Harga Bitcoin Menuju US$100.000? 3 Agenda Besar Ini Jadi Penentu Pekan Ini

Bitcoin

03 Nov 2026

5 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Harga Bitcoin (BTC) menghadapi tiga ujian besar pada pekan pertama November 2026. Pemilihan paruh waktu Amerika Serikat (AS), keputusan suku bunga tiga bank sentral, serta laporan ketenagakerjaan AS menjadi perhatian pelaku pasar yang tengah menanti arah pergerakan aset kripto.

Ketiga agenda tersebut berlangsung ketika pasar kripto masih berupaya pulih dari tekanan akibat insiden peretasan Binance yang dilaporkan menimbulkan dampak hingga US$6,3 miliar. Peristiwa tersebut turut mendorong Bitcoin menyentuh level terendah dalam enam pekan pada Jumat, 30 Oktober 2026.

Di tengah kondisi tersebut, investor mencermati bagaimana perkembangan politik dan kebijakan moneter global dapat memengaruhi prospek Bitcoin, termasuk peluang aset kripto terbesar itu mencapai US$100.000 pada akhir tahun.

1. Pemilu AS Jadi Penentu Sentimen Bitcoin

Dilaporkan BeInCrypto, pemilihan paruh waktu AS pada Selasa, 3 November 2026, menjadi salah satu agenda utama yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar kripto.

Pemilu tersebut mencakup seluruh 435 kursi Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) dan 35 kursi Senat. Hasil pemilihan akan menentukan partai yang menguasai Kongres AS, yang berpotensi memengaruhi arah kebijakan ekonomi dan regulasi aset digital.

Survei Bloomberg terhadap 301 investor menunjukkan bahwa 29% responden memperkirakan Bitcoin dapat menembus US$100.000 pada akhir 2026 jika Partai Republik menguasai Kongres. Sebaliknya, hanya 8% yang memiliki ekspektasi serupa apabila Partai Demokrat memenangkan mayoritas.

Dalam skenario kemenangan Partai Demokrat, sebanyak 71% responden memperkirakan Bitcoin akan menutup tahun 2026 dengan harga lebih rendah.

Meski demikian, hasil survei tersebut perlu dicermati secara hati-hati karena responden berpartisipasi secara sukarela dan hasilnya tidak diberi pembobotan oleh Bloomberg.

Secara historis, Bitcoin memang menunjukkan kenaikan dalam satu tahun setelah pemilu paruh waktu AS. Berdasarkan data DWF Labs, Bitcoin masing-masing naik 25%, 45%, dan 92% dalam satu tahun setelah pemilu 2014, 2018, dan 2022.

Namun, pergerakan jangka pendek tidak selalu positif. Bitcoin tercatat turun 31% dan 46% dalam tiga bulan setelah pemilu 2014 dan 2018.

Hal ini menunjukkan bahwa hasil pemilu dapat memengaruhi sentimen pasar, tetapi tidak secara otomatis menentukan arah harga Bitcoin dalam jangka pendek.

Baca juga: Bitcoin Hari Ini Anjlok 2,29% ke US$76.475, Jelang Pemilu AS Jadi Penentu Arah Harga?

2. Tiga Bank Sentral Diperkirakan Naikkan Suku Bunga

Selain pemilu AS, perhatian pasar juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter dari tiga bank sentral, yakni Reserve Bank of Australia (RBA), Riksbank Swedia, dan Bank of England (BoE).

RBA dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Selasa, 3 November 2026. Para ekonom memperkirakan bank sentral Australia akan menaikkan suku bunga acuan menjadi 4,85% dari sebelumnya 4,60%.

Selanjutnya, Riksbank Swedia akan mengumumkan keputusan pada Rabu, 4 November 2026. Goldman Sachs dan ING memperkirakan bank sentral tersebut akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 2,00%.

Sementara itu, BoE dijadwalkan mengumumkan keputusan pada Kamis, 5 November 2026. Hasil survei Reuters menunjukkan para ekonom memperkirakan suku bunga Inggris naik menjadi 4,00% dari 3,75%.

