Cari

Klik huruf yang tersedia untuk mengetahui daftar glossary

Pattern 1

Distributed Denial of Service (DDoS) Attack

Dalam dunia yang semakin terkoneksi secara digital, keamanan jaringan menjadi sangat penting, terutama di ekosistem blockchain dan Web3. Salah satu serangan siber paling berbahaya dan sering terjadi adalah Distributed Denial of Service (DDoS) Attack. Serangan ini mampu melumpuhkan layanan digital hanya dalam hitungan detik, dengan cara membanjiri target menggunakan trafik palsu dari berbagai sumber sekaligus.

DDoS tidak hanya menyerang situs web tradisional, tetapi juga mengincar protokol blockchain, node, dan aplikasi decentralized (DApp) yang menjadi fondasi ekosistem kripto. Pemahaman mendalam terhadap serangan ini akan membantumu mengenali risiko dan pentingnya sistem pertahanan yang tangguh dalam dunia terdesentralisasi.

 

Apa Itu Distributed Denial of Service (DDoS) Attack?

DDoS adalah singkatan dari Distributed Denial of Service, yaitu serangan yang dilakukan dengan cara membanjiri server, jaringan, atau aplikasi dengan permintaan atau trafik berlebihan dari ribuan hingga jutaan perangkat. Tujuannya? Membuat layanan tidak dapat diakses oleh pengguna sah, bahkan menyebabkan crash atau downtime total.

Berbeda dari serangan biasa yang dilakukan satu komputer ke satu target, DDoS menggunakan jaringan besar dari perangkat yang telah terinfeksi malware, dikenal sebagai botnet. Setiap perangkat dalam botnet ini secara bersamaan mengirimkan permintaan ke target hingga sistemnya kewalahan dan tidak bisa merespons permintaan normal.

 

Cara Kerja DDoS dalam Ekosistem Blockchain

Blockchain dirancang sebagai sistem yang tahan sensor, tapi bukan berarti kebal terhadap serangan DDoS. Berikut cara serangan ini bisa menyerang infrastruktur terdesentralisasi:

Target: Node Blockchain

Node yang berperan sebagai validator atau penyimpan data bisa diserang dengan membanjiri koneksi atau bandwidth-nya, membuat node terputus dari jaringan utama.

Target: API atau DApp

Banyak aplikasi decentralized mengandalkan gateway API untuk interaksi pengguna. DDoS bisa menargetkan endpoint tersebut agar aplikasi menjadi lambat atau tidak responsif.

Target: Layer-2 atau Bridge

Protokol Layer-2 dan cross-chain bridge sering kali lebih rentan karena memiliki arsitektur yang kompleks. Serangan DDoS dapat menghentikan jalur transfer aset antar jaringan.

 

Jenis-Jenis DDoS Attack yang Umum Digunakan

Volumetric Attack

Serangan ini mengandalkan volume trafik yang sangat besar untuk menghabiskan bandwidth target.

Protocol Attack

Menargetkan lapisan protokol jaringan seperti TCP, UDP, atau ICMP untuk menghabiskan sumber daya perangkat lunak.

Application Layer Attack

Menyerang lapisan aplikasi dengan permintaan kompleks, misalnya terus-menerus meminta pemrosesan transaksi smart contract.

 

Dampak DDoS terhadap Dunia Kripto

Hilangnya Kepercayaan

Jika bursa crypto atau protokol DeFi tidak bisa diakses karena serangan, pengguna akan kehilangan kepercayaan dan beralih ke platform lain.

Volatilitas Harga

Ketidakmampuan mengakses layanan dapat menyebabkan kepanikan di pasar dan memicu fluktuasi harga ekstrem.

Keterlambatan Konsensus

Jika node validator terganggu, blockchain bisa mengalami penundaan produksi blok, bahkan potensi fork tak terduga.

Rugi Operasional

DDoS juga memicu beban biaya tinggi, baik dari segi mitigasi teknis maupun kehilangan aktivitas ekonomi.

 

Strategi Perlindungan dari Serangan DDoS

Sahabat Floq, penting untuk mengenali langkah-langkah mitigasi yang dapat diterapkan untuk melindungi infrastruktur blockchain dari ancaman DDoS:

Desentralisasi Lebih Luas

Dengan menyebar node di berbagai lokasi dan jaringan, sistem akan lebih tahan terhadap serangan terpusat.

Penggunaan Load Balancer dan Firewall

Solusi teknis seperti Web Application Firewall (WAF) dan load balancing dapat memfilter trafik mencurigakan sebelum mencapai sistem utama.

Captcha dan Rate Limiting

Mencegah permintaan otomatis dari bot dengan mengharuskan interaksi manusia atau membatasi jumlah permintaan per detik.

Peer-to-Peer Validation

Mengandalkan arsitektur P2P yang terdistribusi untuk mendistribusikan beban validasi dan meminimalisir titik lemah.

 

Contoh Serangan DDoS di Dunia Blockchain

Beberapa proyek besar dalam dunia crypto telah menjadi target serangan DDoS, seperti:

  • Bursa terdesentralisasi (DEX) yang mengalami keterlambatan proses order book akibat permintaan berlebihan.
  • Jaringan layer-1 yang mengalami keterlambatan produksi blok akibat node validator diserang.
  • Bridge cross-chain yang dihentikan sementara karena serangan menyasar protokol jembatan antar blockchain.

 

DDoS Adalah Ancaman Nyata bagi Infrastruktur Terdesentralisasi

Sahabat Floq, dalam dunia blockchain yang menjunjung keterbukaan dan transparansi, ancaman seperti DDoS menjadi ujian penting. Meski teknologi terdesentralisasi menawarkan keamanan bawaan, tetap saja serangan ini bisa menimbulkan kerugian besar jika tidak diantisipasi dengan tepat. Mengenali cara kerja dan strategi mitigasi DDoS adalah langkah awal untuk membangun sistem Web3 yang benar-benar tahan gangguan, tahan sensor, dan andal digunakan secara global.

 

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Bagikan melalui:

Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device