Resesi adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya

Finansial

24 Sep 2026

7 menit

Ditulis oleh: Karin Hidayat

Pattern 1
Article

Pernah dengar berita soal resesi?

Istilah ini cukup sering muncul ketika kondisi ekonomi sedang nggak menentu. Mulai dari pertumbuhan ekonomi yang melambat, daya beli masyarakat turun, sampai perusahaan mulai mengurangi produksi atau tenaga kerja.

Tapi sebenarnya, resesi adalah apa?

Sederhananya, resesi adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi suatu negara mengalami penurunan yang signifikan dan berlangsung selama periode tertentu.

Resesi bukan cuma soal ekonomi yang tumbuh lebih lambat. Dampaknya bisa terasa sampai ke kehidupan sehari-hari. Misalnya, perusahaan menahan ekspansi, lapangan kerja berkurang, pendapatan masyarakat tertekan, dan konsumsi ikut melemah.

Nah, supaya nggak cuma tahu istilahnya, yuk pahami lebih jauh arti resesi, penyebabnya, jenis-jenisnya, sampai bagaimana dampaknya ke keuangan pribadi.

Resesi Adalah Apa?

Resesi adalah periode ketika aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan, menyebar ke berbagai sektor, dan berlangsung selama beberapa waktu.

Dalam praktiknya, resesi biasanya terlihat dari beberapa indikator ekonomi yang memburuk secara bersamaan.

Misalnya:

  • Produk domestik bruto atau PDB menurun.
  • Konsumsi masyarakat melemah.
  • Investasi perusahaan berkurang.
  • Produksi industri turun.
  • Pengangguran meningkat.
  • Pendapatan masyarakat tertekan.
  • Penjualan perusahaan menurun.

Jadi, resesi nggak bisa dilihat cuma dari satu angka.

Ada anggapan bahwa resesi selalu berarti pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut. Definisi ini memang sering digunakan sebagai aturan praktis. Namun, penentuan resesi secara resmi bisa menggunakan penilaian yang lebih luas dan mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi.

Artinya, arti resesi sebenarnya lebih kompleks daripada sekadar melihat PDB selama dua kuartal.

Kenapa Resesi Bisa Terjadi?

Resesi bisa terjadi karena banyak faktor. Kadang penyebabnya berasal dari dalam negeri. Kadang juga dipicu oleh kondisi ekonomi global.

Berikut beberapa penyebab yang umum.

1. Konsumsi Masyarakat Menurun

Konsumsi punya peran besar dalam aktivitas ekonomi.

Ketika masyarakat mulai mengurangi belanja, pendapatan bisnis bisa ikut turun. Perusahaan kemudian bisa mengurangi produksi.

Kalau kondisi ini berlangsung luas, pertumbuhan ekonomi bisa ikut melemah.

Contohnya sederhana. Orang mulai menunda membeli kendaraan, gadget, pakaian, atau bahkan mengurangi makan di restoran.

Penjualan bisnis turun. Bisnis kemudian mengurangi produksi dan menunda ekspansi. Dampaknya bisa menyebar ke sektor lain.

2. Investasi Menurun

Perusahaan biasanya akan lebih berhati-hati melakukan investasi ketika kondisi ekonomi tidak pasti.

Ekspansi bisa ditunda. Pembelian mesin baru bisa dikurangi. Perekrutan karyawan juga dapat melambat.

Kalau banyak perusahaan melakukan hal serupa, aktivitas ekonomi bisa ikut tertekan.

3. Suku Bunga Tinggi

Suku bunga juga bisa berpengaruh besar. Ketika suku bunga naik, biaya pinjaman menjadi lebih mahal.

Masyarakat bisa mengurangi penggunaan kredit. Perusahaan juga bisa menunda investasi karena biaya pendanaan meningkat.

Kondisi tersebut dapat membuat konsumsi dan investasi melambat.

Namun, suku bunga bukan selalu penyebab langsung resesi. Dampaknya bergantung pada kondisi ekonomi secara keseluruhan.

4. Inflasi yang Tinggi

Inflasi berarti harga barang dan jasa secara umum mengalami kenaikan. Kalau inflasi terlalu tinggi, daya beli masyarakat bisa tertekan.

