada risiko gagal bayar, risiko perubahan harga di pasar sekunder, serta risiko suku bunga. Karena itu, karakter dan kualitas penerbit tetap penting untuk diperhatikan.

Perbedaan Saham dan Obligasi yang Paling Mendasar

Lalu, apa sebenarnya perbedaan obligasi dan saham? Perbedaan paling mendasar ada pada hubungan kamu dengan pihak yang menerbitkan instrumen tersebut.

Ketika membeli saham, kamu menjadi pemilik sebagian perusahaan. Ketika membeli obligasi, kamu menjadi pihak yang memberikan pinjaman atau memiliki klaim berdasarkan surat utang tersebut.

Dari sini, karakter investasinya sudah berbeda. Saham lebih berkaitan dengan kepemilikan dan perkembangan nilai perusahaan. Obligasi lebih berkaitan dengan kewajiban pembayaran utang beserta imbal hasil sesuai ketentuannya.

Perbedaan lainnya bisa dilihat dari beberapa aspek berikut.

1. Status Kepemilikan

Ini merupakan salah satu perbedaan saham dan obligasi yang paling mudah dipahami. Pemegang saham merupakan pemilik sebagian perusahaan.

Karena itu, pemegang saham dapat memiliki hak tertentu sebagai pemegang saham, termasuk hak suara untuk jenis saham tertentu sesuai ketentuan yang berlaku.

Sementara pemegang obligasi bukan pemilik perusahaan. Pemegang obligasi memiliki hak sebagai kreditur sesuai dengan ketentuan obligasi yang dimilikinya. Jadi, jangan sampai tertukar.

Saham = kepemilikan.
Obligasi = surat utang.

2. Sumber Potensi Keuntungan

Saham dan obligasi juga punya sumber keuntungan yang berbeda. Pada saham, potensi keuntungan bisa berasal dari kenaikan harga saham atau capital gain. Selain itu, investor bisa mendapatkan dividen jika perusahaan membagikannya.

Pada obligasi, investor bisa mendapatkan pembayaran kupon sesuai ketentuan dan pengembalian pokok ketika jatuh tempo, selama penerbit memenuhi kewajibannya.

Harga obligasi juga dapat berubah jika diperdagangkan di pasar sekunder. Jadi, investor obligasi tetap perlu memahami risiko perubahan harga.

3. Tingkat Risiko

Secara umum, saham memiliki volatilitas harga yang lebih tinggi dibandingkan banyak jenis obligasi. Harga saham bisa bergerak cukup cepat. Bahkan dalam satu hari, harganya dapat naik atau turun secara signifikan.

Obligasi juga bisa mengalami perubahan harga, terutama ketika diperdagangkan di pasar sekunder. Namun, karakter risikonya berbeda. Pada saham, investor sangat terpengaruh oleh kinerja dan prospek perusahaan serta kondisi pasar. Pada obligasi, selain kondisi pasar, kemampuan penerbit dalam memenuhi kewajibannya juga menjadi perhatian utama.

Karena itu, jangan hanya melihat potensi keuntungan. Risiko juga perlu dipahami sebelum berinvestasi.

4. Jangka Waktu Investasi

Saham pada dasarnya tidak memiliki tanggal jatuh tempo seperti obligasi. Kamu bisa memiliki saham selama yang kamu inginkan selama saham tersebut masih tersedia dan dapat diperdagangkan sesuai ketentuan pasar.

Berbeda dengan obligasi. Obligasi umumnya mempunyai tanggal jatuh tempo. Pada tanggal tersebut, penerbit memiliki kewajiban untuk membayar kembali nilai pokok sesuai ketentuan instrumennya.

Karena itu, obligasi sering dipertimbangkan oleh investor yang mempunyai tujuan investasi dengan jangka waktu tertentu.

5. Potensi Imbal Hasil

Saham memiliki potensi pertumbuhan nilai yang lebih besar, tetapi tidak ada imbal hasil yang dijamin. Harga saham bisa naik tinggi. Tapi bisa juga turun. Dividen juga tidak selalu dibagikan.

Obligasi biasanya menawarkan kupon sesuai ketentuan penerbitan. Namun, pembayaran tersebut tetap bergantung pada kemampuan penerbit memenuhi kewajibannya dan ketentuan instrumen. Artinya, keduanya tetap memiliki risiko.

Jangan menganggap obligasi otomatis selalu aman atau saham selalu berisiko tinggi. Jenis instrumen, penerbit, kondisi pasar, dan karakter masing-masing investasi tetap perlu dilihat.

