Cari

Klik huruf yang tersedia untuk mengetahui daftar glossary

Pattern 1

Collateral Factor

Kenapa Kamu Nggak Bisa Meminjam 100% dari Aset Kripto yang Dijaminkan?

Pernah nggak sih kamu ada di situasi seperti ini? Kamu punya aset yang nilainya lumayan besar, tapi di saat yang sama kamu juga butuh dana untuk kebutuhan lain. Masalahnya, kamu nggak mau menjual aset tersebut karena merasa nilainya masih bisa naik di masa depan.

Misalnya kamu punya emas. Daripada dijual, kamu mungkin lebih memilih menggadaikannya untuk mendapatkan dana tunai. Jadi kamu tetap punya emasnya, tapi juga bisa mendapatkan uang untuk kebutuhan saat ini.

Nah, konsep yang mirip juga ada di dunia kripto, terutama di ekosistem Decentralized Finance (DeFi). Bedanya, yang dijadikan jaminan bukan emas atau sertifikat rumah, melainkan aset digital seperti Bitcoin, Ethereum, atau stablecoin. Tapi ada satu hal yang sering bikin pengguna baru bingung. Kenapa ketika kita menjaminkan aset senilai Rp100 juta, kita nggak bisa meminjam Rp100 juta juga?

Jawabannya ada pada satu istilah yang cukup penting dalam DeFi: Collateral Factor.

Meskipun terdengar teknis, sebenarnya konsep ini cukup sederhana. Bahkan kalau kamu memahami cara kerjanya, kamu bisa terhindar dari salah satu risiko terbesar di dunia lending crypto, yaitu likuidasi. Yuk, kita bahas dengan bahasa yang lebih gampang dipahami.

Sebenarnya Apa Itu Collateral Factor?

Bayangkan kamu datang ke tempat gadai membawa motor yang nilainya Rp20 juta. Apakah kamu akan langsung mendapatkan pinjaman Rp20 juta? Biasanya tidak. Pihak pemberi pinjaman mungkin hanya berani memberikan Rp12 juta atau Rp15 juta. Mereka perlu menyisakan ruang aman kalau sewaktu-waktu nilai motor turun atau ada risiko lain. Nah, collateral factor bekerja dengan logika yang sama.

Collateral factor adalah persentase dari nilai aset yang dijaminkan yang bisa digunakan sebagai dasar pinjaman. Contohnya begini. Kamu menyetorkan Ethereum (ETH) senilai Rp50 juta ke sebuah platform DeFi. Jika platform tersebut menetapkan collateral factor sebesar 80%, maka jumlah maksimal yang bisa kamu pinjam adalah: 80% x Rp50 juta = Rp40 juta.

Jadi meskipun asetmu bernilai Rp50 juta, platform hanya mengizinkan kamu meminjam sampai Rp40 juta. Sisanya menjadi semacam "bantalan keamanan" untuk mengantisipasi kalau harga aset tiba-tiba turun.

Kenapa Harus Ada Batasan Seperti Itu?

Ini pertanyaan yang sering muncul. "Kan asetnya punya saya, kenapa nggak boleh pinjam 100%?" Jawabannya sederhana: karena harga kripto bisa berubah sangat cepat. Hari ini Ethereum bisa naik 8%. Besok bisa turun 12%. Minggu depan bisa naik lagi. Pergerakan seperti ini adalah hal yang normal di pasar kripto. Kalau platform membolehkan pengguna meminjam 100% dari nilai jaminannya, sistem akan sangat rentan. Misalnya:

  • Kamu menjaminkan aset senilai Rp100 juta.
  • Kamu meminjam Rp100 juta.
  • Besok harga aset turun menjadi Rp85 juta.

Artinya nilai jaminanmu sudah lebih kecil dibanding jumlah pinjaman. Kalau ini terjadi pada ribuan pengguna sekaligus, protokol bisa mengalami masalah besar. Karena itulah collateral factor dibuat. Tujuannya bukan untuk mempersulit pengguna, tetapi untuk menjaga seluruh sistem tetap sehat.

Anggap Saja Collateral Factor Itu Airbag Mobil

Biar lebih gampang dibayangkan, anggap collateral factor seperti airbag di mobil. Saat perjalanan lancar, airbag terasa nggak penting. Bahkan mungkin kamu lupa kalau fitur itu ada.

Tapi ketika terjadi kecelakaan, airbag bisa menjadi penyelamat. Collateral factor juga begitu. Saat pasar tenang, kamu mungkin merasa batasan tersebut mengganggu. Tapi ketika pasar tiba-tiba anjlok 20% atau 30%, kamu akan sadar kenapa sistem itu diperlukan.

Contoh Nyata Cara Kerja Collateral Factor

Misalkan kamu memiliki:

  • 10 ETH
  • Harga ETH = US$3.000
  • Total nilai aset = US$30.000

Kemudian kamu menyetorkannya ke platform DeFi seperti Aave atau Compound. Platform menetapkan collateral factor sebesar 80%. Artinya kamu bisa meminjam maksimal: US$30.000 x 80% = US$24.000

Secara teori, kamu boleh langsung mengambil pinjaman sebesar US$24.000. Tapi apakah itu ide yang bagus? Belum tentu. Karena kalau harga ETH turun, nilai jaminanmu juga ikut turun.

Misalnya ETH terkoreksi 20%. Nilai asetmu yang tadinya US$30.000 sekarang tinggal US$24.000. Sementara jumlah pinjamanmu masih tetap US$24.000. Di titik ini, posisi pinjamanmu sudah sangat berisiko dan bisa terkena likuidasi. Makanya banyak pengguna DeFi yang lebih berpengalaman tidak pernah meminjam sampai batas maksimal. Mereka sengaja menyisakan jarak aman.

