Market Outlook W2 Agustus 2026: Kenapa Bitcoin Belum Bangkit?

Berita

17 Aug 2026

5 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Pasar kripto memasuki pertengahan Agustus 2026 dengan sejumlah katalis makro yang berlawanan arah. Bitcoin (BTC) masih bergerak di kisaran US$64.000–US$65.300 setelah turun 2,2% dalam sepekan, meski peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve (Fed) pada September kembali menurun.

Data ketenagakerjaan Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu perhatian utama. Nonfarm Payrolls (NFP) Juli tercatat minus 23.000 pekerjaan, jauh di bawah ekspektasi kenaikan 95.000. Selain itu, data Mei–Juni direvisi turun total 103.000 pekerjaan.

Sementara itu, inflasi AS berdasarkan Consumer Price Index (CPI) Juli berada di 3,4% secara tahunan. Kombinasi data tenaga kerja yang melemah dan inflasi yang melandai membuat peluang kenaikan suku bunga Fed pada September turun menjadi sekitar 42%, dari 57–62% pada pekan sebelumnya berdasarkan CME FedWatch.

Namun, penurunan odds kenaikan suku bunga tersebut belum otomatis menjadi katalis positif bagi Bitcoin. BTC justru masih berada dalam fase konsolidasi di sekitar US$64.200 pada 12 Agustus. Kondisi ini menunjukkan bahwa hubungan antara ekspektasi kebijakan Fed dan pergerakan BTC tidak selalu berjalan secara mekanis dalam jangka pendek.

Harga Minyak Justru Melonjak di Tengah Progres Iran-Oman

Pergerakan pasar energi menjadi kejutan lain pekan ini. Iran dan Oman disebut telah mencapai kerangka rute sementara untuk kawasan Selat Hormuz selama 2–4 bulan.

Namun, perkembangan diplomatik tersebut tidak serta-merta membuat harga minyak turun. Sebaliknya, Brent melonjak ke US$89,24 per barel, naik 12,6% dari US$79,26, sementara WTI naik 10,1% menjadi US$82,72.

Kenaikan harga minyak dipicu kekhawatiran terhadap potensi penghentian produksi (shut-in) di kawasan Timur Tengah. Artinya, progres pembicaraan Iran-Oman belum cukup untuk menghilangkan risiko pasokan.

Perkembangan ini menjadi koreksi penting terhadap asumsi pekan sebelumnya bahwa pembicaraan tahap akhir Iran-Oman akan otomatis mendorong harga minyak turun.

Dana Institusi Masih Mengalir ke ETF Bitcoin

Di tengah tekanan harga BTC, arus dana institusional justru menunjukkan perkembangan positif. ETF Bitcoin spot AS mencatat inflow US$853,54 juta pada pekan yang berakhir 7 Agustus, menjadi arus masuk mingguan terkuat sejak pertengahan April.

BlackRock melalui IBIT menyumbang sekitar US$693 juta, atau sekitar 81% dari total inflow tersebut.

ETF Ethereum juga mencatat inflow US$49,6 juta pada 7 Agustus setelah sebelumnya mengalami outflow US$11,9 juta pada 3 Agustus.

Meski demikian, data ETF tersebut memiliki jeda sekitar 5–6 hari dari periode laporan sehingga belum dapat digunakan sebagai indikator real-time. Secara kumulatif, ETF Bitcoin AS juga masih mengalami defisit sekitar US$4,5 miliar secara year-to-date.

CLARITY Act Kembali Tertunda, Peluang Lolos Makin Tipis

Dari sisi regulasi, pasar kripto AS kembali menghadapi ketidakpastian setelah Senat menunda pembahasan CLARITY Act.

Senat baru akan memproses cloture atas motion to proceed pada 15 September. Tahap tersebut merupakan pemungutan suara prosedural untuk melanjutkan pembahasan, bukan voting final untuk mengesahkan undang-undang.

CLARITY Act membutuhkan sedikitnya 60 suara untuk melewati tahap tersebut. Sementara itu, Partai Republik saat ini memiliki 53 kursi sehingga membutuhkan dukungan setidaknya tujuh senator Demokrat.

Sebelumnya, RUU tersebut telah lolos DPR dengan suara 294–134 dan Komite Perbankan Senat dengan 15–9.

Di pasar prediksi, peluang CLARITY Act disahkan pada 2026 turun menjadi sekitar 16–17%, dari sekitar 23% pada pekan sebelumnya.

Strategy Jual BTC Lagi di Bawah Cost Basis

Tekanan lain datang dari Strategy (MSTR), yang kembali menjual Bitcoin.

Berdasarkan filing 8-K kepada SEC pada 10 Agustus, Strategy menjual 1.690 BTC pada periode 3–9 Agustus. Harga jual rata-rata tercatat sekitar US$64.262 per BTC, jauh di bawah cost basis perusahaan yang berada di sekitar US$75.385 per BTC.

Setelah transaksi tersebut, kepemilikan Bitcoin Strategy turun menjadi 840.447 BTC.

