Cari

Klik huruf yang tersedia untuk mengetahui daftar glossary

Pattern 1

Network Latency

Transaksi Kripto Lama Masuk? Bisa Jadi Karena Network Latency

Jujur aja, salah satu hal yang paling bikin deg-degan di dunia kripto itu bukan cuma harga yang naik turun. Kadang justru momen paling menegangkan adalah setelah kamu menekan tombol "Confirm". Apalagi kalau nominal transaksinya lumayan besar. Kamu sudah cek alamat wallet tiga kali. Sudah memastikan jumlah asetnya benar. Sudah baca ulang semua detail transaksi. Lalu kamu klik konfirmasi. Dan...

Tidak terjadi apa-apa. Statusnya masih pending. Kamu mulai refresh aplikasi. Masih pending. Cek explorer. Masih diproses. Lima detik kemudian mulai muncul pikiran-pikiran yang sebenarnya belum tentu terjadi.

"Jangan-jangan gagal."
"Ini nyangkut ya?"
"Kalau harganya keburu berubah gimana?"
"Wallet-ku kenapa?"

Padahal sering kali semuanya baik-baik saja. Yang sedang terjadi hanyalah proses normal dalam jaringan blockchain. Salah satu faktor yang memengaruhi proses tersebut adalah network latency.

Meskipun namanya terdengar seperti istilah yang biasa muncul di ruang server atau forum programmer, sebenarnya konsep ini dekat banget dengan pengalaman sehari-hari pengguna kripto.

Kalau kamu pernah merasa transaksi lambat, swap terasa lama, atau aplikasi Web3 kurang responsif, ada kemungkinan network latency ikut berperan di baliknya. Nah, sebenarnya apa sih network latency itu?

Network Latency Itu Sebenarnya Apa?

Kalau dibuat sesederhana mungkin, network latency adalah waktu yang dibutuhkan sebuah informasi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain dalam jaringan. Selesai. Sesimpel itu.

Di blockchain, informasi yang berpindah itu bisa berupa:

  • transaksi yang kamu kirim,
  • data blok baru,
  • aktivitas smart contract,
  • atau informasi lain yang perlu diketahui seluruh jaringan.

Ketika kamu mengirim transaksi, data tersebut tidak langsung muncul begitu saja di blockchain. Ada prosesnya. Data harus dikirim ke jaringan. Lalu diterima oleh node. Kemudian diverifikasi. Setelah itu disebarkan lagi ke node-node lain. Baru setelah semuanya sesuai, transaksi bisa dikonfirmasi.

Nah, waktu yang dibutuhkan selama proses pengiriman informasi itulah yang disebut latency. Semakin cepat prosesnya, semakin rendah latency-nya. Semakin lama prosesnya, semakin tinggi latency-nya.

Analoginya Kayak Nyebarin Gosip di Grup Teman

Biar lebih kebayang, coba bayangkan ada kabar baru di grup pertemanan kamu. Misalnya ada teman yang tiba-tiba bilang: "Eh, si A mau nikah bulan depan."

Kalau grupnya cuma berisi 10 orang, informasi itu mungkin langsung diketahui semua anggota dalam hitungan detik. Tapi bayangkan kalau grup tersebut berisi jutaan orang. Pasti butuh waktu lebih lama sampai semua anggota menerima informasi yang sama. Blockchain kurang lebih bekerja seperti itu. 

Setiap ada transaksi baru, informasi tersebut harus diketahui banyak node di berbagai lokasi. Semakin cepat informasi menyebar, semakin lancar jaringan bekerja. Kalau penyebarannya lambat, proses lainnya juga ikut melambat.

Kenapa Blockchain Nggak Bisa Langsung Instan?

Ini pertanyaan yang sering muncul.

"Kok transfer bank bisa cepat?"
"Kok aplikasi chat langsung terkirim?"
"Tapi kenapa blockchain kadang lama?"

Jawabannya karena blockchain bekerja dengan cara yang berbeda. Saat kamu menggunakan aplikasi biasa, biasanya ada satu server pusat yang mengatur semuanya. Informasi cukup dikirim ke server tersebut. Selesai.

Blockchain tidak seperti itu. Blockchain tidak punya satu pusat kendali. Justru itu salah satu keunggulannya. Karena tidak ada pihak tunggal yang mengontrol seluruh sistem. Tapi konsekuensinya, informasi harus dibagikan ke banyak node terlebih dahulu.

Ibarat rapat. Kalau keputusan bisa diambil oleh satu orang, tentu cepat. Kalau keputusan harus disetujui ribuan orang, ya pasti butuh waktu lebih lama.

Kenapa Rasanya Pending 10 Detik Itu Lama Banget?

Ini bukan salah blockchain sepenuhnya. Ini juga ada hubungannya dengan cara kerja otak manusia. Coba perhatikan. Kalau kamu menunggu lift selama 20 detik, mungkin biasa saja. Kalau menunggu kopi datang selama 5 menit, juga masih santai. Tapi saat transaksi kripto pending selama 20 detik?

Rasanya seperti satu abad. Kenapa? Karena ada uang yang terlibat. Saat uang terlibat, perhatian kita otomatis meningkat. Otak jadi lebih sensitif terhadap risiko. Kita mulai memikirkan berbagai kemungkinan yang belum tentu terjadi. Dalam psikologi, ada konsep yang disebut loss aversion.

Sederhananya, manusia lebih takut rugi daripada senang untung. Makanya ketika transaksi belum selesai, otak langsung fokus pada skenario buruk. Padahal bisa jadi jaringan hanya sedang sedikit sibuk.

Apa Saja yang Bisa Membuat Latency Meningkat?

