Bitcoin mengalami tekanan jual tajam pada perdagangan Kamis (5/11/2026) setelah kembali kehilangan level US$80.000. Berdasarkan data pasar dalam 24 jam terakhir hingga Jumat (6/11/2026), harga Bitcoin (BTC) turun 5,78% ke US$76.011,79.
Penurunan tersebut membuat Bitcoin kembali mendekati level terendahnya dalam lebih dari satu bulan. Pelemahan ini juga terjadi di tengah koreksi pasar kripto secara keseluruhan, dengan kapitalisasi pasar kripto global turun sekitar 4,6% menjadi US$2,66 triliun.
Tekanan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Ethereum (ETH) tercatat melemah 7,5% ke US$2.251, sementara Solana (SOL) turun 7,9% ke US$89,16. XRP juga terkoreksi 6,1% ke US$1,23.
Koreksi pasar tersebut dipengaruhi kombinasi tekanan dari pasar saham Amerika Serikat (AS), meningkatnya kekhawatiran investor terhadap prospek industri kecerdasan buatan (AI), serta gelombang likuidasi posisi perdagangan berleverage.
Mengapa Harga Bitcoin Turun Hari Ini?

Salah satu pemicu utama penurunan Bitcoin berasal dari aksi jual besar-besaran di pasar saham AS, khususnya sektor teknologi dan semikonduktor.
Pada Kamis (5/11/2026), dilaporkan APNews, Nasdaq Composite merosot sekitar 5,5%, sedangkan indeks S&P 500 turun 4,4%. Pelemahan tersebut menjadi salah satu penurunan harian terdalam pasar saham AS sejak gejolak tarif pada April 2025.
Aksi jual dipicu kekhawatiran investor setelah Partai Demokrat memenangkan pemilihan paruh waktu (midterm elections) AS dan menguasai kedua kamar Kongres. Hasil pemilu tersebut memunculkan kekhawatiran mengenai kemungkinan perubahan kebijakan terhadap industri AI, termasuk pembatasan pembangunan pusat data (data center).
Investor mulai mempertanyakan keberlanjutan investasi besar-besaran perusahaan teknologi dalam pengembangan AI, terutama terkait biaya pendanaan dan potensi keuntungan dari ekspansi infrastruktur tersebut.
Dampaknya terlihat pada sejumlah saham teknologi. Nvidia terkoreksi sekitar 9,3%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) anjlok 17,3% pada perdagangan Kamis.
Tekanan di pasar saham kemudian merambat ke aset kripto. Bitcoin yang sebelumnya sempat kembali menembus US$80.000 justru kehilangan momentum dan bergerak mengikuti pelemahan aset berisiko lainnya.
Bahkan, korelasi pergerakan Bitcoin dengan indeks S&P 500 tercatat mencapai 98% berdasarkan data pasar yang digunakan dalam analisis ini. Angka tersebut menunjukkan kuatnya keterkaitan pergerakan kedua aset dalam periode pengamatan.
Kondisi ini memperlihatkan bahwa Bitcoin masih dapat bergerak sebagai aset berisiko yang sensitif terhadap sentimen makroekonomi, bukan selalu menjadi instrumen lindung nilai ketika pasar keuangan mengalami tekanan.
Baca juga: ETF Bitcoin Adalah: Pengertian, Jenis, dan Cara Kerjanya
Likuidasi Posisi Long Tembus US$954 Juta

