Analisa Harga Bitcoin Hari Ini: BTC Turun di Bawah US$80.000, Peluang Short Squeeze Masih Terbuka?

Berita

29 Oct 2026

4 menit

Ditulis oleh: Bianda Ludwianto

Pattern 1
Article

Bitcoin kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis, 29 Oktober 2026. Harga Bitcoin (BTC) melemah sekitar 1,66% dalam 24 jam ke US$79.997,33, seiring koreksi pasar kripto secara keseluruhan setelah Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga dengan nada kebijakan yang cenderung hawkish.

Tekanan tersebut juga diperkuat oleh likuidasi posisi long di pasar derivatif dan pelemahan harga Bitcoin di bawah sejumlah indikator teknikal penting. Berdasarkan laporan CoinMarketCap pada 29 Oktober 2026, Bitcoin sempat turun di bawah US$80.000 ketika sentimen penghindaran risiko meluas dari pasar saham teknologi Asia ke aset kripto. Likuidasi kontrak berjangka kripto mencapai sekitar US$356 juta dalam 24 jam, dengan posisi long menyumbang sekitar US$205 juta.

Kondisi ini membuat pergerakan Bitcoin berada di persimpangan penting. Pasar berpotensi mengalami pemulihan apabila tekanan jual mereda dan harga mampu kembali menembus area resistensi. Namun, jika level support terdekat gagal dipertahankan, risiko koreksi lanjutan masih perlu diwaspadai.

Harga Bitcoin Hari Ini Tertekan Sikap Hawkish The Fed

Salah satu faktor yang membebani harga Bitcoin adalah hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) pada 28 Oktober 2026. Dalam pertemuan tersebut, The Fed mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,75%–4,00%.

Meski keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar, dua pejabat The Fed, Lisa Cook dan Beth Hammack, memilih untuk menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Perbedaan pandangan tersebut memperlihatkan bahwa risiko pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih menjadi perhatian investor.

Mengutip laporan CryptoSlate, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember sempat meningkat setelah keputusan tersebut. Ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi dapat menekan aset berisiko karena investor cenderung mempertimbangkan kembali alokasi modal di tengah biaya pendanaan yang lebih mahal.

Bitcoin pun menghadapi tekanan yang sejalan dengan pelemahan sentimen di pasar keuangan global. Dalam kondisi ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, volatilitas dapat meningkat, terutama pada instrumen yang memiliki penggunaan leverage tinggi.

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data inflasi Amerika Serikat, termasuk indeks Personal Consumption Expenditures (PCE). Data tersebut menjadi salah satu indikator yang dipantau The Fed untuk menilai perkembangan tekanan harga dan menentukan arah kebijakan moneter.

Apabila inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kebijakan moneter ketat berpotensi bertahan lebih lama. Sebaliknya, data yang lebih rendah dari perkiraan dapat memberikan ruang bagi pemulihan sentimen, meskipun tidak otomatis menjamin kenaikan harga Bitcoin.

Likuidasi Posisi Long Memperbesar Tekanan Jual Bitcoin

Selain faktor makroekonomi, aktivitas di pasar derivatif turut memperbesar tekanan terhadap BTC. Ketika harga bergerak turun dan menembus level tertentu, posisi long dengan leverage dapat mengalami likuidasi secara otomatis karena margin tidak lagi mencukupi.

Likuidasi tersebut memicu penutupan posisi dan dapat menambah tekanan jual. Apabila banyak posisi memiliki tingkat leverage tinggi, pergerakan harga yang relatif terbatas sekalipun dapat berkembang menjadi koreksi yang lebih tajam.

Data yang dikutip CoinDesk menunjukkan bahwa sekitar US$356 juta posisi futures kripto dilikuidasi dalam periode 24 jam. Dari jumlah tersebut, sekitar US$205 juta berasal dari posisi long. Angka ini mencerminkan besarnya tekanan yang dialami trader yang sebelumnya mengambil posisi dengan ekspektasi kenaikan harga.

Situasi tersebut perlu dibedakan dari short squeeze. Short squeeze terjadi ketika harga aset bergerak naik dan memaksa trader yang mengambil posisi short menutup posisinya, sehingga pembelian untuk menutup posisi tersebut dapat mendorong harga naik lebih lanjut.

Dengan demikian, likuidasi posisi long yang mendominasi penurunan terbaru Bitcoin lebih tepat disebut sebagai tekanan jual akibat leverage atau long liquidation. Namun, apabila harga kemudian berbalik naik dan menembus resistensi penting, penutupan posisi short berpotensi memperkuat momentum pemulihan.

Analisa Teknikal Bitcoin: Support US$79.000 Jadi Perhatian

Dari sisi teknikal, Bitcoin menghadapi tantangan setelah bergerak di bawah sejumlah indikator rata-rata bergerak atau moving average. Berdasarkan materi analisis pasar, Simple Moving Average (SMA) 20 hari berada di sekitar US$81.875, sedangkan SMA 50 hari berada di kisaran US$81.840.

Kedua level tersebut menjadi area resistensi yang perlu diperhatikan. Apabila BTC mampu kembali bergerak di atas kisaran US$81.800 dan mempertahankannya, peluang pemulihan jangka pendek dapat terbuka. Namun, kegagalan menembus area tersebut berpotensi membuat tekanan jual tetap dominan.

Di sisi bawah, area US$79.000–US$80.000 menjadi zona support penting. Harga yang bertahan di kawasan tersebut dapat memberikan kesempatan bagi pasar untuk berkonsolidasi sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.

Sebaliknya, jika Bitcoin menembus US$79.000 dan tekanan jual terus meningkat, level US$76.000 dapat menjadi area perhatian berikutnya berdasarkan skenario teknikal dalam materi analisis.

Meski demikian, level support dan resistensi bukan jaminan arah harga. Pergerakan aktual tetap bergantung pada volume perdagangan, posisi derivatif, sentimen investor, serta perkembangan ekonomi makro.

Prospek Harga Bitcoin: Dua Skenario yang Perlu Dicermati

Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin dapat dipengaruhi oleh kemampuan harga mempertahankan area US$79.000–US$80.000 dan respons pasar terhadap data ekonomi Amerika Serikat.

Skenario pertama adalah pemulihan. Jika support bertahan dan sentimen makro membaik, Bitcoin berpotensi menguji kembali resistensi di sekitar US$81.800. Penembusan yang diikuti penguatan volume dapat membuka ruang menuju kisaran US$82.500.

Dalam kondisi tersebut, penutupan posisi short berpotensi mempercepat kenaikan apabila banyak trader sebelumnya bertaruh pada penurunan harga. Inilah skenario yang dapat memicu short squeeze, meskipun konfirmasinya tetap memerlukan pergerakan harga dan data pasar derivatif.

Skenario kedua adalah koreksi lanjutan. Apabila Bitcoin kehilangan support US$79.000, tekanan jual dapat meningkat, terutama jika pelaku pasar kembali mengurangi eksposur terhadap aset berisiko. Dalam skenario ini, US$76.000 menjadi salah satu level yang dapat dipantau untuk mengukur kedalaman koreksi berikutnya.

Kedua skenario tersebut masih terbuka. Karena itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan harga dan data ekonomi, bukan hanya mengandalkan satu indikator untuk memperkirakan arah Bitcoin.

Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secarareal-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Baca juga: Harga Bitcoin Hari Ini: BTC di US$79.624, Sinyal Akumulasi Mulai Terlihat?

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device