Pendapatan yang sama akhirnya hanya bisa membeli lebih sedikit barang.

Masyarakat pun dapat mengurangi konsumsi.

Bank sentral kemudian bisa mengambil kebijakan moneter untuk mengendalikan inflasi. Salah satunya melalui suku bunga.

Kalau pengetatan kebijakan berlangsung cukup kuat, aktivitas ekonomi bisa ikut melambat.

5. Krisis Keuangan

Gangguan pada sistem keuangan juga bisa menjadi pemicu. Misalnya, terjadi masalah besar pada sektor perbankan atau pasar keuangan.

Ketika lembaga keuangan menjadi lebih berhati-hati memberikan pinjaman, akses pembiayaan bisa ikut mengetat. Akibatnya, bisnis dan rumah tangga bisa mengurangi pengeluaran.

6. Kondisi Ekonomi Global

Perekonomian suatu negara nggak berdiri sendiri. Perdagangan internasional membuat negara saling terhubung.

Kalau ekonomi negara-negara besar mengalami perlambatan, permintaan terhadap barang ekspor bisa ikut turun.

Bagi negara yang bergantung pada perdagangan internasional, kondisi tersebut dapat memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Bagaimana Resesi Bisa Terjadi?

Biar lebih gampang, bayangkan alurnya seperti ini. Awalnya, masyarakat mulai mengurangi pengeluaran.

Penjualan perusahaan turun. Perusahaan kemudian mengurangi produksi dan menunda ekspansi. Sebagian perusahaan mungkin mengurangi perekrutan atau melakukan efisiensi tenaga kerja.

Pendapatan masyarakat kemudian ikut tertekan. Karena pendapatan berkurang, konsumsi bisa kembali turun. Siklus tersebut dapat membuat perlambatan ekonomi semakin luas.

Tentu saja, kondisi ekonomi nyata jauh lebih kompleks. Banyak faktor lain yang ikut berpengaruh. Tapi gambaran tersebut bisa membantu memahami bagaimana perlambatan ekonomi dapat menyebar dari satu sektor ke sektor lainnya.

Jenis-Jenis Resesi

Resesi juga bisa dibedakan berdasarkan pola dan penyebabnya. Beberapa istilah yang sering digunakan antara lain V-shaped recession, U-shaped recession, W-shaped recession, dan L-shaped recession.

V-Shaped Recession

Resesi berbentuk V menggambarkan kondisi ekonomi yang turun cukup tajam, tetapi kemudian pulih dengan relatif cepat.

Gambarnya kira-kira seperti huruf V. Ekonomi turun. Kemudian mencapai titik terendah. Setelah itu, aktivitas ekonomi kembali meningkat.

Jenis ini biasanya menggambarkan kontraksi yang relatif singkat dengan pemulihan yang cepat.

U-Shaped Recession

Kalau resesi berbentuk U, pemulihannya membutuhkan waktu lebih lama. Ekonomi mengalami penurunan. Kemudian berada dalam kondisi lemah selama beberapa waktu.

Setelah itu baru mulai pulih. Jadi, bagian bawahnya terlihat lebih panjang dibandingkan resesi berbentuk V.

W-Shaped Recession

Resesi berbentuk W juga sering disebut double-dip recession. Ekonomi awalnya turun. Kemudian mulai pulih.

Namun, sebelum pemulihan benar-benar kuat, ekonomi kembali mengalami penurunan. Setelah itu baru kembali pulih. Karena mengalami dua kali penurunan, bentuknya menyerupai huruf W.

L-Shaped Recession

Ini menggambarkan penurunan ekonomi yang diikuti pemulihan yang sangat lambat. Ekonomi turun tajam.

Kemudian berada dalam kondisi lemah untuk waktu yang panjang. Pemulihannya pun berjalan sangat lambat. Karena bentuk grafiknya seperti huruf L, istilah ini disebut L-shaped recession.

Apa Dampak Resesi ke Masyarakat?

Resesi bukan cuma angka di laporan ekonomi. Dampaknya bisa terasa dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu dampak yang paling sering dibahas adalah meningkatnya pengangguran.

Ketika bisnis mengalami penurunan pendapatan, perusahaan bisa mengurangi perekrutan. Dalam kondisi yang lebih berat, perusahaan juga bisa melakukan pengurangan tenaga kerja.

