Market Outlook W1 September 2026: BTC Tertekan, Minyak Melonjak, Mau Dibawa Kemana?

Pasar

04 Sep 2026

9 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pasar kripto memasuki September 2026 dengan kondisi yang cukup menegangkan.

Bitcoin atau BTC yang sebelumnya berhasil naik hingga area US$82.000 mulai terkoreksi ke kisaran US$77.000-79.000. Pergerakan ini terjadi setelah pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga The Federal Reserve atau The Fed pada September.

Di saat yang sama, situasi geopolitik di Selat Hormuz ikut memanas. Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran mendorong harga minyak naik hingga sekitar US$95 per barel untuk Brent dan US$90 untuk WTI.

Dari sisi pasar institusional, kondisinya juga mulai terbelah. ETF Bitcoin mengalami outflow, sementara ETF Ethereum masih mencatat inflow selama 12 hari berturut-turut.

Lalu, apa artinya semua ini untuk pasar kripto? Berikut FLOQ market outlook minggu pertama September 2026.

Bitcoin Terkoreksi Setelah Rally 20%

Bitcoin mengawali pekan dengan posisi yang cukup kuat. Pada 27 Agustus, BTC berada di kisaran US$80.000-82.000, setelah sebelumnya mencatat reli sekitar 20% dalam satu minggu.

Namun, momentum tersebut mulai berubah setelah pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole pada 28 Agustus.

BTC turun sekitar 3% hanya dalam beberapa jam setelah pidato tersebut. Pergerakan harga yang cepat juga menyebabkan sekitar US$488 juta posisi leverage mengalami likuidasi.

Tekanan kemudian berlanjut. Pada 2 September, Bitcoin sempat turun ke sekitar US$77.119, sebelum stabil di area US$78.000-79.000 pada 3 September.

Ethereum juga ikut terkoreksi ke sekitar US$2.400 dari kisaran US$2.450 pada pekan sebelumnya. Meski begitu, koreksi ini belum otomatis berarti tren Bitcoin dalam jangka panjang sudah berubah.

Salah satu level yang perlu diperhatikan adalah EMA 200-hari di US$71.676. Level tersebut menjadi support struktural penting setelah Bitcoin berhasil breakout pada pekan sebelumnya.

Jika support tersebut ditembus, konfirmasi pembalikan tren yang terjadi pada awal Agustus perlu kembali diperhatikan.

Kenapa Bitcoin Turun? Pidato The Fed Jadi Pemicu Utama

Salah satu faktor terbesar yang mengubah sentimen pasar adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed.

Pada pekan sebelumnya, notulen FOMC yang dirilis 19 Agustus memang menunjukkan nada hawkish dengan hasil voting 9-3. Namun, probabilitas kenaikan suku bunga pada September justru sempat turun menjadi 31,6%.

Situasinya berubah setelah pidato Kevin Warsh di Simposium Jackson Hole pada 28 Agustus.

Warsh menyampaikan bahwa data inflasi selama musim panas belum menunjukkan perbaikan tren inti yang meyakinkan. Artinya, peluang kenaikan suku bunga lebih lanjut masih terbuka.

Pasar langsung merespons. Probabilitas kenaikan suku bunga September berdasarkan CME FedWatch melonjak menjadi sekitar 57-66%, naik cukup tajam dari 31,6% pada pekan sebelumnya.

Ini menjadi salah satu alasan utama mengapa aset berisiko, termasuk kripto, kembali menghadapi tekanan.

Namun, ada satu hal penting yang perlu diperhatikan. Angka 57-66% tersebut bukan kepastian. Laporan market outlook mencatat adanya perbedaan angka antar sumber, sehingga lebih tepat dibaca sebagai rentang probabilitas, bukan angka tunggal yang pasti.

NFP dan CPI Bisa Mengubah Arah Pasar Lagi

Pasar sekarang tidak hanya menunggu keputusan The Fed.

