Harga Bitcoin (BTC) hari ini, Kamis (24/9) kembali mengalami tekanan pada perdagangan hari ini. BTC turun sekitar 2,59% dalam 24 jam ke level US$84.233, seiring dengan aksi jual pada berbagai aset berisiko setelah imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) melonjak di atas 5%.
Penurunan Bitcoin terjadi setelah BTC sebelumnya sempat kembali menguji level US$87.000. Data pasar menunjukkan harga kemudian berbalik turun dan sempat bergerak di area US$83.500 sebelum kembali ke kisaran US$84.000.

Dilaporkan BeInCrypto, tekanan terhadap Bitcoin kali ini terutama berasal dari perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter AS. Yield Treasury AS tenor 10 tahun menembus 5%, level yang terakhir terlihat pada 2007, setelah data aktivitas bisnis AS menunjukkan pertumbuhan yang lebih kuat dari perkiraan.
Data S&P Global menunjukkan indeks PMI komposit AS September meningkat menjadi 58,4 dari 56,0 pada Agustus, menandai pertumbuhan aktivitas bisnis tercepat sejak Juli 2021. Kenaikan tersebut turut memperkuat kekhawatiran terhadap tekanan inflasi dan membuat pasar kembali memperhitungkan kemungkinan kebijakan suku bunga yang lebih ketat.
Yield Tinggi Jadi Beban Baru untuk Bitcoin
Kenaikan yield Treasury membuat aset berisiko seperti Bitcoin menghadapi tekanan tambahan. Ketika imbal hasil obligasi pemerintah meningkat, investor memiliki alternatif aset berpendapatan tetap dengan tingkat pengembalian yang lebih tinggi sehingga selera terhadap aset berisiko dapat menurun.
Pergerakan BTC juga menunjukkan semakin kuatnya keterkaitan pasar kripto dengan kondisi makroekonomi. Berdasarkan data yang menjadi acuan analisis hari ini, korelasi Bitcoin dengan S&P 500 mencapai 96%, sementara korelasi dengan emas berada di sekitar 94%.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pergerakan Bitcoin saat ini tidak hanya dipengaruhi faktor internal pasar kripto, tetapi juga perubahan sentimen terhadap aset berisiko, likuiditas global, suku bunga, dan perkembangan geopolitik.
Di sisi lain, meningkatnya ketegangan geopolitik antara AS dan Iran turut menjadi perhatian pasar. Ketidakpastian geopolitik dapat mendorong investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan meningkatkan volatilitas di pasar keuangan.
Likuidasi Long Perbesar Tekanan Jual
Selain faktor makroekonomi, penurunan Bitcoin diperkuat oleh likuidasi posisi leverage.
Dalam 24 jam terakhir, total posisi Bitcoin yang mengalami likuidasi mencapai sekitar US$155,23 juta, meningkat 222,51% dibandingkan hari sebelumnya. Posisi long menyumbang sekitar US$129,96 juta dari total likuidasi tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bahwa sebagian pelaku pasar masih menggunakan leverage untuk mengambil posisi bullish setelah reli Bitcoin sebelumnya. Ketika harga bergerak turun dengan cepat, posisi long yang terkena likuidasi dapat menciptakan tambahan tekanan jual dan mempercepat penurunan harga.
Analisis Harga BTC Hari Ini

Secara teknikal, US$84.000 menjadi area penting yang perlu diperhatikan. Selama Bitcoin mampu bertahan di atas level tersebut, peluang terjadinya pemulihan menuju area US$86.381 masih terbuka.
Namun, apabila tekanan jual kembali meningkat dan BTC menembus support di sekitar US$83.500, risiko koreksi lebih dalam dapat terbuka. Area berikutnya yang menjadi perhatian pasar berada di sekitar US$81.000–US$83.000. Bitcoin sebelumnya juga sempat menyentuh sekitar US$83.536 dalam perdagangan 23 September sebelum kembali bergerak di atas US$84.000.
Dengan demikian, pergerakan BTC dalam jangka pendek akan sangat bergantung pada kemampuan harga mempertahankan support sekaligus perkembangan pasar obligasi AS.
Pasar Kripto Masih Sangat Sensitif terhadap Makro
CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, menilai koreksi Bitcoin saat ini perlu dilihat dalam konteks pergerakan aset global, bukan semata-mata sebagai perubahan sentimen di pasar kripto.
“Koreksi Bitcoin kali ini menunjukkan bahwa pasar kripto masih sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga, pergerakan yield Treasury, dan sentimen terhadap aset berisiko. Ketika yield naik secara signifikan, investor cenderung melakukan penyesuaian portofolio sehingga tekanan jual pada Bitcoin dan aset kripto lainnya dapat meningkat,” ujar Yudhono.
Menurut Yudho, level harga Bitcoin perlu diperhatikan bersamaan dengan perkembangan indikator makro. Kenaikan yield yang berkelanjutan dapat mempertahankan tekanan terhadap aset berisiko, sementara stabilisasi yield berpotensi memberi ruang bagi pasar untuk kembali mencari aset dengan risiko lebih tinggi.
“Bagi investor, level support dan resistance tetap penting, tetapi konteks makro tidak kalah menentukan. Data ekonomi AS berikutnya, arah yield Treasury, serta perkembangan geopolitik akan menjadi faktor yang perlu dipantau karena ketiganya dapat memengaruhi likuiditas dan appetite terhadap aset berisiko,” tambahnya.
Investor Perlu Mencermati Data Inflasi AS

Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada data ekonomi AS yang dapat memengaruhi ekspektasi terhadap kebijakan Federal Reserve.
Data core PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi perhatian The Fed. Data terbaru dari Bureau of Economic Analysis menunjukkan core PCE AS berada di 3,3% secara tahunan pada Juli 2026. Rilis berikutnya dijadwalkan pada 30 September 2026, bukan 26 September seperti yang disebut dalam sejumlah laporan pasar.
Jika data inflasi kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, pasar dapat kembali memperhitungkan kebijakan moneter yang lebih ketat. Sebaliknya, tanda-tanda pelemahan tekanan inflasi dapat membantu meredakan tekanan pada yield dan aset berisiko.
Untuk jangka pendek, area US$84.000–US$83.500 menjadi zona yang perlu diperhatikan. Jika BTC mampu bertahan, pasar masih memiliki ruang untuk menguji kembali area US$86.000. Namun, penembusan support dapat meningkatkan risiko koreksi menuju area US$81.000.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: FLOQ Payday September 2026! Trading Rp200 Ribu, Kesempatan Dapat Rp100 Ribu RLUSD