Kesalahan yang Sering Dilakukan Pengguna Baru

Menariknya, risiko terbesar dalam DeFi sering kali bukan berasal dari teknologinya. Justru berasal dari psikologi manusia. Saat pasar sedang naik, banyak orang merasa percaya diri berlebihan. Mereka berpikir: 

"Harga pasti naik terus." 
"Kayaknya aman kalau pinjam maksimal." 
"Kesempatan seperti ini nggak datang dua kali."

Dalam psikologi keuangan, kondisi ini disebut overconfidence bias. Kita merasa terlalu yakin terhadap prediksi sendiri. Masalahnya, pasar tidak peduli dengan keyakinan kita. Pasar akan tetap bergerak sesuai kondisi yang terjadi. Karena itu, pengguna yang paling sukses biasanya bukan yang paling berani mengambil risiko, tetapi yang paling disiplin mengelola risiko.

Jangan Sampai Tertukar: Collateral Factor dan Collateralization Ratio

Dua istilah ini sering bikin bingung karena terdengar mirip. Padahal artinya berbeda.

Collateral Factor

Collateral factor ditentukan oleh platform. Ini adalah batas maksimal yang boleh dipinjam. Misalnya:

  • Nilai jaminan = US$10.000
  • Collateral factor = 80%

Maka batas pinjaman = US$8.000

Collateralization Ratio

Ini adalah rasio yang berasal dari keputusanmu sendiri. Misalnya:

  • Nilai jaminan = US$10.000
  • Kamu hanya meminjam US$5.000

Artinya collateralization ratio kamu adalah 200%. Semakin tinggi angkanya, semakin aman posisi pinjamanmu. Cara gampang mengingatnya:

Collateral factor ditentukan sistem.
Collateralization ratio ditentukan oleh kamu.

Kenapa Setiap Aset Punya Collateral Factor yang Berbeda?

Nggak semua aset kripto dianggap memiliki risiko yang sama. Karena itu, setiap aset biasanya memiliki collateral factor yang berbeda.

1. Tingkat Volatilitas

Semakin liar pergerakan harga sebuah aset, biasanya semakin rendah collateral factor-nya. Logikanya gampang. Kalau harga aset bisa turun 30% dalam sehari, protokol tentu harus lebih berhati-hati.

2. Likuiditas Pasar

Likuiditas adalah seberapa mudah suatu aset dijual di pasar. Aset yang mudah diperjualbelikan biasanya dianggap lebih aman. Sebaliknya, token yang sepi peminat cenderung memiliki collateral factor lebih rendah.

3. Stabilitas Harga

Stablecoin seperti USDC atau DAI umumnya mendapatkan collateral factor yang lebih tinggi. Karena nilainya relatif stabil dibanding aset kripto lainnya.

4. Reputasi Proyek

Aset dari proyek yang sudah lama beroperasi dan memiliki ekosistem kuat biasanya lebih dipercaya. Sebaliknya, token dari proyek baru sering kali mendapatkan perlakuan yang lebih konservatif.

Cara Aman Menggunakan Collateral Factor

Kalau kamu ingin memanfaatkan fitur lending di DeFi, ada satu aturan sederhana yang bisa diingat.

Jangan Pinjam Sampai Batas Maksimal

Kalau sistem mengizinkan pinjam sampai 80%, bukan berarti kamu harus mengambil 80%. Banyak investor berpengalaman justru berada di kisaran 40%-60%. Kenapa? Karena mereka tahu pasar kripto bisa berubah dalam hitungan jam. Menyisakan ruang aman membuat posisi mereka jauh lebih tahan terhadap gejolak pasar.

Rutin Cek Posisi Pinjaman

Jangan setor jaminan lalu ditinggal berminggu-minggu. Harga aset bergerak setiap hari. Semakin besar nilai pinjamanmu, semakin penting untuk memantau kesehatan posisi tersebut.

Siapkan Dana Cadangan

Jika pasar turun tajam, kamu bisa menambahkan jaminan atau membayar sebagian pinjaman. Dengan begitu risiko likuidasi bisa dikurangi.

Collateral Factor Itu Bukan Musuh, Justru Pelindungmu

Banyak orang melihat collateral factor sebagai batasan. Padahal kalau dipikir-pikir, sistem ini justru melindungi pengguna. Tanpa collateral factor, ekosistem lending di DeFi akan jauh lebih berisiko. Sama seperti pagar pembatas di jalan pegunungan. Mungkin terlihat menghalangi, tetapi sebenarnya ada untuk menjaga kita tetap aman.

Karena itu, saat mulai menggunakan layanan pinjam-meminjam di dunia kripto, jangan hanya fokus pada berapa besar dana yang bisa dipinjam. Lebih penting lagi, pahami seberapa besar risiko yang sedang kamu ambil. Pada akhirnya, sukses di dunia kripto bukan cuma soal mendapatkan keuntungan besar.

Yang lebih penting adalah bagaimana kamu bisa tetap bertahan saat pasar sedang tidak bersahabat. Dan salah satu langkah awal untuk melakukannya adalah memahami collateral factor dengan baik.

 

Pelajari istilah kripto lainnya:

 

Disclaimer: Seluruh informasi yang disampaikan disusun oleh mitra industri dengan tujuan memberikan edukasi kepada pembaca. Kami menyarankan Anda untuk melakukan riset secara mandiri dan mempertimbangkan dengan matang sebelum melakukan transaksi.

Bagikan melalui:

Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1Pattern 1
Blur 2

Belajar, Investasi, dan Tumbuh Bersama Kami

Jadilah bagian dari FLOQ. Mulai perjalanan investasimu dengan platform terpercaya dari hari pertama.

Google PlayApp Store
Blur 2Blur 2Device