Jika terealisasi, kenaikan tersebut akan menjadi yang pertama sejak Agustus 2023.

Tekanan inflasi menjadi salah satu faktor yang mendorong ekspektasi kenaikan suku bunga. Inflasi Inggris tercatat mencapai 3,5% secara tahunan pada September 2026, melampaui proyeksi BoE sebesar 3,0%.

Meski demikian, pasar juga mencermati kemungkinan BoE memberikan sinyal yang lebih hati-hati mengenai arah kebijakan moneter pada 2027.

Kenaikan suku bunga dapat meningkatkan daya tarik instrumen berbunga, seperti deposito dan obligasi, sehingga berpotensi mengurangi minat investor terhadap aset yang tidak memberikan imbal hasil bunga, termasuk Bitcoin.

Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi pasar kripto, terutama jika pengetatan kebijakan moneter berlangsung secara bersamaan di sejumlah negara.

3. Data Tenaga Kerja AS Jadi Penentu Arah The Fed

Agenda ketiga yang berpotensi memengaruhi pergerakan Bitcoin adalah laporan ketenagakerjaan AS untuk Oktober 2026 yang dijadwalkan rilis pada Jumat, 6 November 2026.

Data tersebut menjadi perhatian karena dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed pada Desember mendatang.

Berdasarkan CNBC, CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga The Fed pada 9 Desember 2026 mencapai 73,8%. Laporan ketenagakerjaan pekan ini akan menjadi salah satu indikator penting untuk menguji ekspektasi tersebut.

Ekonom yang disurvei Dow Jones memperkirakan ekonomi AS menambah 55.000 lapangan kerja pada Oktober 2026.

Sebagai perbandingan, data September menunjukkan penambahan hanya 29.000 lapangan kerja, jauh di bawah perkiraan sebelumnya sebesar 90.000.

Jika data ketenagakerjaan lebih kuat dari perkiraan, pasar dapat menilai bahwa ekonomi AS masih cukup solid untuk menghadapi kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan tekanan terhadap Bitcoin.

Sebaliknya, data yang lebih lemah dapat memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter, meskipun dampaknya terhadap harga Bitcoin tetap bergantung pada respons pasar secara keseluruhan.

Bitcoin sebelumnya menunjukkan sensitivitas terhadap kejutan data tenaga kerja. Ketika laporan ketenagakerjaan Agustus jauh melampaui perkiraan, harga Bitcoin tercatat turun 1,8% dalam beberapa menit setelah data dirilis.

Selain laporan tenaga kerja, pasar juga akan mencermati dua survei aktivitas bisnis dari Institute for Supply Management (ISM) yang dirilis pada pekan ini.

Indeks manufaktur ISM untuk Oktober diperkirakan naik menjadi 54,7 dari 54,5 pada September.

Data inflasi AS untuk Oktober selanjutnya dijadwalkan rilis pada 10 November 2026. Informasi tersebut akan menjadi salah satu pertimbangan tambahan bagi The Fed sebelum mengambil keputusan suku bunga pada Desember.

Prospek Bitcoin Masih Bergantung pada Sentimen Makroekonomi

Rangkaian agenda ekonomi dan politik pada pekan pertama November menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin masih dipengaruhi oleh berbagai faktor di luar pasar kripto.

Hasil pemilu AS dapat mengubah ekspektasi terhadap kebijakan ekonomi dan regulasi aset digital, sementara keputusan suku bunga serta data ketenagakerjaan akan memberikan gambaran mengenai arah kebijakan moneter global.

Di sisi lain, pasar juga masih berupaya memulihkan kepercayaan setelah insiden keamanan Binance yang menambah tekanan terhadap aset kripto.

Dengan berbagai katalis tersebut, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga Bitcoin dan respons investor terhadap setiap rilis data. Prospek menuju US$100.000 pada akhir 2026 masih bergantung pada kombinasi sentimen politik, kondisi ekonomi global, dan perkembangan pasar aset digital.

Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: Pemilu AS, Data Tenaga Kerja, dan Ketegangan Iran Jadi Penentu Pasar Kripto Pekan Ini

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device