Market Outlook W4 Juli 2026: Bitcoin Sempat Sentuh US$66.500, Tapi Kenapa Malah Turun?

Pasar

24 Jul 2026

9 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Kalau kamu hanya melihat grafik Bitcoin minggu ini, mungkin kamu akan bingung.

Di awal pekan, Bitcoin berhasil mencetak level tertinggi dalam lima minggu terakhir dengan menyentuh kisaran US$66.400–66.500. Banyak investor mulai optimistis karena momentum bullish terlihat mulai kembali setelah beberapa pekan bergerak tanpa arah yang jelas.

Namun euforia itu tidak berlangsung lama.

Hanya sehari setelahnya, harga Bitcoin terkoreksi ke kisaran US$65.600–65.700. Padahal, tidak ada data inflasi baru dari Amerika Serikat maupun berita negatif besar dari industri kripto.

Lalu apa sebenarnya yang terjadi? Jawabannya justru datang dari luar pasar kripto.

Pekan ini, perhatian investor global bergeser ke lonjakan harga minyak dunia akibat meningkatnya konflik Amerika Serikat dan Iran. Harga minyak mentah WTI berhasil menembus US$85 per barel, sementara Brent mendekati US$90 per barel, level tertinggi dalam sekitar satu bulan.

Lonjakan harga energi tersebut memicu kekhawatiran bahwa inflasi bisa kembali meningkat. Akibatnya, pasar mulai memperkirakan Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan peluang kenaikan suku bunga kembali ikut meningkat.

Di sisi lain, ada juga kabar positif seperti arus dana ETF Bitcoin yang kembali mencatat inflow lima hari berturut-turut, perkembangan terbaru CLARITY Act, hingga keputusan Strategy yang kembali mempertahankan seluruh cadangan Bitcoin mereka.

Lalu, apakah semua ini berarti tren bullish Bitcoin masih berlanjut? Atau justru pasar sedang memasuki fase yang lebih berisiko?

Melalui Market Outlook pekan keempat Juli 2026 ini, kita akan membahas seluruh faktor yang sedang memengaruhi pasar, lengkap dengan data terbaru agar kamu bisa memahami kondisi pasar secara lebih utuh.

Bitcoin Naik ke Level Tertinggi 5 Minggu, Tetapi Langsung Kehilangan Momentum

Bayangkan kamu sedang mengendarai mobil di jalan tol yang kosong. Mobil sudah melaju cukup kencang dan semuanya terlihat lancar.

Tiba-tiba di depan muncul kemacetan panjang. Bukan karena mobilmu bermasalah, tetapi karena ada faktor lain yang menghambat perjalanan.

Kondisi inilah yang dialami Bitcoin. Awalnya pasar dipenuhi optimisme. Sentimen positif datang dari dua faktor utama.

  • Pertama, perkembangan CLARITY Act yang mulai menunjukkan kemajuan setelah hambatan etika berhasil diselesaikan.
  • Kedua, ETF Bitcoin akhirnya kembali mencatat lima hari inflow berturut-turut, sesuatu yang belum pernah terjadi sejak April 2026.

Kombinasi dua sentimen tersebut mendorong Bitcoin naik hingga US$66.400–66.500 pada 21 Juli.

Sayangnya, momentum tersebut langsung berubah ketika harga minyak melonjak tajam. WTI menembus US$85 per barel, sedangkan Brent naik mendekati US$90 per barel.

Bagi pasar keuangan global, kenaikan harga minyak hampir selalu identik dengan meningkatnya risiko inflasi. Ketika inflasi berpotensi naik kembali, investor mulai memperkirakan bahwa Federal Reserve akan lebih sulit menurunkan suku bunga.

Hasilnya langsung terlihat pada CME FedWatch.

Probabilitas kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada September melonjak menjadi sekitar 70%, naik dari kisaran 54–63% pada pekan sebelumnya.

Inilah alasan utama mengapa banyak investor memilih melakukan profit taking sehingga Bitcoin kembali turun ke kisaran US$65.700.

Harga Minyak Kini Menjadi Variabel Terpenting bagi Bitcoin

Selama beberapa bulan terakhir, investor selalu fokus menunggu data inflasi Amerika seperti CPI atau PPI.