Selain tekanan dari pasar saham, penurunan Bitcoin juga diperparah oleh gelombang likuidasi di pasar derivatif kripto.
Berdasarkan data CoinGlass yang dikutip Crypto.news, total posisi perdagangan kripto yang mengalami likuidasi mencapai US$1,08 miliar dalam 24 jam. Dari jumlah tersebut, sekitar US$954,38 juta berasal dari posisi long atau trader yang bertaruh harga aset akan naik.
Sementara itu, likuidasi posisi short tercatat sebesar US$127,30 juta. Artinya, sekitar 88,2% dari total likuidasi berasal dari posisi long.
Gelombang likuidasi tersebut melibatkan sekitar 210.326 trader. Sebagian besar tekanan bahkan terkonsentrasi dalam empat jam terakhir periode pengamatan, dengan nilai likuidasi mencapai US$896,18 juta.
Bitcoin menjadi aset dengan nilai likuidasi terbesar, yakni sekitar US$280,65 juta. Ethereum menyusul dengan US$174,86 juta, sedangkan Solana mencatat likuidasi sebesar US$37,62 juta.
Likuidasi terjadi ketika posisi perdagangan menggunakan leverage ditutup secara otomatis karena margin yang dimiliki trader tidak lagi mencukupi untuk menahan pergerakan harga.
Ketika harga Bitcoin turun tajam, posisi long yang menggunakan leverage tinggi berisiko terkena likuidasi. Penutupan posisi tersebut kemudian menambah tekanan jual di pasar dan berpotensi mendorong harga turun lebih dalam.
Situasi ini menciptakan efek berantai yang membuat koreksi harga semakin cepat, terutama ketika pasar sedang mengalami penurunan likuiditas dan sentimen negatif.
Saham Perusahaan Kripto Ikut Berguguran
Tekanan pasar juga terlihat pada saham perusahaan yang memiliki eksposur terhadap industri kripto.
Saham Coinbase turun sekitar 10,56%, sedangkan Strategy melemah 10,12%. Robinhood juga terkoreksi 11,81%, sementara Circle turun sekitar 11,92%.
Penurunan lebih dalam terjadi pada sejumlah perusahaan penambangan Bitcoin dan penyedia infrastruktur pusat data. IREN tercatat anjlok 16,17%, Cipher Digital turun 15,08%, dan CleanSpark melemah 15,07%.
Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa aksi jual tidak hanya terjadi pada aset kripto, tetapi juga meluas ke perusahaan yang berkaitan dengan ekosistem aset digital dan infrastruktur teknologi.
Di tengah pelemahan tersebut, emas justru menunjukkan pergerakan berbeda. Harga emas spot tercatat naik sekitar 0,9% ke US$4.095,49 per troy ounce, mencerminkan perbedaan respons investor terhadap aset berisiko dan instrumen yang dianggap lebih defensif.
Analisis Harga Bitcoin: Support US$75.000 Jadi Penentu

Dari sisi teknikal, Bitcoin kini menghadapi area support penting di kisaran US$75.000–US$75.600.
Zona tersebut menjadi perhatian karena sebelumnya berfungsi sebagai area yang mampu menahan tekanan jual. Jika pembeli kembali masuk dan mempertahankan level tersebut, Bitcoin berpeluang bergerak konsolidasi sebelum mencoba membangun momentum pemulihan.
Indikator Relative Strength Index (RSI) tujuh hari berada di sekitar 36,43. Angka ini menunjukkan momentum bearish yang cukup kuat dan harga mulai mendekati wilayah jenuh jual (oversold).
Meski demikian, kondisi oversold tidak selalu berarti harga akan langsung mengalami pembalikan arah. Tekanan jual masih dapat berlanjut apabila sentimen pasar belum membaik.
Sebaliknya, apabila Bitcoin mampu bertahan di atas US$75.000 dan kembali menembus area US$77.000, peluang stabilisasi harga dapat mulai terbuka.
Namun, jika terjadi penutupan candle harian di bawah US$75.000, risiko penurunan lanjutan perlu diwaspadai. Dalam skenario tersebut, area US$73.000 menjadi level berikutnya yang perlu diperhatikan.
Di sisi lain, pelaku pasar juga perlu mencermati perkembangan saham teknologi AS, arus dana ETF Bitcoin spot, serta aktivitas perdagangan derivatif untuk melihat apakah tekanan jual mulai mereda.
Prospek Harga Bitcoin Selanjutnya
Dilansir Crypto.News, pergerakan Bitcoin dalam jangka pendek masih dibayangi tekanan bearish. Koreksi kali ini menunjukkan bahwa pasar kripto belum sepenuhnya terlepas dari dinamika pasar keuangan global, terutama ketika investor mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.
Kombinasi aksi jual saham teknologi dan likuidasi posisi long dalam jumlah besar menjadi faktor yang mempercepat penurunan harga Bitcoin.
Dalam 24 jam ke depan, kemampuan Bitcoin mempertahankan area US$75.000 akan menjadi salah satu faktor penting untuk menentukan arah pergerakan berikutnya.
Jika level tersebut bertahan, peluang konsolidasi atau pemulihan terbatas masih terbuka. Namun, apabila tekanan jual berlanjut dan support ditembus, Bitcoin berpotensi menguji area US$73.000.
Dengan kondisi pasar yang masih volatil, investor perlu mencermati perkembangan sentimen makroekonomi dan mengelola risiko sebelum mengambil keputusan transaksi.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Beli Emas dan Perak Fisik Bisa Kena Pajak 35%, Versi Kripto Bagaimana?



