Cara Menghitung Inflasi: Tips Gampang Buat Pemula

Finansial

28 Sep 2026

8 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Inflasi sering muncul di berita ekonomi. Angkanya bisa 2%, 3%, bahkan lebih tinggi. Tapi sebenarnya, angka tersebut dihitung dari mana?

Jawabannya berkaitan dengan Indeks Harga Konsumen (IHK).

Kalau kamu sedang mencari tahu cara menghitung inflasi, sebenarnya konsep dasarnya cukup sederhana. Kamu hanya perlu membandingkan IHK pada dua periode yang berbeda.

Biar nggak terasa seperti belajar ekonomi di kelas, kita bahas dari awal sampai contoh perhitungannya.

Apa Itu Inflasi?

Sebelum memahami cara menghitung inflasi, kita perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan inflasi.

Bank Indonesia mendefinisikan inflasi sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam periode tertentu. Jadi, kenaikan harga satu atau dua barang saja belum tentu disebut inflasi.

Misalnya harga kopi favoritmu naik dari Rp20.000 menjadi Rp23.000.

Itu berarti harga kopi naik 15%.

Tapi kondisi tersebut belum otomatis berarti inflasi 15%.

Kenapa?

Karena inflasi melihat perubahan harga secara umum pada berbagai barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

Di Indonesia, pengukuran inflasi dilakukan menggunakan IHK atau Indeks Harga Konsumen. Data harga dikumpulkan dari berbagai barang dan jasa yang mewakili konsumsi masyarakat.

Jadi, inflasi bukan sekadar menghitung harga satu barang yang naik.

Apa Itu IHK?

IHK adalah angka indeks yang menggambarkan perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat dalam periode tertentu.

Sederhananya, bayangkan kamu punya keranjang belanja.

Isi keranjang tersebut bukan cuma beras atau minyak goreng. Ada makanan, pakaian, biaya perumahan, transportasi, kesehatan, pendidikan, restoran, sampai kebutuhan lainnya.

Perubahan harga dari berbagai komponen tersebut kemudian digunakan untuk menghitung IHK.

BPS menggunakan formula Laspeyres yang dimodifikasi dalam penghitungan IHK. Nilai konsumsi dasar yang digunakan dalam perhitungan berasal dari Survei Biaya Hidup.

Karena itu, IHK bisa digunakan untuk melihat bagaimana tingkat harga konsumen berubah dari waktu ke waktu.

Cara Menghitung Inflasi dengan Rumus Sederhana

Nah, sekarang masuk ke bagian yang paling penting.

Rumus dasar untuk menghitung inflasi adalah:

Inflasi = (IHK periode sekarang − IHK periode sebelumnya) ÷ IHK periode sebelumnya × 100%

BPS juga menggunakan formula tersebut untuk menghitung persentase perubahan IHK.

Kalau ditulis lebih singkat:

Inflasi = [(IHK sekarang − IHK sebelumnya) / IHK sebelumnya] × 100%

Kelihatannya memang seperti rumus matematika.

Tapi sebenarnya gampang.

Kamu hanya perlu mengetahui dua angka:

  • IHK periode sekarang
  • IHK periode sebelumnya

Setelah itu, tinggal masukkan ke rumus.

Contoh Cara Menghitung Inflasi

Misalnya suatu wilayah memiliki IHK sebesar 105 pada Januari.

Kemudian pada Februari, IHK naik menjadi 107.

Maka:

Inflasi = [(107 − 105) / 105] × 100%

Inflasi = (2 / 105) × 100%

Inflasi = 1,90%

Artinya, terjadi kenaikan tingkat harga sekitar 1,90% dibandingkan periode sebelumnya.

Gampang, kan?

Yang perlu diperhatikan adalah periode pembandingnya. Kalau kamu menghitung inflasi bulanan, maka IHK bulan ini dibandingkan dengan IHK bulan sebelumnya.

Cara Menghitung Inflasi Bulanan atau Month to Month

Inflasi bulanan sering disebut month to month (mtm).

Artinya, kamu membandingkan IHK pada bulan berjalan dengan IHK pada bulan sebelumnya.

Rumusnya:

Inflasi mtm = [(IHK bulan ini − IHK bulan lalu) / IHK bulan lalu] × 100%

Contohnya:

IHK Juni = 110
IHK Juli = 110,5

Maka:

Inflasi = [(110,5 − 110) / 110] × 100%

Inflasi = 0,45%

Jadi, inflasi bulan Juli dibandingkan Juni adalah sekitar 0,45%.

BPS menjelaskan bahwa inflasi bulanan mencerminkan persentase perubahan IHK bulan berjalan terhadap bulan sebelumnya.

