Bunga Reksadana: Berapa Keuntungannya dan Cara Menghitungnya?

Investasi

16 Sep 2026

7 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Mendengar istilah bunga reksadana, banyak orang langsung membayangkan keuntungan dalam bentuk persentase tetap. Misalnya 5% per tahun, lalu tinggal menunggu uang bertambah.

Padahal, cara kerja reksadana sedikit berbeda.

Reksadana tidak memberikan bunga tetap seperti produk simpanan. Keuntungan reksadana lebih tepat disebut imbal hasil atau return. Nilainya bisa naik atau turun tergantung kinerja aset yang ada di dalam portofolio reksadana.

Jadi, kalau kamu sedang mencari tahu berapa bunga reksadana, hal pertama yang perlu dipahami adalah cara menghitung keuntungannya.

Apa Itu Bunga Reksadana?

Secara sederhana, istilah bunga reksadana biasanya digunakan untuk menyebut keuntungan atau imbal hasil yang diperoleh investor dari investasi reksadana.

Namun, secara teknis istilah tersebut kurang tepat.

Reksadana bekerja dengan cara mengumpulkan dana dari banyak investor. Dana tersebut kemudian dikelola oleh Manajer Investasi ke dalam portofolio aset sesuai jenis reksadananya.

Aset tersebut bisa berupa instrumen pasar uang, obligasi, saham, atau aset lainnya sesuai kebijakan investasi produk.

Nilai investasi investor tercermin melalui Nilai Aktiva Bersih (NAB) per unit.

OJK menjelaskan bahwa NAB per unit dapat berubah setiap hari dan mencerminkan hasil pengelolaan dana oleh Manajer Investasi. Karena itu, keuntungan investor berasal dari perubahan nilai tersebut, bukan dari bunga tetap.

Misalnya, kamu membeli reksadana ketika NAB per unit berada di Rp1.000. Beberapa waktu kemudian, NAB per unit naik menjadi Rp1.100.

Artinya, nilai investasi kamu naik 10%, sebelum memperhitungkan biaya atau faktor lain yang relevan.

Sebaliknya, kalau NAB turun menjadi Rp950, nilai investasi kamu juga ikut turun. Nah, ini yang membedakan reksadana dengan deposito atau produk yang menawarkan tingkat bunga tertentu.

Apakah Reksadana Ada Bunganya?

Jawabannya: reksadana tidak memiliki bunga tetap yang dijamin. Yang ada adalah potensi imbal hasil.

Besarnya return bergantung pada jenis reksadana, kondisi pasar, aset yang menjadi portofolio, serta periode investasi. Karena itu, jangan menganggap angka return masa lalu sebagai bunga yang pasti diterima.

OJK juga menekankan bahwa investor perlu memahami risiko reksadana dan tidak mengambil keputusan hanya berdasarkan imbal hasil yang diharapkan.

Misalnya sebuah reksadana pernah menghasilkan return 8% dalam satu tahun. Angka tersebut bukan berarti tahun berikutnya investor pasti mendapatkan 8% lagi.

Bisa lebih tinggi. Bisa lebih rendah. Bahkan, dalam kondisi tertentu, nilainya bisa mengalami penurunan.

Dari Mana Keuntungan Reksadana Berasal?

Sumber keuntungan reksadana bergantung pada aset yang ada di dalam portofolionya.

1. Reksadana Pasar Uang

Reksadana pasar uang umumnya berinvestasi pada instrumen pasar uang dan/atau efek utang dengan jatuh tempo tertentu sesuai ketentuan.

Potensi return-nya berasal dari kinerja instrumen yang menjadi portofolio. Karena karakter asetnya relatif lebih konservatif dibandingkan reksadana saham, pergerakan nilainya biasanya juga berbeda. Tetapi bukan berarti bebas risiko.

2. Reksadana Pendapatan Tetap

Reksadana pendapatan tetap umumnya memiliki porsi besar pada efek bersifat utang.

Return dapat berasal dari pendapatan instrumen utang dan perubahan nilai aset di dalam portofolio. Ketika kondisi pasar obligasi berubah, NAB reksadana pendapatan tetap juga dapat ikut bergerak.

