Market Outlook W1 Juli 2026: Bitcoin Rebound, Ini Strategi Menghadapinya

Pasar

03 Jul 2026

5 menit

Ditulis oleh: Team FLOQ

Pattern 1
Article

Jatuh Bangun Bitcoin, Ada Apa dengan Pasar?

Kalau beberapa hari terakhir kamu buka aplikasi trading atau investasi, mungkin kamu sempat dibuat deg-degan.

Baru masuk awal Juli, Bitcoin tiba-tiba turun cukup dalam hingga menyentuh kisaran US$57.950. Belum sempat banyak orang mencerna apa yang terjadi, harganya justru memantul lagi ke area US$61.000–62.000. Gerakannya cepat, bikin banyak investor bingung harus bersikap seperti apa.

Ada yang melihat ini sebagai kesempatan membeli saat harga masih "diskon". Ada juga yang memilih menunggu karena khawatir penurunan belum benar-benar selesai.

Kalau kamu berada di antara dua pilihan itu, tenang. Faktanya, pasar memang sedang berada di fase yang penuh tarik-ulur. Ada kabar yang memberi harapan, tetapi ada juga yang masih membuat investor memilih berhati-hati.

Nah, daripada hanya fokus melihat grafik yang naik turun setiap jam, lebih baik kita lihat dulu apa saja yang sebenarnya sedang menggerakkan pasar.

Bitcoin Sudah Rebound, Tapi Kenapa Investor Masih Belum Tenang?

Kalau diibaratkan seperti orang yang sedang sakit, Bitcoin memang sudah mulai bangun dari tempat tidur. Masalahnya, belum ada yang bisa memastikan apakah kondisinya benar-benar pulih atau baru merasa sedikit lebih baik.

Salah satu alasan kenapa penurunan kemarin cukup menyita perhatian adalah karena Bitcoin sempat bergerak di bawah area 200-week Moving Average (MA).

Buat kamu yang belum terlalu akrab dengan analisis teknikal, anggap saja level ini seperti "lantai" yang selama bertahun-tahun sering dianggap sebagai area penting oleh investor jangka panjang. Ketika harga masih berada di atasnya, banyak orang merasa pasar masih relatif aman. Tapi ketika lantai itu sempat ditembus, rasa khawatir mulai muncul.

Untungnya, Bitcoin berhasil memantul lagi.

Meski begitu, pekerjaan pasar belum selesai. Saat ini area sekitar US$62.500 masih menjadi level yang perlu diperhatikan. Kalau harga mampu bertahan dan menembus area tersebut dengan volume transaksi yang kuat, peluang tren naik bisa kembali terbuka.

Sebaliknya, kalau gagal, bukan tidak mungkin harga kembali bergerak fluktuatif dalam beberapa waktu ke depan. Jadi, jangan buru-buru menganggap satu hari hijau sebagai tanda semuanya sudah aman.

Kenapa Harga Bitcoin Bisa Turun?

Kalau ada teman yang bilang, "Bitcoin turun karena banyak yang jual," sebenarnya itu tidak salah. Tapi pertanyaannya, kenapa banyak orang memilih menjual?

Jawabannya ada di kondisi ekonomi global.

Beberapa bulan terakhir, perhatian investor terus tertuju ke Amerika Serikat. Negara ini masih menjadi salah satu penentu arah pasar keuangan dunia, termasuk pasar kripto.

Kabar baiknya, inflasi mulai menunjukkan tanda-tanda melambat. Artinya, tekanan kenaikan harga mulai sedikit mereda.

Namun di sisi lain, pasar tenaga kerja juga mulai kehilangan tenaga. Pertumbuhan lapangan kerja tidak lagi sekuat beberapa bulan sebelumnya. Kondisi ini membuat pasar berada di posisi yang cukup membingungkan.

Kalau inflasi turun, biasanya pasar berharap The Fed tidak perlu lagi terlalu agresif menaikkan suku bunga. Tapi kalau ekonomi ikut melambat, investor juga cenderung lebih berhati-hati menempatkan uangnya di aset berisiko seperti Bitcoin.

