Market Outlook W5 Juli 2026: BTC Turun! Ini 5 Sinyal Besar yang Bisa Mengguncang Pasar Crypto Pekan Depan

Pasar

31 Jul 2026

6 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Kalau minggu lalu pasar masih berharap Bitcoin (BTC) bisa bertahan di atas area support penting, kenyataannya justru berbeda. BTC akhirnya turun ke sekitar US$63.900, bahkan sempat menyentuh area US$62.785 sebelum mencoba rebound.

Di saat yang sama, tekanan datang dari berbagai arah. The Fed memang kembali menahan suku bunga, tetapi peluang kenaikan suku bunga pada September justru melonjak. Konflik AS-Iran kembali memanas. Harga minyak naik lebih dari 3%. CLARITY Act kehilangan momentum. Bahkan Indonesia juga mendapat sentimen baru setelah mundurnya Gubernur Bank Indonesia secara mendadak.

Artinya, pasar crypto saat ini bukan hanya dipengaruhi oleh satu faktor saja. Ada beberapa sentimen besar yang saling bertemu dalam waktu bersamaan. Lalu, apa saja yang sebenarnya terjadi? Dan apa yang perlu diperhatikan trader maupun investor selama sepekan ke depan? Yuk, kita bahas satu per satu.

Bitcoin Turun di Bawah Support, Apa yang Terjadi?

Bitcoin ditutup di kisaran US$63.900 pada 30 Juli 2026. Dalam tujuh hari terakhir, BTC turun sekitar 2,7%, dengan pergerakan harga berada di rentang US$62.785 hingga US$65.773.

Yang paling menarik bukan hanya penurunannya. Bitcoin akhirnya menembus level support US$64.000 yang sudah diprediksi pada Market Outlook minggu sebelumnya. Setelah turun, harga memang sempat memantul, tetapi hingga akhir pekan belum mampu kembali ke area resistance utama di kisaran US$65.700-66.500.

Bagi trader teknikal, tembusnya support biasanya menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih cukup kuat. Namun bukan berarti tren turun pasti berlanjut. Yang penting sekarang adalah melihat apakah BTC mampu kembali merebut area tersebut atau justru bergerak lebih rendah.

The Fed Menahan Suku Bunga, Tapi Kenapa Pasar Justru Makin Khawatir?

Banyak orang mengira ketika The Fed menahan suku bunga, pasar akan langsung menyambut positif.

Sayangnya, kondisi kali ini berbeda. The Fed kembali mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75% untuk pertemuan kelima berturut-turut. Sekilas memang terdengar netral. Namun hasil voting menunjukkan sesuatu yang cukup penting.

Tiga anggota regional meminta kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. Nada pernyataan The Fed juga masih tergolong hawkish, karena ketidakpastian ekonomi global dinilai masih tinggi akibat konflik geopolitik.

Akibatnya, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan September justru naik menjadi sekitar 72,3%. Artinya, pasar mulai percaya bahwa suku bunga tinggi kemungkinan akan bertahan lebih lama. Bagi aset berisiko seperti crypto, kondisi ini biasanya menjadi tekanan tambahan karena investor cenderung memilih aset yang lebih aman ketika suku bunga tinggi.

Konflik AS-Iran Memanas Lagi, Harga Minyak Langsung Melonjak

Sentimen terbesar pekan ini datang dari Timur Tengah. Setelah sempat terjadi jeda ketegangan pada 27 Juli, situasi ternyata kembali memburuk hanya dalam waktu sekitar dua hari.

Iran dilaporkan meluncurkan rudal balistik ke pangkalan udara AS di Yordania. Sebagai respons, AS bersama sekutunya melakukan serangan terhadap kelompok pro-Iran di Irak Timur. Di sisi lain, Iran juga mengklaim menghentikan beberapa kapal tanker minyak di Selat Hormuz.

Dampaknya langsung terasa. Harga minyak Brent naik lebih dari 3% hingga mendekati US$87, sedangkan minyak WTI juga melonjak ke sekitar US$82.