Jadi, meskipun namanya “pendapatan tetap”, bukan berarti return investor selalu tetap.

3. Reksadana Saham

Reksadana saham mengalokasikan sebagian besar portofolionya pada saham. Karena itu, potensi keuntungan dan risikonya cenderung lebih tinggi dibandingkan jenis reksadana yang lebih konservatif.

Ketika harga saham dalam portofolio naik, NAB berpotensi meningkat. Begitu juga sebaliknya.

4. Reksadana Campuran

Reksadana campuran mengombinasikan beberapa jenis aset. Misalnya saham, obligasi, dan instrumen pasar uang. Karena asetnya beragam, sumber return juga berasal dari kinerja masing-masing aset tersebut.

Profil risiko dan potensi return-nya berada di antara beberapa jenis reksadana, tergantung komposisi portofolionya.

Cara Menghitung Bunga atau Return Reksadana

Sekarang masuk ke bagian yang paling penting. Bagaimana cara menghitung keuntungan reksadana?

Rumus sederhananya: Return = (NAB akhir - NAB awal) / NAB awal × 100%

Contohnya begini. Kamu membeli reksadana saat NAB per unit Rp1.000. Setelah satu tahun, NAB per unit menjadi Rp1.100.

Maka: (Rp1.100 - Rp1.000) / Rp1.000 × 100% = 10%

Artinya, return investasimu adalah 10% sebelum memperhitungkan biaya atau faktor lain. Kalau modal awalmu Rp5 juta, secara sederhana nilainya menjadi sekitar Rp5,5 juta. Keuntungannya sekitar Rp500 ribu.

Namun, hasil aktual yang diterima investor dapat dipengaruhi biaya transaksi, biaya penjualan kembali, pajak jika berlaku, dan faktor lainnya sesuai produk.

Contoh Menghitung Keuntungan Reksadana

Misalnya kamu membeli 5.000 unit reksadana. Saat membeli, NAB per unit adalah Rp1.000.

Maka nilai investasinya: 5.000 × Rp1.000 = Rp5.000.000
Kemudian NAB naik menjadi Rp1.150.

Nilai investasi menjadi: 5.000 × Rp1.150 = Rp5.750.000
Selisihnya adalah: Rp5.750.000 - Rp5.000.000 = Rp750.000

Jadi, secara sederhana kamu memperoleh keuntungan Rp750 ribu atau sekitar 15%.

Perlu diingat, contoh tersebut belum memasukkan biaya yang mungkin dikenakan oleh produk reksadana.

Apakah Return Reksadana Bisa Dihitung Per Bulan?

Bisa. Kamu dapat membandingkan NAB pada awal dan akhir periode tertentu.

Misalnya NAB awal bulan Rp1.000 dan NAB akhir bulan Rp1.030. Maka return bulan tersebut: (Rp1.030 - Rp1.000) / Rp1.000 × 100% = 3%

Jadi, return selama periode tersebut adalah 3%. Tetapi jangan langsung mengalikan 3% dengan 12 bulan untuk menyimpulkan return setahun menjadi 36%.

Pergerakan NAB tidak selalu sama setiap bulan. Selain itu, jika ingin menghitung pertumbuhan secara majemuk, pendekatannya juga berbeda.

Bagaimana Jika Investasi Reksadana Dilakukan Rutin?

Ini juga penting. Misalnya kamu rutin membeli reksadana setiap bulan sebesar Rp500 ribu. Harga atau NAB per unit bisa berbeda setiap kali pembelian.

Saat NAB rendah, Rp500 ribu akan mendapatkan lebih banyak unit. Saat NAB tinggi, jumlah unit yang didapat lebih sedikit.

Karena itu, menghitung return investasi rutin tidak cukup hanya menggunakan satu harga beli. Kamu perlu menghitung total unit yang dimiliki dan membandingkannya dengan nilai investasi saat ini.

Contoh sederhana: Bulan pertama kamu mendapatkan 500 unit. Bulan berikutnya mendapatkan 480 unit. Bulan ketiga mendapatkan 520 unit. Total unit yang dimiliki menjadi 1.500 unit.