Dua data ekonomi Amerika Serikat akan menjadi perhatian utama, yaitu Non-Farm Payrolls atau NFP pada 4 September dan CPI pada 11 September.

Keduanya akan menjadi data penting sebelum pertemuan FOMC pada 15-16 September.

Jika data tenaga kerja dan inflasi menunjukkan kondisi yang mendukung kebijakan lebih ketat, ekspektasi kenaikan suku bunga bisa bertahan.

Sebaliknya, jika data ekonomi lebih lemah dari ekspektasi, narasi hawkish tersebut bisa kembali berubah.

Inilah alasan mengapa investor sebaiknya tidak langsung menganggap arah kebijakan Fed sudah pasti. Perubahan ekspektasi bisa terjadi dengan cepat, seperti yang terlihat dalam beberapa pekan terakhir.

Untuk trader, periode seperti ini biasanya perlu dihadapi dengan skenario dua arah. Jangan hanya menyiapkan rencana jika harga naik, tetapi juga jika pasar kembali turun.

Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Melonjak

Selain The Fed, faktor geopolitik menjadi perhatian besar minggu ini.

Eskalasi antara Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz meningkat setelah dua tanker disergap proyektil pada 1 September.

Pada 2 September, Amerika Serikat kemudian melancarkan serangan balasan terhadap sekitar 100 sasaran Iran.

Iran merespons dengan drone dan rudal ke pangkalan Amerika Serikat di Bahrain dan Kuwait. Mayoritas serangan tersebut berhasil dicegat dan tidak ada korban di pihak Amerika Serikat yang dilaporkan dalam laporan tersebut.

Situasi ini langsung berdampak pada pasar energi. Harga Brent melonjak ke sekitar US$95 per barel, sementara WTI berada di sekitar US$90 per barel.

Harga tersebut menjadi yang tertinggi untuk Brent sejak akhir Juli.

Apa Dampaknya ke Bitcoin?

Kenaikan harga minyak tidak selalu berarti Bitcoin akan langsung turun. Namun, jika konflik semakin meluas dan mengganggu pasokan energi, risiko supply shock dapat meningkat.

Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi inflasi global. Jika inflasi kembali mendapat tekanan, bank sentral bisa menjadi lebih berhati-hati dalam menurunkan suku bunga.

Bagi aset berisiko seperti kripto, kondisi tersebut tentu perlu diperhatikan. Yang juga penting, laporan ini mengingatkan agar sinyal diplomatik tidak langsung dianggap sebagai tanda konflik sudah mereda.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian memang menyatakan kesiapan untuk kembali ke gencatan senjata Juni jika Amerika Serikat melakukan hal yang sama.

Namun, laporan menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal diplomatik, bukan bukti bahwa de-eskalasi sudah benar-benar terjadi di lapangan. Karena itu, risiko terhadap pasokan minyak masih perlu dipantau.

ETF Bitcoin dan Ethereum Mulai Menunjukkan Arah Berbeda

Menariknya, tekanan terhadap Bitcoin tidak terjadi pada seluruh pasar ETF kripto.

ETF Bitcoin dan Ethereum sebelumnya mencatat pekan terbaik sejak Oktober dengan total sekitar US$3,2 miliar hingga 28 Agustus. Namun, pada 1 September, arus dana berbalik menjadi outflow sekitar US$236 juta.

Sebagian besar outflow tersebut berasal dari IBIT milik BlackRock, yang menyumbang sekitar 85% dari angka tersebut.

Namun, Ethereum justru menunjukkan kondisi berbeda. ETF ETH masih mencatat inflow selama 12 hari berturut-turut, dengan inflow sekitar US$10,95 juta pada 1 September.

Divergensi ini menarik untuk diperhatikan karena menunjukkan bahwa permintaan institusional terhadap Ethereum belum mengikuti pelemahan ETF Bitcoin secara penuh.

