
Rough Consensus
Apa Itu Rough Consensus?
Rough consensus adalah prinsip pengambilan keputusan yang digunakan dalam komunitas pengembang open source dan organisasi terdesentralisasi, di mana keputusan dianggap sah jika didukung oleh mayoritas kontributor aktif, tanpa perlu pemungutan suara formal. Metode ini menekankan pada diskusi terbuka, kolaboratif, dan pencapaian kesepakatan yang cukup kuat, bukan konsensus mutlak.
Sahabat Floq, istilah ini pertama kali populer dalam komunitas Internet Engineering Task Force (IETF) dan kini juga diadopsi oleh berbagai Decentralized Autonomous Organization (DAO) serta proyek Web3 yang mengutamakan transparansi, partisipasi, dan efisiensi kolektif.
Bagaimana Cara Kerja Rough Consensus?
Alih-alih menggunakan voting satu orang satu suara atau sistem suara berbobot (seperti governance token), rough consensus berjalan berdasarkan penilaian kolektif terhadap kualitas argumen, masukan teknis, dan tingkat keberatan komunitas terhadap suatu proposal.
Berikut ini adalah elemen kunci dalam praktik rough consensus:
1. Diskusi Terbuka
Proposal perubahan atau pengembangan dibahas secara publik—melalui forum, GitHub, Discord, atau saluran komunikasi komunitas lain.
2. Evaluasi Berbasis Argumen
Keputusan tidak diambil berdasarkan jumlah suara, tapi dari kekuatan alasan dan sejauh mana argumen tersebut dapat diterima oleh komunitas.
3. Tidak Ada Penolakan Keras
Rough consensus dapat dianggap tercapai jika tidak ada keberatan substansial yang belum ditangani. Jika mayoritas mendukung dan minoritas tidak memiliki alasan kuat untuk menolak, proposal bisa lanjut.
4. Dipandu oleh Moderator atau Maintainer
Sering kali, komunitas menunjuk maintainer atau core contributor untuk memfasilitasi diskusi dan menyimpulkan apakah konsensus sudah cukup kuat atau belum.
5. Iteratif dan Terbuka untuk Umpan Balik
Keputusan berbasis rough consensus biasanya fleksibel dan dapat direvisi jika muncul masukan baru atau data tambahan dari komunitas.
Mengapa Rough Consensus Penting dalam Ekosistem Terdesentralisasi?
1. Mempercepat Proses Tanpa Mengabaikan Partisipasi
Dengan tidak bergantung pada mekanisme voting formal yang bisa memakan waktu dan sumber daya, rough consensus memungkinkan keputusan diambil lebih cepat, namun tetap melibatkan masukan dari komunitas.
2. Mendukung Kolaborasi Terbuka
Pendekatan ini sangat cocok untuk proyek open source dan DAO, di mana kualitas kontribusi lebih penting daripada jumlah kepemilikan token atau otoritas formal.
3. Menghindari Dominasi Token
Dalam beberapa protokol governance berbasis token, keputusan bisa didominasi oleh "whale" (pemilik token besar). Rough consensus mengutamakan argumen logis daripada bobot suara, sehingga lebih demokratis secara substansi.
4. Adaptif terhadap Kompleksitas Teknis
Sering kali, keputusan teknis membutuhkan pemahaman mendalam. Dengan rough consensus, pengambil keputusan berasal dari mereka yang benar-benar aktif dan memahami persoalan, bukan sekadar pemilik suara.
5. Dukungan Historis dalam Protokol Internet
Bukti keberhasilan rough consensus sudah terlihat dalam pengembangan standar internet seperti HTTP, SMTP, dan TCP/IP. Keberhasilan ini menginspirasi adopsi prinsip serupa dalam proyek blockchain modern.
Rough consensus adalah pendekatan yang mencerminkan semangat asli dari gerakan open source dan Web3—inklusif, terbuka, dan didorong oleh komunitas aktif. Bagi Sahabat Floq yang tertarik membangun atau terlibat dalam DAO, memahami prinsip ini sangat penting untuk menciptakan sistem governance yang efisien, adil, dan berkelanjutan di tengah kompleksitas pengambilan keputusan terdesentralisasi.
Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.
Bagikan melalui:

Kosakata Selanjutnya
Routing Attack
Serangan jaringan di mana traffic blockchain dialihkan untuk menunda atau mengganggu komunikasi antar node. Dapat menyebabkan pemisahan jaringan (partitioning) atau manipulasi informasi.
Royalty
Pembayaran otomatis yang diberikan kepada pencipta setiap kali aset digital seperti Non-Fungible Token (NFT) dijual kembali. Dikodekan langsung ke dalam smart contract untuk menjamin kompensasi berkelanjutan.
Rug Pull
Skema penipuan di mana pengembang proyek crypto menarik semua dana investor dan meninggalkan proyek secara tiba-tiba. Umumnya terjadi dalam proyek Decentralized Finance (DeFi) atau Non-Fungible Token (NFT) yang belum diverifikasi dengan baik.
Rugged
Istilah slang untuk menggambarkan seseorang atau komunitas yang menjadi korban rug pull. Biasanya digunakan dalam konteks peringatan atau pengalaman pahit di dunia crypto.
Ryuk Ransomware
Jenis ransomware yang ditargetkan ke institusi besar, mengenkripsi data dan menuntut pembayaran dalam crypto sebagai tebusan. Dikenal karena serangannya yang agresif dan sering dikaitkan dengan infrastruktur penting.


