Harga Bitcoin (BTC) kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan hari ini, Selasa (11/8). Bitcoin turun 1,36% dalam 24 jam ke level US$64.034,41, mengikuti pelemahan pasar kripto secara keseluruhan di tengah meningkatnya aksi jual dan ketidakpastian makroekonomi.
Penurunan Bitcoin juga diperparah oleh lonjakan likuidasi posisi leverage. Dalam 24 jam terakhir, total likuidasi posisi long Bitcoin mencapai sekitar US$49 juta, melonjak 98,81%. Dari angka tersebut, sekitar US$46,36 juta berasal dari posisi long.
Kondisi ini menunjukkan banyak trader masih mempertahankan posisi bullish dengan leverage tinggi. Ketika harga Bitcoin gagal bertahan di area resistance, posisi tersebut terpaksa ditutup dan memicu tekanan jual tambahan.
Bitcoin Gagal Tembus US$65.000
Secara teknikal, Bitcoin sebelumnya menghadapi resistance kuat di sekitar US$65.000. Kegagalan menembus level tersebut menjadi salah satu pemicu tekanan jual jangka pendek.
Bitcoin saat ini berada di area penting antara US$63.752 hingga US$65.000. Level US$63.752 menjadi support utama yang perlu dipertahankan untuk mencegah pelemahan lebih dalam.
Menurut data CoinMarketCap, jika Bitcoin mampu bertahan di atas US$63.752, harga masih berpeluang melakukan konsolidasi dan mencoba rebound menuju area US$64.577, yang merupakan level Fibonacci retracement 50%.
Sebaliknya, jika support US$63.752 ditembus dengan volume perdagangan yang meningkat, Bitcoin berpotensi melanjutkan penurunan menuju US$62.720, yang berada di sekitar batas bawah Bollinger Band.
$BTC BOTTOM IS IN
— Shib Spain (@ShibSpain) August 10, 2026
BIGGEST BULL RUN INCOMING pic.twitter.com/SQbd4zfqTs
Likuidasi Long Jadi Beban Utama
Lonjakan likuidasi menjadi faktor penting di balik pelemahan Bitcoin hari ini.
Likuidasi posisi long yang meningkat hampir dua kali lipat dalam 24 jam menunjukkan pasar sebelumnya berada dalam posisi bullish yang cukup agresif. Penurunan harga yang relatif moderat kemudian memicu serangkaian forced selling.
Situasi tersebut dapat menciptakan efek domino. Ketika posisi long dilikuidasi, aset dijual secara otomatis untuk menutup kerugian. Tekanan jual ini kemudian dapat mendorong harga semakin rendah dan memicu likuidasi tambahan.
Salah satu indikator yang perlu diperhatikan adalah funding rate Bitcoin, yang saat ini berada di sekitar +0,0051%. Stabilnya funding rate disertai penurunan volume likuidasi dapat menjadi tanda bahwa aksi washout mulai mereda.
Bitcoin Masih Sensitif terhadap Sentimen Makro
Selain faktor teknikal dan leverage, pergerakan Bitcoin juga masih dipengaruhi sentimen pasar global.
Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turun sekitar 1,18%, menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak, serta sikap investor yang lebih berhati-hati turut mendorong sentimen risk-off.
Korelasi Bitcoin dengan Nasdaq-100 juga cukup tinggi, berada di sekitar 0,846. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa Bitcoin saat ini masih bergerak cukup searah dengan aset berisiko di pasar tradisional.
Dengan demikian, pergerakan BTC dalam jangka pendek kemungkinan masih sangat sensitif terhadap perkembangan ekonomi Amerika Serikat.
CPI AS Jadi Penentu Arah Bitcoin
Perhatian pasar kini beralih ke data inflasi Amerika Serikat (CPI) Juli yang akan dirilis pada 12 Agustus.
Data tersebut berpotensi menjadi katalis utama bagi pergerakan Bitcoin berikutnya. Jika inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, pasar dapat kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko seperti Bitcoin.
Sebaliknya, data inflasi yang lebih rendah dari perkiraan dapat meningkatkan ekspektasi terhadap kondisi likuiditas yang lebih longgar dan membuka peluang bagi Bitcoin untuk kembali menguat.
Analisa Harga Bitcoin Hari Ini
Dalam jangka sangat pendek, struktur harga Bitcoin masih menunjukkan tekanan bearish.
Area US$63.752 menjadi level krusial. Selama BTC mampu bertahan di atas support tersebut, peluang konsolidasi dan rebound menuju US$64.577 masih terbuka.

Namun, apabila US$63.752 ditembus, risiko penurunan menuju US$62.720 semakin besar. Penembusan support tersebut juga berpotensi memicu gelombang likuidasi baru apabila posisi leverage kembali menumpuk.
Dengan CPI AS menjadi katalis terdekat, pasar Bitcoin kini berada di titik infleksi. Investor perlu memperhatikan reaksi harga dan volume perdagangan setelah data inflasi dirilis.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai Bitcoin dan aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Ethereum vs Bitcoin: Kenali Bedanya, Jangan Asal Beli!




