Market Outlook W4 Agustus 2026: BTC Tembus $80.000, Apa yang Terjadi Berikutnya?

Pasar

27 Aug 2026

7 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pasar kripto kembali memanas. Bitcoin atau BTC berhasil menembus level psikologis $80.000 pada 25 Agustus 2026. Bahkan, BTC sempat menyentuh $81.235 sebelum kembali berkonsolidasi. Kenaikan ini bukan terjadi sendirian.

Arus dana ke ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat juga melonjak. Dalam sepekan hingga 24 Agustus, total inflow ETF BTC dan ETH mencapai sekitar $2,71 miliar. Angka ini menjadi salah satu sinyal positif bagi pasar kripto.

Namun, ada satu pertanyaan besar. Apakah rally BTC masih bisa berlanjut? Atau justru pasar sedang berada di area yang rawan koreksi?

Jawabannya bisa sangat dipengaruhi oleh satu agenda penting pada 28 Agustus 2026, yaitu pidato Ketua Federal Reserve, Kevin Warsh, di Simposium Jackson Hole.

Berikut market outlook berdasarkan kondisi pasar per 27 Agustus 2026.

BTC Tembus $80.000 Setelah Rally 26% dalam Dua Pekan

Bitcoin memasuki pekan ini dengan momentum yang cukup kuat.

Pada akhir pekan sebelumnya, BTC ditutup di sekitar $77.890. Kemudian pada 25 Agustus, harganya berhasil menembus $80.000 dan mencapai intraday high sekitar $81.235.

Sehari setelahnya, BTC dibuka di sekitar $78.528 dan sempat mengalami konsolidasi. BTC kemudian ditutup di sekitar $79.165 pada 26 Agustus.

Jika dihitung dari titik terendah sekitar $62.700 pada 12 Agustus, BTC sudah naik sekitar 26% menuju level tertingginya.

Ini merupakan momentum yang cukup besar dalam waktu singkat. Tetapi kenaikan cepat juga membawa risiko. Kondisi crowded longs dan volume yang mulai melandai membuat breakout BTC lebih rentan terhadap koreksi.

Artinya, meskipun harga berhasil menembus $80.000, bukan berarti level tersebut otomatis menjadi support kuat. Trader perlu melihat apakah BTC mampu bertahan di atas area tersebut setelah muncul katalis besar dari pasar makro.

Mengapa Jackson Hole Jadi Perhatian Utama?

Kalau kamu mengikuti pasar kripto, mungkin kamu sudah sering mendengar istilah Jackson Hole.

Jackson Hole adalah simposium ekonomi tahunan yang mempertemukan pejabat bank sentral, ekonom, dan pelaku kebijakan dari berbagai negara.

Tahun ini, perhatian pasar tertuju pada pidato Ketua Fed Kevin Warsh pada 28 Agustus 2026 sekitar pukul 21.00 WIB.

Pidato ini menjadi penting karena pasar sedang mencari petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat berikutnya.

Situasinya cukup menarik. Data Core PCE Amerika Serikat untuk Juli menunjukkan kenaikan 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan. Inflasi yang masih cukup tinggi bisa membuat bank sentral lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan suku bunga.

Di sisi lain, probabilitas kenaikan suku bunga September yang tercermin dari CME FedWatch berada di kisaran 30-33%.

Jadi, pasar belum memberikan sinyal yang benar-benar tegas. Inilah yang membuat pidato Warsh menjadi wildcard besar untuk pasar.

Kalau Nada Fed Hawkish

Jika Warsh memberikan sinyal bahwa Fed masih fokus memerangi inflasi dan belum terburu-buru mengubah kebijakan suku bunga, pasar bisa merespons negatif.

Suku bunga yang lebih tinggi atau ekspektasi kebijakan moneter yang lebih ketat biasanya membuat aset berisiko menghadapi tekanan. Kripto termasuk salah satunya.

