Market Outlook W3 Agustus 2026: Bitcoin Tembus $77.985! Apakah Rally Bakal Lanjut?

Pasar

21 Aug 2026

8 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pasar kripto kembali bikin heboh. Bitcoin (BTC) melonjak hingga $77.985 pada 21 Agustus 2026. Dalam 24 jam, harganya naik sekitar 8,7%. Padahal, pada pekan yang sama BTC sempat jatuh ke sekitar $62.690.

Pergerakan ini menunjukkan betapa cepatnya sentimen pasar bisa berubah. Dari tekanan jual, Bitcoin tiba-tiba kembali mendapatkan momentum bullish. Bukan cuma karena satu berita. Ada beberapa katalis yang muncul hampir bersamaan.

Mulai dari kebijakan Treasury AS, aktivitas whale, sampai perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat. Namun, jangan buru-buru menganggap reli ini sebagai tanda bahwa Bitcoin sudah aman untuk terus naik.

Ada beberapa risiko besar yang masih membayangi pasar. Konflik Iran-Israel kembali memanas. Harga minyak melonjak. The Fed juga masih terpecah soal arah suku bunga. Belum lagi ada sejumlah event penting pada akhir Agustus yang bisa memicu volatilitas tinggi.

Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?

Kenapa Harga Bitcoin Bisa Naik 8,7%?

Ada tiga katalis utama yang menjadi perhatian dalam reli Bitcoin kali ini.

1. Treasury AS Menggandakan Buyback Obligasi

Pada 19 Agustus, Treasury AS meningkatkan program buyback obligasi jangka panjang. Ukuran buyback yang sebelumnya sekitar $2 miliar per operasi dinaikkan menjadi minimal $4 miliar.

Program ini dijadwalkan berlangsung pada 9 September hingga 4 November 2026. Kebijakan tersebut muncul ketika pasar obligasi AS sedang mengalami tekanan. Yield obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun bahkan sempat menyentuh level tertinggi sejak 2007.

Bagi pasar, kebijakan Treasury ini menjadi salah satu katalis yang ikut meningkatkan sentimen terhadap aset berisiko. Bitcoin kemudian ikut mendapatkan dorongan.

2. Whale Bitcoin Mulai Akumulasi

Katalis kedua datang dari whale. Berdasarkan data dalam Market Outlook W3 Agustus 2026, whale Bitcoin mengakhiri fase jual dan mulai menambah sekitar $2,9 miliar, atau kurang lebih 43.000 BTC, dalam 60 hari terakhir.

Aktivitas whale sering menjadi perhatian trader dan investor karena transaksi dalam jumlah besar dapat memberikan gambaran mengenai perubahan tekanan jual atau beli. Dalam kasus ini, akumulasi whale menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar.

3. Regulasi Kripto AS Mulai Memberikan Harapan

Katalis ketiga datang dari regulator Amerika Serikat. SEC mengajukan proposal baru bernama “Regulation Crypto Assets” pada 19 Agustus.

Proposal tersebut mencakup sejumlah exemption untuk penawaran aset kripto. Salah satunya adalah startup exemption hingga $5 juta selama empat tahun. Ada juga fundraising exemption hingga $75 juta per tahun.

SEC juga membuka periode komentar publik selama 60 hari. Perkembangan ini memberikan sentimen positif bagi pasar. Namun, ada satu hal penting. Proposal SEC belum sama dengan aturan final. Jadi, jangan langsung menganggap regulasi kripto AS sudah resmi berubah.

ETF Bitcoin Juga Kembali Mengalir

Bukan cuma whale dan regulasi yang mendukung reli. Arus dana ETF Bitcoin di Amerika Serikat juga mulai menunjukkan perubahan. Pada 19 Agustus, ETF Bitcoin AS mencatat inflow sekitar $517 juta. Angka ini menjadi inflow harian terbesar sejak awal Mei.

Padahal, sebelumnya ETF Bitcoin sempat mengalami tekanan. Pada 10-14 Agustus, ETF BTC mencatat outflow sekitar $389,7 juta. Itu menjadi outflow mingguan terbesar dalam enam minggu.

ETF Ethereum juga mulai membaik. Pada 19 Agustus, ETF ETH mencatat inflow sekitar $189 juta. Ini menjadi hari ketiga berturut-turut ETF ETH mengalami inflow.

Artinya, minat terhadap aset kripto mulai kembali. Meski begitu, satu hari inflow belum cukup untuk menyimpulkan bahwa tren baru sudah terbentuk. Jadi, investor tetap perlu melihat data beberapa hari atau minggu berikutnya.