Apakah Ini Tanda Rotasi ke Ethereum?

Belum tentu. Satu indikator tidak cukup untuk memastikan bahwa terjadi rotasi aset secara besar-besaran.

Namun, tren inflow ETF ETH yang berlangsung selama 12 hari menjadi sinyal yang layak dipantau.

Jika kondisi tersebut terus berlanjut ketika Bitcoin masih mengalami tekanan, investor bisa melihatnya sebagai salah satu indikator adanya perbedaan minat institusional antara BTC dan ETH.

Untuk saat ini, lebih tepat menganggapnya sebagai sinyal awal, bukan konfirmasi tren baru.

Strategy Kembali Memborong Bitcoin

Di tengah tekanan pasar, ada kabar berbeda dari Strategy atau MSTR. Setelah menghentikan pembelian Bitcoin selama sekitar 10 minggu, Strategy kembali melakukan pembelian.

Perusahaan tersebut membeli 4.603 BTC dengan nilai sekitar US$369,7 juta pada periode 24-30 Agustus. Harga pembelian rata-ratanya sekitar US$80.318 per BTC. Dengan pembelian tersebut, total kepemilikan Bitcoin Strategy mencapai sekitar 845.050 BTC.

mNAV Strategy berada di kisaran 1,02x, sedikit turun dari sekitar 1,05x pada pekan sebelumnya.

Kembalinya pembelian Bitcoin oleh Strategy menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan, terutama untuk melihat apakah permintaan korporasi terhadap BTC kembali berlanjut setelah jeda panjang.

Bagaimana dengan CLARITY Act?

Perkembangan regulasi kripto di Amerika Serikat juga masih menjadi perhatian. Namun, untuk saat ini belum ada perkembangan substantif baru terkait CLARITY Act.

Cloture atas motion to proceed masih dijadwalkan pada 15 September pukul 14.15 ET, sementara Senat dijadwalkan kembali bersidang pada 14 September. Demokrat masih mempertahankan sikap menolak cloture tanpa adanya progres pada tiga isu utama, yaitu:

  • Ketentuan etika
  • Anti-pencucian uang atau AML
  • Yield stablecoin

Gap suara yang dibutuhkan juga masih sekitar 6-7 suara Demokrat. Artinya, belum ada perubahan besar dalam perhitungan suara dibandingkan pekan sebelumnya. Namun, karena tanggal cloture semakin dekat, headline terkait CLARITY Act tetap berpotensi memicu volatilitas pasar.

Kondisi Pasar Indonesia Juga Perlu Diperhatikan

Pergerakan pasar global bukan satu-satunya faktor yang penting.

Di Indonesia, BI-Rate masih berada di 5,75% berdasarkan keputusan RDG 18-19 Agustus. Rapat Dewan Gubernur berikutnya dijadwalkan pada 22-23 September.

Sementara itu, Destry Damayanti telah resmi disahkan sebagai Gubernur Bank Indonesia periode 2026-2031. Prosesnya telah melewati fit and proper test, pengesahan dalam Rapat Paripurna DPR pada 1 September, kemudian pelantikan resmi pada 2 September.

Dari sisi nilai tukar, rupiah berada di sekitar Rp17.759 per dolar AS pada 2 September, melemah dari Rp17.693 pada 21 Agustus. Meski begitu, rupiah masih tercatat menguat sekitar 1,3% dalam satu bulan terakhir.

IHSG berada di level 6.596,77 pada 2 September, atau naik sekitar 1,5% dibandingkan 20 Agustus meskipun pergerakannya mulai melandai pada awal September.

Ada Perkembangan Tarif AS-Indonesia?

Untuk tarif AS-Indonesia, belum ada perubahan dari baseline yang sudah dikonfirmasi sebelumnya. Tarif Section 301 sebesar 10% masih menjadi baseline yang berlaku.

