
Denial-of-Service (DoS) Attack
Denial-of-Service (DoS) attack adalah jenis serangan siber yang bertujuan mengganggu akses ke sistem, jaringan, atau layanan online dengan cara membanjirinya dengan permintaan atau traffic palsu secara terus-menerus. Serangan ini tidak bertujuan mencuri data, melainkan membuat sistem tidak dapat melayani permintaan sah dari pengguna sebenarnya.
Dalam ekosistem blockchain dan crypto, DoS menjadi salah satu ancaman serius, terutama karena sifat jaringan yang terbuka dan desentralisasi yang tidak bergantung pada satu otoritas pusat untuk pertahanan.
Bagaimana Cara Kerja DoS Attack?
Secara teknis, penyerang akan mengirimkan volume besar permintaan palsu atau tidak sah ke server target dalam waktu yang sangat singkat. Hal ini menyebabkan sistem:
- Mengalami kehabisan sumber daya seperti bandwidth, memori, atau CPU.
- Melambat secara signifikan atau bahkan tidak bisa diakses sama sekali oleh pengguna normal.
Pada jaringan blockchain, serangan ini bisa dilakukan dengan membuat transaksi palsu dalam jumlah besar atau mengeksploitasi celah dalam smart contract untuk membebani jaringan.
Jenis-Jenis Serangan DoS
1. Volumetric Attack
Menargetkan bandwidth dengan mengirimkan data dalam jumlah besar untuk menghabiskan kapasitas jaringan.
2. Protocol Attack
Memanfaatkan kelemahan dalam protokol jaringan seperti TCP/IP, HTTP, atau DNS untuk memblokir layanan.
3. Application Layer Attack
Menyerang aplikasi langsung, misalnya API, sistem login, atau smart contract pada dApps dengan permintaan tak sah secara masif.
Dampak DoS Attack pada Dunia Crypto
Serangan DoS di dunia blockchain bisa berdampak cukup besar, misalnya:
- Keterlambatan transaksi di jaringan DeFi.
- Bursa crypto down atau tidak responsif.
- Smart contract macet karena overload permintaan.
- Kehilangan kepercayaan pengguna, terutama jika terjadi berulang kali.
Karena itu, meskipun blockchain memiliki desain tahan manipulasi data, lapisan aplikasi dan jaringan tetap harus diperkuat terhadap serangan semacam ini.
Perbedaan DoS dan DDoS
Mungkin kamu pernah mendengar istilah DDoS (Distributed Denial-of-Service). Perbedaan utamanya adalah:
- DoS dilakukan oleh satu sumber.
- DDoS dilakukan oleh banyak sumber secara bersamaan, biasanya dari botnet (jaringan komputer yang telah dikendalikan oleh peretas).
- DDoS lebih sulit dilacak dan diatasi karena melibatkan banyak titik serangan sekaligus.
Strategi Mitigasi Serangan DoS
Untuk menjaga stabilitas sistem, ada beberapa langkah yang bisa dilakukan:
- Rate limiting pada server API dan node.
- Firewall dan sistem deteksi intrusi (IDS) untuk menyaring traffic mencurigakan.
- Desain smart contract yang efisien dan tahan terhadap spam.
- Penggunaan jaringan Content Delivery Network (CDN) yang bisa menyerap beban traffic palsu.
Dalam konteks blockchain, beberapa proyek bahkan membatasi ukuran dan jumlah transaksi per blok untuk meminimalkan risiko DoS.
DoS Adalah Ancaman Sunyi yang Harus Diantisipasi
Denial-of-Service (DoS) attack mungkin tidak mencuri aset atau data secara langsung, tetapi dampaknya bisa sangat merugikan dalam bentuk gangguan layanan dan rusaknya kepercayaan pengguna. Dalam dunia blockchain dan crypto yang selalu online dan terus beroperasi, menjaga ketersediaan layanan adalah aspek krusial.
Sahabat Floq yang aktif dalam pengembangan, investasi, atau penggunaan platform Web3 perlu memahami bagaimana serangan DoS bekerja agar bisa mengenali gejalanya dan mengantisipasinya lebih awal.
Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.
Bagikan melalui:

Kosakata Selanjutnya
Depeg
Kondisi ketika nilai stablecoin menyimpang dari nilai acuannya, seperti dolar Amerika Serikat. Bisa terjadi karena ketidakseimbangan pasar, gagal jaminan, atau serangan spekulatif.
DePIN
Singkatan dari Decentralized Physical Infrastructure Network, yaitu jaringan fisik seperti penyimpanan, bandwidth, atau sensor yang dibangun dan dijalankan secara terdesentralisasi.
Depth Chart
Visualisasi data dalam order book yang menunjukan jumlah keseluruhan pesanan beli dan jual pada berbagai tingkat harga. Membantu trader menganalisis likuiditas dan potensi pergerakan harga pasar.
Derivative
Instrumen keuangan yang nilainya bergantung pada aset dasar seperti saham, komoditas, atau crypto. Digunakan untuk lindung nilai, spekulasi, atau manajemen risiko.
Design Flaw Attack
Eksploitasi terhadap kelemahan dalam arsitektur sistem, bukan dari bug pemrograman biasa. Dapat menyebabkan kerugian besar jika struktur keamanan atau logika protokol dirancang secara tidak matang.


