Pergerakan Dolar AS menjadi perhatian pasar pada akhir September 2026 setelah US Dollar Index (DXY) mencatat penguatan hampir 2% sepanjang bulan. Penguatan tersebut membawa DXY ke level 101,61 pada 29 September, level tertinggi sejak akhir Juli.
Kondisi ini menarik karena secara historis Dolar AS yang menguat kerap memberikan tekanan terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin (BTC). Namun, Bitcoin justru mencatat kenaikan sekitar 6,14% sepanjang September.
Pergerakan tersebut membuat pasar memasuki Oktober dengan pertanyaan baru: apakah Bitcoin mampu mempertahankan momentumnya ketika Dolar AS masih berada di level tinggi?
Dolar AS Menguat karena Ekspektasi Kebijakan The Fed
Salah satu faktor utama di balik penguatan Dolar AS adalah perubahan ekspektasi terhadap kebijakan moneter Federal Reserve.
Pada 16 September, The Fed menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin ke kisaran 3,75%-4%. Setelah keputusan tersebut, sejumlah pejabat The Fed masih membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lanjutan apabila tekanan inflasi belum kembali ke target.

Gubernur The Fed Michael Barr mengatakan kenaikan tambahan kemungkinan masih diperlukan untuk membawa inflasi kembali ke target. Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams menyebut satu kenaikan tambahan mungkin diperlukan pada akhir tahun.
Ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat tersebut ikut memberikan dukungan terhadap Dolar AS.
DXY kemudian naik ke level 101,61 pada 29 September, sementara pergerakannya pada akhir bulan berada di sekitar 101,4.
Selain kebijakan The Fed, harga energi dan imbal hasil obligasi AS juga menjadi perhatian pasar. Kenaikan biaya energi dapat menambah tekanan inflasi, sementara yield Treasury AS yang tinggi dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi Dolar.
Namun, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober kembali berubah setelah Williams mengatakan tidak ada urgensi untuk segera menaikkan suku bunga. Pasar pun kembali menunggu data ekonomi terbaru sebelum menentukan arah berikutnya.
Bitcoin Belum Tertekan Meski Dolar Menguat
Dilaporkan BeInCrypto, secara historis, Bitcoin dan Dolar AS sering menunjukkan hubungan berlawanan. Ketika Dolar menguat, kondisi likuiditas dan minat terhadap aset berisiko dapat menghadapi tekanan.
Namun, September 2026 menunjukkan pola yang berbeda.
Bitcoin telah naik sekitar 6,14% sepanjang September, meskipun DXY mencatat salah satu performa bulanan terbaiknya sejak Juni.

Kenaikan tersebut juga cukup kontras dengan performa historis Bitcoin pada September. Berdasarkan data historis yang dikutip dalam laporan pasar, September memiliki rata-rata return sekitar -2,42%.
Artinya, Bitcoin sejauh ini mampu mempertahankan kenaikannya meski menghadapi kombinasi Dolar AS yang lebih kuat, ekspektasi kebijakan moneter ketat, dan kenaikan imbal hasil Treasury.
Ada Sinyal Pemulihan Bitcoin?
Selain faktor makro, sejumlah indikator teknikal Bitcoin juga menjadi perhatian.
Pada 20 September, Bitcoin mencatat weekly close pertama di atas moving average 50 minggu sejak November 2025. Galaxy Research sebelumnya mencatat bahwa reclaim terhadap level tersebut dalam siklus sebelumnya berkaitan dengan fase pemulihan setelah tekanan pasar.
Sementara itu, Binance Research mencatat bahwa Bitcoin membentuk golden cross pada 8 September, setelah sebelumnya berada di bawah moving average 200 hari selama sekitar 293 hari.
Meski indikator tersebut dapat menjadi sinyal perubahan momentum, Binance Research juga mengingatkan bahwa jumlah sampel historis yang digunakan masih terbatas.
Dengan kata lain, indikator teknikal tersebut belum menjadi jaminan bahwa tren kenaikan Bitcoin akan berlanjut.
Oktober Secara Historis Jadi Bulan Kuat untuk Bitcoin
Perhatian pasar kemudian beralih ke Oktober.
Secara historis, Oktober merupakan salah satu bulan dengan performa terbaik bagi Bitcoin. Data yang dikutip dalam laporan menunjukkan Bitcoin mencatat kenaikan pada 10 dari 13 Oktober sebelumnya.
Rata-rata return Oktober mencapai 19,92%, sementara median return berada di 14,71%, menjadi median bulanan tertinggi dalam catatan historis Bitcoin.
Namun, performa historis tidak menjamin pola yang sama akan kembali terjadi pada Oktober 2026.
Justru kondisi makroekonomi AS dapat menjadi faktor penting yang menentukan apakah Bitcoin mampu mempertahankan momentumnya.
PCE dan Payrolls Jadi Penguji Berikutnya
Pasar kini menunggu data Personal Consumption Expenditures (PCE) price index, indikator inflasi yang menjadi salah satu perhatian utama Federal Reserve.
Setelah itu, data tenaga kerja AS juga akan menjadi perhatian investor. Kedua laporan tersebut berpotensi memengaruhi ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga The Fed berikutnya.

