
Shard Chain
Apa Itu Shard Chain?
Shard Chain adalah rantai blockchain independen yang merupakan bagian dari sistem sharding, di mana jaringan utama dibagi menjadi beberapa sub-rantai agar dapat memproses data dan transaksi secara paralel. Tujuannya adalah untuk meningkatkan skalabilitas dan efisiensi sistem blockchain, khususnya Ethereum.
Sahabat Floq, bayangkan jaringan blockchain sebagai sebuah kota besar. Sebelumnya, semua lalu lintas melewati satu jalan utama (main chain). Dengan hadirnya shard chain, lalu lintas dibagi ke banyak jalur kecil yang berjalan bersamaan. Ini memungkinkan lebih banyak aktivitas terjadi tanpa kemacetan.
Bagaimana Shard Chain Bekerja?
Setiap shard chain bekerja seperti blockchain mini yang memiliki:
- Kumpulan data dan transaksi sendiri.
- Validator yang bertugas menangani blok-blok dalam shard tersebut.
- Interaksi yang terkoordinasi dengan shard lain melalui lapisan koordinasi utama, yaitu Beacon Chain di Ethereum.
Dalam implementasi Ethereum:
- Beacon Chain bertugas menyinkronkan semua shard dan menjaga konsistensi antar rantai.
- Setiap shard akan bertanggung jawab atas sebagian kecil dari keseluruhan beban transaksi dan penyimpanan data di jaringan.
- Shard chain tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari arsitektur multichain terkoordinasi yang tetap aman dan terdesentralisasi.
Mengapa Shard Chain Penting untuk Ethereum dan Blockchain Lainnya?
Shard chain adalah komponen krusial dalam roadmap Ethereum 2.0, dirancang untuk menyelesaikan masalah skalabilitas tanpa mengorbankan keamanan atau desentralisasi. Saat jaringan Ethereum semakin banyak digunakan untuk aplikasi DeFi, NFT, dan DAO, kebutuhan akan throughput yang lebih tinggi menjadi semakin mendesak. Berikut beberapa alasan pentingnya shard chain:
1. Meningkatkan Throughput Transaksi
Dengan membagi beban ke beberapa rantai, jaringan bisa memproses lebih banyak transaksi dalam waktu bersamaan, mengurangi kemacetan dan biaya gas.
2. Mengurangi Beban pada Node
Node validator tidak lagi harus memproses semua transaksi di seluruh jaringan, hanya pada shard tertentu. Ini membuat partisipasi lebih terjangkau dan inklusif.
3. Fondasi Ekosistem Layer-2
Shard chain akan berfungsi sebagai penyimpan data (data availability layer) bagi solusi seperti rollups, membantu mereka tetap terintegrasi dengan keamanan Ethereum sambil memperluas kapasitas.
4. Mendorong Desentralisasi dan Partisipasi Global
Dengan pembagian beban, jaringan bisa membuka pintu bagi lebih banyak node dari berbagai wilayah, menjaga Ethereum tetap terbuka dan tanpa kendali terpusat.
Meski implementasi penuh shard chain di Ethereum belum dirilis, konsep ini sudah menjadi bagian dari perencanaan jangka panjang. Dalam versi awalnya, shard chain akan lebih berfokus pada penyimpanan data, sebelum nantinya mendukung eksekusi transaksi secara penuh di masa depan.
Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.
Bagikan melalui:

Kosakata Selanjutnya
Sharpe Ratio
Metrik kinerja investasi yang disesuaikan dengan risiko, dihitung dengan membagi kelebihan return terhadap aset bebas risiko dengan standar deviasi return. Digunakan untuk membandingkan efisiensi risiko antar investasi, termasuk crypto.
Shiba Inu Token (SHIB)
Token crypto berbasis Ethereum yang awalnya dibuat sebagai parodi dari Dogecoin namun kemudian berkembang menjadi ekosistem Decentralized Finance (DeFi) dan Non-Fungible Token (NFT) tersendiri. Dikenal luas karena komunitasnya yang besar dan viral appeal.
Shielded Address
Alamat dalam blockchain seperti Zcash yang memungkinkan transaksi sepenuhnya privat, termasuk pengirim, penerima, dan jumlah yang dikirim. Menggunakan teknologi zk-SNARKs untuk menjaga kerahasiaan.
Shielded Transaction
Transaksi yang menyembunyikan detail pihak yang terlibat dan jumlah aset menggunakan enkripsi kriptografi canggih. Umumnya ditemukan di jaringan privasi seperti Zcash.
Shilling
Promosi agresif terhadap koin atau proyek crypto, sering kali tanpa penilaian obyektif atau transparansi terkait kepentingan pribadi. Dapat menyebabkan spekulasi pasar yang berlebihan dan manipulatif.