Sementara itu, skema tariff-rate quota atau TRQ untuk tekstil dan apparel Indonesia bersama Bangladesh, Kamboja, dan Malaysia ditargetkan berlaku mulai 1 September.

Namun, per tanggal laporan dibuat, notifikasi resmi Federal Register belum terbit. Karena itu, laporan secara tegas mengingatkan agar skema tersebut jangan dikutip sebagai kebijakan yang sudah efektif berlaku.

Di sisi lain, perubahan indeks MSCI untuk GOTO dan CPIN telah resmi efektif pada 1 September. GOTO dihapus dari Global Standard, sementara CPIN diturunkan ke Small Cap.

Apa yang Harus Dipantau Investor Minggu Ini?

Ada beberapa tanggal penting yang berpotensi memengaruhi pasar kripto.

Pada 4 September, pasar akan mendapatkan data NFP Amerika Serikat untuk periode Agustus.

Pada hari yang sama, terjadi ekspirasi opsi mingguan BTC dan ETH di Deribit. Kombinasi antara data tenaga kerja dan kedaluwarsa opsi berpotensi meningkatkan volatilitas intraday.

Kemudian, pasar akan memantau perkembangan negosiasi CLARITY Act serta eskalasi di Selat Hormuz sepanjang pekan.

Pada 10 September, terdapat Simposium Community Banking Fed Chicago yang berpotensi menghadirkan komentar pejabat Fed regional mengenai arah suku bunga.

Kemudian pada 11 September, data CPI Amerika Serikat akan dirilis. CPI ini menjadi salah satu katalis penting terakhir sebelum FOMC pada 15-16 September.

Risiko Terbesar: Fed dan Hormuz

Market outlook minggu ini menunjukkan dua risiko utama.

Pertama adalah risiko kebijakan The Fed.

NFP dan CPI akan menentukan apakah probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 57-66% tetap bertahan atau kembali turun. Jika data ekonomi lebih lemah, narasi hawkish bisa berubah dengan cepat.

Kedua adalah risiko geopolitik di Hormuz.

Meskipun terdapat sinyal diplomatik dari Iran mengenai kemungkinan gencatan senjata, belum ada tanda de-eskalasi konkret di lapangan. Jika konflik berlanjut, risiko supply shock minyak tetap tinggi.

Kombinasi antara harga minyak tinggi dan kebijakan moneter ketat bisa menjadi tantangan bagi aset berisiko, termasuk kripto.

Bagaimana Strategi Investor Menghadapi Kondisi Ini?

Untuk pemula, jangan buru-buru mengambil keputusan hanya karena Bitcoin terkoreksi. Penurunan BTC ke area US$77.000-78.000 setelah perubahan ekspektasi Fed belum otomatis berarti tren jangka panjang sudah berbalik.

Menunggu data NFP bisa menjadi salah satu pendekatan yang lebih hati-hati sebelum membuka posisi baru.

Untuk swing trader, volatilitas perlu menjadi perhatian utama.

NFP bertepatan dengan ekspirasi opsi Deribit, sehingga pergerakan intraday bisa lebih agresif. Level EMA 200-hari di US$71.676 juga layak dijadikan acuan teknikal penting.

Sementara itu, investor jangka panjang dapat memantau dua hal.

Pertama, apakah Strategy kembali melanjutkan pembelian Bitcoin setelah jeda 10 minggu.

Kedua, bagaimana perubahan kebijakan dan komunikasi Bank Indonesia di bawah kepemimpinan Destry Damayanti memengaruhi stabilitas rupiah dalam jangka menengah.

Kesimpulan Market Outlook September 2026

Minggu pertama September 2026 menjadi periode yang cukup penting bagi pasar kripto.

Bitcoin mengalami koreksi setelah ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed meningkat. Dari sekitar 31,6%, probabilitas kenaikan suku bunga September kini berada di kisaran 57-66%.