Makanya, meski ada sedikit kabar baik, pasar belum berani benar-benar optimistis.

Investor Besar Ternyata Juga Masih Wait and See

Kalau kamu merasa hanya investor ritel yang sedang bingung, ternyata investor institusi juga mengalami hal yang sama. Salah satu indikator yang banyak diperhatikan adalah pergerakan dana pada ETF Bitcoin.

Sepanjang Juni, ETF Bitcoin mencatat arus dana keluar yang cukup besar. Artinya, sebagian investor institusi memilih mengurangi eksposur mereka terhadap Bitcoin.

Kondisi seperti ini biasanya membuat tekanan jual semakin terasa karena dana yang keluar jumlahnya tidak sedikit. Untungnya, memasuki awal Juli ada sedikit angin segar.

Arus keluar dana mulai melambat. Memang belum bisa dibilang investor besar kembali berbondong-bondong membeli Bitcoin, tetapi setidaknya tekanan jual tidak sekuat bulan sebelumnya.

Di sisi lain, data on-chain justru menunjukkan sesuatu yang menarik.

Investor jangka panjang masih cenderung mempertahankan kepemilikan mereka. Cadangan Bitcoin di bursa juga tetap relatif rendah. Sederhananya, orang-orang yang sudah lama memegang Bitcoin belum terlihat panik menjual aset mereka.

Ini menjadi salah satu alasan kenapa sebagian analis masih melihat peluang pemulihan dalam jangka panjang.

Langkah Strategy Ikut Jadi Perhatian

Selain ETF, ada satu kabar lain yang cukup ramai dibicarakan, yaitu keputusan Strategy membuka opsi monetisasi kepemilikan Bitcoin hingga US$1,25 miliar.

Mungkin kamu bertanya, kenapa berita ini penting?

Karena selama ini Strategy dikenal sebagai salah satu perusahaan yang paling percaya terhadap Bitcoin. Mereka bahkan sering dijadikan contoh perusahaan yang konsisten mengoleksi aset digital tersebut.

Makanya, ketika muncul kabar mengenai program monetisasi, sebagian investor langsung bertanya-tanya, "Jangan-jangan mereka mulai bersiap menjual Bitcoin?"

Sebenarnya belum tentu begitu.

Program tersebut lebih ditujukan sebagai opsi untuk menjaga likuiditas perusahaan, seperti memenuhi kebutuhan kas, membayar kewajiban, atau kebutuhan operasional lainnya.

Meski begitu, pasar tentu akan terus memantau langkah berikutnya. Kalau suatu saat perusahaan benar-benar mulai menjual Bitcoin dalam jumlah besar, sentimen pasar bisa berubah cukup cepat.

Jadi, Pasar Sebenarnya Sedang Menunggu Apa?

Kalau dirangkum, kondisi pasar saat ini lebih banyak diwarnai oleh sikap menunggu.

Investor sedang menunggu apakah inflasi Amerika Serikat benar-benar terus melandai. Investor juga menunggu apakah The Fed akan mulai melunak terhadap kebijakan suku bunganya.

Di saat yang sama, mereka juga melihat apakah investor institusi akan kembali masuk ke pasar melalui ETF Bitcoin atau justru memilih tetap berada di pinggir lapangan.

Artinya, meski Bitcoin sudah berhasil bangkit dari penurunan awal Juli, perjalanan menuju tren naik yang lebih kuat masih membutuhkan banyak konfirmasi.

Dan bukan cuma faktor global yang perlu diperhatikan. Di Indonesia sendiri, ada beberapa perkembangan ekonomi yang juga bisa memengaruhi sentimen pasar, mulai dari kondisi rupiah, IHSG, hingga kebijakan perdagangan Amerika Serikat.

Sekarang Apa yang Perlu Dipantau?

Setelah melihat apa yang bikin Bitcoin naik-turun di awal Juli, sekarang pertanyaannya adalah, apa yang perlu kamu perhatikan beberapa minggu ke depan?

Soalnya, pasar belum benar-benar tenang. Masih ada beberapa agenda besar yang bisa bikin harga kembali bergerak cepat. Jadi, daripada cuma lihat grafik setiap hari, lebih baik tahu dulu momen-momen penting yang bakal jadi perhatian investor.