Kalau hasilnya positif, berarti terjadi inflasi.

Kalau hasilnya negatif, berarti terjadi deflasi.

Cara Menghitung Inflasi Tahunan atau Year on Year

Selain inflasi bulanan, ada juga inflasi year on year (yoy).

Nah, ini yang sering kamu lihat dalam berita ekonomi.

Inflasi yoy membandingkan IHK suatu bulan dengan IHK pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Misalnya:

IHK Agustus 2025 = 100
IHK Agustus 2026 = 103

Maka:

Inflasi yoy = [(103 − 100) / 100] × 100%

Inflasi yoy = 3%

Artinya, tingkat harga konsumen pada Agustus 2026 meningkat sekitar 3% dibandingkan Agustus 2025.

Menurut BPS, inflasi tahunan dihitung dengan membandingkan IHK pada bulan berjalan dengan IHK pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Jadi, jangan sampai tertukar.

mtm = dibandingkan bulan sebelumnya.

yoy = dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Cara Menghitung Inflasi Tahun Kalender atau Year to Date

Ada satu lagi istilah yang cukup sering muncul, yaitu year to date (ytd) atau inflasi tahun kalender.

Penghitungannya sedikit berbeda.

Inflasi tahun kalender membandingkan IHK pada bulan berjalan dengan IHK pada Desember tahun sebelumnya.

Misalnya:

IHK Desember 2025 = 100
IHK Agustus 2026 = 102,5

Maka:

Inflasi ytd = [(102,5 − 100) / 100] × 100%

Inflasi ytd = 2,5%

Artinya, sejak Desember 2025 sampai Agustus 2026, terjadi kenaikan tingkat harga sekitar 2,5%.

Kenapa Angka Inflasi Bisa Berbeda dengan Pengeluaranmu?

Ini pertanyaan yang cukup sering muncul.

Misalnya kamu melihat inflasi nasional 3%.

Tapi kamu merasa pengeluaran rumah tangga naik jauh lebih besar.

Apakah data inflasinya salah?

Belum tentu.

Alasannya sederhana: pola konsumsi setiap orang berbeda.

IHK menggunakan keranjang barang dan jasa yang dirancang untuk mewakili pola konsumsi masyarakat. Sementara itu, pengeluaran pribadi kamu mungkin punya komposisi yang berbeda.

Misalnya kamu sedang sering menggunakan transportasi.

Harga transportasi naik cukup tinggi.

Sementara itu, harga beberapa barang lain relatif stabil.

Dampaknya ke pengeluaranmu bisa terasa lebih besar dibandingkan angka inflasi umum.

Begitu juga sebaliknya.

Kalau sebagian besar pengeluaranmu berada pada barang yang harganya relatif stabil, kenaikan biaya hidup yang kamu rasakan bisa lebih rendah dari angka inflasi umum.

Jadi, angka inflasi bukan berarti semua harga naik dengan persentase yang sama.

Apakah Semua Kenaikan Harga Berarti Inflasi?

Nggak juga.

Ini salah satu hal yang sering bikin orang keliru.

Misalnya harga cabai naik karena pasokan berkurang.

Harga cabai saja yang naik cukup tinggi.

Kondisi tersebut belum otomatis berarti seluruh perekonomian sedang mengalami inflasi.

Inflasi mengacu pada kenaikan harga secara umum dan terus-menerus. Bank Indonesia juga menegaskan bahwa kenaikan harga satu atau beberapa barang saja belum dapat disebut inflasi apabila tidak meluas ke harga barang dan jasa lainnya.

Karena itu, perhitungan inflasi menggunakan kumpulan barang dan jasa, bukan satu produk saja.

Kenapa Cara Menghitung Inflasi Penting?

Mungkin kamu bertanya, “Memangnya buat apa tahu rumus inflasi?”

Ternyata cukup banyak manfaatnya.

Pertama, kamu bisa memahami berita ekonomi dengan lebih baik.

Misalnya ada berita yang menyebut inflasi yoy sebesar 3%.

Kamu sekarang tahu bahwa angka tersebut bukan berarti setiap barang mengalami kenaikan harga 3%.

Angka tersebut merupakan hasil pengukuran perubahan IHK berdasarkan periode pembanding tertentu.

Kedua, inflasi penting untuk memahami daya beli uang.

Kalau harga barang dan jasa terus meningkat, uang dengan nominal yang sama bisa membeli lebih sedikit barang dibandingkan sebelumnya.

Contohnya, Rp100.000 hari ini mungkin tidak bisa membeli jumlah barang yang sama dengan beberapa tahun lalu.