Bitcoin Bullish, Tapi Risiko Koreksi Masih Besar

Kenaikan Bitcoin sebesar 8,7% dalam 24 jam memang terlihat bullish. Tapi justru karena naik terlalu cepat, risiko koreksi juga meningkat.

Market Outlook W3 menyebut level psikologis $70.000, $75.000, dan $80.000 sebagai level yang lebih relevan untuk diperhatikan dibanding berpatokan pada satu angka harga saja. Area $80.000 khususnya menjadi penting.

Jika Bitcoin mampu menembus dan mempertahankan area tersebut dengan volume yang kuat, momentum bullish bisa berlanjut. Sebaliknya, jika breakout ternyata tidak didukung demand yang cukup, harga bisa kembali terkoreksi.

Ada pula kemungkinan bahwa sebagian reli dipicu oleh short squeeze. Artinya, kenaikan harga tidak sepenuhnya berasal dari pembelian baru. Trader yang sebelumnya memasang posisi short bisa terpaksa menutup posisinya ketika harga naik. Proses ini kemudian ikut mendorong harga semakin tinggi. Karena itu, mengejar harga setelah kenaikan besar tetap memiliki risiko.

Konflik Timur Tengah Justru Semakin Panas

Di balik reli Bitcoin, ada risiko makro yang tidak boleh diabaikan. Situasi Iran-Israel justru semakin memburuk. Kerangka rute sementara Iran-Oman yang sebelumnya dianggap berpotensi menjadi langkah menuju de-eskalasi ternyata tidak berkembang menjadi penyelesaian konflik.

Sebaliknya, konflik semakin meluas. UAE mendeteksi dua rudal balistik dari Iran pada 18 Agustus. Setelah itu, UAE menghentikan seluruh transaksi perdagangan dan keuangan dengan Iran.

Israel juga menyerang pangkalan udara di Idlib, Suriah. AS dan Turki menyebut perkembangan tersebut sebagai eskalasi. Lalu lintas kapal komersial di Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb juga masih mengalami tekanan.

Masalahnya tidak berhenti di geopolitik. Harga minyak ikut melonjak. Brent menembus $92 per barel, sementara WTI berada di atas $85. Keduanya naik lebih dari 4% dalam sepekan.

Kenaikan harga minyak bisa kembali memicu kekhawatiran inflasi. Dan kalau inflasi kembali menjadi masalah, ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Fed juga bisa berubah.

The Fed Masih Jadi Penggerak Utama Pasar

The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75% dalam rapat 28-29 Juli.

Namun, ada sesuatu yang menarik. Tiga presiden Federal Reserve regional tidak setuju dengan keputusan tersebut. Mereka menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang cukup kuat di internal The Fed.

Sementara itu, probabilitas pasar untuk mempertahankan suku bunga pada September berada di kisaran 60%-68% sepanjang pekan. Namun angka ini bergerak cepat. Karena itu, angka FedWatch sebaiknya selalu dibaca bersama timestamp. Jangan menganggap satu angka sebagai gambaran permanen ekspektasi pasar.

Jackson Hole Bisa Jadi Ujian Berikutnya

Kalau reli Bitcoin minggu ini adalah cerita utama, maka Jackson Hole bisa menjadi ujian berikutnya. Simposium Jackson Hole dijadwalkan berlangsung pada 27–29 Agustus 2026.

Temanya adalah: “Financial Innovation: Implications for Payments and Policy.”

Yang paling menarik adalah pidato debut Ketua Fed Warsh pada 28 Agustus. Waktunya cukup sensitif. Pidato tersebut hanya berjarak 19 hari sebelum rapat FOMC pada 16 September.

Kalau Warsh memberikan sinyal hawkish, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa kembali meningkat. Sebaliknya, jika pernyataannya lebih dovish, sentimen terhadap aset berisiko termasuk Bitcoin bisa mendapatkan dorongan.

28 Agustus Bisa Jadi Hari yang Sangat Volatil

Ada alasan lain kenapa 28 Agustus perlu diperhatikan. Pada tanggal yang sama, akan terjadi ekspirasi opsi mingguan BTC dan ETH di Deribit.

Jadi ada dua katalis volatilitas dalam satu hari: Pidato Warsh + expiry opsi BTC dan ETH.

Kondisi seperti ini bisa membuat pergerakan harga menjadi lebih agresif. Untuk trader, ini berarti manajemen risiko menjadi semakin penting. Jangan hanya melihat arah tren. Perhatikan juga potensi lonjakan volatilitas.

