Resesi Indonesia: Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya

Finansial

26 Sep 2026

7 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pernah dengar istilah resesi Indonesia dan langsung kepikiran ekonomi lagi nggak baik-baik saja?

Istilah ini memang sering muncul ketika pertumbuhan ekonomi melambat, konsumsi masyarakat turun, atau aktivitas bisnis mulai menurun. Tapi, sebenarnya apa yang dimaksud dengan resesi? Apakah ekonomi yang tumbuh lambat otomatis berarti Indonesia sedang resesi?

Jawabannya nggak sesederhana itu.

Resesi adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang cukup signifikan dan berlangsung dalam periode tertentu. Dampaknya bisa terasa dari berbagai sisi, mulai dari bisnis, lapangan kerja, pendapatan masyarakat, sampai pasar keuangan.

Nah, memahami resesi Indonesia penting bukan cuma buat ekonom atau pelaku bisnis. Buat kamu yang sedang mengatur keuangan, menabung, atau investasi, memahami kondisi ekonomi juga bisa membantu mengambil keputusan dengan lebih terukur.

Di artikel ini, kita bahas pengertian resesi, penyebab, jenis, indikator, dampak, sampai cara menghadapi resesi.

Apa Itu Resesi Indonesia?

Secara sederhana, resesi Indonesia adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi Indonesia mengalami kontraksi atau perlambatan yang cukup luas dan berlangsung dalam periode tertentu.

Resesi biasanya ditandai dengan melemahnya sejumlah aktivitas ekonomi sekaligus. Misalnya, konsumsi rumah tangga menurun, investasi melemah, produksi industri berkurang, perdagangan melambat, dan tingkat pengangguran meningkat.

Tapi ada satu hal penting.

Dua kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan ekonomi negatif sering dipakai sebagai rule of thumb untuk menjelaskan resesi. Namun, definisi resesi nggak selalu sesederhana aturan tersebut.

Para ekonom biasanya melihat lebih banyak indikator untuk menentukan apakah sebuah negara benar-benar mengalami resesi.

Artinya, kalau pertumbuhan ekonomi negatif dalam satu kuartal, belum tentu Indonesia otomatis masuk resesi.

Sebaliknya, pertumbuhan ekonomi yang masih positif juga nggak selalu berarti seluruh aktivitas ekonomi sedang dalam kondisi kuat.

Karena itu, pembahasan mengenai resesi perlu melihat kondisi ekonomi secara lebih menyeluruh.

Apa yang Menyebabkan Indonesia Bisa Mengalami Resesi?

Resesi bisa terjadi karena banyak faktor. Bahkan, biasanya bukan cuma satu penyebab.

Beberapa faktor yang bisa mendorong terjadinya resesi antara lain:

1. Konsumsi Masyarakat Menurun

Konsumsi rumah tangga merupakan salah satu komponen penting dalam perekonomian Indonesia.

Ketika masyarakat mulai mengurangi belanja, omzet bisnis bisa ikut turun. Kalau kondisi tersebut berlangsung luas dan cukup lama, produksi perusahaan dapat ikut dikurangi.

Efeknya bisa merambat ke sektor lain.

Misalnya, masyarakat menunda membeli kendaraan. Penjualan kendaraan turun. Produsen kemudian mengurangi produksi. Pemasok komponen ikut terdampak. Jam kerja atau kebutuhan tenaga kerja bisa berkurang.

Dari satu aktivitas ekonomi saja, dampaknya bisa menyebar ke banyak sektor.

2. Investasi Melemah

Investasi juga punya peran penting dalam pertumbuhan ekonomi.

Ketika dunia usaha melihat kondisi ekonomi penuh ketidakpastian, perusahaan bisa menunda ekspansi, pembangunan pabrik, pembelian mesin, atau perekrutan karyawan.

Kalau investasi melemah secara luas, aktivitas ekonomi bisa ikut melambat.

3. Ekspor Menurun

Indonesia merupakan negara yang terhubung dengan ekonomi global.

Ketika negara-negara mitra dagang mengalami perlambatan, permintaan terhadap produk Indonesia bisa ikut berkurang.

Misalnya, permintaan terhadap komoditas atau produk manufaktur Indonesia turun. Nilai ekspor kemudian bisa ikut tertekan.

Kalau berlangsung cukup lama dan luas, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

4. Inflasi Tinggi

Inflasi adalah kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus.

Inflasi yang terlalu tinggi bisa mengurangi daya beli masyarakat.