Namun pekan ini situasinya berbeda. Tidak ada data inflasi besar yang akan dirilis hingga pertengahan Agustus. Artinya, pasar membutuhkan indikator lain untuk memperkirakan arah kebijakan The Fed.

Indikator tersebut sekarang adalah harga minyak. Mengapa? Karena konflik Amerika Serikat dan Iran justru semakin memanas. Hingga 22 Juli 2026, konflik telah memasuki malam ke-12 serangan beruntun sejak dimulai pada 7 Juli.

Gelombang serangan terbaru berlangsung sekitar 75 menit, sementara Iran membalas dengan serangan drone ke fasilitas militer Amerika Serikat di Kuwait, Yordania, dan Bahrain.

Di saat yang sama, Presiden Donald Trump juga kembali meningkatkan tekanan dengan mengancam akan menyerang situs bawah tanah yang dikenal sebagai "Pickaxe Mountain", lokasi yang diduga berkaitan dengan aktivitas nuklir Iran.

Walaupun ancaman tersebut belum berubah menjadi aksi militer, pasar langsung merespons karena khawatir konflik akan semakin meluas.

Selain itu, blokade Selat Hormuz beserta levy 20% terhadap kargo yang mulai berlaku sejak 14 Juli masih berlangsung. Mengingat sekitar seperlima distribusi minyak dunia melewati kawasan tersebut, pasar menganggap risiko gangguan pasokan masih sangat tinggi.

Selama kondisi ini belum mereda, harga minyak berpotensi tetap berada pada level tinggi. Dan selama harga minyak bertahan tinggi, Bitcoin kemungkinan masih akan bergerak sangat sensitif terhadap setiap perkembangan geopolitik.

ETF Bitcoin Mulai Pulih, Investor Institusi Kembali Masuk

Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, ada satu kabar baik yang patut diperhatikan.

Investor institusi mulai kembali masuk ke pasar. ETF Bitcoin berhasil mencatat lima hari inflow berturut-turut, menjadi yang pertama sejak April 2026.

BlackRock melalui produk IBIT menjadi penyumbang inflow terbesar. Pada hari Senin saja, IBIT mencatat arus dana sekitar US$115 juta, kemudian bertambah sekitar US$164 juta pada hari Selasa.

Tidak hanya Bitcoin. ETF Ethereum juga mulai menunjukkan pemulihan.

Untuk periode 13–17 Juli, ETF Ethereum mencatat net inflow sekitar US$105 juta, sekaligus mengakhiri tren outflow yang berlangsung selama delapan minggu berturut-turut.

Meski demikian, ada satu catatan penting. Besaran inflow mingguan ternyata berbeda cukup jauh antar penyedia data. Sebagian sumber mencatat total inflow sekitar US$75,7 juta, sementara sumber lain melaporkan hampir US$900 juta untuk periode yang mirip.

Karena itu, investor sebaiknya tidak terlalu terpaku pada nominal pastinya. Yang jauh lebih penting adalah arah pergerakannya. Dana institusi kini kembali masuk ke pasar Bitcoin setelah beberapa bulan sebelumnya cenderung keluar.

Namun secara keseluruhan, posisi year-to-date masih menunjukkan outflow sekitar US$5,2 miliar, sehingga inflow minggu ini masih lebih tepat disebut sebagai pemulihan parsial, bukan pembalikan tren jangka panjang.

Bitcoin Dominance Naik Menjadi 59%

Satu indikator lain yang cukup menarik adalah Bitcoin Dominance. Dominasi Bitcoin terhadap keseluruhan kapitalisasi pasar kripto kini naik menjadi sekitar 59%. Apa artinya?

Sederhananya, sebagian besar modal yang masuk ke pasar saat ini lebih memilih Bitcoin dibanding altcoin. Fenomena ini biasanya muncul ketika investor mulai bersikap lebih defensif.

Mereka masih ingin memiliki aset kripto, tetapi memilih Bitcoin yang dianggap memiliki risiko relatif lebih rendah dibanding aset digital lainnya. Artinya, walaupun dana mulai kembali masuk ke industri kripto, belum semua altcoin ikut menikmati arus modal tersebut.

CLARITY Act Makin Dekat ke Voting, Tapi Jangan Salah Paham

Topik besar berikutnya adalah perkembangan CLARITY Act.