Bagaimana dengan CLARITY Act?

Perkembangan regulasi juga menjadi salah satu bahan bakar sentimen pasar. Donald Trump pada 20 Agustus secara terbuka mendorong Kongres untuk mengesahkan CLARITY Act. Namun, status proseduralnya belum berubah.

Cloture atas motion to proceed masih dijadwalkan pada 15 September. RUU tersebut juga masih membutuhkan tujuh suara crossover Demokrat dari basis 53 kursi GOP. Artinya, dukungan Trump memang positif untuk sentimen.

Tetapi belum berarti CLARITY Act sudah semakin dekat untuk disahkan secara prosedural. Ini penting agar investor tidak salah membaca headline. Dukungan politik tidak otomatis berarti sebuah RUU sudah menjadi undang-undang.

Strategy Berhenti Membeli Bitcoin?

Ada satu perkembangan lain yang menarik. Strategy, perusahaan yang dikenal memiliki Bitcoin dalam jumlah besar, sudah sekitar delapan minggu tidak membeli BTC baru.

Per 19 Agustus, kepemilikan Strategy tetap sekitar 840.447 BTC. Pada pekan yang berakhir 16 Agustus, Strategy justru memperoleh sekitar $333,7 juta dari penjualan saham MSTR.

Dana tersebut digunakan untuk kebutuhan seperti dividen STRC, buyback STRC, dan menambah cadangan dolar AS. Bukan untuk membeli Bitcoin. Kondisi ini perlu diperhatikan investor jangka panjang. Sebab, Strategy selama ini menjadi salah satu pemain korporasi besar yang agresif dalam akumulasi Bitcoin.

Market Outlook juga mencatat mNAV Strategy berada di sekitar 0,6x. Ini menunjukkan adanya kompresi premium saham terhadap aset dasarnya. CEO Strategy memang menyebut perusahaan akan kembali membeli Bitcoin pada sisa 2026. Namun, sampai data dalam outlook ini, pembelian tersebut belum terealisasi.

Bagaimana Kondisi Pasar Indonesia?

Pasar domestik juga menunjukkan perkembangan positif. Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate di 5,75% untuk bulan kedua berturut-turut. Keputusan ini salah satunya mempertimbangkan kebutuhan menjaga stabilitas rupiah dari turbulensi global akibat konflik Timur Tengah.

Rupiah kemudian menguat ke kisaran Rp17.700-Rp17.783. IHSG juga naik ke sekitar 6.505 pada 20 Agustus. Artinya, pasar Indonesia ikut mendapatkan dorongan dari sentimen risk-on global.

Namun, ada satu risiko domestik yang perlu diperhatikan. Defisit transaksi berjalan Indonesia pada kuartal II 2026 melebar menjadi USD12,49 miliar, atau sekitar 3,3% dari PDB.

Salah satu penyebab utamanya adalah menyusutnya surplus perdagangan akibat kenaikan impor migas ketika harga minyak meningkat. Jadi, konflik Timur Tengah juga memiliki dampak tidak langsung terhadap perekonomian Indonesia.

Apa yang Harus Dipantau Investor Minggu Depan?

Ada beberapa tanggal penting yang layak masuk radar. Pertama, 26 Agustus, ketika data PCE AS untuk Juli dirilis. PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian utama The Fed. Kemudian pada 27-29 Agustus, pasar akan mencermati Jackson Hole.

Puncaknya pada 28 Agustus, ketika Warsh dijadwalkan menyampaikan pidato debutnya. Di hari yang sama juga terdapat expiry opsi mingguan BTC dan ETH.

Selanjutnya, pada 31 Agustus atau 1 September, rebalancing MSCI akan mulai berlaku. Perubahan tersebut diperkirakan dapat memicu outflow sekitar USD753 juta. Dengan begitu, akhir Agustus berpotensi menjadi periode yang cukup ramai untuk pasar.

Jadi, Bitcoin Bakal Lanjut Naik atau Koreksi?

Jawabannya belum bisa dipastikan. Namun, data minggu ini menunjukkan bahwa Bitcoin memang sedang mendapatkan momentum yang kuat.

Ada beberapa faktor positif yang mendukung. Whale kembali akumulasi. ETF kembali mencatat inflow. Treasury meningkatkan buyback. SEC mulai mengajukan proposal baru terkait aset kripto. Tetapi risiko juga masih besar.

