Setelah sempat membuat banyak investor khawatir, Bitcoin (BTC) akhirnya berhasil bangkit lagi. Hingga 6 Agustus 2026, harga BTC kembali berada di kisaran US$64.400 dan berhasil merebut kembali area support penting di US$64.000.
Namun, apakah ini tanda bull market kembali dimulai? Belum tentu.
Di balik kenaikan harga Bitcoin minggu ini, masih ada banyak faktor yang bisa mengubah arah pasar dalam waktu singkat. Mulai dari data ekonomi Amerika Serikat, peluang kenaikan suku bunga The Fed, perkembangan konflik Timur Tengah, hingga kabar terbaru mengenai regulasi aset kripto di Amerika Serikat.
Kalau kamu sedang trading atau berinvestasi kripto, inilah momen yang tepat untuk memahami apa yang sebenarnya sedang terjadi di pasar.
Bitcoin Rebound, Tapi Tantangan Belum Berakhir
Dalam tujuh hari terakhir, Bitcoin bergerak di kisaran US$62.241 hingga US$65.305 sebelum akhirnya stabil di sekitar US$64.400.
Kenaikan sekitar 1-1,5% memang terlihat positif. Namun pergerakan ini belum cukup untuk memastikan tren bullish baru. Yang menarik, Bitcoin berhasil kembali naik setelah pekan sebelumnya sempat kehilangan support penting di US$64.000. Artinya, pembeli mulai kembali masuk ke pasar.
Meski begitu, level US$65.300-66.500 masih menjadi area resistance yang cukup kuat. Jika gagal ditembus, bukan tidak mungkin harga kembali mengalami koreksi. Fokus pasar sekarang tertuju pada dua level penting:
- Support: sekitar US$62.241
- Resistance: US$65.305-66.500
Selama harga masih bergerak di antara dua area tersebut, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi.
Peluang Kenaikan Suku Bunga The Fed Mulai Menurun
Salah satu alasan utama pasar mulai pulih adalah karena ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mulai melemah.
Pada akhir Juli, probabilitas kenaikan suku bunga September sempat mencapai sekitar 72%. Namun memasuki minggu pertama Agustus, peluang tersebut turun menjadi kisaran 57-62%. Kenapa ini penting?
Suku bunga yang lebih tinggi biasanya membuat investor cenderung memilih aset yang dianggap lebih aman, sehingga aset berisiko seperti Bitcoin sering mengalami tekanan. Sebaliknya, ketika peluang kenaikan suku bunga menurun, minat terhadap aset kripto biasanya ikut meningkat.
Meski begitu, kondisi ini masih bisa berubah sangat cepat. Semua mata kini tertuju pada rilis data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat tanggal 7 Agustus, yang berpotensi mengubah ekspektasi pasar hanya dalam hitungan jam.
Harga Minyak Turun Tajam Berkat Sinyal Perdamaian Timur Tengah
Pekan lalu, pasar sempat dibuat khawatir oleh meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Namun minggu ini situasinya mulai berubah.
Pembicaraan mengenai Selat Hormuz yang melibatkan Iran dan Oman dikabarkan sudah memasuki tahap akhir, meski hingga 6 Agustus belum ada kesepakatan resmi. Dampaknya langsung terasa. Harga minyak dunia mengalami penurunan cukup tajam.
- Brent turun hampir 9%.
- WTI turun lebih dari 8%.
Turunnya harga minyak membuat kekhawatiran terhadap inflasi sedikit mereda. Hal ini membantu memperbaiki sentimen pasar global, termasuk pasar aset digital.
Meski begitu, investor tetap perlu berhati-hati karena proses negosiasi masih berlangsung. Jika pembicaraan kembali gagal, harga minyak bisa melonjak lagi dan memicu volatilitas baru di pasar kripto.
Dana Institusi Mulai Kembali Masuk ke Bitcoin
Kabar baik lainnya datang dari ETF Bitcoin. Pada akhir Juli, ETF Bitcoin mencatat arus keluar dana sekitar US$265 juta. Namun hanya beberapa hari kemudian situasinya berubah.
ETF Bitcoin kembali mencatat inflow sekitar US$170 juta, dengan kontribusi terbesar berasal dari iShares Bitcoin Trust (IBIT). ETF Ethereum juga menunjukkan kondisi serupa.