RUU ini menjadi perhatian karena berpotensi memberikan kepastian regulasi yang lebih jelas bagi industri aset digital di Amerika Serikat. Pekan ini ada perkembangan yang cukup positif.

Gedung Putih telah menyelesaikan hambatan terkait bahasa etika, bahkan Presiden Donald Trump telah menandatangani persetujuan terhadap aturan tersebut.

Isi aturan etika ini melarang presiden, wakil presiden, anggota Kongres, dan pejabat federal meluncurkan cryptocurrency selama masih menjabat.

Setelah hambatan prosedural tersebut selesai, peluang agar CLARITY Act masuk ke agenda floor vote meningkat tajam.

Menurut Kalshi, probabilitas floor vote kini mencapai sekitar 72%. Namun di sinilah banyak investor mulai salah memahami situasi. Peluang voting dilakukan bukan berarti peluang RUU disahkan juga ikut naik ke angka yang sama.

Berdasarkan Polymarket, probabilitas CLARITY Act benar-benar lolos masih berada di kisaran 34%, bahkan cenderung menurun dibanding pekan sebelumnya. Mengapa? Karena hitungan suara di Senat belum berubah.

Partai Republik diperkirakan baru memiliki sekitar 51 suara solid, sementara mereka masih membutuhkan tambahan sekitar 7–9 suara Demokrat agar RUU benar-benar dapat disahkan.

Sampai saat ini, draf final RUU juga belum dipublikasikan secara resmi. Jadi, walaupun peluang voting meningkat, hasil akhirnya masih sangat bergantung pada dinamika politik dalam beberapa hari ke depan.

Strategy Kembali Menjual Saham, Tapi Tidak Menjual Bitcoin

Selain perkembangan regulasi, investor juga menyoroti langkah terbaru dari Strategy (sebelumnya MicroStrategy), perusahaan publik dengan kepemilikan Bitcoin terbesar di dunia.

Dalam periode 13–19 Juli 2026, Strategy kembali menjual saham MSTR senilai sekitar US$263,5 juta.

Menariknya, dana hasil penjualan saham tersebut tidak digunakan untuk membeli Bitcoin tambahan. Namun yang lebih menarik lagi, perusahaan juga tidak menjual satu pun Bitcoin yang telah dimilikinya.

Hingga pekan ini, kepemilikan Strategy tetap berada di angka 843.775 BTC, sama persis seperti pekan sebelumnya. Jika dihitung berdasarkan harga akumulasi, total investasi Bitcoin Strategy mencapai sekitar US$63,69 miliar, dengan rata-rata harga beli US$75.476 per BTC.

Sementara itu, posisi kas perusahaan meningkat menjadi sekitar US$3,225 miliar, naik dari sekitar US$3 miliar pada pekan sebelumnya.

Mengapa ini penting? Karena selama dua minggu berturut-turut Strategy memilih melakukan dilusi saham untuk memperoleh likuiditas dibanding menjual Bitcoin. Bagi investor jangka panjang, keputusan ini memperlihatkan bahwa Bitcoin masih diperlakukan sebagai aset strategis jangka panjang, bukan sebagai sumber dana yang mudah dilepas ketika perusahaan membutuhkan kas.

Bagaimana Kondisi Pasar Indonesia?

Di tengah berbagai dinamika global, kondisi pasar domestik cenderung lebih stabil. Bank Indonesia kembali mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur tanggal 21–22 Juli 2026.

Keputusan ini melanjutkan kebijakan sebelumnya setelah BI telah menaikkan suku bunga secara kumulatif 100 basis poin sejak awal tahun. Fokus utama BI saat ini masih menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam target 2,5% ±1%.

Dari sisi nilai tukar, rupiah menunjukkan pemulihan. Pada 22 Juli 2026, kurs JISDOR berada di kisaran Rp17.909–17.917 per dolar AS, lebih baik dibanding pekan sebelumnya yang sempat berada di kisaran Rp18.070–18.140.

Pasar saham Indonesia juga ikut menguat. IHSG berhasil naik ke level sekitar 6.374, dibanding 6.046 pada pekan sebelumnya. Meski demikian, investor tetap perlu bersikap realistis. Sejumlah analis telah memangkas target IHSG akhir tahun 2026 dari sekitar 10.500 menjadi 6.800, menunjukkan bahwa optimisme jangka pendek belum tentu mencerminkan prospek jangka menengah.