Selain itu, pendapatan rumah tangga dapat ikut tertekan. Masyarakat kemudian cenderung lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.

Dampaknya bisa kembali ke bisnis. Penjualan turun. Produksi dikurangi. Investasi ditunda. Siklus perlambatan pun bisa semakin panjang. Resesi juga dapat memengaruhi pasar keuangan.

Harga saham, obligasi, mata uang, maupun aset lainnya bisa bergerak lebih volatil karena investor menyesuaikan ekspektasi terhadap kondisi ekonomi.

Tapi perlu diingat, resesi tidak otomatis membuat semua aset turun. Respons setiap aset bisa berbeda. Faktor seperti suku bunga, inflasi, kebijakan pemerintah, kondisi perusahaan, dan sentimen pasar juga berpengaruh.

Apakah Resesi Sama dengan Krisis Ekonomi?

Nggak selalu. Resesi dan krisis ekonomi sering digunakan bersamaan dalam pemberitaan. Namun, keduanya bukan istilah yang sepenuhnya sama.

Resesi mengacu pada periode penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dan meluas. Sementara itu, krisis ekonomi biasanya menggambarkan kondisi yang lebih luas atau gangguan serius dalam perekonomian.

Krisis keuangan, misalnya, dapat melibatkan masalah besar pada sektor perbankan dan pasar keuangan. Jadi, resesi bisa menjadi bagian dari periode krisis ekonomi, tetapi keduanya bukan sinonim.

Apa Bedanya Resesi dengan Depresi Ekonomi?

Depresi ekonomi biasanya menggambarkan kontraksi ekonomi yang jauh lebih dalam dan berlangsung lebih lama dibandingkan resesi.

Dengan kata lain, depresi bisa dianggap sebagai kondisi ekonomi yang sangat parah.

Namun, tidak ada satu definisi universal yang menentukan secara persis kapan resesi berubah menjadi depresi. Istilah depresi juga jauh lebih jarang digunakan dalam analisis ekonomi modern.

Apakah Indonesia Bisa Mengalami Resesi?

Bisa. Indonesia bukan negara yang kebal terhadap perlambatan ekonomi.

Sebagai bagian dari ekonomi global, Indonesia terhubung dengan perdagangan internasional, investasi, harga komoditas, kondisi pasar keuangan, serta kebijakan ekonomi negara lain.

Kalau terjadi guncangan besar di dalam atau luar negeri, aktivitas ekonomi Indonesia bisa ikut terdampak.

Namun, apakah Indonesia sedang mengalami resesi atau tidak harus dilihat berdasarkan data ekonomi pada periode tertentu. Jangan hanya mengandalkan satu berita atau satu indikator.

Pertumbuhan PDB, konsumsi, investasi, produksi, perdagangan, tenaga kerja, inflasi, dan indikator lainnya perlu dilihat secara bersama-sama.

Apa yang Harus Dilakukan Saat Ada Risiko Resesi?

Ketika ekonomi sedang nggak pasti, nggak berarti kamu harus panik. Justru ini saatnya memperkuat kondisi keuangan pribadi.

1. Cek Kondisi Keuangan

Mulai dari hal paling sederhana. Catat pemasukan dan pengeluaran. Cari tahu berapa biaya yang benar-benar kamu butuhkan setiap bulan.

Dari sini, kamu bisa melihat apakah kondisi keuangan masih cukup aman jika pendapatan mengalami perubahan.

2. Siapkan Dana Darurat

Dana darurat bisa membantu menghadapi kondisi yang nggak terduga. Misalnya kehilangan pekerjaan, penghasilan berkurang, atau ada kebutuhan mendadak.

Besarnya dana darurat perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Yang penting, dana tersebut mudah diakses dan tidak digunakan untuk kebutuhan konsumtif sehari-hari.

3. Kurangi Utang Konsumtif

Utang dengan cicilan tinggi bisa semakin membebani keuangan ketika kondisi ekonomi memburuk.

Kalau memungkinkan, prioritaskan pelunasan utang konsumtif berbunga tinggi. Hindari menambah utang hanya untuk memenuhi kebutuhan yang sebenarnya bisa ditunda.

