Stablecoin Terancam Gagal Jadi Uang Digital? Bos BIS Ungkap Masalah Besarnya

Berita

01 Sep 2026

3 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Stablecoin kembali mendapat sorotan dari otoritas keuangan global. General Manager Bank for International Settlements (BIS) Pablo Hernandez de Cos menilai stablecoin belum dapat dianggap sebagai metode pembayaran yang kredibel jika digunakan dalam skala besar.

Pernyataan tersebut disampaikan de Cos dalam Jackson Hole Economic Policy Symposium yang digelar Federal Reserve di Wyoming, Amerika Serikat. Menurutnya, teknologi berbasis token tetap memiliki potensi besar, tetapi tokenized deposits dinilai menawarkan opsi yang lebih kuat untuk kebutuhan pembayaran sehari-hari.

Dilaporkan Reuters, De Cos mengatakan stablecoin dan tokenized deposits masih dapat berjalan berdampingan. Namun, ia menilai tokenized deposits seharusnya menangani sebagian besar transaksi harian, sementara stablecoin dapat digunakan untuk kebutuhan pembayaran yang lebih khusus.

Stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk mempertahankan nilai yang relatif stabil, umumnya dengan dipatok terhadap mata uang seperti dolar AS. Pertumbuhan penggunaannya dalam beberapa tahun terakhir telah memunculkan kekhawatiran mengenai stabilitas keuangan dan potensi pencucian uang di sejumlah negara.

De Cos mengungkapkan sejumlah persoalan yang menurutnya membuat stablecoin belum ideal sebagai sistem pembayaran utama. Salah satunya adalah potensi terganggunya konsep “singleness of money”, yakni kemampuan pengguna untuk menggunakan berbagai bentuk uang secara setara tanpa harus menanggung biaya ketika berpindah dari satu produk ke produk lainnya.

Selain itu, platform stablecoin dinilai belum memiliki interoperabilitas yang benar-benar memadai. Kondisi tersebut dapat menciptakan sistem pembayaran yang terfragmentasi dan menyulitkan perpindahan nilai antarplatform.

Persoalan lain yang menjadi perhatian adalah pencucian uang. Menurut de Cos, mekanisme pengawasan dan kontrol pada berbagai platform stablecoin sulit diterapkan secara konsisten.

Stablecoin Dolar dan Ancaman Digitalisasi

Pertumbuhan stablecoin berbasis dolar AS juga dinilai dapat menimbulkan persoalan bagi kedaulatan moneter sejumlah negara.

De Cos mengatakan meningkatnya adopsi stablecoin yang dipatok terhadap dolar dapat mendorong digital dollarization, terutama di negara-negara yang masyarakatnya semakin banyak menggunakan aset digital berbasis dolar.

Jika peminjam di luar Amerika Serikat beralih secara besar-besaran ke stablecoin berbasis dolar, kondisi tersebut berpotensi melemahkan kedaulatan moneter dan mengurangi efektivitas kebijakan moneter domestik. Perekonomian lokal juga dapat menjadi lebih terhubung dengan kebijakan ekonomi Amerika Serikat.

Pandangan tersebut berbeda dengan sikap sejumlah pejabat Amerika Serikat yang justru melihat stablecoin sebagai peluang strategis bagi dolar.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, sebelumnya mendukung perkembangan stablecoin dan menyebut teknologi tersebut sebagai revolusi digital yang dapat memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia. Pertumbuhan stablecoin berbasis dolar juga dinilai dapat meningkatkan permintaan terhadap surat utang pemerintah AS hingga bernilai triliunan dolar.

De Cos mengakui bahwa stablecoin memang berpotensi menurunkan biaya pembiayaan pemerintah. Namun, di sisi lain, perpindahan dana dari perbankan menuju stablecoin dapat meningkatkan biaya pendanaan bank.

Jika dana masyarakat keluar dari bank dalam jumlah besar, bank dapat menghadapi biaya pendanaan yang lebih tinggi dan pada akhirnya membebankan kenaikan tersebut kepada debitur melalui suku bunga pinjaman.

BIS Dorong Tokenized Deposits

Sebagai alternatif, de Cos menilai tokenized deposits menawarkan jalur yang lebih langsung untuk memanfaatkan teknologi tokenisasi tanpa mengubah fondasi sistem moneter yang sudah ada.

Tokenized deposits pada dasarnya membawa simpanan perbankan ke dalam format berbasis teknologi tokenisasi. Menurut de Cos, pendekatan ini dapat mempertahankan peran sistem perbankan sekaligus memanfaatkan efisiensi teknologi blockchain dan tokenisasi.

Meski demikian, tokenized deposits juga belum terbebas dari tantangan. De Cos menyebut interoperabilitas, tata kelola, serta persoalan hukum masih perlu diselesaikan, termasuk terkait proses penyelesaian transaksi atau settlement.

Perdebatan mengenai stablecoin dan tokenized deposits menunjukkan bahwa persaingan dalam sistem pembayaran digital bukan hanya menyangkut teknologi, tetapi juga menyentuh stabilitas sistem keuangan, kedaulatan moneter, hingga masa depan peran bank dalam perekonomian digital.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: Bitcoin di Titik Kritis, Tembus $81.800 atau Jatuh ke $70.000?

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device