Bayangkan pendapatan kamu tetap, tetapi harga makanan, transportasi, tempat tinggal, dan kebutuhan lain naik. Uang yang sama akhirnya cuma bisa membeli lebih sedikit barang.

Kalau kondisi ini terjadi secara luas, konsumsi masyarakat dapat melemah.

Di sisi lain, bank sentral bisa mengambil kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas harga. Perubahan suku bunga juga dapat memengaruhi kredit, konsumsi, dan investasi.

5. Krisis Keuangan

Krisis di sektor keuangan juga bisa memperburuk kondisi ekonomi.

Ketika sistem keuangan mengalami tekanan, akses pembiayaan bisa menjadi lebih sulit. Perusahaan maupun masyarakat dapat menahan pengeluaran.

Kondisi tersebut kemudian bisa memengaruhi aktivitas bisnis secara keseluruhan.

6. Guncangan dari Ekonomi Global

Indonesia juga bisa terdampak oleh kejadian global.

Misalnya, konflik geopolitik, gangguan rantai pasok, perubahan harga komoditas, perlambatan ekonomi negara besar, atau gejolak pasar keuangan global.

Karena perekonomian antarnegara saling terhubung, perubahan di luar negeri bisa memberikan efek ke Indonesia.

Bagaimana Cara Kerja Resesi?

Supaya lebih gampang dipahami, bayangkan ekonomi seperti sebuah roda besar.

Di dalamnya ada rumah tangga, perusahaan, pemerintah, lembaga keuangan, dan sektor perdagangan internasional.

Semuanya saling berhubungan.

Ketika masyarakat mengurangi belanja, pendapatan perusahaan bisa turun.

Perusahaan kemudian mungkin mengurangi produksi atau menunda ekspansi.

Kalau produksi turun, kebutuhan tenaga kerja bisa ikut berkurang.

Pendapatan masyarakat kemudian dapat tertekan.

Ketika pendapatan turun atau ketidakpastian meningkat, masyarakat bisa kembali mengurangi konsumsi.

Terbentuklah siklus pelemahan ekonomi.

Tentu saja, kondisi nyata jauh lebih kompleks. Pemerintah dan bank sentral memiliki berbagai kebijakan untuk menjaga aktivitas ekonomi, sehingga dampak perlambatan nggak selalu berkembang menjadi resesi.

Apa Saja Ciri-Ciri Resesi Indonesia?

Ada beberapa indikator yang biasanya diperhatikan ketika menilai kondisi ekonomi.

Pertumbuhan Ekonomi Melemah

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto atau PDB menjadi salah satu indikator utama.

Kalau pertumbuhan PDB terus melemah atau mengalami kontraksi, kondisi tersebut perlu diperhatikan.

Pengangguran Meningkat

Ketika perusahaan menghadapi penurunan permintaan, sebagian perusahaan mungkin mengurangi perekrutan atau melakukan efisiensi tenaga kerja.

Karena itu, tingkat pengangguran juga menjadi salah satu indikator penting.

Konsumsi Turun

Masyarakat yang lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang bisa menjadi tanda adanya tekanan terhadap perekonomian.

Namun, perubahan konsumsi perlu dilihat bersama indikator lainnya.

Investasi Melambat

Perusahaan yang menunda ekspansi atau proyek baru dapat menunjukkan bahwa dunia usaha sedang lebih berhati-hati.

Produksi Industri Melemah

Penurunan produksi manufaktur dan aktivitas industri juga bisa menjadi sinyal perlambatan ekonomi.

Pendapatan dan Aktivitas Bisnis Tertekan

Penjualan yang menurun dapat membuat perusahaan mengurangi produksi, menunda investasi, atau melakukan penyesuaian biaya.

Semakin banyak indikator yang bergerak melemah secara bersamaan, semakin penting untuk memperhatikan kondisi ekonomi secara keseluruhan.

Apakah Indonesia Pernah Mengalami Resesi?

Ya. Indonesia pernah mengalami kontraksi ekonomi, termasuk pada periode pandemi COVID-19 ketika aktivitas ekonomi terganggu secara besar-besaran.

Pada 2020, ekonomi Indonesia mengalami kontraksi tahunan. Indonesia juga mengalami kontraksi ekonomi pada beberapa kuartal selama periode tersebut.

Namun, konteksnya sangat berbeda dengan perlambatan ekonomi biasa.

Pandemi menyebabkan pembatasan aktivitas masyarakat, gangguan rantai pasok, penurunan mobilitas, serta tekanan terhadap berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.

