Peluang The Fed menaikkan suku bunga pada pertemuan September kembali meningkat. Pasar kini semakin mencermati keputusan bank sentral Amerika Serikat (AS) yang akan digelar pada 15-16 September 2026, terutama setelah pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole.
Berdasarkan harga pasar, probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September sebelumnya berada di sekitar 33%, kemudian melonjak hingga sekitar 66% setelah pidato Warsh. Angka tersebut sempat berada di kisaran 64%.
Sementara itu, ekonom Steve Hanke memperkirakan peluang kenaikan suku bunga bahkan mencapai 80%.
Data dari Kalshi menunjukkan pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin berada di sekitar 55%, sementara probabilitas suku bunga dipertahankan berada di sekitar 46%. Hanya sekitar 2% trader yang memperkirakan kenaikan lebih dari 25 basis poin.

Data Tenaga Kerja Jadi Penentu Keputusan The Fed
Dilaporkan Coinpedia, pasar kini menunggu sejumlah data ekonomi AS yang dapat menentukan arah kebijakan moneter The Fed pada September.
Pandangan Warsh mengenai perlunya mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan menaikkannya salah satunya didukung kondisi pasar tenaga kerja AS. Dalam pidatonya di Jackson Hole, Warsh menyoroti tingkat pengangguran sekitar 4,1% serta klaim pengangguran yang berada dekat level terendah dalam sejarah.
Menurut pandangan tersebut, kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga tinggi tanpa memberikan tekanan berlebihan terhadap pekerja.
Sejumlah data ketenagakerjaan yang dirilis pekan ini akan menjadi perhatian utama. JOLTS akan memberikan gambaran mengenai kondisi perekrutan tenaga kerja, sementara data ADP akan memberikan indikasi awal mengenai pertumbuhan payroll sektor swasta.
🚨 BREAKING: ISM MANUFACTURING AND JOLTS BOTH MISS
— DeFi_Machine (@DeFi_Machine) September 1, 2026
→ ISM Manufacturing PMI (August): 54.6 vs 55.2 expected
→ JOLTS Job Openings (July): 7.271M vs 7.3M expected
Manufacturing expansion is slowing, and job openings came in weaker too. Adds to the stagflation worries already… https://t.co/o8JMMbs3Xn pic.twitter.com/7bgR45NsrX
Namun, data yang paling ditunggu adalah laporan nonfarm payrolls dan tingkat pengangguran yang akan dirilis Jumat.
Jika data tenaga kerja menunjukkan ekonomi AS masih kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga September berpotensi kembali meningkat. Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat mengurangi alasan bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga.
Pasar juga akan mendapatkan data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) pada pekan berikutnya, hanya beberapa hari sebelum pertemuan FOMC.
Steve Hanke Prediksi Peluang Kenaikan Capai 80%
Ekonom Steve Hanke memiliki pandangan yang lebih hawkish dibandingkan ekspektasi pasar.
Menurut Hanke, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September dapat mencapai sekitar 80%. Perkiraannya bahkan lebih tinggi dibandingkan probabilitas yang tercermin dalam pasar.
CME FedWatch sebelumnya menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga meningkat dari sekitar 33% menjadi sekitar 70% setelah pidato Warsh.

Hanke juga menilai keputusan kenaikan suku bunga sebelumnya menunjukkan adanya dukungan di dalam Federal Open Market Committee (FOMC) terhadap kebijakan yang lebih ketat. Tiga anggota FOMC sebelumnya telah memberikan suara mendukung kenaikan suku bunga.
Hanke memperkirakan Warsh berpotensi bergabung dengan kelompok tersebut dan memengaruhi anggota lainnya. Namun, proyeksinya dapat berubah apabila data ekonomi AS tiba-tiba menunjukkan pelemahan signifikan.
Tidak Semua Pihak Yakin The Fed Perlu Naikkan Suku Bunga
Di tengah meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, terdapat pula pandangan yang menilai The Fed belum tentu perlu mengambil langkah tersebut.
Analisis dari Wellington-Altus menyebut tekanan harga yang kembali meningkat dapat disebabkan oleh supply shock, bukan karena permintaan yang terlalu kuat.
Dalam kondisi tersebut, kenaikan harga belum tentu berkembang menjadi inflasi yang berkelanjutan. Tekanan inflasi baru dianggap lebih mengkhawatirkan apabila kenaikan biaya mulai menyebar ke upah, harga barang dan jasa secara luas, serta ekspektasi inflasi.
Analisis tersebut juga menyoroti tanda-tanda pelemahan di pasar tenaga kerja dan sektor yang sensitif terhadap suku bunga, termasuk perumahan, konstruksi, serta barang tahan lama.
Kenaikan suku bunga lebih lanjut justru berpotensi memperbesar tekanan terhadap investasi dan aktivitas ekonomi di sektor-sektor tersebut.
Tom Lee Justru Lihat Peluang Rally Jika The Fed Tidak Naikkan Bunga
Sementara pasar bersiap menghadapi potensi kenaikan suku bunga, Tom Lee dari Fundstrat justru melihat peluang positif apabila The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga.
Lee sebelumnya memperkirakan pasar saham AS dapat mengalami koreksi sekitar 10% pada September. Namun, pandangannya kini berubah.
Menurut Lee, kekhawatiran terhadap kebijakan The Fed, belanja AI, serta faktor musiman justru dapat menjadi katalis bagi pasar untuk bergerak lebih tinggi.
The markets could rally ‘very strongly’ if the Fed holds rates in September: Tom Lee of @Fundstrat: https://t.co/XJZLERqegk pic.twitter.com/MSewfuRR4R
— Squawk Box (@SquawkCNBC) August 31, 2026
Lee menilai pertemuan FOMC pada 15-16 September dapat menjadi titik penting bagi pasar.
Jika The Fed tidak menaikkan suku bunga, Lee memperkirakan pasar saham AS berpotensi mengalami reli kuat. Ia juga menilai kenaikan Bitcoin sebelumnya dapat menjadi awal dari pergerakan yang lebih besar.
Bagaimana Dampaknya ke Bitcoin dan Pasar Kripto?
Ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor penting bagi pergerakan aset berisiko, termasuk Bitcoin dan altcoin.
Bitcoin saat ini berada di sekitar US$77.000, dengan level US$76.000 sebagai support penting dan US$80.000 sebagai resistance utama.
Jika Bitcoin mampu menembus US$80.000 dengan volume perdagangan yang kuat, sentimen pasar berpotensi membaik dan memberikan ruang bagi altcoin untuk kembali menguat.
Sebaliknya, jika Bitcoin kehilangan support US$76.000, tekanan jual dapat meningkat dan membuat trader kembali mencari area support baru.
Ethereum saat ini berada di sekitar US$2.400, dengan US$2.400 sebagai support dan US$2.500 sebagai resistance. Sementara itu, Solana bergerak di sekitar US$100, dengan US$100 dan US$110 menjadi level penting yang perlu diperhatikan.
Keputusan The Fed pada September akan menjadi salah satu katalis utama pasar kripto. Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko, sementara keputusan untuk mempertahankan suku bunga berpotensi memberikan sentimen positif bagi Bitcoin dan altcoin.
Untuk saat ini, perhatian pasar akan tertuju pada data tenaga kerja, inflasi, dan pernyataan pejabat The Fed sebelum keputusan FOMC September diumumkan.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Stablecoin Terancam Gagal Jadi Uang Digital? Bos BIS Ungkap Masalah Besarnya