Ada beberapa penyebab yang paling sering terjadi. Dan sebagian besar sebenarnya cukup masuk akal.

Jarak Antar Node

Blockchain itu global. Node bisa berada di Indonesia. Bisa juga berada di Jepang. Amerika Serikat. Jerman. Brasil. Dan berbagai negara lainnya. Artinya informasi harus melakukan perjalanan yang cukup jauh. Memang kecepatannya luar biasa cepat, tapi tetap ada waktu yang dibutuhkan. Semakin jauh jaraknya, semakin besar kemungkinan muncul delay.

Jaringan Sedang Ramai

Bayangkan jalan tol saat tengah malam. Biasanya lancar. Sekarang bayangkan jalan tol saat libur panjang. Macet. Prinsipnya mirip. Kalau terlalu banyak transaksi masuk bersamaan, jaringan menjadi lebih padat. Akibatnya informasi membutuhkan waktu lebih lama untuk diproses.

Data yang Diproses Lebih Besar

Tidak semua transaksi memiliki ukuran yang sama. Ada transaksi yang sederhana. Ada juga yang melibatkan smart contract yang lebih kompleks. Semakin banyak data yang harus diproses, semakin banyak pekerjaan yang harus dilakukan jaringan. Dan itu bisa menambah latency.

Infrastruktur Node Berbeda-Beda

Karena blockchain bersifat terdesentralisasi, setiap node bisa memiliki kualitas infrastruktur yang berbeda. Ada yang menggunakan server kelas tinggi. Ada yang spesifikasinya lebih sederhana. Perbedaan ini juga bisa memengaruhi kecepatan penyebaran informasi.

Dampaknya Buat Kamu Sebagai Pengguna

Mungkin sekarang kamu berpikir: "Ya sudah, kalau cuma beberapa detik memangnya kenapa?" Sebenarnya tergantung aktivitas yang sedang kamu lakukan.

Saat Trading

Dalam kondisi pasar yang bergerak cepat, beberapa detik bisa membuat harga berubah cukup jauh. Makanya trader biasanya sangat memperhatikan kecepatan transaksi. Karena harga yang mereka lihat belum tentu sama dengan harga saat transaksi selesai diproses.

Saat Swap Token

Pernah swap token lalu hasil akhirnya sedikit berbeda dari perkiraan? Salah satu penyebabnya bisa karena kondisi jaringan dan perubahan harga selama proses transaksi berlangsung. Semakin lama transaksi diproses, semakin besar kemungkinan harga bergerak.

Saat Mint NFT

Kalau pernah ikut mint NFT yang hype, kamu pasti tahu rasanya. Ribuan orang berlomba melakukan transaksi di waktu yang hampir bersamaan. Dalam situasi seperti itu, beberapa detik bisa menjadi pembeda antara berhasil mendapatkan NFT atau kehabisan.

Saat Main Game Blockchain

Game membutuhkan respons cepat. Kalau jaringan lambat, pengalaman bermain juga terasa kurang nyaman. Karena itu banyak proyek game blockchain berusaha mengurangi latency semaksimal mungkin.

Gimana Cara Blockchain Mengurangi Latency?

Kabar baiknya, industri blockchain juga sadar kalau pengguna suka hal yang cepat. Karena itu banyak inovasi yang terus dikembangkan. Salah satu yang paling populer adalah Layer 2.

Kalau blockchain utama diibaratkan jalan raya utama, Layer 2 seperti jalur tambahan yang membantu mengurangi kemacetan. Sebagian transaksi diproses di sana terlebih dahulu sebelum hasil akhirnya dicatat ke blockchain utama. 

Selain itu, banyak proyek juga memperluas jaringan node mereka agar pengguna bisa terhubung ke node yang lebih dekat secara geografis. Tujuannya sederhana: supaya informasi bisa bergerak lebih cepat.

Jadi, Apa yang Perlu Kamu Ingat?

Kalau ada satu hal yang perlu dibawa pulang dari pembahasan ini, mungkin ini: Blockchain memang cepat, tapi tidak selalu instan. Di balik satu klik transaksi yang kamu lakukan, ada banyak proses yang sedang berjalan.

Ada data yang harus dikirim. Ada node yang harus menerima informasi. Ada sistem yang harus memverifikasi semuanya. Ada jaringan yang harus mencapai kesepakatan. Dan semua itu membutuhkan waktu. Kadang hanya beberapa detik. Kadang sedikit lebih lama.

Tapi itulah harga yang dibayar untuk mendapatkan sistem yang terbuka, transparan, dan tidak bergantung pada satu pihak saja

Banyak orang menghabiskan waktu mempelajari grafik harga, tren pasar, atau proyek kripto terbaru. Padahal ada hal lain yang tidak kalah penting untuk dipahami, yaitu bagaimana jaringan blockchain bekerja di balik layar.

Network latency mungkin terdengar seperti istilah teknis yang rumit. Namun sebenarnya konsepnya sederhana. Ini hanyalah soal seberapa cepat informasi bisa bergerak di dalam jaringan.

Semakin rendah latency, semakin cepat transaksi diproses, semakin nyaman pengalaman pengguna, dan semakin efisien blockchain bekerja. Jadi lain kali ketika transaksi kamu belum langsung masuk dan statusnya masih pending, nggak perlu langsung panik.

Belum tentu ada masalah. Bisa jadi jaringan hanya sedang menjalankan tugasnya: memastikan informasi sampai ke seluruh node dengan benar sebelum transaksi benar-benar dianggap sah.

Dan justru proses itulah yang membuat blockchain bisa tetap aman, transparan, dan dipercaya oleh jutaan pengguna di seluruh dunia.

 

Pelajari istilah kripto lainnya:

 

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Bagikan melalui:

Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device