Setelah sebelumnya mengalami outflow, kini ETF ETH mulai kembali menerima aliran dana baru. Ini menunjukkan investor institusi belum meninggalkan pasar kripto. Namun perlu diingat, data positif ini baru berlangsung selama satu hingga dua hari.
Masih terlalu dini untuk menyimpulkan bahwa tren bullish institusional benar-benar sudah dimulai.
CLARITY Act Kembali Tertunda
Dari sisi regulasi, kabar terbaru justru kurang menggembirakan.
RUU CLARITY Act, yang diharapkan menjadi salah satu dasar regulasi aset digital di Amerika Serikat, kembali mengalami penundaan.
Hingga 6 Agustus, belum ada proses floor vote di Senat. Akibatnya, peluang pengesahan RUU tersebut sepanjang 2026 menurut pasar prediksi turun menjadi sekitar 23%. Semakin lama regulasi tertunda, semakin besar pula ketidakpastian yang dirasakan pelaku industri.
Walaupun pasar sudah mulai terbiasa dengan proses politik yang panjang, regulasi tetap menjadi salah satu faktor penting yang dapat memengaruhi sentimen investor dalam jangka panjang.
Strategy (MSTR) Mengejutkan Pasar
Salah satu kabar yang paling banyak dibahas minggu ini datang dari perusahaan Strategy.
Perusahaan tersebut mengonfirmasi telah menjual 1.638 BTC dengan harga rata-rata sekitar US$63.957 per Bitcoin. Yang membuat pasar terkejut adalah harga jual tersebut berada di bawah rata-rata biaya akuisisi Bitcoin mereka.
Selama ini Strategy dikenal sebagai perusahaan yang hampir selalu membeli dan menyimpan Bitcoin. Karena itu, keputusan menjual sebagian kepemilikan dianggap sebagai sinyal bahwa perusahaan sedang melakukan penyesuaian terhadap kondisi neraca keuangan mereka.
Meski jumlah Bitcoin yang dijual relatif kecil dibanding total kepemilikan, kabar ini tetap menjadi perhatian investor global.
Rupiah dan IHSG Mulai Menguat
Dari dalam negeri, kondisi pasar juga menunjukkan perbaikan.
Nilai tukar rupiah berhasil menguat ke sekitar Rp17.933 per dolar AS setelah sebelumnya sempat melemah hingga kisaran Rp18.100.
Sementara itu, IHSG juga berhasil rebound cukup tajam.
Salah satu pendorongnya adalah data pertumbuhan ekonomi Indonesia yang lebih baik dari perkiraan.
Namun masih ada satu faktor yang belum selesai.
Hingga saat ini, posisi Gubernur Bank Indonesia masih belum memiliki kepastian permanen.
Selama status kepemimpinan BI belum benar-benar jelas, pasar domestik masih berpotensi mengalami volatilitas tambahan jika muncul perkembangan baru.
Faktor yang Wajib Dipantau Minggu Ini
Ada beberapa agenda ekonomi yang berpotensi menjadi penggerak pasar.
1. Non-Farm Payroll (7 Agustus)
Inilah agenda paling penting minggu ini. Jika data tenaga kerja Amerika lebih kuat dari perkiraan, peluang kenaikan suku bunga The Fed bisa kembali meningkat. Sebaliknya, jika hasilnya lebih lemah, Bitcoin berpotensi mendapat dorongan positif.
2. CPI Amerika Serikat (12 Agustus)
Data inflasi akan menjadi salah satu indikator utama sebelum rapat FOMC berikutnya. Semakin rendah inflasi, semakin kecil peluang kenaikan suku bunga.
3. PPI dan NFIB Optimism Index (13 Agustus)
Dua data ini akan membantu pasar melihat apakah tekanan inflasi benar-benar mulai mereda.
4. Perkembangan Negosiasi Iran-Oman
Jika kesepakatan resmi tercapai, harga minyak berpotensi tetap stabil sehingga sentimen pasar bisa semakin positif.
Apa Strategi yang Cocok?
Untuk Pemula
Tidak perlu terburu-buru membeli hanya karena harga naik. Lebih baik fokus memahami bagaimana data ekonomi memengaruhi pergerakan Bitcoin. Mulailah dengan memantau data NFP dan CPI.