Dalam skenario ini, BTC yang baru saja menembus $80.000 bisa menghadapi aksi ambil untung.

Kalau Nada Fed Lebih Dovish

Sebaliknya, jika pesan Warsh lebih lunak dan membuka ruang bagi kebijakan yang lebih akomodatif, sentimen risk-on bisa kembali menguat.

BTC berpotensi mendapatkan dorongan tambahan.

Namun, tetap tidak ada jaminan harga akan langsung naik.

Pasar bisa bergerak sangat cepat setelah pidato. Apalagi, pada hari yang sama juga terdapat ekspirasi opsi mingguan BTC dan ETH di Deribit.

Jadi, volatilitas berpotensi meningkat.

Inflow ETF Capai $2,71 Miliar

Salah satu katalis paling positif datang dari pasar ETF.

ETF Bitcoin dan Ethereum di Amerika Serikat mencatat total net inflow sekitar $2,71 miliar untuk pekan yang berakhir 24 Agustus.

Bitcoin menyumbang sekitar $1,92 miliar, sedangkan Ethereum sekitar $697 juta.

Bitcoin berkontribusi sekitar 70,8% dari total inflow tersebut.

Momentum tersebut juga berlanjut pada 25 Agustus.

ETF Bitcoin mencatat inflow sekitar $314,3 juta, sementara ETF Ethereum mendapatkan sekitar $179,8 juta.

Angka tersebut menunjukkan bahwa minat institusional terhadap aset kripto masih cukup kuat.

Namun, ada satu hal penting.

Inflow besar bukan berarti harga pasti terus naik.

Market outlook juga mengingatkan bahwa data positif dalam beberapa pekan belum cukup untuk menyimpulkan adanya pembalikan tren tahunan secara penuh.

Dengan kata lain, ETF menjadi sinyal positif.

Tetapi tetap perlu dilihat bersama indikator lain.

MSTR Mulai Menyiapkan "USD Cash"

Selain ETF, pergerakan Strategy atau MSTR juga menarik untuk diperhatikan.

Berdasarkan filing 8-K pada 24 Agustus, Strategy tidak membeli maupun menjual BTC selama periode 17-23 Agustus.

Jumlah kepemilikannya tetap sekitar 840.447 BTC, dengan rata-rata cost basis sekitar $75.385 per BTC.

Namun, Strategy justru melakukan aksi korporasi di pasar saham.

Perusahaan menjual sekitar 18,26 juta saham MSTR dan mengumpulkan sekitar $2,01 miliar.

Sebagian dana digunakan untuk buyback saham preferen STRC. Sebagian lainnya dialokasikan ke cadangan USD dan pool baru bernilai sekitar $1,57 miliar.

Dana tersebut nantinya dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan. Mulai dari membeli BTC, membayar dividen, melakukan buyback, hingga membayar utang konversi.

Artinya, meskipun Strategy sedang tidak membeli BTC dalam periode tersebut, perusahaan masih menyiapkan fleksibilitas finansial untuk langkah berikutnya.

Karena itu, aktivitas MSTR tetap layak dipantau oleh investor kripto.

Bagaimana Kondisi Pasar Indonesia?

Rally Bitcoin tidak otomatis membuat semua aset berisiko di Indonesia ikut menguat.

Ini terlihat dari pergerakan IHSG.

Pada 26 Agustus, IHSG turun sekitar 1,48% atau 95,98 poin menjadi 6.405,69.

Padahal pada pekan sebelumnya, IHSG masih berada di sekitar 6.501,58.

Berbeda dengan IHSG, rupiah relatif stabil. JISDOR Bank Indonesia tercatat sekitar Rp17.703 per dolar AS pada 26 Agustus.

Tekanan IHSG kali ini juga lebih banyak dikaitkan dengan faktor domestik.

Salah satunya adalah sikap risk-off menjelang demonstrasi besar di kawasan Gedung DPR/MPR Senayan pada 27 Agustus.