4. Jangan Mengabaikan Investasi

Resesi bukan berarti kamu harus berhenti berinvestasi. Tapi strategi investasi perlu disesuaikan dengan tujuan, profil risiko, dan kondisi keuangan.

Jangan menggunakan uang untuk kebutuhan sehari-hari atau dana darurat untuk membeli aset berisiko. Yang nggak kalah penting, jangan mengambil keputusan hanya karena panik melihat harga pasar bergerak.

5. Diversifikasi

Diversifikasi berarti tidak menempatkan seluruh dana pada satu jenis aset. Tujuannya adalah mengelola risiko.

Tapi diversifikasi bukan jaminan bahwa portofolio pasti terhindar dari kerugian. Setiap aset tetap memiliki risiko masing-masing.

6. Tingkatkan Kemampuan Finansial

Saat kondisi ekonomi berubah, kemampuan mengelola uang menjadi semakin penting. Luangkan waktu untuk memahami inflasi, suku bunga, investasi, utang, pajak, dan kondisi ekonomi.

Semakin paham konsep dasarnya, semakin mudah kamu membaca berita ekonomi tanpa langsung panik.

FAQ Seputar Resesi

Apa arti resesi?

Arti resesi adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan, meluas, dan berlangsung selama periode tertentu.

Resesi ditandai dengan apa?

Resesi dapat ditandai oleh melemahnya pertumbuhan ekonomi, konsumsi, investasi, produksi, pendapatan, serta kondisi pasar tenaga kerja. Penentuannya tidak hanya berdasarkan satu indikator.

Apakah resesi selalu berarti PDB negatif dua kuartal?

Tidak selalu. Dua kuartal pertumbuhan PDB negatif sering digunakan sebagai aturan praktis, tetapi penilaian resesi dapat mempertimbangkan berbagai indikator ekonomi lainnya.

Apa penyebab resesi?

Penyebab resesi bisa beragam. Misalnya penurunan konsumsi, investasi yang melemah, suku bunga tinggi, inflasi, krisis keuangan, serta guncangan dari ekonomi global.

Apakah resesi memengaruhi investasi?

Bisa. Resesi dapat memengaruhi pendapatan perusahaan, ekspektasi investor, suku bunga, dan sentimen pasar. Akibatnya, sejumlah aset dapat mengalami volatilitas yang lebih tinggi.

Apakah harga semua aset turun saat resesi?

Nggak. Respons setiap aset berbeda. Ada banyak faktor yang memengaruhi harga aset, termasuk kebijakan moneter, kondisi perusahaan, inflasi, dan sentimen pasar.

Apakah resesi sama dengan krisis ekonomi?

Nggak persis. Resesi mengacu pada penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dan meluas. Krisis ekonomi merupakan istilah yang lebih luas untuk menggambarkan gangguan serius dalam perekonomian.

Apa yang harus dilakukan saat menghadapi resesi?

Fokus pada kondisi keuangan pribadi. Mulai dari mengatur pengeluaran, menyiapkan dana darurat, mengelola utang, memahami risiko investasi, dan menjaga diversifikasi sesuai kemampuan.

Kesimpulan

Jadi, resesi adalah kondisi ketika aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan dan meluas selama periode tertentu.

Penyebabnya bisa macam-macam. Mulai dari konsumsi yang melemah, investasi turun, suku bunga tinggi, inflasi, krisis keuangan, sampai kondisi ekonomi global.

Dampaknya juga bisa terasa di berbagai aspek kehidupan. Mulai dari pekerjaan, pendapatan, konsumsi, bisnis, sampai pasar keuangan.

Meski begitu, memahami resesi bukan berarti harus selalu khawatir. Justru dengan memahami arti resesi dan cara kerjanya, kamu bisa lebih siap menghadapi perubahan kondisi ekonomi.

Mulai dari sekarang, coba cek kembali kondisi keuanganmu. Pastikan pengeluaran terkontrol, dana darurat tersedia, dan keputusan investasi dibuat berdasarkan tujuan serta kemampuan menanggung risiko.

Untuk kamu yang ingin belajar lebih banyak tentang aset digital dan keuangan, download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ adalah aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Baca Juga: Emas dan Bitcoin: Dua Sahabat Ajaib dalam Menghadapi Inflasi dan Resesi

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Loading...
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device