
Distributed Denial of Service (DDoS) Attack
Dalam dunia yang semakin terkoneksi secara digital, keamanan jaringan menjadi sangat penting, terutama di ekosistem blockchain dan Web3. Salah satu serangan siber paling berbahaya dan sering terjadi adalah Distributed Denial of Service (DDoS) Attack. Serangan ini mampu melumpuhkan layanan digital hanya dalam hitungan detik, dengan cara membanjiri target menggunakan trafik palsu dari berbagai sumber sekaligus.
DDoS tidak hanya menyerang situs web tradisional, tetapi juga mengincar protokol blockchain, node, dan aplikasi decentralized (DApp) yang menjadi fondasi ekosistem kripto. Pemahaman mendalam terhadap serangan ini akan membantumu mengenali risiko dan pentingnya sistem pertahanan yang tangguh dalam dunia terdesentralisasi.
Apa Itu Distributed Denial of Service (DDoS) Attack?
DDoS adalah singkatan dari Distributed Denial of Service, yaitu serangan yang dilakukan dengan cara membanjiri server, jaringan, atau aplikasi dengan permintaan atau trafik berlebihan dari ribuan hingga jutaan perangkat. Tujuannya? Membuat layanan tidak dapat diakses oleh pengguna sah, bahkan menyebabkan crash atau downtime total.
Berbeda dari serangan biasa yang dilakukan satu komputer ke satu target, DDoS menggunakan jaringan besar dari perangkat yang telah terinfeksi malware, dikenal sebagai botnet. Setiap perangkat dalam botnet ini secara bersamaan mengirimkan permintaan ke target hingga sistemnya kewalahan dan tidak bisa merespons permintaan normal.
Cara Kerja DDoS dalam Ekosistem Blockchain
Blockchain dirancang sebagai sistem yang tahan sensor, tapi bukan berarti kebal terhadap serangan DDoS. Berikut cara serangan ini bisa menyerang infrastruktur terdesentralisasi:
Target: Node Blockchain
Node yang berperan sebagai validator atau penyimpan data bisa diserang dengan membanjiri koneksi atau bandwidth-nya, membuat node terputus dari jaringan utama.
Target: API atau DApp
Banyak aplikasi decentralized mengandalkan gateway API untuk interaksi pengguna. DDoS bisa menargetkan endpoint tersebut agar aplikasi menjadi lambat atau tidak responsif.
Target: Layer-2 atau Bridge
Protokol Layer-2 dan cross-chain bridge sering kali lebih rentan karena memiliki arsitektur yang kompleks. Serangan DDoS dapat menghentikan jalur transfer aset antar jaringan.
Jenis-Jenis DDoS Attack yang Umum Digunakan
Volumetric Attack
Serangan ini mengandalkan volume trafik yang sangat besar untuk menghabiskan bandwidth target.
Protocol Attack
Menargetkan lapisan protokol jaringan seperti TCP, UDP, atau ICMP untuk menghabiskan sumber daya perangkat lunak.
Application Layer Attack
Menyerang lapisan aplikasi dengan permintaan kompleks, misalnya terus-menerus meminta pemrosesan transaksi smart contract.
Dampak DDoS terhadap Dunia Kripto
Hilangnya Kepercayaan
Jika bursa crypto atau protokol DeFi tidak bisa diakses karena serangan, pengguna akan kehilangan kepercayaan dan beralih ke platform lain.
Volatilitas Harga
Ketidakmampuan mengakses layanan dapat menyebabkan kepanikan di pasar dan memicu fluktuasi harga ekstrem.
Keterlambatan Konsensus
Jika node validator terganggu, blockchain bisa mengalami penundaan produksi blok, bahkan potensi fork tak terduga.
Rugi Operasional
DDoS juga memicu beban biaya tinggi, baik dari segi mitigasi teknis maupun kehilangan aktivitas ekonomi.
Strategi Perlindungan dari Serangan DDoS
Sahabat Floq, penting untuk mengenali langkah-langkah mitigasi yang dapat diterapkan untuk melindungi infrastruktur blockchain dari ancaman DDoS:
Desentralisasi Lebih Luas
Dengan menyebar node di berbagai lokasi dan jaringan, sistem akan lebih tahan terhadap serangan terpusat.
Penggunaan Load Balancer dan Firewall
Solusi teknis seperti Web Application Firewall (WAF) dan load balancing dapat memfilter trafik mencurigakan sebelum mencapai sistem utama.
Captcha dan Rate Limiting
Mencegah permintaan otomatis dari bot dengan mengharuskan interaksi manusia atau membatasi jumlah permintaan per detik.
Peer-to-Peer Validation
Mengandalkan arsitektur P2P yang terdistribusi untuk mendistribusikan beban validasi dan meminimalisir titik lemah.
Contoh Serangan DDoS di Dunia Blockchain
Beberapa proyek besar dalam dunia crypto telah menjadi target serangan DDoS, seperti:
- Bursa terdesentralisasi (DEX) yang mengalami keterlambatan proses order book akibat permintaan berlebihan.
- Jaringan layer-1 yang mengalami keterlambatan produksi blok akibat node validator diserang.
- Bridge cross-chain yang dihentikan sementara karena serangan menyasar protokol jembatan antar blockchain.
DDoS Adalah Ancaman Nyata bagi Infrastruktur Terdesentralisasi
Sahabat Floq, dalam dunia blockchain yang menjunjung keterbukaan dan transparansi, ancaman seperti DDoS menjadi ujian penting. Meski teknologi terdesentralisasi menawarkan keamanan bawaan, tetap saja serangan ini bisa menimbulkan kerugian besar jika tidak diantisipasi dengan tepat. Mengenali cara kerja dan strategi mitigasi DDoS adalah langkah awal untuk membangun sistem Web3 yang benar-benar tahan gangguan, tahan sensor, dan andal digunakan secara global.
Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.
Bagikan melalui:

Kosakata Selanjutnya
Distributed Ledger
Basis data digital yang disimpan di berbagai lokasi fisik atau node secara sinkron. Semua partisipan memiliki salinan yang sama dan dapat memverifikasi data tanpa otoritas pusat.
Distributed Network
Jaringan yang tidak memiliki titik pusat dan terdiri dari banyak node yang saling berinteraksi. Cocok untuk sistem yang membutuhkan ketahanan terhadap gangguan dan sensor.
Distribution Phase
Tahap pasar ketika investor besar mulai menjual aset secara bertahap setelah tren naik. Biasanya diikuti oleh volume tinggi dan fluktuasi harga sebelum tren menurun dimulai.
Diversification
Strategi investasi dengan menyebarkan dana ke berbagai aset atau sektor untuk mengurangi risiko. Membantu menghindari kerugian besar akibat penurunan kinerja dari satu aset.
Documentation
Kumpulan informasi resmi dan teknis yang menjelaskan cara kerja suatu produk, protokol, atau layanan. Berguna bagi pengguna, pengembang, dan komunitas dalam memahami dan mengintegrasikan sistem.