Agenda Penting yang Wajib Dipantau Pekan Depan

Beberapa agenda berikut berpotensi menjadi penggerak utama pasar kripto selama satu minggu ke depan.

24 Juli 2026

Pasar masih menunggu kepastian mengenai evaluasi tarif sementara Amerika Serikat terhadap Indonesia. Informasi sebelumnya mengenai tarif 10% menuju 18% masih membutuhkan konfirmasi resmi sehingga belum layak dijadikan dasar pengambilan keputusan investasi.

24 - 27 Juli 2026

Target pembahasan CLARITY Act di Senat Amerika Serikat. Meski peluang floor vote meningkat menjadi sekitar 72%, peluang RUU benar-benar disahkan masih berada di kisaran 34%.

28 - 29 Juli 2026

Pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) menjadi agenda paling penting pekan depan. Berdasarkan CME FedWatch, probabilitas keputusan saat ini adalah:

  • 74,9% suku bunga tetap
  • 25,1% kenaikan 25 basis poin
  • 0% peluang penurunan suku bunga

Walaupun peluang mempertahankan suku bunga masih dominan, investor tetap akan mencermati pernyataan The Fed mengenai prospek inflasi setelah kenaikan harga minyak.

Sepanjang Pekan

Perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran akan terus menjadi perhatian. Selama harga minyak bertahan di kisaran US$85-90 per barel, volatilitas Bitcoin diperkirakan masih tetap tinggi.

7 Agustus 2026

Awal masa reses Senat Amerika Serikat. Tanggal ini menjadi tenggat penting bagi pembahasan CLARITY Act karena apabila voting tidak dilakukan sebelum reses, peluang pembahasan kembali pada tahun ini akan semakin kecil.

Strategi Menghadapi Pasar Minggu Ini

Untuk Investor Pemula

Jika kamu baru mulai berinvestasi di aset kripto, jangan terburu-buru membeli hanya karena melihat Bitcoin sempat naik ke US$66.500.

Fokuslah memahami level penting pasar. Resistance utama saat ini berada di sekitar US$66.500, sedangkan support kuat berada di kisaran US$64.000. Selain memantau harga Bitcoin, biasakan juga melihat perkembangan harga minyak dunia karena faktor ini sedang menjadi penggerak utama pasar.

Untuk Swing Trader

Bagi trader jangka pendek, disiplin dalam manajemen risiko menjadi sangat penting. Perhatikan area US$64.000–66.500 sebagai rentang utama perdagangan.

Selain itu, hindari membuka posisi leverage besar menjelang hasil rapat FOMC maupun perkembangan terbaru CLARITY Act karena volatilitas dapat meningkat sewaktu-waktu.

Untuk Investor Jangka Panjang

Investor jangka panjang sebaiknya lebih fokus pada faktor fundamental dibanding fluktuasi harga harian. Masuknya kembali dana institusi ke ETF Bitcoin, konsistensi Strategy mempertahankan 843.775 BTC, serta perkembangan regulasi di Amerika Serikat merupakan indikator yang layak dipantau.

Namun demikian, risiko inflasi akibat kenaikan harga minyak tetap perlu diperhitungkan karena dapat memengaruhi arah kebijakan moneter global dalam beberapa bulan ke depan.

Market Outlook Kripto dalam Angka

Berikut ringkasan data penting pekan ini:

  • Harga tertinggi Bitcoin: US$66.400–66.500
  • Harga Bitcoin terkini: US$65.600–65.700
  • Resistance utama: US$66.500
  • Support utama: US$64.000
  • WTI Crude Oil: di atas US$85 per barel
  • Brent Crude Oil: mendekati US$90 per barel
  • Bitcoin Dominance: 59%
  • Probabilitas kenaikan suku bunga September: sekitar 70%
  • Probabilitas FOMC Juli menahan suku bunga: 74,9%
  • Probabilitas kenaikan suku bunga Juli: 25,1%
  • Inflow ETF Bitcoin: 5 hari berturut-turut (pertama sejak April 2026)
  • Inflow ETF Ethereum (13–17 Juli): US$105 juta
  • Outflow ETF Year-to-Date: sekitar US$5,2 miliar
  • Peluang Floor Vote CLARITY Act: 72%
  • Peluang CLARITY Act disahkan: 34%
  • Strategy menjual saham: US$263,5 juta
  • Holdings Strategy: 843.775 BTC
  • Kas Strategy: US$3,225 miliar
  • BI Rate: 5,75%
  • IHSG: 6.374
  • Rupiah (JISDOR): Rp17.909–17.917/USD

