Harga Bitcoin (BTC) hari ini, Rabu (19/8) kembali menunjukkan penguatan dan bergerak mendekati level US$65.000. Di pasar Indonesia, BTC saat ini diperdagangkan di kisaran Rp1,147 miliar per BTC, naik sekitar 0,2%, dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp23.017,09 triliun dan volume perdagangan 24 jam sekitar Rp319,21 triliun.
Secara global, Bitcoin sempat menguji level US$65.000 setelah mencapai sekitar US$65.058 sebelum kembali bergerak di area US$64.700. Pergerakan ini menjadi perhatian karena terjadi bersamaan dengan meningkatnya komitmen dua institusi keuangan besar, yakni BlackRock dan Citi, terhadap ekosistem Bitcoin.
BlackRock Pertahankan Alokasi Bitcoin 1–2%
Dilaporkan BeInCrypto, BlackRock kembali menegaskan pandangannya mengenai Bitcoin melalui analisis terbaru yang diterbitkan setelah pasar mengalami tekanan tajam.
Manajer aset terbesar di dunia tersebut mempertahankan rekomendasi agar investor mempertimbangkan alokasi sekitar 1–2% Bitcoin dalam portofolio, terutama dengan mengambil porsi dari aset saham.
JUST IN: BlackRock says 1-2% Bitcoin exposure is ideal, core thesis intact.
— Bitcoin Archive (@BitcoinArchive) August 18, 2026
🔸Expects TradFi correlation to trend lower.
🔸AI products now the biggest capital rival. pic.twitter.com/3jvJ1aAxVq
Menurut analisis BlackRock, alokasi tersebut berpotensi meningkatkan imbal hasil yang telah disesuaikan dengan risiko dalam portofolio tradisional 60/40 yang terdiri dari saham dan obligasi.
BlackRock juga menilai korelasi jangka panjang Bitcoin dengan saham dan obligasi relatif rendah. Meskipun Bitcoin terkadang bergerak searah dengan pasar saham, hubungan tersebut dinilai cenderung tidak bertahan dalam jangka panjang.
Pandangan tersebut menjadi semakin penting mengingat skala bisnis BlackRock. Produk iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik perusahaan tercatat telah memiliki aset lebih dari US$47 miliar pada Maret 2026.
Citi Siapkan Layanan Kustodian Bitcoin
Sementara BlackRock memberikan perspektif mengenai berapa besar Bitcoin yang dapat dialokasikan, Citi mengambil langkah pada sisi lain, yaitu penyimpanan aset kripto untuk investor institusional.
Citi mengumumkan platform Custody+, yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pasar keuangan yang beroperasi sepanjang waktu. Layanan kustodian aset digital tersebut dijadwalkan mulai tersedia pada akhir 2026, dengan Bitcoin menjadi aset kripto pertama yang didukung.
Wall Street giant Citi will launch $BTC custody later this year.
— BeInCrypto (@beincrypto) August 18, 2026
Integrated into its new Custody+ platform, clients can manage both traditional assets and crypto under one roof.
The rollout also adds 24/7 tokenized deposits, real-time asset servicing, and instant settlements. pic.twitter.com/AyIpe42oAU
Melalui platform tersebut, institusi dapat menyimpan saham, obligasi, dan aset kripto dalam satu sistem kustodian. Langkah ini berpotensi menyederhanakan infrastruktur bagi institusi yang ingin memperluas eksposur ke aset digital.
Citi menyebut jaringan kustodiannya telah mencakup lebih dari 100 pasar dan perusahaan menginvestasikan lebih dari US$2 miliar per tahun dalam strategi pengembangan platformnya.
Kehadiran Citi juga memperkuat persaingan di antara bank-bank besar untuk menyediakan infrastruktur yang mendukung adopsi Bitcoin oleh institusi.
BTC Masih Punya Ruang untuk Menguat?
Dari sisi pasar, Bitcoin masih berada sekitar 50% di bawah rekor tertingginya pada Oktober 2025. Namun, perkembangan terbaru dari institusi besar menunjukkan bahwa minat terhadap Bitcoin belum sepenuhnya surut meskipun harga mengalami koreksi.
Dua persoalan utama yang selama ini menjadi hambatan bagi investor institusional adalah besaran alokasi dan keamanan penyimpanan aset.
BlackRock kini memberikan kerangka mengenai besaran eksposur yang dinilai dapat dipertimbangkan, sementara Citi membangun infrastruktur kustodian untuk menyimpan Bitcoin.

Kombinasi keduanya berpotensi menjadi katalis positif bagi Bitcoin apabila semakin banyak institusi mengikuti langkah serupa. Meski demikian, level US$65.000 masih menjadi area penting yang perlu diperhatikan. Kemampuan BTC untuk menembus dan bertahan di atas level tersebut dapat menjadi sinyal lanjutan bagi momentum bullish.
Sebaliknya, kegagalan menembus resistance tersebut berpotensi membuat Bitcoin kembali mengalami tekanan dan menguji level support di bawahnya.
Dengan demikian, pergerakan Bitcoin saat ini bukan hanya soal momentum harga. Ekspansi infrastruktur institusional dari perusahaan seperti BlackRock dan Citi dapat menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar ruang pertumbuhan Bitcoin dalam jangka panjang.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai Bitcoin dan aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Ethereum vs Bitcoin: Kenali Bedanya, Jangan Asal Beli!





