Pemilu sela Amerika Serikat (AS) yang berlangsung pada Selasa, 3 November 2026, menjadi salah satu agenda politik yang diperhatikan pelaku pasar kripto. Hasil pemilu berpotensi memengaruhi arah kebijakan aset digital di AS, termasuk regulasi yang dapat berdampak terhadap sentimen investor dan pergerakan harga Bitcoin (BTC).
Perhatian terhadap pemilu kali ini muncul ketika Bitcoin masih menghadapi tekanan jual. Berdasarkan data pasar pada 3 November 2026, harga BTC tercatat sebesar US$76.948,28, turun 1,22% dalam 24 jam terakhir.
Pelemahan tersebut terjadi di tengah berlanjutnya arus keluar dana dari ETF Bitcoin spot di AS. Pada 2 November 2026, produk investasi tersebut mencatat arus keluar bersih sebesar US$398,6 juta, yang mengindikasikan melemahnya permintaan institusional terhadap Bitcoin.
Tekanan juga datang dari sentimen negatif setelah insiden keamanan Binance pada akhir Oktober. Dalam periode 24 jam terakhir, likuidasi posisi long dengan leverage tercatat mencapai US$85,99 juta, menambah tekanan terhadap pergerakan harga BTC.
Di sisi lain, Bitcoin menunjukkan korelasi sekitar 85% dengan indeks S&P 500. Hubungan tersebut mengindikasikan bahwa pergerakan BTC masih dipengaruhi oleh sentimen pasar saham dan kondisi makroekonomi AS.
Hasil Pemilu Sela AS Berpotensi Memengaruhi Regulasi Kripto

Dilansit Forbes, pemilu sela atau midterm elections merupakan pemilihan anggota Kongres AS yang berlangsung di tengah masa jabatan presiden. Pada pemilu kali ini, warga AS akan memilih seluruh 435 anggota House of Representatives atau DPR serta 35 dari 100 anggota Senat.
Hasil pemilu akan menentukan partai yang menguasai kedua kamar Kongres. Perubahan komposisi tersebut dapat memengaruhi agenda legislasi, termasuk pembahasan aturan yang berkaitan dengan industri aset kripto.
Salah satu hal yang menjadi perhatian industri adalah arah regulasi aset digital di AS. Perubahan kekuatan politik di Kongres dapat memengaruhi peluang pembahasan undang-undang yang mengatur struktur pasar kripto.
Salah satu agenda yang disorot adalah CLARITY Act, yang bertujuan memberikan kejelasan mengenai pengawasan pasar aset digital di AS. Rancangan undang-undang tersebut sebelumnya gagal melanjutkan proses di Senat pada September 2026.
Menurut laporan Forbes pada 2 November 2026, ketidakpastian mengenai regulasi kripto masih menjadi tantangan bagi industri. Sejumlah pelaku pasar menilai bahwa kebijakan yang bersifat sementara dari lembaga regulator belum cukup untuk memberikan kepastian jangka panjang.
Hasil pemilu dapat memengaruhi komposisi komite-komite penting di Kongres, termasuk komite yang membahas kebijakan keuangan. Hal ini berpotensi menentukan prioritas pembahasan regulasi kripto pada periode berikutnya.
Bagi Bitcoin, kejelasan regulasi dapat menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kepercayaan investor. Namun, perubahan kebijakan tidak serta-merta menjamin kenaikan harga BTC karena pasar juga dipengaruhi kondisi ekonomi dan likuiditas global.
Baca juga: Harga Bitcoin Menuju US$100.000? 3 Agenda Besar Ini Jadi Penentu Pekan Ini
Bitcoin Berada di Area Support Penting
Dari sisi teknikal, Bitcoin saat ini berada di sekitar level US$76.000 yang menjadi salah satu area support penting. Level tersebut berdekatan dengan rata-rata pergerakan 50 minggu atau 50-week moving average.
Apabila Bitcoin mampu bertahan di atas area tersebut, harga berpeluang stabil dan mencoba kembali menembus US$79.500. Namun, jika tekanan jual berlanjut dan BTC menembus support US$76.000, harga berisiko bergerak menuju kisaran US$74.600–US$75.000.
Dilaporkan CoinMarketCap, tekanan jual dari ETF Bitcoin spot, sentimen keamanan industri, serta likuidasi posisi leverage menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam membaca pergerakan harga saat ini.