Jangan Lupa, Kondisi Indonesia Juga Lagi Nggak Baik-Baik Saja

Selain kabar dari Amerika Serikat, kondisi ekonomi Indonesia juga layak masuk radar.

Memang, IHSG mulai bangkit di awal Juli. Tapi jangan buru-buru senang dulu. Kenaikan ini belum cukup buat menghapus tekanan yang terjadi sepanjang Juni. Investor masih menunggu apakah dana asing mulai kembali masuk dan volume transaksi ikut meningkat.

Rupiah juga masih bergerak mendekati Rp18.000 per dolar AS. Dampaknya bukan cuma soal kurs. Kalau rupiah melemah, biaya impor ikut naik dan harga beberapa barang bisa ikut terdorong. Jadi, tekanan terhadap ekonomi belum benar-benar hilang.

Di sisi lain, sektor manufaktur juga masih lesu. PMI Indonesia masih berada di level 46,9 atau masih dalam fase kontraksi. Artinya, aktivitas produksi dan permintaan di dalam negeri belum sepenuhnya pulih.

Belum lagi ada potensi tarif baru dari Amerika Serikat terhadap sejumlah produk Indonesia yang mulai berlaku bertahap pada 24 Juli. Kalau benar diterapkan, sentimen pasar domestik bisa ikut terpengaruh.

Catat Tanggal Pentingnya

Juli masih menyimpan beberapa agenda yang bisa memengaruhi arah pasar.

Tanggal 4 Juli, pasar akan menunggu rilis teks final CLARITY Act. Regulasi ini penting karena bisa memberikan kepastian yang lebih jelas untuk industri aset digital di Amerika Serikat.

Lalu pada 11 Juli hingga 9 Agustus, proses pembahasan regulasi tersebut juga akan terus dipantau. Investor ingin melihat apakah aturan ini benar-benar membawa angin segar atau justru kembali tertunda.

Memasuki pertengahan Juli, giliran data inflasi Amerika Serikat yang jadi sorotan. Data ini biasanya menjadi petunjuk apakah The Fed mulai punya ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya.

Dan tentu saja, agenda yang paling ditunggu adalah rapat FOMC pada 28–29 Juli. Dari sinilah pasar akan mencari jawaban apakah The Fed masih akan bersikap ketat atau mulai lebih santai menghadapi kondisi ekonomi.

Jadi, Sebaiknya Ngapain?

Kalau kamu masih baru di dunia investasi, sekarang mungkin bukan waktu yang tepat untuk buru-buru all in. Strategi DCA dengan nominal yang konsisten masih jadi pilihan yang cukup aman. Yang penting, jangan panik hanya karena harga turun beberapa persen.

Kalau kamu lebih suka trading jangka pendek, tetap disiplin dengan level support dan resistance. Hindari juga menggunakan leverage besar ketika pasar sedang dipenuhi berita penting seperti sekarang.

Sementara itu, buat investor jangka panjang, fokus saja ke fundamental. Pantau perkembangan ETF Bitcoin, kebijakan The Fed, regulasi, dan kondisi ekonomi secara keseluruhan. Selama faktor-faktor itu masih bergerak ke arah yang positif, volatilitas jangka pendek seharusnya tidak terlalu mengganggu rencana investasimu.

Sorotan Market Outlook Minggu Ini

Awal Juli memang bikin pasar kripto penuh drama. Tapi justru di kondisi seperti inilah penting untuk tetap tenang.

Daripada sibuk menebak apakah Bitcoin besok naik atau turun, lebih baik pahami apa yang sedang menggerakkan pasar. Dengan begitu, setiap keputusan yang kamu ambil bukan didasarkan pada rasa takut atau FOMO, melainkan karena memang sudah sesuai dengan strategi investasimu.

Karena pada akhirnya, investor yang bertahan bukan selalu yang paling cepat mengambil keputusan, tapi mereka yang paling disiplin menjalankan rencananya.

Baca Juga: Pentingnya Literasi Keuangan dalam Dunia Kripto

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device