Setelah itu, perekonomian Indonesia kembali mengalami pemulihan.

Hal ini menunjukkan bahwa kondisi resesi bukan berarti perekonomian suatu negara akan selalu berada dalam kondisi tersebut.

Ekonomi bisa mengalami kontraksi, kemudian memasuki fase pemulihan ketika konsumsi, investasi, produksi, dan aktivitas ekonomi lainnya kembali meningkat.

Apa Bedanya Resesi dengan Depresi Ekonomi?

Resesi dan depresi sama-sama menggambarkan kondisi ekonomi yang buruk, tetapi skalanya berbeda.

Resesi biasanya mengacu pada penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dalam periode tertentu.

Sementara itu, depresi ekonomi biasanya digunakan untuk menggambarkan penurunan ekonomi yang jauh lebih dalam dan berkepanjangan.

Depresi juga bisa disertai pengangguran yang sangat tinggi, penurunan produksi yang besar, serta tekanan finansial yang luas.

Jadi, jangan langsung menyebut setiap perlambatan ekonomi sebagai depresi.

Apa Dampak Resesi bagi Masyarakat?

Dampak resesi bisa berbeda-beda untuk setiap orang.

Beberapa dampak yang mungkin terjadi antara lain:

Pendapatan tertekan. Sebagian pekerja atau pelaku usaha bisa mengalami penurunan pendapatan.

Peluang kerja berkurang. Perusahaan dapat mengurangi perekrutan ketika permintaan melemah.

Bisnis menghadapi penurunan penjualan. Konsumen biasanya menjadi lebih selektif dalam membelanjakan uang.

Investasi menjadi lebih bergejolak. Pasar keuangan dapat merespons perubahan ekspektasi terhadap ekonomi.

Akses pembiayaan bisa berubah. Kondisi suku bunga dan kebijakan perbankan dapat memengaruhi biaya pinjaman.

Tapi dampaknya nggak selalu sama untuk semua sektor.

Ada bisnis yang lebih sensitif terhadap perubahan daya beli. Ada juga sektor yang permintaannya relatif lebih stabil.

Karena itu, pembahasan mengenai dampak resesi sebaiknya nggak digeneralisasi untuk semua orang dan semua industri.

Bagaimana Resesi Memengaruhi Investasi?

Ini bagian yang sering bikin investor penasaran.

Ketika muncul kekhawatiran tentang Indonesia resesi, pasar keuangan dapat menjadi lebih volatil. Investor bisa menyesuaikan portofolionya berdasarkan perubahan risiko, prospek pertumbuhan, suku bunga, inflasi, dan berbagai faktor lainnya.

Namun, resesi bukan berarti semua aset otomatis turun.

Setiap aset memiliki karakteristik dan tingkat risiko yang berbeda.

Karena itu, keputusan investasi sebaiknya nggak hanya didasarkan pada berita tentang resesi.

Sebelum mengambil keputusan, kamu bisa mempertimbangkan:

  • tujuan investasi;
  • jangka waktu investasi;
  • kebutuhan likuiditas;
  • profil risiko;
  • kondisi keuangan pribadi;
  • karakteristik aset yang dipilih.

Dengan begitu, kamu nggak mudah mengambil keputusan hanya karena panik melihat berita ekonomi.

Cara Menghadapi Resesi Indonesia

Resesi memang berada di level ekonomi makro. Kita nggak bisa mengendalikannya secara langsung.

Tapi ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk memperkuat kondisi keuangan pribadi.

1. Cek Kondisi Keuangan

Mulai dengan mengetahui pemasukan dan pengeluaran bulanan.

Kamu perlu tahu uang paling banyak digunakan untuk apa.

Dari sana, kamu bisa membedakan antara kebutuhan, keinginan, cicilan, dan pengeluaran yang sebenarnya masih bisa dikurangi.

2. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat bisa menjadi bantalan ketika terjadi kondisi tidak terduga.

Besarnya kebutuhan dana darurat bisa berbeda untuk setiap orang, tergantung kondisi pekerjaan, jumlah tanggungan, pengeluaran, dan faktor lainnya.

Yang penting, dana tersebut mudah diakses ketika benar-benar dibutuhkan.

3. Jangan Mengabaikan Utang

Utang dengan biaya tinggi bisa menjadi beban ketika pendapatan sedang tertekan.

Karena itu, cek kembali cicilan dan kewajiban bulanan.