Jika data inflasi kembali menunjukkan tekanan yang tinggi, ekspektasi kenaikan suku bunga pada Oktober dapat kembali menguat. Kondisi tersebut berpotensi memberikan dukungan tambahan bagi Dolar AS sekaligus meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.
Sebaliknya, data ekonomi yang menunjukkan pelemahan inflasi dapat mengurangi ekspektasi terhadap kebijakan moneter yang lebih ketat.
Pertemuan The Fed berikutnya dijadwalkan pada 28 Oktober 2026.
Bagaimana dengan Ekosistem Dolar di Kripto?
Di tengah penguatan Dolar AS, perkembangan aset digital berbasis dolar juga terus menjadi perhatian. Salah satunya adalah RLUSD, stablecoin yang diterbitkan Ripple dan dirancang mempertahankan nilai sekitar US$1.
RLUSD tidak bergerak seperti Bitcoin atau aset kripto lainnya karena tujuannya bukan memberikan apresiasi harga, melainkan menyediakan representasi nilai Dolar AS di ekosistem blockchain.
Karena itu, penguatan DXY tidak berarti harga RLUSD akan ikut naik. Namun, perkembangan stablecoin seperti RLUSD menunjukkan bagaimana penggunaan Dolar AS semakin terhubung dengan infrastruktur aset digital.
Bagi pasar kripto, hal ini menciptakan dinamika yang berbeda. Bitcoin tetap sensitif terhadap perubahan likuiditas, suku bunga, dan sentimen risiko, sementara stablecoin berbasis Dolar lebih berkaitan dengan kebutuhan terhadap likuiditas dan transaksi dalam denominasi Dolar.
Analisa Dolar AS Hari Ini
Dari sisi makro, DXY masih berada dalam posisi kuat setelah mencatat kenaikan hampir 2% sepanjang September. Namun, arah Dolar AS pada Oktober akan sangat bergantung pada data ekonomi dan ekspektasi kebijakan The Fed.
Jika DXY terus menguat bersamaan dengan kenaikan yield Treasury, Bitcoin dapat menghadapi tekanan tambahan meskipun sejauh ini mampu bertahan.
Sebaliknya, apabila data PCE dan tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan tekanan inflasi, ekspektasi kenaikan suku bunga dapat berkurang dan memberikan ruang bagi aset berisiko.
Dengan demikian, DXY, yield Treasury, PCE, dan data tenaga kerja AS akan menjadi sejumlah indikator utama yang perlu diperhatikan investor memasuki Oktober.
Sementara itu, kemampuan Bitcoin untuk tetap menguat di tengah Dolar AS yang perkasa menjadi salah satu dinamika pasar yang menarik untuk diperhatikan. Secara historis, Oktober memang memiliki rekam jejak positif bagi BTC, tetapi kondisi makro 2026 akan menjadi faktor yang menentukan apakah pola tersebut kembali terlihat.
Bagi investor yang ingin memantau pergerakan dan trading Bitcoin, maupun aset kripto lainnya secara real-time, aplikasi FLOQ menyediakan data harga, grafik, serta berbagai aset digital yang dapat dipantau kapan saja. Selain itu, kamu juga dapat belajar lebih dalam mengenai aset kripto lainnya melalui FLOQ Academy agar dapat mengambil keputusan investasi yang lebih bijak.
Download aplikasi FLOQ di Play Store atau App Store. FLOQ merupakan aplikasi aset digital yang telah berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Dapatkan informasi pasar, edukasi crypto, serta akses trading aset digital dalam satu aplikasi.
Baca juga: Ripple Bidik Pasar Treasury US$13 Triliun, RLUSD Jadi Senjata Baru