6. Pengaruh Suku Bunga

Suku bunga menjadi faktor yang cukup penting dalam pasar obligasi. Ketika tingkat suku bunga berubah, harga obligasi yang diperdagangkan di pasar sekunder bisa ikut terpengaruh.

Secara sederhana, ketika suku bunga pasar naik, harga obligasi dengan kupon tetap yang sudah beredar cenderung menghadapi tekanan. Sebaliknya, ketika suku bunga turun, harga obligasi tersebut bisa mendapatkan dukungan. Saham juga bisa terpengaruh oleh perubahan suku bunga.

Namun, mekanismenya berbeda. Perubahan suku bunga dapat memengaruhi biaya pendanaan perusahaan, konsumsi, pertumbuhan ekonomi, hingga valuasi saham.

7. Hak Investor

Pemegang saham dan pemegang obligasi juga mempunyai posisi yang berbeda ketika perusahaan menghadapi masalah keuangan.

Pemegang obligasi merupakan kreditur. Dalam struktur klaim, kreditur pada umumnya memiliki prioritas pembayaran lebih tinggi dibandingkan pemegang saham sesuai ketentuan dan struktur kewajiban perusahaan.

Pemegang saham berada di posisi sebagai pemilik. Karena itu, ketika perusahaan mengalami masalah keuangan serius, pemegang saham bisa menghadapi risiko yang lebih besar terhadap nilai investasinya.

Tetap saja, detailnya bergantung pada jenis instrumen, struktur utang, dan kondisi perusahaan.

Saham vs Obligasi, Mana yang Lebih Cocok?

Setelah mengetahui perbedaan obligasi dan saham, pertanyaan berikutnya biasanya adalah: pilih yang mana?

Jawabannya tidak bisa disamaratakan. Kalau kamu mengincar pertumbuhan investasi dan siap menghadapi fluktuasi harga yang lebih tinggi, saham bisa menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan.

Sementara itu, kalau kamu ingin memiliki instrumen dengan struktur pembayaran yang lebih terjadwal dan memahami mekanisme kupon serta jatuh tempo, obligasi bisa menjadi pilihan yang dipertimbangkan.

Tapi jangan berhenti di situ. Kamu juga perlu melihat tujuan keuangan.

Misalnya, kamu sedang menyiapkan dana untuk kebutuhan beberapa tahun ke depan. Kamu mungkin perlu mempertimbangkan instrumen yang sesuai dengan jangka waktu tersebut.

Sebaliknya, kalau tujuanmu adalah investasi jangka panjang dan kamu siap menghadapi naik-turunnya pasar, saham bisa masuk dalam pertimbangan.

Profil risiko juga penting. Setiap orang punya toleransi risiko yang berbeda. Ada orang yang tetap tenang ketika nilai portofolionya turun. Ada juga yang merasa tidak nyaman ketika melihat penurunan beberapa persen. Kondisi seperti ini perlu dipertimbangkan sebelum memilih instrumen.

Apakah Saham Lebih Menguntungkan daripada Obligasi?

Belum tentu. Ini salah satu kesalahpahaman yang cukup sering muncul ketika membandingkan saham dan obligasi.

Saham memang memiliki potensi pertumbuhan nilai yang besar. Tetapi potensi tersebut datang bersama risiko fluktuasi harga. Obligasi juga menawarkan potensi imbal hasil melalui kupon dan perubahan harga di pasar sekunder. Namun, hasil akhirnya tetap dipengaruhi oleh harga beli, harga jual jika diperdagangkan sebelum jatuh tempo, kupon, biaya transaksi, kondisi penerbit, dan faktor pasar.

Jadi, jangan melihat investasi hanya dari angka return. Pertimbangkan juga risikonya.

Apakah Bisa Memiliki Saham dan Obligasi Sekaligus?

Bisa. Bahkan, diversifikasi sering digunakan untuk mengelola risiko portofolio. Kamu tidak harus memilih salah satu dan mengabaikan yang lainnya.

Saham dan obligasi memiliki karakter berbeda. Dengan memahami karakter tersebut, kamu bisa mempertimbangkan kombinasi aset yang sesuai dengan tujuan dan profil risiko.

Misalnya, sebagian dana ditempatkan pada aset dengan karakter pertumbuhan. Sebagian lainnya ditempatkan pada instrumen dengan karakter pendapatan yang lebih terjadwal.

Komposisinya tentu berbeda untuk setiap orang, yang penting, jangan ikut-ikutan hanya karena sebuah instrumen sedang populer.

Jadi, Apa Kesimpulan Perbedaan Saham dan Obligasi?