Dengan demikian, hasil pemilu sela AS berpotensi menjadi katalis bagi sentimen pasar, tetapi arah Bitcoin dalam jangka pendek tetap akan dipengaruhi oleh perkembangan permintaan institusional dan kondisi makroekonomi.
Pola Historis Bitcoin Menjelang dan Setelah Pemilu Sela AS
The US midterm elections are tomorrow.
— Ash Crypto (@AshCrypto) November 2, 2026
Bitcoin dropped -24% after the last midterms in 2022.
Expect high volatility. Stay away from leverage. pic.twitter.com/dRv6JgV5bo
Selain regulasi, pelaku pasar juga memperhatikan pola pergerakan Bitcoin pada periode pemilu sela sebelumnya.
Mengutip laporan CryptoNews yang dipublikasikan melalui TradingView, Bitcoin pernah mengalami tekanan menjelang pemilu sela AS, tetapi menunjukkan pemulihan pada periode setelahnya.
Pola tersebut menjadi perhatian karena pemilu sela 2026 berlangsung ketika pasar kripto masih menghadapi tekanan. Meski demikian, data historis tidak dapat digunakan sebagai kepastian bahwa Bitcoin akan mengulangi pergerakan yang sama.
Pergerakan harga BTC pada periode setelah pemilu tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk kondisi ekonomi AS, kebijakan suku bunga, arus dana institusional, serta perkembangan regulasi aset digital.
Dengan demikian, pemilu dapat menjadi salah satu katalis bagi pasar, tetapi bukan satu-satunya penentu arah harga Bitcoin.
Tiga Skenario Dampak Pemilu Sela AS terhadap Bitcoin
Hasil pemilu dapat memunculkan beberapa kemungkinan respons pasar. Berikut tiga skenario yang dapat diperhatikan pelaku pasar kripto.
1. Hasil pemilu meningkatkan optimisme terhadap regulasi kripto
Apabila hasil pemilu dipandang membuka peluang bagi pembahasan regulasi yang lebih jelas, sentimen investor terhadap aset digital berpotensi membaik.
Kepastian aturan dapat membantu mengurangi ketidakpastian bagi perusahaan kripto dan investor institusional. Kondisi tersebut berpotensi mendukung permintaan terhadap Bitcoin.
Namun, optimisme pasar tetap perlu diikuti perkembangan nyata dalam proses legislasi dan implementasi kebijakan.
2. Perubahan kekuatan politik meningkatkan ketidakpastian
Apabila hasil pemilu membuat proses legislasi semakin sulit, pembahasan regulasi kripto dapat berjalan lebih lambat.
Ketidakpastian mengenai arah kebijakan dapat membuat sebagian investor mengambil sikap lebih berhati-hati. Dalam kondisi tersebut, Bitcoin berpotensi menghadapi tekanan apabila sentimen pasar memburuk.
3. Hasil pemilu tidak menjadi katalis utama pergerakan Bitcoin
Pasar kripto juga dapat lebih dipengaruhi oleh faktor di luar politik, seperti data inflasi, kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed), serta kondisi likuiditas global.
Dalam skenario ini, hasil pemilu mungkin hanya memberikan dampak jangka pendek terhadap harga Bitcoin, sementara arah pergerakan berikutnya ditentukan oleh perkembangan ekonomi dan arus modal.
Bitcoin Tetap Dipengaruhi Faktor Makroekonomi

Di tengah perhatian terhadap pemilu sela AS, pelaku pasar juga perlu mencermati agenda ekonomi yang berlangsung pada pekan yang sama.
Data ketenagakerjaan AS, misalnya, dapat memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed. Jika data ekonomi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, aset berisiko seperti Bitcoin dapat menghadapi tekanan.
Sebaliknya, perubahan ekspektasi menuju kebijakan moneter yang lebih longgar dapat mendukung sentimen terhadap aset berisiko, meskipun dampaknya tidak selalu langsung tercermin pada harga BTC.
Selain itu, perkembangan pasar saham AS dan arus investasi institusional juga dapat memengaruhi permintaan terhadap Bitcoin.
Dengan berbagai faktor tersebut, hasil pemilu sela AS 2026 menjadi salah satu hal yang patut diperhatikan, tetapi tidak cukup untuk dijadikan dasar tunggal dalam memperkirakan pergerakan harga Bitcoin.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Pemilu AS, Data Tenaga Kerja, dan Ketegangan Iran Jadi Penentu Pasar Kripto Pekan Ini