Ketiga, inflasi juga penting saat membuat rencana keuangan.

Kamu nggak hanya perlu memikirkan berapa banyak uang yang ingin dikumpulkan, tapi juga bagaimana perubahan harga dapat memengaruhi kebutuhanmu di masa depan.

Hubungan Inflasi dengan Daya Beli

Coba bayangkan kamu punya Rp5 juta.

Hari ini, uang tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan tertentu selama satu bulan.

Namun, kalau harga barang dan jasa meningkat secara umum, kebutuhan yang sama mungkin membutuhkan uang lebih banyak di masa depan.

Inilah salah satu alasan kenapa inflasi perlu diperhatikan ketika membuat tujuan finansial jangka panjang.

Misalnya kamu ingin mengumpulkan dana Rp500 juta dalam 10 tahun.

Jangan hanya bertanya:

“Apakah Rp500 juta cukup?”

Tapi coba pikirkan juga:

“Rp500 juta nanti daya belinya masih sama atau tidak?”

Pertanyaan ini membuat perencanaan keuangan jadi lebih realistis.

Cara Menghitung Inflasi dari Perubahan Harga Barang

Kalau untuk latihan sederhana, kamu juga bisa menghitung persentase kenaikan harga suatu barang.

Misalnya harga sebuah produk naik dari Rp50.000 menjadi Rp55.000.

Rumus perubahan harga:

[(Harga baru − Harga lama) / Harga lama] × 100%

Maka:

[(Rp55.000 − Rp50.000) / Rp50.000] × 100%

= 10%

Berarti harga produk tersebut naik 10%.

Tapi sekali lagi, angka 10% tersebut bukan otomatis berarti inflasi 10%.

Itu hanya persentase kenaikan harga produk tersebut.

Untuk menghitung inflasi, yang digunakan adalah perubahan IHK.

Ini perbedaan yang penting banget.

Apa Bedanya Inflasi dengan Kenaikan Harga?

Secara sederhana:

Kenaikan harga bisa terjadi pada satu barang atau jasa.

Sementara inflasi menggambarkan kenaikan tingkat harga secara umum dan berkelanjutan.

Misalnya harga sebuah laptop naik karena model baru.

Itu merupakan kenaikan harga laptop.

Namun, tidak tepat kalau langsung menyimpulkan bahwa kenaikan tersebut berarti inflasi.

Inflasi dihitung berdasarkan perubahan IHK yang mencakup berbagai barang dan jasa dalam konsumsi masyarakat.

Apakah Inflasi Selalu Buruk?

Pembahasan inflasi nggak sesederhana “inflasi tinggi = buruk” atau “inflasi rendah = bagus”.

Bank Indonesia dan pemerintah memiliki sasaran inflasi tertentu. Untuk 2025–2027, sasaran inflasi yang ditetapkan pemerintah adalah 2,5% dengan deviasi 1%.

Artinya, kebijakan ekonomi tidak sekadar mengejar angka inflasi serendah mungkin, tetapi menjaga stabilitas harga dalam sasaran yang telah ditetapkan.

Yang penting adalah memahami bagaimana perubahan harga memengaruhi perekonomian, daya beli, konsumsi, investasi, dan keputusan finansial masyarakat.

Contoh Praktis Cara Menghitung Inflasi dari IHK

Biar makin jelas, kita coba satu contoh lagi.

Misalnya:

IHK Januari = 120
IHK Februari = 123

Gunakan rumus:

Inflasi = [(123 − 120) / 120] × 100%

Selisih IHK:

123 − 120 = 3

Kemudian:

3 / 120 × 100% = 2,5%

Jadi, inflasi dari Januari ke Februari adalah 2,5%.

Sekarang coba bayangkan angkanya dibalik.

IHK Januari = 123
IHK Februari = 120

Maka:

[(120 − 123) / 123] × 100% = -2,44%

Hasilnya negatif.

Artinya, terjadi deflasi, bukan inflasi.

BPS menjelaskan bahwa persentase perubahan IHK yang positif menunjukkan inflasi, sedangkan persentase negatif menunjukkan deflasi.

Cara Mudah Mengingat Rumus Inflasi

Kalau kamu gampang lupa rumus, ingat saja pola sederhananya:

Selisih IHK ÷ IHK pembanding × 100%

Yang perlu diperhatikan adalah IHK pembanding.

Kalau menghitung mtm:

IHK bulan ini dibandingkan bulan sebelumnya.

Kalau menghitung yoy:

IHK bulan ini dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Kalau menghitung ytd:

IHK bulan ini dibandingkan IHK Desember tahun sebelumnya.