Kalau diringkas, perbedaan saham dan obligasi terutama terletak pada bentuk investasinya. Saham memberikan kepemilikan pada perusahaan. Potensi keuntungan bisa berasal dari kenaikan harga dan dividen.

Obligasi merupakan surat utang. Potensi keuntungan bisa berasal dari kupon dan perubahan harga jika obligasi diperdagangkan di pasar sekunder. Saham tidak memiliki tanggal jatuh tempo seperti obligasi. Sementara obligasi umumnya mempunyai tanggal jatuh tempo.

Risikonya juga berbeda. Saham cenderung lebih sensitif terhadap pergerakan pasar dan kinerja perusahaan. Obligasi memiliki risiko kredit penerbit serta risiko perubahan harga akibat kondisi pasar, termasuk perubahan suku bunga.

Jadi, tidak ada jawaban sederhana bahwa saham lebih baik daripada obligasi atau sebaliknya. Yang paling penting adalah memahami cara kerjanya.

Setelah itu, sesuaikan dengan tujuan investasi, jangka waktu, kebutuhan likuiditas, dan kemampuan kamu menghadapi risiko. Investasi bukan lomba memilih instrumen yang paling tinggi return-nya.

Yang lebih penting adalah memilih instrumen yang kamu pahami dan sesuai dengan rencana keuanganmu.

FAQ Perbedaan Saham dan Obligasi

1. Apa perbedaan saham dan obligasi yang paling utama?

Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan, sedangkan obligasi merupakan surat utang. Pemegang saham berstatus sebagai pemilik, sementara pemegang obligasi memiliki hak sebagai kreditur sesuai ketentuan instrumen.

2. Mana yang lebih aman, saham atau obligasi?

Tidak ada instrumen yang sepenuhnya bebas risiko. Saham memiliki risiko fluktuasi harga dan kinerja perusahaan. Obligasi juga memiliki risiko, termasuk risiko gagal bayar penerbit dan perubahan harga di pasar sekunder.

3. Apakah obligasi lebih menguntungkan daripada saham?

Tidak selalu. Potensi hasil saham dan obligasi dipengaruhi banyak faktor. Saham memiliki potensi capital gain dan dividen, sedangkan obligasi dapat memberikan kupon dan potensi keuntungan atau kerugian dari perubahan harga.

4. Apakah saham punya jatuh tempo?

Tidak. Saham tidak memiliki tanggal jatuh tempo seperti obligasi. Investor dapat mempertahankan kepemilikan saham selama saham tersebut masih tercatat dan dapat diperdagangkan sesuai ketentuan.

5. Apakah obligasi bisa dijual sebelum jatuh tempo?

Untuk obligasi yang dapat diperdagangkan di pasar sekunder, obligasi dapat dijual sebelum jatuh tempo. Namun, harga jual bisa berbeda dari nilai pokok atau harga ketika pertama kali dibeli.

6. Apakah saham dan obligasi bisa dimiliki bersamaan?

Bisa. Memiliki beberapa jenis aset dapat menjadi bagian dari strategi diversifikasi. Komposisinya sebaiknya disesuaikan dengan tujuan investasi dan profil risiko masing-masing.

7. Apa perbedaan obligasi dan saham dari sisi keuntungan?

Keuntungan saham dapat berasal dari kenaikan harga dan dividen. Pada obligasi, investor dapat memperoleh kupon sesuai ketentuan serta potensi keuntungan dari perubahan harga apabila obligasi dijual di pasar sekunder.

8. Apakah pemegang saham dan pemegang obligasi punya hak yang sama?

Tidak. Pemegang saham adalah pemilik perusahaan dan memiliki hak tertentu sebagai pemegang saham. Pemegang obligasi merupakan kreditur dan memiliki hak berdasarkan ketentuan surat utang yang dimilikinya.

Kesimpulan

Memahami perbedaan saham dan obligasi adalah salah satu langkah dasar sebelum mulai berinvestasi. Jangan cuma melihat potensi keuntungan.

Pahami juga cara kerja, risiko, jangka waktu, dan tujuan dari investasi tersebut. Dengan begitu, keputusan investasi bisa dibuat dengan lebih sadar dan tidak sekadar mengikuti tren.

Kalau kamu ingin mengenal lebih banyak tentang aset dan investasi, kamu juga bisa mulai belajar dari berbagai materi edukasi keuangan sebelum menentukan pilihan.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: 10 Saham Terbaik untuk Investasi Jangka Panjang, Nomor 7 Sering Diremehkan!

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device