Untuk Swing Trader
Siapkan dua skenario. Jika data ekonomi mendukung, Bitcoin berpotensi menembus resistance. Namun jika hasil data mengecewakan pasar, koreksi juga bisa terjadi dengan cepat. Gunakan manajemen risiko dan hindari membuka posisi terlalu besar sebelum data penting dirilis.
Untuk Investor Jangka Panjang
Fundamental Bitcoin secara keseluruhan belum berubah. Namun kondisi makro masih sangat menentukan arah harga dalam beberapa minggu ke depan. Strategi Dollar Cost Averaging (DCA) masih menjadi salah satu pendekatan yang dapat dipertimbangkan dibanding mencoba menebak titik tertinggi maupun terendah pasar.
Kesimpulan
Market minggu pertama Agustus menunjukkan perubahan sentimen yang cukup menarik. Bitcoin berhasil kembali ke atas US$64.000, peluang kenaikan suku bunga The Fed mulai menurun, harga minyak turun, dan dana institusi kembali masuk ke ETF kripto.
Namun risiko belum benar-benar hilang. Data ekonomi Amerika Serikat masih menjadi penentu utama arah pasar dalam jangka pendek. Di sisi lain, perkembangan regulasi CLARITY Act dan kondisi geopolitik Timur Tengah juga tetap perlu dipantau.
Bagi investor maupun trader, disiplin dalam mengelola risiko tetap menjadi hal yang paling penting. Jangan mengambil keputusan hanya berdasarkan pergerakan harga dalam satu atau dua hari.
FAQ
Apakah Bitcoin sudah kembali bullish?
Belum ada konfirmasi tren bullish baru. Bitcoin memang berhasil rebound di atas US$64.000, tetapi masih menghadapi resistance kuat di area US$65.300-66.500.
Kenapa data NFP penting bagi Bitcoin?
Karena data NFP memengaruhi ekspektasi kebijakan suku bunga The Fed. Perubahan ekspektasi tersebut sering berdampak langsung pada harga aset berisiko, termasuk Bitcoin.
Apa pengaruh turunnya harga minyak terhadap kripto?
Harga minyak yang turun dapat mengurangi kekhawatiran inflasi. Jika inflasi mereda, peluang kenaikan suku bunga juga bisa berkurang sehingga sentimen terhadap aset kripto menjadi lebih positif.
Mengapa penundaan CLARITY Act diperhatikan investor?
Regulasi yang lebih jelas dapat meningkatkan kepastian hukum bagi industri aset digital. Penundaan membuat sebagian investor memilih bersikap lebih hati-hati.
Apakah sekarang waktu yang tepat membeli Bitcoin?
Tidak ada jawaban yang pasti. Investor sebaiknya menyesuaikan keputusan dengan profil risiko, tujuan investasi, serta kondisi pasar yang masih dipengaruhi berbagai faktor ekonomi global.
Download FLOQ Sekarang
Ingin mengikuti perkembangan pasar kripto dan mulai belajar berinvestasi dengan lebih mudah? Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sehingga kamu bisa bertransaksi dengan lebih aman dan nyaman.
Disclaimer
Informasi dalam artikel ini disusun berdasarkan data publik yang tersedia hingga 6 Agustus 2026 dan bertujuan sebagai materi edukasi serta informasi pasar. Seluruh pembahasan bukan merupakan ajakan, rekomendasi, atau saran untuk membeli maupun menjual aset kripto atau instrumen investasi apa pun.
Pergerakan harga aset digital dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti kondisi ekonomi global, kebijakan bank sentral, perkembangan regulasi, sentimen pasar, hingga risiko geopolitik. Karena itu, kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan.
Sebelum mengambil keputusan investasi, lakukan riset secara mandiri (DYOR/Do Your Own Research), pahami profil risiko masing-masing, dan gunakan strategi manajemen risiko yang sesuai. FLOQ tidak bertanggung jawab atas segala keputusan investasi yang diambil berdasarkan informasi dalam artikel ini.
Baca Juga: Sinyal Trading Bikin Auto Profit? Kenali Faktanya Sebelum Ikut!