Jika NAB saat ini Rp1.100, nilai investasi menjadi: 1.500 × Rp1.100 = Rp1.650.000

Dari sini, kamu bisa membandingkan nilai tersebut dengan total dana yang sudah disetorkan.

Bunga Reksadana Pasar Uang Berapa?

Pertanyaan ini cukup sering muncul. Namun, tidak ada satu angka bunga yang berlaku untuk semua reksadana pasar uang.

Setiap produk memiliki portofolio, biaya, dan kinerja yang berbeda. Return juga dapat berubah dari waktu ke waktu.

Jadi, lebih tepat melihat kinerja historis produk daripada mencari angka bunga tetap. Misalnya sebuah produk menghasilkan return 4% dalam periode tertentu.

Angka tersebut merupakan kinerja pada periode tersebut. Bukan janji bahwa investor akan memperoleh 4% pada periode berikutnya.

Hal ini penting supaya kamu tidak salah membandingkan reksadana dengan deposito.

Bunga Reksadana vs Bunga Deposito

Keduanya sama-sama bisa digunakan untuk mengembangkan dana. Tapi mekanismenya berbeda.

Deposito menawarkan tingkat bunga sesuai ketentuan produk dan tenor. Sementara itu, reksadana menghasilkan return berdasarkan perubahan nilai aset yang tercermin dalam NAB.

Karena itu, reksadana tidak bisa dianggap sebagai deposito versi digital. Risikonya juga berbeda. Pada reksadana, nilai investasi dapat naik dan turun. Besarnya fluktuasi bergantung pada jenis reksadana dan aset yang menjadi portofolionya.

Apakah Bunga Reksadana Bisa Rugi?

Bisa. Ini salah satu hal yang wajib dipahami sebelum mulai investasi. Jika NAB per unit turun setelah kamu membeli reksadana, nilai investasimu ikut turun.

Contohnya kamu membeli reksadana dengan NAB Rp1.000. Kemudian NAB turun menjadi Rp900. Secara sederhana, nilai investasimu mengalami penurunan 10%.

Namun, penurunan nilai tersebut belum menjadi kerugian terealisasi jika kamu belum menjual unit tersebut.

Jika kemudian NAB kembali naik, nilai investasimu juga bisa meningkat. Karena itu, memahami jangka waktu investasi dan profil risiko menjadi bagian penting sebelum memilih produk.

Apakah Return Reksadana Bisa Mengalahkan Inflasi?

Bisa, tetapi tidak selalu. Tujuan investasi salah satunya adalah menjaga atau meningkatkan daya beli dana dalam jangka panjang.

Kalau return investasi lebih rendah daripada inflasi, pertumbuhan nominal uang belum tentu berarti daya belinya juga meningkat.

Karena itu, jangan hanya melihat nominal keuntungan. Perhatikan juga inflasi, biaya investasi, pajak jika berlaku, serta tujuan keuangan.

Cara Memilih Reksadana Berdasarkan Potensi Return

Daripada mencari reksadana dengan “bunga” paling tinggi, lebih baik mulai dari kebutuhanmu.

  • Pertama, tentukan tujuan investasi. Apakah untuk dana darurat? Dana pendidikan? Dana membeli rumah? Atau tujuan jangka panjang?
  • Kedua, tentukan jangka waktu. Investasi untuk kebutuhan dalam waktu dekat memiliki pertimbangan berbeda dengan investasi jangka panjang.
  • Ketiga, pahami profil risiko. Jangan memilih produk hanya karena melihat return historis yang tinggi. Return yang tinggi biasanya datang bersama risiko yang perlu dipahami.
  • Keempat, cek informasi produk. Perhatikan kebijakan investasi, kinerja historis, biaya, risiko, dan informasi lain yang tersedia dalam prospektus atau dokumen resmi.

OJK sendiri menekankan pentingnya pemahaman yang lebih komprehensif terhadap reksadana, termasuk risiko dan informasi produk.