Kenapa trader crypto perlu memperhatikan harga minyak? Karena kenaikan harga energi dapat meningkatkan tekanan inflasi global. Jika inflasi kembali naik, peluang bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi juga semakin besar.

Jadi, saat ini pergerakan minyak menjadi salah satu indikator penting yang ikut memengaruhi arah Bitcoin.

ETF Bitcoin Masih Diminati, Tapi Ada Satu Catatan Penting

Dari sisi institusional, sebenarnya ada kabar yang cukup positif. ETF Bitcoin di Amerika Serikat sempat mencatat tiga minggu berturut-turut mengalami net inflow. Sayangnya, menjelang keputusan The Fed, situasinya berubah.

Dalam dua hari terakhir pekan tersebut terjadi outflow besar, mencapai ratusan juta dolar AS. Bahkan ETF milik BlackRock, IBIT, menjadi salah satu penyumbang outflow terbesar.

Hal ini menunjukkan bahwa investor institusi masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga. Menariknya lagi, ETF Ethereum justru mencatat arus masuk dana yang lebih besar dibanding Bitcoin. Fenomena ini mengindikasikan adanya rotasi modal dari BTC menuju ETH, sesuatu yang sudah mulai terlihat sejak beberapa pekan terakhir.

CLARITY Act Kehilangan Momentum

Regulasi crypto di Amerika Serikat kembali menjadi perhatian. Minggu lalu pasar cukup optimis bahwa CLARITY Act memiliki peluang besar untuk lolos.

Namun perkembangan terbaru justru sebaliknya. Hingga akhir Juli, Senat masih belum mengajukan mosi cloture yang menjadi syarat sebelum pemungutan suara. Waktu juga semakin sempit karena masa reses Senat dimulai pada 7 Agustus.

Di sisi lain, muncul kontroversi baru terkait laporan pendapatan crypto Presiden Donald Trump yang memicu kritik dari sejumlah senator mengenai aspek etika dalam RUU tersebut.

Akibatnya, peluang CLARITY Act untuk lolos sebelum masa reses diperkirakan turun ke kisaran 28-35%. Bagi pasar crypto, ketidakpastian regulasi seperti ini biasanya membuat investor memilih bersikap lebih hati-hati.

Strategy Masih Belum Menambah Bitcoin

Perusahaan Strategy kembali menarik perhatian. Selama lima minggu berturut-turut perusahaan tersebut belum melakukan pembelian Bitcoin tambahan. Sebaliknya, mereka justru menjual jutaan lembar saham untuk meningkatkan cadangan kas.

Yang cukup menarik adalah valuasi saham Strategy kini diperdagangkan di bawah nilai aset Bitcoin yang dimilikinya. Kondisi ini membuat sebagian analis mulai mempertanyakan apakah strategi perusahaan masih murni untuk mempertahankan akumulasi BTC atau mulai lebih fokus menjaga kondisi neraca keuangan.

Walaupun belum tentu menjadi sinyal negatif, perubahan perilaku perusahaan sebesar Strategy tetap layak diperhatikan karena selama ini mereka merupakan salah satu pemegang Bitcoin terbesar di dunia.

Kabar dari Indonesia: Gubernur BI Mundur Mendadak

Tidak hanya pasar global. Indonesia juga mendapat sentimen baru. Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, mengundurkan diri lebih awal dari masa jabatannya. Pasar langsung merespons. Rupiah melemah, yield obligasi naik, dan IHSG ikut terkoreksi. Rupiah kini bergerak di kisaran Rp18.010–Rp18.178 per dolar AS, lebih lemah dibanding minggu sebelumnya.

Bagi investor domestik, kondisi ini menjadi tambahan faktor yang perlu dipantau karena ketidakpastian kebijakan moneter dapat memengaruhi sentimen pasar secara keseluruhan.