Jangan sampai sebagian besar pendapatan habis hanya untuk membayar utang.

4. Diversifikasi Aset

Diversifikasi berarti nggak menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset.

Tujuannya adalah mengelola risiko dengan menyebarkan eksposur ke beberapa aset yang memiliki karakteristik berbeda.

Namun, diversifikasi bukan berarti investasi bebas risiko.

Nilai aset tetap bisa naik dan turun.

5. Jangan Mengambil Keputusan karena Panik

Berita tentang resesi memang bisa membuat khawatir.

Tapi keputusan finansial yang dibuat karena panik belum tentu sesuai dengan tujuan kamu.

Lebih baik lihat data, pahami risiko, lalu sesuaikan keputusan dengan kondisi keuangan sendiri.

Apakah Indonesia Akan Mengalami Resesi?

Pertanyaan ini sering muncul ketika ekonomi mulai melambat.

Tapi perlu dibedakan antara risiko resesi dan resesi yang sudah terjadi.

Perlambatan ekonomi, inflasi, penurunan konsumsi, atau pelemahan pasar keuangan belum otomatis berarti Indonesia sedang mengalami resesi.

Untuk menilai kondisi ekonomi, perlu melihat berbagai indikator dan data resmi secara berkala.

Jadi, daripada hanya mengikuti satu headline, lebih baik perhatikan perkembangan pertumbuhan ekonomi, konsumsi, investasi, perdagangan, inflasi, pasar tenaga kerja, serta kebijakan ekonomi.

FAQ Seputar Resesi Indonesia

Apa itu resesi Indonesia?

Resesi Indonesia adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi Indonesia mengalami penurunan yang signifikan dan berlangsung dalam periode tertentu. Penilaiannya tidak hanya bergantung pada satu indikator.

Apakah dua kuartal negatif berarti Indonesia pasti resesi?

Dua kuartal berturut-turut dengan pertumbuhan ekonomi negatif sering digunakan sebagai aturan praktis. Namun, penilaian resesi biasanya mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi lainnya.

Apa penyebab resesi Indonesia?

Penyebabnya bisa beragam, mulai dari penurunan konsumsi, melemahnya investasi, turunnya ekspor, inflasi tinggi, krisis keuangan, sampai guncangan ekonomi global.

Apa dampak resesi bagi masyarakat?

Dampaknya dapat berupa penurunan pendapatan, meningkatnya risiko kehilangan pekerjaan, penurunan penjualan bisnis, perlambatan investasi, dan perubahan kondisi pembiayaan.

Apakah investasi harus dihentikan ketika terjadi resesi?

Nggak ada jawaban yang sama untuk semua orang. Keputusan investasi perlu disesuaikan dengan tujuan, jangka waktu, profil risiko, kebutuhan likuiditas, dan karakteristik aset.

Apa yang harus dilakukan sebelum Indonesia mengalami resesi?

Kamu bisa mulai dengan mengecek kondisi keuangan, membangun dana darurat, mengelola utang, menjaga arus kas, dan memahami risiko dari setiap aset yang dimiliki.

Apakah resesi sama dengan depresi?

Nggak. Depresi biasanya digunakan untuk menggambarkan kontraksi ekonomi yang jauh lebih dalam dan berkepanjangan dibandingkan resesi.

Kesimpulan

Resesi Indonesia bukan sekadar angka pertumbuhan ekonomi negatif.

Di balik istilah tersebut ada banyak aktivitas ekonomi yang saling terhubung, mulai dari konsumsi masyarakat, investasi, produksi, perdagangan, sampai kondisi pasar tenaga kerja.

Karena itu, penting untuk melihat data secara menyeluruh sebelum menyimpulkan bahwa Indonesia resesi.

Buat kamu, memahami kondisi ekonomi juga bisa membantu membuat keputusan finansial yang lebih terukur. Mulai dari mengatur pengeluaran, menyiapkan dana darurat, mengelola utang, sampai memahami risiko investasi.

Yang paling penting, jangan mengambil keputusan hanya karena panik melihat berita.

Pahami kondisi ekonomi, kenali profil risiko kamu, lalu buat keputusan berdasarkan kebutuhan dan tujuan finansial.

Kalau kamu ingin mempelajari aset digital dan mengikuti perkembangan pasar dengan lebih mudah, kamu bisa menggunakan FLOQ.

Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store; FLOQ aplikasi aset digital telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Emas dan Bitcoin: Dua Sahabat Ajaib dalam Menghadapi Inflasi dan Resesi

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device