FAQ Seputar Market Outlook Kripto

Apa itu Market Outlook Kripto?

Market Outlook Kripto adalah analisis berkala mengenai kondisi pasar aset kripto yang membahas faktor-faktor seperti harga Bitcoin, regulasi, ETF, kebijakan bank sentral, kondisi ekonomi global, hingga sentimen investor. Tujuannya adalah membantu investor memahami peluang dan risiko sebelum mengambil keputusan.

Mengapa harga minyak bisa memengaruhi Bitcoin?

Kenaikan harga minyak berpotensi meningkatkan inflasi global. Jika inflasi kembali tinggi, Federal Reserve cenderung mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga. Kondisi ini biasanya menekan aset berisiko, termasuk Bitcoin, karena investor lebih memilih aset yang dianggap lebih aman.

Mengapa inflow ETF Bitcoin dianggap penting?

Inflow ETF menunjukkan adanya dana baru yang masuk ke produk investasi berbasis Bitcoin. Semakin besar arus dana yang masuk, semakin tinggi pula indikasi bahwa investor institusi mulai kembali percaya terhadap prospek Bitcoin. Namun, inflow ETF tetap harus dilihat bersama faktor lain seperti kondisi makroekonomi dan geopolitik.

Apa itu CLARITY Act?

CLARITY Act adalah rancangan undang-undang di Amerika Serikat yang bertujuan memberikan kepastian regulasi bagi industri aset digital. Jika disahkan, aturan ini dapat meningkatkan kepercayaan investor dan memberikan landasan hukum yang lebih jelas bagi perusahaan kripto.

Mengapa peluang floor vote 72% tidak sama dengan peluang RUU lolos 34%?

Peluang 72% hanya menunjukkan kemungkinan bahwa RUU akan dibahas melalui floor vote di Senat. Sementara peluang 34% menunjukkan kemungkinan RUU benar-benar memperoleh suara yang cukup untuk disahkan menjadi undang-undang. Keduanya adalah metrik yang berbeda.

Mengapa Strategy tidak membeli Bitcoin lagi?

Strategy saat ini memilih memperkuat posisi kas melalui penjualan saham tanpa menjual cadangan Bitcoin yang dimiliki. Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan masih menganggap Bitcoin sebagai aset strategis jangka panjang, meski belum melakukan akumulasi tambahan.

Level harga Bitcoin apa yang perlu diperhatikan minggu ini?

Dalam jangka pendek, area US$66.500 menjadi resistance penting karena beberapa kali gagal ditembus. Sementara itu, level US$64.000 menjadi support utama yang perlu dipertahankan agar tren kenaikan tetap terjaga.

Apa faktor yang paling berpotensi menggerakkan pasar kripto pekan depan?

Beberapa faktor utama yang perlu dipantau adalah perkembangan konflik Amerika Serikat dan Iran, harga minyak dunia, hasil rapat FOMC pada 28-29 Juli, perkembangan CLARITY Act di Senat AS, serta arus dana ETF Bitcoin.

Baca Juga: Aset Kripto Adalah: Pengertian, Jenis, Fungsi dan Resiko

Disclaimer: Artikel ini disusun berdasarkan data publik per 23 Juli 2026 dan bertujuan sebagai informasi serta edukasi, bukan merupakan rekomendasi untuk membeli atau menjual aset kripto maupun instrumen investasi lainnya. Kondisi pasar dapat berubah sewaktu-waktu, terutama mengingat dinamika geopolitik, kebijakan moneter, dan perkembangan regulasi yang masih berlangsung. Selalu lakukan riset mandiri (Do Your Own Research/DYOR) dan sesuaikan keputusan investasi dengan profil risiko masing-masing.

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device