Agenda Penting yang Perlu Dipantau Minggu Depan

Ada beberapa agenda besar yang berpotensi memicu volatilitas pasar.

  • Pertama, ISM Manufacturing PMI Amerika Serikat pada 3 Agustus.
  • Kedua, ADP Employment Report dan ISM Services PMI pada 5 Agustus.
  • Ketiga, kemungkinan pembahasan lanjutan CLARITY Act pada 6 Agustus apabila mosi cloture diajukan.
  • Keempat, yang paling penting adalah 7 Agustus, karena pada hari yang sama akan dirilis data Non-Farm Payroll (NFP) sekaligus menjadi batas dimulainya masa reses Senat AS.

Selain itu, perkembangan konflik Timur Tengah juga tetap menjadi faktor yang wajib dipantau setiap hari.

Apa yang Sebaiknya Dilakukan Investor?

Untuk investor pemula, jangan hanya fokus melihat grafik Bitcoin.

Mulailah memperhatikan berita ekonomi global seperti keputusan The Fed, harga minyak, dan perkembangan geopolitik karena faktor-faktor tersebut kini memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap pasar crypto.

Bagi swing trader, area US$62.800 dan US$65.700 menjadi level penting yang layak diawasi sebagai batas pergerakan harga dalam jangka pendek.

Sementara investor jangka panjang sebaiknya tidak terburu-buru mengambil keputusan hanya karena satu minggu pergerakan harga. Fokuslah pada tren makro, arus dana institusi, serta perkembangan regulasi yang akan membentuk arah pasar dalam beberapa bulan ke depan.

Kesimpulan

Pekan terakhir Juli menjadi salah satu periode yang cukup berat bagi pasar crypto. Bitcoin turun di bawah support penting, peluang kenaikan suku bunga The Fed meningkat, konflik AS-Iran kembali memanas, harga minyak melonjak, sementara regulasi crypto di Amerika Serikat justru kehilangan momentum.

Di dalam negeri, mundurnya Gubernur Bank Indonesia juga menambah ketidakpastian pasar. Meski demikian, kondisi seperti ini bukan berarti peluang sudah hilang. Justru di tengah volatilitas tinggi, investor perlu lebih disiplin dalam mengelola risiko, mengikuti perkembangan berita, dan menghindari keputusan yang hanya berdasarkan emosi.

Pasar crypto bergerak sangat cepat. Memahami faktor makro dan sentimen global menjadi bekal penting agar kamu bisa mengambil keputusan dengan lebih bijak.

FAQ

Kenapa Bitcoin turun di bawah US$64.000?

Bitcoin mendapat tekanan dari kombinasi beberapa faktor, seperti meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, konflik geopolitik AS-Iran, kenaikan harga minyak, dan sentimen negatif terhadap regulasi crypto di Amerika Serikat.

Apakah The Fed menaikkan suku bunga?

Belum. The Fed masih mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%. Namun peluang kenaikan suku bunga pada September meningkat menjadi sekitar 72%, sehingga pasar tetap berhati-hati.

Mengapa harga minyak memengaruhi Bitcoin?

Harga minyak yang naik dapat mendorong inflasi. Jika inflasi meningkat, bank sentral cenderung mempertahankan suku bunga tinggi. Kondisi ini biasanya memberikan tekanan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.

Apa itu CLARITY Act?

CLARITY Act merupakan rancangan undang-undang di Amerika Serikat yang bertujuan memberikan kejelasan regulasi terhadap aset crypto. Perkembangannya sering menjadi perhatian karena dapat memengaruhi sentimen pasar.

Apa yang perlu dipantau investor minggu depan?

Investor sebaiknya memantau data ekonomi AS, perkembangan konflik Timur Tengah, pembahasan CLARITY Act, serta pergerakan harga minyak dan Bitcoin di area support maupun resistance.

Download FLOQ dan Pantau Pasar Lebih Mudah

Ingin mengikuti perkembangan pasar crypto setiap hari? Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device