Kondisi Industri Reksadana Indonesia

Reksadana masih menjadi bagian penting dari industri pengelolaan investasi di Indonesia.

Sebagai gambaran, OJK mencatat NAB reksadana sebesar Rp652,88 triliun pada akhir Agustus 2026. Angka tersebut naik tipis 0,05% secara month-to-month, meskipun secara year-to-date masih termoderasi 3,32%.

Data ini menunjukkan bahwa nilai industri reksadana dapat bergerak dari waktu ke waktu. Jadi, jangan melihat investasi reksadana sebagai produk dengan angka keuntungan yang selalu naik. Pergerakan pasar tetap berpengaruh.

Kesalahan yang Sering Terjadi Saat Menghitung Bunga Reksadana

Ada beberapa kesalahan yang sebaiknya dihindari.

Menganggap return sebagai bunga tetap

Return historis bukan jaminan keuntungan masa depan.

Hanya melihat return tertinggi

Produk dengan return tinggi belum tentu sesuai dengan tujuan dan profil risikomu.

Lupa menghitung biaya

Biaya pembelian, penjualan kembali, atau biaya lainnya dapat memengaruhi hasil investasi sesuai ketentuan produk.

Tidak memperhatikan jangka waktu

Investasi yang cocok untuk tujuan jangka panjang belum tentu sesuai untuk kebutuhan jangka pendek.

Panik ketika NAB turun

Penurunan NAB merupakan bagian dari risiko investasi. Yang penting adalah memahami penyebab pergerakan dan menyesuaikannya dengan tujuan investasi.

FAQ Seputar Bunga Reksadana

Apakah reksadana memberikan bunga?

Tidak dalam pengertian bunga tetap. Reksadana memberikan potensi imbal hasil yang tercermin dari perubahan NAB per unit.

Bunga reksadana berapa persen?

Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua reksadana. Return bergantung pada jenis produk, portofolio, kondisi pasar, dan periode pengukuran.

Apakah reksadana bisa rugi?

Bisa. Nilai NAB dapat turun sehingga nilai investasi investor ikut berkurang.

Bagaimana cara menghitung keuntungan reksadana?

Gunakan rumus sederhana: (NAB akhir - NAB awal) / NAB awal × 100%. Untuk investasi rutin, perhitungannya perlu mempertimbangkan jumlah unit yang dibeli pada setiap periode.

Apakah reksadana lebih menguntungkan daripada deposito?

Tidak bisa disimpulkan secara umum. Keduanya memiliki karakteristik, mekanisme, risiko, dan tujuan penggunaan yang berbeda. Pilih berdasarkan tujuan keuangan dan profil risiko.

Apakah return reksadana setiap tahun selalu sama?

Tidak. Return dapat berubah dari tahun ke tahun karena kinerja aset dalam portofolio dan kondisi pasar.

Apakah return reksadana bisa lebih tinggi dari inflasi?

Bisa, tetapi tidak dijamin. Karena itu, evaluasi investasi sebaiknya tidak hanya melihat return nominal, tetapi juga mempertimbangkan inflasi dan biaya.

Kesimpulan

Istilah bunga reksadana sebenarnya lebih tepat dipahami sebagai imbal hasil atau return reksadana.

Reksadana tidak memberikan bunga tetap seperti deposito.

Keuntungan investor berasal dari perubahan NAB per unit. Ketika NAB naik, nilai investasi berpotensi meningkat. Ketika NAB turun, nilai investasi juga bisa berkurang.

Karena itu, sebelum membeli reksadana, jangan hanya bertanya, “Bunganya berapa?”

Lebih penting untuk melihat jenis reksadana, portofolio, risiko, biaya, kinerja historis, dan kesesuaiannya dengan tujuan keuangan.

Dengan begitu, kamu bisa mengambil keputusan investasi dengan pemahaman yang lebih lengkap.

Mulai Kenal Investasi Aset Digital di FLOQ

Kalau kamu ingin memperluas wawasan soal investasi dan aset digital, kamu juga bisa belajar melalui FLOQ.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Perbedaan Reksadana dan Saham: Kenali Sebelum Memilih!

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device