Pada 26 Agustus, seluruh 11 sektor saham mengalami pelemahan. Breadth pasar juga cukup buruk, dengan sekitar 583 saham turun dibandingkan 118 saham yang naik.

Ini menjadi pengingat bahwa pasar domestik bisa memiliki katalis sendiri.

Jadi, jangan hanya melihat pergerakan aset global ketika membaca kondisi pasar Indonesia.

Bagaimana dengan CLARITY Act?

Dari sisi regulasi kripto Amerika Serikat, CLARITY Act juga masih menjadi perhatian.

Pemimpin Mayoritas Senat John Thune telah mengajukan cloture atas motion to proceed CLARITY Act, dengan jadwal yang dikonfirmasi pada 15 September 2026.

Tetapi ada satu masalah.

Matematika suara belum banyak berubah.

Market outlook memperkirakan sekitar 50 suara GOP solid dari 53 kursi, sementara dukungan Demokrat di level komite masih terbatas. Beberapa nama senator disebut sebagai pihak yang dapat menjadi penentu.

Negosiasi mengenai ketentuan etika kepemilikan kripto yang berkaitan dengan Donald Trump juga masih menjadi salah satu hambatan.

Karena itu, jangan langsung menganggap jadwal cloture berarti CLARITY Act pasti akan lolos.

Tanggalnya sudah ada. Tetapi hasil akhirnya belum pasti.

Ini penting karena perkembangan regulasi di Amerika Serikat dapat memengaruhi sentimen investor terhadap industri aset digital secara lebih luas.

Harga Minyak Turun, Tapi Isu Hormuz Belum Selesai

Pasar energi juga memberikan cerita tersendiri.

Harga Brent turun selama tiga sesi berturut-turut dan berada di sekitar $86,38 per barel pada 26 Agustus.

WTI juga turun ke sekitar $80,52 per barel.

Salah satu pemicunya adalah laporan mengenai pembahasan koridor maritim sementara antara Iran dan Oman di Selat Hormuz.

Namun, market outlook memberikan catatan penting.

Kabar tersebut masih merupakan laporan diplomatik awal.

Belum ada konfirmasi bahwa kesepakatan final sudah tercapai dari kedua pemerintah.

Karena itu, investor sebaiknya tidak langsung menganggap risiko geopolitik di kawasan tersebut sudah selesai.

Apa yang Harus Dipantau Investor Kripto?

Ada beberapa agenda yang layak masuk watchlist pada akhir Agustus hingga awal September.

Pertama adalah pidato Kevin Warsh pada 28 Agustus.

Ini menjadi katalis terbesar dalam waktu dekat karena bisa mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan Fed.

Kedua adalah ekspirasi opsi BTC dan ETH di Deribit pada tanggal yang sama.

Kombinasi antara pidato bank sentral dan expiry opsi bisa membuat pergerakan harga lebih volatil.

Ketiga adalah ISM Manufacturing PMI AS pada 1 September.

Data ini dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi ekonomi Amerika Serikat setelah Jackson Hole.

Keempat adalah Nonfarm Payrolls dan tingkat pengangguran AS pada 4 September.

Data tenaga kerja tersebut akan menjadi salah satu bahan penting bagi pasar dalam memperkirakan keputusan FOMC pada 16–17 September.

Selain itu, perkembangan CLARITY Act dan kondisi pasar domestik Indonesia juga perlu dipantau.

Apa Artinya untuk Investor Pemula?

Kalau kamu masih pemula, jangan langsung berpikir bahwa BTC menembus $80.000 berarti sekarang adalah waktu terbaik untuk membeli.

Justru sebaliknya.

Kenaikan harga yang cepat bisa membuat banyak trader ikut masuk karena takut ketinggalan atau FOMO.

Padahal, kondisi crowded longs membuat pasar lebih rentan terhadap koreksi.