Penjualan tersebut menjadi aksi jual kedua secara beruntun di bawah cost basis. Pola ini mulai menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa aksi jual bukan lagi sekadar insiden satu kali.

Meski demikian, CEO Strategy sebelumnya menyatakan perusahaan akan kembali melakukan pembelian Bitcoin untuk sisa 2026.

Indonesia: Nominasi Destry Jadi Katalis Rupiah dan IHSG

Di pasar domestik, Presiden Prabowo Subianto resmi mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) definitif kepada DPR.

Nominasi ini mengakhiri ketidakpastian terkait belum adanya calon definitif. DPR memiliki waktu sekitar satu bulan untuk memproses nominasi tersebut, sementara Destry masih menjabat sebagai Pelaksana Tugas (Plt) hingga mendapatkan persetujuan DPR.

Rupiah sempat menguat ke sekitar Rp17.750 per dolar AS pada 10 Agustus, merespons pengumuman nominasi. Namun, sebagian penguatan tersebut kembali tergerus setelah harga minyak melonjak dan investor mencermati keputusan MSCI.

Pada 12 Agustus, rupiah berada di kisaran Rp17.855–Rp17.881 per dolar AS, masih lebih kuat dibandingkan level Rp17.933 pada pekan sebelumnya.

Sementara itu, IHSG menguat ke 6.373,85 pada 12 Agustus dari 6.351 pada pekan sebelumnya.

MSCI juga mempertahankan pembekuan terkait saham Indonesia. GOTO dan CPIN akan keluar dari indeks dan efektif pada 31 Agustus. Keputusan tersebut merupakan keputusan penyedia indeks dan bukan tindakan pengawasan OJK.

Dua Katalis Besar Fed dan BI Berpotensi Picu Volatilitas

Perhatian pasar selanjutnya akan tertuju pada sejumlah agenda penting hingga pekan depan.

Pada 14 Agustus, kontrak opsi mingguan BTC dan ETH di Deribit akan memasuki masa kedaluwarsa. Kemudian pada 18–19 Agustus, Bank Indonesia dijadwalkan menggelar Rapat Dewan Gubernur dengan ekspektasi suku bunga tetap di 5,75%.

Pada 19 Agustus, pasar juga akan mencermati publikasi notulen FOMC dari rapat 28–29 Juli. Notulen tersebut dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai perbedaan pandangan di internal The Fed, terutama setelah odds kenaikan suku bunga September turun menjadi 42%.

Sehari setelahnya, pada 21 Agustus, kembali terjadi ekspirasi opsi mingguan Deribit.

Kombinasi agenda tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas karena keputusan BI dan notulen FOMC hanya berjarak sekitar 48 jam. Pergerakan rupiah dan Bitcoin dapat sama-sama terdampak apabila pasar mendapatkan sinyal kebijakan moneter yang mengejutkan.

Apa yang Perlu Diperhatikan Investor?

Bagi investor pemula, penurunan peluang kenaikan suku bunga Fed tidak boleh langsung diartikan sebagai sinyal bahwa Bitcoin pasti menguat. Perkembangan minyak, data ekonomi, dan sentimen risiko global tetap dapat menekan BTC.

Trader jangka pendek perlu menyiapkan skenario dua arah menjelang RDG BI dan publikasi notulen FOMC. Ekspirasi opsi Deribit pada 21 Agustus juga perlu diperhatikan karena berpotensi memperbesar volatilitas jangka pendek.

Sementara itu, investor jangka panjang dapat memantau apakah Strategy kembali menjual Bitcoin untuk pekan ketiga secara berturut-turut serta perkembangan proses persetujuan Destry Damayanti di DPR.

Di sisi positif, implementasi konkret kerangka Iran-Oman dapat menjadi katalis untuk meredakan tekanan harga minyak apabila risiko gangguan pasokan mulai berkurang.

Dengan banyaknya katalis makro dan pasar yang masih berada dalam fase konsolidasi, pekan mendatang berpotensi menjadi periode penting bagi arah Bitcoin dan pasar kripto secara keseluruhan.

Download FLOQ Sekarang

Ingin mengikuti perkembangan pasar kripto dan mulai belajar berinvestasi dengan lebih mudah? Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga kamu bisa bertransaksi dengan lebih aman dan nyaman.

Disclaimer

Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 14 Agustus 2026 dan bertujuan sebagai materi edukasi serta informasi pasar. Seluruh pembahasan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual aset kripto atau instrumen investasi apa pun.

Pergerakan harga aset digital dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi global, kebijakan bank sentral, perkembangan regulasi, sentimen pasar, hingga risiko geopolitik. Karena itu, kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.

Sebelum mengambil keputusan investasi, lakukan riset secara mandiri (DYOR/Do Your Own Research), pahami profil risiko masing-masing, dan gunakan strategi manajemen risiko yang sesuai. FLOQ tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.

Baca Juga: Sinyal Trading Bikin Auto Profit? Kenali Faktanya Sebelum Ikut!

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device