Dengan memahami bagian ini, kamu sebenarnya sudah memahami dasar cara menghitung inflasi.

Cara Membaca Angka Inflasi di Berita

Mulai sekarang, kalau melihat berita seperti:

“Inflasi Agustus 2026 sebesar X% yoy”

jangan langsung menganggap semua harga naik X%.

Baca dulu periodenya.

Kalau tertulis yoy, berarti dibandingkan dengan bulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Kalau mtm, berarti dibandingkan bulan sebelumnya.

Kalau ytd, berarti dibandingkan Desember tahun sebelumnya.

Perbedaan periode ini penting karena satu angka bisa memberikan konteks yang berbeda.

Sebagai contoh, Bank Indonesia mencatat inflasi IHK yoy Indonesia sebesar 3,19% pada 31 Agustus 2026 berdasarkan data yang ditampilkan pada laman inflasi BI.

Angka tersebut merupakan ukuran perubahan IHK secara tahunan, bukan berarti seluruh barang dan jasa mengalami kenaikan harga tepat 3,19%.

Kesimpulan

Memahami cara menghitung inflasi sebenarnya nggak sesulit yang dibayangkan.

Dasarnya adalah membandingkan perubahan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari satu periode ke periode lainnya.

Rumus sederhananya:

Inflasi = [(IHK sekarang − IHK sebelumnya) / IHK sebelumnya] × 100%

Tapi periode pembandingnya harus diperhatikan.

Untuk mtm, bandingkan dengan bulan sebelumnya.

Untuk yoy, bandingkan dengan bulan yang sama tahun sebelumnya.

Untuk ytd, bandingkan dengan Desember tahun sebelumnya.

Yang juga perlu diingat, inflasi bukan sekadar harga satu barang yang naik. Inflasi menggambarkan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus, yang diukur menggunakan IHK.

FAQ Cara Menghitung Inflasi

1. Apa rumus cara menghitung inflasi?

Rumus dasarnya adalah:

Inflasi = [(IHK periode sekarang − IHK periode sebelumnya) / IHK periode sebelumnya] × 100%

Rumus ini digunakan untuk menghitung persentase perubahan IHK.

2. Apa yang digunakan untuk menghitung inflasi?

Di Indonesia, inflasi diukur menggunakan Indeks Harga Konsumen (IHK). IHK menggambarkan perubahan rata-rata harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat.

3. Bagaimana cara menghitung inflasi yoy?

Bandingkan IHK pada bulan tertentu dengan IHK pada bulan yang sama di tahun sebelumnya.

Rumusnya:

[(IHK bulan berjalan − IHK bulan yang sama tahun sebelumnya) / IHK bulan yang sama tahun sebelumnya] × 100%

4. Bagaimana cara menghitung inflasi mtm?

Inflasi mtm dihitung dengan membandingkan IHK bulan berjalan dengan IHK bulan sebelumnya.

Rumusnya:

[(IHK bulan berjalan − IHK bulan sebelumnya) / IHK bulan sebelumnya] × 100%

5. Apa bedanya inflasi dengan kenaikan harga?

Kenaikan harga bisa terjadi pada satu barang atau jasa. Sementara inflasi mengukur kenaikan harga secara umum dan terus-menerus menggunakan indikator seperti IHK.

6. Kalau hasil perhitungan inflasi negatif, artinya apa?

Jika persentase perubahan IHK bernilai negatif, berarti terjadi penurunan tingkat harga dibandingkan periode pembanding. Kondisi tersebut disebut deflasi.

7. Kenapa inflasi penting untuk keuangan pribadi?

Karena inflasi dapat memengaruhi daya beli uang. Saat tingkat harga meningkat, jumlah uang yang sama berpotensi membeli barang dan jasa yang lebih sedikit dibandingkan sebelumnya.

8. Apakah harga satu barang naik 10% berarti inflasi 10%?

Nggak. Kenaikan harga satu barang sebesar 10% hanya menunjukkan perubahan harga barang tersebut. Inflasi dihitung berdasarkan perubahan IHK yang mencakup berbagai barang dan jasa dalam konsumsi masyarakat.

Dengan memahami cara kerjanya, kamu jadi lebih mudah membaca berita ekonomi, memahami daya beli, dan mempertimbangkan dampak perubahan harga dalam perencanaan keuangan.

Kalau kamu ingin memahami lebih jauh soal aset digital, pasar, dan berbagai topik finansial lainnya, kamu juga bisa belajar secara bertahap.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Kalkulator Inflasi: Cek Berapa Nilai Uangmu di Masa Depan

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device