Karena itu, jangan buru-buru mengejar harga di area $80.000–$81.000 hanya karena takut tertinggal.

Perhatikan dulu bagaimana pasar bereaksi terhadap pidato Fed.

Inflow ETF memang menjadi sinyal positif. Tetapi inflow tersebut bukan jaminan bahwa harga BTC akan terus naik.

Buat kamu yang lebih aktif melakukan swing trading, skenario dua arah juga perlu disiapkan.

Jangan hanya memikirkan skenario harga naik.

Pikirkan juga apa yang akan dilakukan jika BTC gagal mempertahankan breakout.

Terlebih lagi, rally sekitar 26% dalam dua pekan membuat risiko koreksi teknikal tetap terbuka.

Sementara untuk investor jangka panjang, fokusnya bisa lebih luas.

Pantau perkembangan kebijakan moneter AS, aktivitas Strategy, perkembangan regulasi kripto, serta kondisi ekonomi global.

Kesimpulan: BTC Lagi Naik, Tapi Jangan Terlena

Per 27 Agustus 2026, pasar kripto berada dalam kondisi yang menarik.

BTC sudah berhasil menembus $80.000 setelah mengalami rally sekitar 26% dalam dua pekan.

Inflow ETF BTC dan ETH juga mencapai sekitar $2,71 miliar dalam sepekan. Ini menunjukkan minat institusional yang masih kuat.

Tetapi pasar belum sepenuhnya aman dari risiko koreksi.

Crowded longs, volume yang mulai melandai, inflasi AS yang masih tinggi, serta ketidakpastian arah kebijakan Fed menjadi beberapa faktor yang perlu diperhatikan.

Dan semua mata kini mengarah ke 28 Agustus 2026.

Pidato Kevin Warsh di Jackson Hole bisa menjadi katalis penting untuk menentukan apakah BTC mampu mempertahankan momentum di atas $80.000 atau justru mengalami koreksi.

Jadi, jangan hanya bertanya, "BTC mau naik sampai berapa?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Apa yang bisa membuat tren ini berubah?"

Dengan memahami kedua sisi tersebut, kamu bisa mengambil keputusan berdasarkan kondisi pasar, bukan sekadar ikut-ikutan momentum.

Tetap lakukan riset sendiri, pahami risiko, dan sesuaikan keputusan investasi dengan profil risikomu.

Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan bukan merupakan ajakan untuk membeli, menjual, atau memperdagangkan aset digital. Harga aset digital dapat berubah dengan cepat dan memiliki risiko kerugian.

FAQ

Apakah BTC sudah menembus $80.000?

Ya. Berdasarkan kondisi pasar per 27 Agustus 2026, BTC sempat mencapai sekitar $81.235 pada 25 Agustus setelah menembus level psikologis $80.000.

Mengapa Jackson Hole penting untuk Bitcoin?

Pidato Ketua Fed dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat. Perubahan ekspektasi tersebut dapat berdampak pada sentimen terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin.

Apakah inflow ETF berarti harga Bitcoin pasti naik?

Tidak. Inflow ETF merupakan salah satu sinyal positif karena menunjukkan adanya permintaan institusional. Namun, inflow tidak menjamin harga BTC akan terus naik.

Apa risiko Bitcoin setelah menembus $80.000?

Salah satu risikonya adalah koreksi setelah rally yang cukup cepat. Kondisi crowded longs dan volume yang mulai melandai juga dapat meningkatkan risiko volatilitas.

Apa yang harus dipantau setelah 27 Agustus 2026?

Beberapa agenda penting adalah pidato Fed pada 28 Agustus, expiry opsi BTC dan ETH, ISM Manufacturing PMI pada 1 September, serta Nonfarm Payrolls dan tingkat pengangguran AS pada 4 September.

Baca Juga: Market Outlook W3 Agustus 2026: Bitcoin Tembus $77.985! Apakah Rally Bakal Lanjut?

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device