Konflik Timur Tengah belum selesai. Harga minyak meningkat. The Fed masih terpecah. Proposal regulasi belum final. Strategy juga belum kembali membeli Bitcoin.

Karena itu, reli minggu ini lebih tepat dibaca sebagai momentum bullish dengan risiko volatilitas tinggi, bukan sinyal bahwa pasar sudah sepenuhnya aman.

Bagi pemula, yang paling penting bukan mengejar harga. Pahami dulu alasan harga bergerak. Tentukan batas risiko. Jangan FOMO hanya karena melihat Bitcoin naik hampir 9% dalam sehari.

Bagi swing trader, area $80.000 layak diperhatikan sebagai resistance psikologis.

Sementara investor jangka panjang bisa memantau apakah Strategy kembali melakukan akumulasi BTC dan bagaimana arah kebijakan The Fed setelah Jackson Hole.

FAQ

Apa yang menyebabkan Bitcoin naik ke $77.985?

Reli Bitcoin didorong oleh beberapa katalis yang muncul bersamaan. Di antaranya peningkatan buyback Treasury AS, proposal regulasi baru SEC, dan akumulasi whale Bitcoin sekitar $2,9 miliar.

Apakah Bitcoin masih berpotensi naik?

Masih ada peluang, tetapi risiko koreksi juga tinggi. Kenaikan 8,7% dalam 24 jam merupakan pergerakan ekstrem. Investor perlu memperhatikan level psikologis $70.000, $75.000, dan $80.000 serta perkembangan makro berikutnya.

Apa itu CLARITY Act?

CLARITY Act merupakan rancangan regulasi aset kripto di Amerika Serikat. Dalam outlook ini, status proseduralnya belum berubah dan masih membutuhkan dukungan suara tambahan di Senat.

Apa hubungan konflik Iran-Israel dengan harga Bitcoin?

Konflik dapat memengaruhi harga minyak dan sentimen risk-off global. Jika harga minyak semakin tinggi dan tekanan inflasi meningkat, ekspektasi terhadap suku bunga bisa berubah. Kondisi tersebut kemudian dapat memengaruhi aset berisiko seperti Bitcoin.

Kenapa Jackson Hole penting untuk Bitcoin?

Jackson Hole menjadi perhatian karena Ketua Fed Warsh dijadwalkan memberikan pidato debut pada 28 Agustus. Pernyataannya berpotensi mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.

Apakah ETF Bitcoin masih bullish?

ETF Bitcoin mencatat inflow $517 juta pada 19 Agustus. Ini merupakan sinyal positif. Namun, satu hari inflow belum cukup untuk memastikan tren akumulasi jangka panjang.

Apakah Strategy masih membeli Bitcoin?

Berdasarkan data dalam Market Outlook W3 Agustus 2026, Strategy sudah sekitar delapan minggu tidak membeli BTC baru. Kepemilikannya masih sekitar 840.447 BTC.

Kesimpulan

Bitcoin kembali mencuri perhatian setelah melonjak ke $77.985 dan mencatat kenaikan sekitar 8,7% dalam 24 jam.

Reli ini didukung beberapa katalis sekaligus. Mulai dari aktivitas whale, inflow ETF, buyback Treasury, hingga perkembangan regulasi kripto AS.

Namun, pasar belum sepenuhnya bebas risiko.

Konflik Iran-Israel masih bisa mendorong harga minyak lebih tinggi. The Fed juga masih menghadapi perbedaan pandangan internal. Sementara itu, Jackson Hole dan pidato Warsh pada 28 Agustus berpotensi menjadi penentu arah sentimen berikutnya.

Jadi, jangan hanya bertanya “Bitcoin mau naik atau turun?” Pertanyaan yang lebih penting adalah: “Apa katalis berikutnya yang bisa mengubah arah pasar?”

Dengan memahami katalis tersebut, kamu bisa mengambil keputusan dengan lebih terukur dan tidak sekadar mengikuti FOMO.

Kalau kamu ingin memantau pergerakan aset digital dan melakukan transaksi dalam satu platform, kamu bisa download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store.

FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Disclaimer: Artikel ini dibuat berdasarkan Market Outlook W3 Agustus 2026 dengan data per 21 Agustus 2026. Artikel hanya untuk tujuan informasi dan bukan merupakan rekomendasi investasi. Kondisi pasar aset digital dapat berubah sewaktu-waktu.

Baca Juga: Market Outlook W2 Agustus 2026: Kenapa Bitcoin Belum Bangkit?

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device