Namun, arah tersebut belum final. NFP pada 4 September dan CPI pada 11 September bisa kembali mengubah ekspektasi pasar sebelum FOMC 15-16 September.

Di luar faktor moneter, eskalasi Amerika Serikat dan Iran di Selat Hormuz juga perlu diperhatikan karena harga minyak sudah melonjak ke sekitar US$95 per barel.

Sementara itu, pasar institusional menunjukkan sinyal yang tidak seragam. ETF Bitcoin mengalami outflow, sedangkan ETF Ethereum masih mencatat inflow selama 12 hari berturut-turut. Strategy juga kembali membeli Bitcoin dalam jumlah besar.

Dengan kondisi seperti ini, satu hal yang paling penting adalah jangan mengambil kesimpulan hanya dari satu indikator.

Koreksi BTC belum otomatis berarti bear market. Outflow ETF selama satu hari belum otomatis berarti tren institusional sudah berbalik. Sinyal diplomatik Iran juga belum cukup untuk menyimpulkan risiko geopolitik telah selesai.

Untuk minggu ini, perhatian utama sebaiknya diarahkan pada NFP, CPI, kebijakan The Fed, EMA 200-hari BTC, arus dana ETF, pembelian Strategy, serta perkembangan Hormuz.

Pasar masih sangat sensitif terhadap perubahan data dan headline. Karena itu, manajemen risiko tetap menjadi bagian penting dalam mengambil keputusan investasi.

FAQ

1. Kenapa harga Bitcoin turun pada awal September 2026?

Salah satu pemicu utamanya adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed setelah pidato Kevin Warsh di Jackson Hole. Probabilitas kenaikan suku bunga September naik dari 31,6% menjadi sekitar 57-66%.

2. Apakah koreksi Bitcoin berarti tren bullish sudah berakhir?

Belum tentu. Market outlook menempatkan EMA 200-hari di US$71.676 sebagai support struktural penting. Koreksi ke US$77.000-78.000 belum otomatis mengonfirmasi pembalikan tren jangka panjang.

3. Apa yang dimaksud dengan NFP?

NFP atau Non-Farm Payrolls adalah data tenaga kerja Amerika Serikat. Dalam market outlook ini, NFP 4 September menjadi salah satu data penting yang dapat memengaruhi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

4. Kenapa harga minyak naik pada awal September 2026?

Kenaikan harga minyak berkaitan dengan eskalasi konflik Amerika Serikat dan Iran di sekitar Selat Hormuz. Brent naik ke sekitar US$95 per barel dan WTI sekitar US$90 per barel.

5. Apakah ETF Ethereum lebih kuat daripada ETF Bitcoin?

Pada periode yang dibahas dalam laporan, ETF ETH masih mencatat inflow selama 12 hari berturut-turut, sementara ETF BTC mengalami outflow sekitar US$236 juta pada 1 September. Namun, kondisi ini belum cukup untuk memastikan terjadinya rotasi aset secara permanen.

6. Apa yang harus dipantau investor minggu ini?

Beberapa katalis utama adalah NFP 4 September, ekspirasi opsi BTC dan ETH, perkembangan CLARITY Act, situasi Hormuz, komentar pejabat The Fed, CPI 11 September, dan FOMC 15-16 September.

7. Apakah CLARITY Act sudah mendapatkan perkembangan baru?

Menurut market outlook, belum ada perkembangan substantif baru. Cloture masih dijadwalkan pada 15 September dan gap suara Demokrat masih sekitar 6-7 suara.

8. Apakah Strategy masih membeli Bitcoin?

Ya. Strategy kembali membeli 4.603 BTC senilai sekitar US$369,7 juta pada periode 24-30 Agustus setelah sebelumnya berhenti membeli selama sekitar 10 minggu.

Baca Juga: Market Outlook W4 Agustus 2026: BTC Tembus $80.000, Apa yang Terjadi Berikutnya?

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device